Driver Ojek Online Itu Ternyata Ceo

Driver Ojek Online Itu Ternyata Ceo
Bab. 23. Zahra Mendapat Gangguan.


__ADS_3

Zahra, telah mengundurkan diri dari pekerjaaan semula. Ia mencari yang bisa pulang pergi tanpa harus tinggal di kost. Reva yang menjadi sahabatnya menghampiri Zahra tak lama setelah gadis berkerudung ini keluar dari ruangan HRD.


"Ra, lu beneran resign?" tanya Reva dengan tatapan sendu.


"Iya, Re. Lu tau kan. Selain bunda yang minta, gue juga udah gak tenang kerja disini." Zahra menjawab dengan tak kalah sendu. Selama ini hanya Reva yang membuatnya mampu bertahan. Tapi, bagaimana lagi. Ketika permintaan dari sang bunda yang tak mungkin ia tolak.


Zahra takut jika ia bersikeras untuk tetap bekerja disini, maka kesehatan Maryam akan menurun kembali. Lagipula, keselamatannya di pabrik dan di kosan pun sudah tak lagi aman. Zahra mulai tak nyaman dan tenang ketika bekerja dan beristirahat.


"Berkabar ya, Ra. Kalo lu udah dapet kerjaan baru. Pokoknya kita gak boleh lost kontak," pinta Reva yang di jawab dengan senyum oleh Zahra.


"Gue pasti ngabarin elu, Re. Kita kan Besti," celetuk Zahra dan kemudian mereka berdua berpelukan.


"Udah lu masuk sana! Kelamaan ijin keluar nanti diomelin pengawas." Zahra mengusir Reva agar kembali masuk kedalam ruangan kerjanya. Mereka memang berbeda bagian. Zahra produksi dan Reva pengemasan.


'Selamat tinggal pabrik. Aku bakal inget semua kenangan di sini. Banyak pelajaran dari segala kesengsaraan itu.' batin Zahra seraya memandangi lori yang biasa ia gunakan untuk mengambil produk bahan baku.


"Halo cantik!" Tiba-tiba datang sosok pria yang terlihat jika perangainya sangat buruk. Terlihat dari bagaimana sikap Zahra yang langsung waspada.


"Jangan menghalangi jalanku!" tukas Zahra.


"Hei, Berani kamu ya! Udah bosan kerja!" sarkas pria bertubuh agak gemuk dan pendek ini. Usianya sekitar empat puluh tahun.


"Iya aku memang bosan. Makanya sana, jangan halangi jalanku yang ingin keluar dari tempat ini!" titah Zahra lagi dengan tegas. Namun, pria tak tau diri yang bernama Agung itu tetap menghalangi jalannya.


"Apa maksudmu, Zahra cantik." Kini cara bicara pria itu sudah berubah, karena ia takut apa yang ia pikirkan terjadi. Sebab, Zahra tidak mengenakan seragam kerja.


"Minggir! Atau aku panggil security!" ancam Zahra dengan sorot mata yang menatap tajam ke arah Agung.


Melihat keberanian Zahra padanya, membuat Agung tak berani mengganggu lagi. Jika masih bekerja di sini Zahra tidak akan mengancamnya seperti itu. Kecuali ...

__ADS_1


"Inceran lu udah mengundurkan diri, Bro!" ucap sosok yang baru datang dari arah belakang Agung.


"Hah! Jadi tu anak--" Agung nampak berdecak sambil mengepalkan tangannya.


"Sial!"


"Haha! Elu terlalu kasar dan terburu-buru. Elu udah diskriminasi dia, jadi gak betah kerjanya. Resign tu anak." Agung mendengus kala teman satu bagian ini meledeknya habis-habisan. Gagal sudah mendapat target buruan yang langka seperti Zahra.


"Gua gak bakal lepasin dia. Gua tau alamat kosannya." Agung menyeringai pertanda pikiran licik menguasainya.


"Gila lu. Dia anak baik-baik. Dia juga gak pernah nyari masalah Ama lu. Ngapain sih, lu jadiin target kelamin lu itu." Pria yang bernama Bayu ini berusaha menasehati Agung. Bahwa tak seharusnya Zahra menjadi target kegilaannya.


"Lu diem deh. Jangan banyak bacot! Gak usah ikut campur urusan gue, faham!" Agung memberikan tatapan menghunus dengan satu tepukan keras di bahu. Tanpa meminta ijin pada atasan. Ia berjalan menuju kendaraannya yang diparkir. Berniat menyusul Zahra.


