Driver Ojek Online Itu Ternyata Ceo

Driver Ojek Online Itu Ternyata Ceo
Bab. 52. Pengusiran Dari Arkhan.


__ADS_3

Hidup susah bertahun-tahun, nyatanya semakin membuat putra nya dewasa dan bijak. Serta lembut dalam berucap. Padahal dia terus memancing amarahnya dengan sikap sinisnya itu.


Sungguh berbeda sekali dengannya dulu.Di besarkan di panti asuhan hingga remaja. Membuat kebencian dan dendam merongrong jiwa nya. Rasa itu melekat kuat hingga ia bertekad akan membalas semua yang ia dapat pada keluarga yang tidak menginginkannya.


Hingga ia mengenal kehidupan underground.


Berbekal kejeniusan otaknya dan ilmu bela diri.


Yang ia dapat selama hidup di jalan. Ia menjadi bodyguard seorang CEO perusahaan multinasional dan internasional.


Dengan kejeniusan yang di tambah kelicikan. Arkhan berhasil mengambil alih perusahaan itu dengan bantuan dari beberapa kawan Mafia dan Triad-nya.


Dengan perusahaannya itu, Arkhan berhasil menyelundupkan beberapa jenis barang-barang ilegal. Karena pekerjaannya itulah ia harus memperketat penjagaan terhadap keluarganya.


Meski sang putra telah mengecewakannya, dan menolak mentah-mentah seluruh hartanya. Namun, ia akan tetap memberikan perlindungan menggunakan caranya.


Bagi Arkhan, biarlah ia hidup dan mati sebagai pengusaha sukses di kalangannya. Juga mafia berdarah dingin yang di takuti di dunia bawah tanahnya.


Semua nasehat sang putra dahulu, telah terlanjur ia tolak dengan amarah yang menggebu. Bahkan kejadian itu hampir merenggut nyawa sang putra melalui tangannya.


Kalau saja ia tak ingat, bagaimana dulu dia dan sang istri begitu menanti kehadiran sang putra di tengah pernikahan mereka. Sungguh ironis. Kini, anak yang diimpikannya itu telah menjelma menjadi pemberontak.


"Al hanya ingin meminta izin dan restu darimu. Al, ingin menikahi gadis yang insyaallah sholihah. Dia berasal dari keluarga sederhana. Tidak ada yang Al, tutupi dari keluarga itu. Namun, mereka tetap menerima Al. Bahkan keberanian Ghazali menemui papa adalah atas saran dari mereka." Ghazali mengungkapkan apa yang ingin ia katakan seraya menatap sendu wajah kaku dan keras Arkhan.


Kazenia tersenyum memberi semangat kepada sang putra. Sedangkan suaminya tetap bergeming sambil memasang kuping. Menanti kelanjutan kalimat dari pemberontaknya itu.


Ghazali, terus memperhatikan ekspresi sang Papa. Namun nihil, ia tak dapat menangkap apapun.


"Al, meminta izin untuk membawa Mama dan Ilen. Al--"


"Pergilah! Kau tidak perlu restu dan izin dariku! Kau, lupa? Kau bukan lagi keluarga Sanjaya!" hardik Arkhan sekalian mengusir putranya. Gurat emosi kentara dari raut wajah kakinya dan juga buku tangan yang mengepal.


Ghazali tak menjawab apapun. Ia terdiam, yang terpenting telah bicara. Tugasnya sudah selesai. Ia akan mengajak mama dan Ilen sebagai perwakilan keluarganya.


"Meskipun, Papa tak mengizinkan, Ilen tetap akan menemani Abang!" Tiba-tiba gadis cantik yang sedari tadi hanya diam dan bisa menangis saja itu, kini mengeluarkan ancaman yang membuat mata Arkhan seketika membola.


Perubahan ekspresinya itu hanya sekejap.

__ADS_1


Karena setelahnya, pria kepala batu itu menyeringai tipis.


"Putri kecilku yang cantik sudah berani rupanya? Kau, lupa darimana semua fasilitas mu selama ini ya? Kau tidak pantas mengancam Papa!" ucap Arkhan dengan senyum tipis namun bernada tegas.


"Kalian pergilah! Ikuti saja dia!" usir Arkhan, seraya beranjak bangun dari duduknya.


Kazenia dan Shireen hendak pergi keluar meninggalkan sosok Arkhan di dalam ruang kerja pribadi miliknya itu. Pria yang masih gagah di usia paruh baya itu kembali menatap pigura besar yang terpajang di dinding. Sebuah pigura bergambar foto dimana ada dirinya dan teman-teman masa kecilnya di depan panti.