Zahra yang baru turun dari angkot, berjalan penuh kewaspadaan ketika harus melewati gang sepi menuju tempat kost. Ia merasa jika ada yang membuntutinya sejak tadi.


Merasa ada yang mengikuti, Zahra semakin mempercepat langkahnya dengan meningkatkan kewaspadaan. Ia menyalakan ponselnya dan menghubungi panggilan darurat kepolisian.


Benar saja, Zahra semakin cepat berjalan dan tiba-tiba dari arah belakang ada yang menarik lengannya.


"LEPAS ...!" Zahra berteriak kencang, berharap ada warga yang peduli serta melihat dan mendengar apa yang terjadi padanya. Sayang ia berada di sebuah jalan sepi dimana kanan-kiri hanya ada tembok pembatas antara pabrik dan juga kebun pisang.


Ia hanya ingin berpamitan dengan pemilik kos karena pergi tanpa pamit itu sangat tidak sopan.


Siapa sangka, ternyata ada buaya buntung tak tau diri yang berniat menjegal langkahnya.


"Santai dong, cantik. Kayak mau diapain aja,"ucap Agung, dengan tatapan nyalang tanpa melepas cekalannya di lengan, Zahra.


"Padahal saya udah mengharap lho! Kamu mau di apa-apain,"ucapnya lagi seraya memberi kerlingan nakal pada Zahra di sertai dengan senyum gilanya.

__ADS_1


'Astaghfirullah! Apa mau cecunguk ini sih! Selain tak beretika. Sepertinya urat malu juga sudah putus dari badan. Enteng banget dia bicara kayak gitu.' Zahra membalas tatapan dari Agung, ia tak boleh takut. Meski kedua mata besar itu menatap nyalang padanya sehingga membuat bulu kuduk berdiri dan membuat semakin merinding.


"Istighfar Pak! Ingat anak istri di rumah, apa mereka gak malu kalau tau kelakuan bapaknya macam pengecut begini!"sarkas Zahra berani. Karena memang harus begitu. Jangan tunjukkan rasa takutmu. Atau orang yang berniat jahat semakin leluasa dan percaya diri ketika melihat wajah tak berdaya darimu, calon korbannya.


"Bapak adalah sosok yang saya hormati. Seharusnya anda menjadi contoh bagi anak muda seperti saya!" Zahra berseru dengan penuh penekanan pada setiap kata-katanya. Hingga cekalan itu akhirnya lepas dari lengannya. Karena kali ini ia harus tegas, agar makhluk yang minim akhlak dan moral ini, dapat menghargai perempuan.


"Ya elah! Hei cantik. Kamu gak usah bawa-bawa status deh. Lagian ya, saya itu kalo di luar mah ya free man! Bebas!" Agung semakin kurang ajar dengan mencolek dagu Zahra, Namun perbuatannya langsung ku tepis dengan keras.


"Tolong kondisikan tangan anda! Anda sopan saya segan!"ujar Zahra semakin tegas sambil tetap waspada. Karena bisa saja pria di hadapannya ini berbuat nekat.


"Duh, duh, galak bener si cantik. Nggak usah jual mahal lah. Saya tau kamu itu butuh uang dan juga pekerjaan. Pake sok resign segala. Mending, terima tawaran saya. Jadi pacar saya dan kebutuhan kamu akan saya jamin. Gimana? Kesempatan ini gak akan datang dua kali!"


Entah apa arti senyum dari Agung dan pandangan matanya. Semua itu membuat Zahra semakin jijik kala melihatnya.


'Aku gak boleh takut. Dan aku harus berani menghadapi laki-laki berotak kotor kayak gini. Ya Allah banyu Zahra!'


"Tolong! Ingat ini! Jangan anda samakan saya seperti cewek-cewek yang selama dekat sama anda! Jangan menilai orang itu sama kotornya dengan isi kepala anda!" hardik Zahra semakin keras. Ia sudah semakin terhina dengan kata-kata cabul dari pria tak tau diri di hadapannya ini.


"Saya selama ini ramah hanya karena sebatas anda atasan dan pengawas di desk line saya!" ucap Zahra lagi dengan menatapnya tajam.


"PERMISI!"


Kemudian ia berlalu dengan cepat tanpa menengok lagi.


Tapi ...


Agung ternyata menarik tangannya dengan cepat, kemudian mendorong Zahra ke dinding dan mencekik lehernya.


...Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2