Namun, Ghazali nampak berbalik dan ...


"Terima kasih ... Pa. Assalamualaikum!"


Ingin rasanya Ghazali menggamit tangan sang papa yang masih terlihat kekar itu dan menciumnya.


Tapi,


rasanya tidak mungkin. Papanya kini tidak tersentuh, bahkan melihatnya pun tak ingin.


Satu hal yang membuatnya lega karena sudah bisa mengungkap apa yang memang harus di ungkapkan. Ia sudah memperoleh izin membawa mama dan sang adik. Setidaknya ia memiliki keluarga di hari pernikahannya dengan Zahra.


Di atas sajadah subuh ini, Ghazali mengingat kejadian dua hari yang lalu di mansion sang papa.


Rasa tak percaya itu seakan menampik realita yang kini terpampang di hadapan. Ada rasa sedih, emosi dan juga lucu yang membaur jadi satu. Secepat itu doa-doa nya di kabulkan sang khalik. Secepat itu restu dan izin ia dapatkan.


Meskipun kini hanya bisa pasrah menerima kenyataan. Ikhlas itu pun harus di jalankan, karena keadaan apapun pada saat ini tak patut ia sesalkan.


Keterpurukan dan penolakan hanya akan memperburuk keadaan. Biarlah semua akan menjadi pelajaran dan hikmah di ujung pengalaman.


Ternyata,memang benar janji Tuhan.


Bahwa, tiada usaha yang sia-sia.


Tiada doa yang tidak diijabah.


Hanya satu kunci dari itu semua.


Ikhtiar

__ADS_1


Sabar


Dan, tawakkal.


Ikhtiar dengan segala usaha dan kesungguhan.


Yakin bahwa segala kesusahan dan kesulitan di dunia pasti ada akhirnya. Berdoa tak kenal waktu pagi siang atau malam. Berserah hanya kepada illah sang pemilik jalan keluar.


Yang terakhir, ikhlas lah dengan takdir dan jalan cerita dari kehidupan. Jangan meratapi. Justru jadikanlah cambuk yang akan memecut dirimu untuk memperbaiki diri.


Karena setiap ujian berguna untuk menempa jiwa. Setiap rasa sakit dan kecewa,akan membuahkan luka menganga yang siap melebur bulir-bulir dosa. Karena tiada rasa sakit yang di rasa dan menimpa manusia, selain Allah akan ganti dengan hikmah kebahagiaan hakiki.


Meski penolakan yang hampir berakhir kembali dengan pengusiran. Namun, gejala kembali ingat dengan pesan Ayah Umar. Berilah nasihat dengan cara yang baik. Serta lemah lembut dan penuh santun. Karena manusia hanya sebatas menyampaikan kepada manusia lainnya.


Soal hidayah, itu urusan Allah.


Allah yang akan menetapkan, kapan hati itu di lembut kan hingga mampu menerima setiap nasihat dan ajakan kebaikan. Ataukah akan selamanya Allah jadikan keras, sehingga tiada ajakan dan nasihat yang mampu melunakkan hatinya.


Sementara itu di tempat lain.


Selesai melaksanakan solat subuh, tumben sekali Zahra kembali terlihat merebahkan raganya di ranjang besi dengan kasur kapuk itu. Ia menatap layar enam inchi di dalam genggamannya tanpa kedip. Padahal hanya terdapat layar yang gelap dan berwarna hitam.


Kenapa Abang tidak pernah menghubungiku lagi sejak beberapa hari yang lalu. Aneh. Biasanya tak begini. Apa sebegitu sulit meminta ijin pada papanya itu. Atau, ada sesuatu? Ah, seperti ada yang hilang jika tak melihatnya.


Zahra sekilas tersenyum sambil menggelengkan kepala. Karena ingatan kebersamaanya dengan lelaki itu sedang berkelebat sepintas di dalam pikirannya.


"Apa ini yang namanya kangen?" gumam Zahra.


Kini ia menaikkan lututnya ke atas. Hingga beradu dengan dagunya. Gadis itu memeluk kedua kakinya. Masih senyum-senyum sendiri.


Ia membuka galeri foto dalam ponsel. Zahra adalah sosok perempuan yang jarang selfie. Apalagi foto berdua dengan lawan jenis, tentu kalian tidak akan menemukan itu di galerinya.


Zahra seketika merasa ada yang berbeda.Ia merindukan momen berbagi kabar itu dengan lelaki yang perlahan sudah mencuri hati dan asa nya.


Kenapa kamu sekarang tidak ada kabar? Ku mohon hubungi Zahra agar tenang, Bang.


...Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2