Driver Ojek Online Itu Ternyata Ceo

Driver Ojek Online Itu Ternyata Ceo
Bab. 36. Sesak Rindu


__ADS_3

"Bagaimana keadaanmu?" tanya Ghazali. Pagi ini ia kembali menengok Zahra. Tentunya sambil membawa sarapan. Uang yang ditinggalkan Kazenia beberapa waktu lalu masih tersisa. Karena sang mama lumayan memberinya banyak uang.


Ghazali baru menyadari ketika ia memeriksa beberapa tumpukan baju di dalam lemarinya. Sebuah amplop coklat jatuh dan isinya berserakan. Semua hal itu sangat tepat ketika ia membutuhkan dana untuk merawat Zahra. Entah bagaimana kalau ia tidak memiliki uang yang sengaja ditinggalkan oleh sang mama.


"Aku berencana pulang hari ini. Semua bekas memar sudah membaik. Aku bisa menyamarkan dengan make up nanti," terang Zahra. Ia bicara tanpa menatap ke arah Ghazali. Menurutnya, semakin dekat pria dekil ini semakin menawan saja. Entah apa yang berubah darinya. Apa mungkin karena Zahra mulai mengagumi?


"Kamu liatin apa sih? Ke bawah melulu? Temen ngobrolnya kan di sini." Ghazali meledak Zahra yang fokus menatap ujung kakinya yang menggunakan kaus kaki. Ia selalu menutup auratnya ketika Ghazali menjenguk hingga yang nampak hanya wajah dan telapak tangan.


Sebenernya Ghazali nampak lega ketika raut wajah dari Zahra sudah lebih cerah. Memarnya memang tinggal sedikit. Tidak terlihat parah seperti beberapa hari yang lalu. Total Zahra tinggal di rumah kontrakannya selama tiga hari.


Begitu pun dengan Reva. Namun, gadis itu tetap bekerja. Ia hanya libur satu hari. Demi menghilangkan efek lelah ditubuhnya. Reva hanya tersenyum sambil geleng-geleng melihat interaksi kocak dari keduanya. Ia macam melihat adegan malu-malu dari film jaman dulu.


Zahra ... baru kali ini gue liat elu bisa malu-malu gitu. Sumpah. Pengen gue vidioin jadinya. Muka lu lucu tau gak. Sakit nih print gue nahan ketawa. Sayangnya Reva hanya dapat bicara seperti itu dalam hati saja.


Ia pun meninggalkan sebentar keduanya. Ia tak tahan ingin buang air kecil.


Sampai kapan mau nunduk gitu, Ra? Aku jadi makin gemes tau gak?


"Antar, aku ya!" pinta Zahra tiba-tiba. Membuat Ghazali tersedak udara saking kagetnya.


Eh, gak salah dengar kan? Dia minta aku antar kerumahnya ?


"Zahra serius. Abang gak usah heran gitu. Biasa aja ekspresi mukanya," cebok Zahra karena melihat tampang tak percaya yang ditunjukkan Ghazali secara refleks.


"Eh, iya. Percaya kok. Alhamdulillah kalo kamu percaya sama aku. Ya udah, mau jalan jalan?" Ghazali nampak senang sehingga hal itu membuatnya kikuk.


"Nanti sore aja. Aku sama Reva mau bersih-bersih dulu. Maaf karena rumah kamu jadi berantakan," ucap Zahra seraya meringis. Padahal, rumah Ghazali semakin terlihat rapih semenjak ia menempatinya.

__ADS_1


__________


[ Tetaplah berbuat baik tanpa berharap balasan baik.Tetaplah jadi orang yang tulus.


Jangan menyerah dengan kesabaranmu. Semua akan berbuah manis nanti. Meski hanya Allah yang tau kapan masa itu tiba. ]


Kalimat-kalimat itu selalu terngiang dan berputar berulang laki di dalam kepala Ghazali. Kalimat positif yang membuatnya selalu yakin dan kembali bersemangat kala kata menyerah itu selalu mendorongnya agar jatuh.


"Pak Kyai. Al rindu. Kapan bisa kesana lagi? Al terlalu sibuk mengejar dunia yang tak pernah masuk kedalam genggaman. Benar katamu, bahwa semakin kau mengejar dunia. Maka dunia itu akan lari meninggalkan mu. Bahkan ia akan semakin jauh darimu. Namun, sebaliknya. Ketika kau mengejar akhirat dan keridhoan Tuhan-MU. Maka dunia akan mendekat padamu. Itukan, Kyai. Kalimat yang selalu kau katakan padaku. Ternyata itu semua benar. Semua yang ku kejar menjauh. Aku kini pasrah padamu. Jika kau menghendaki, maka kembalikan keluargaku seperti dulu. Dekatkan jodohku agar hati ini tenang." Ghazali memejamkan matanya seraya merasakan hembusan angin di pinggir Setu buatan.


Tempat wisata murah meriah itu biasa ramai kala sore hari. Namun, tumben hari ini tempat itu agak sepi. Apa kah alam memang menyediakan waktu baginya untuk menyendiri.


Sepulang mengantar Zahra ia mampir sejenak ke tempat ini.


Smartphone milik Ghazali bergetar dalam saku jaketnya. Ternyata Shireen kembali menghubunginya. Ghazali sontak menghentikan laju kendaraannya, karena dirinya saat ini sedang berada di jalan. Kebetulan, ia tidak sedang membawa customer ataupun barang.


Ghazali pun langsung mencari tempat yang teduh dan jauh dari keramaian atau hiruk pikuk lalu lintas.


[ Assalamu alaikum. ]


Terdengar suara bergetar seorang perempuan di seberang sana. Ia berpikir Ilen adiknya seperti menahan tangis.


"Wa'alaikum salam. Ilen, kenapa?" Ghazali menyiapkan dirinya untuk menerima kabar apapun itu. Karena dadanya mendadak sesak dan jantungnya berdegup kencang.


[ Abang. Mama kangen katanya. Tapi, kita belum bisa ketemu Abang lagi. Ponsel kami berdua di sadap. Sopir di ganti. Sepertinya, papa mulai curiga atau apapun itu. Ilen pokoknya gak ngerti. Kita berdua ngerasa lagi diawasin, Bang. ]


Kazenia yang berada di sebelah Shireen terlihat membekap mulutnya menahan isakan yang akan keluar. Ia tak percaya melakukan ini semua demi hanya untuk mendengar suara sang putra lewat ponsel.

__ADS_1


"Lalu kalian menghubungi Abang lewat mana ini?" heran Ghazali. Kenapa masalah ini semakin rumit saja.


"Toilet kampus. Minjem ponsel tukang bersih-bersih. Kebetulan hari ini adalah hari rapat organisasi yayasan. Karena itu Ilen ajak mama kesini. Hanya agar kami leluasa dan bebas dari pengawasan bang.]


Mendengar penjelasan dari sang adik membuat Ghazali tak habis pikir. Ibu dan adiknya ini sampai berkorban seperti itu. Hanya ingi menanyai kabar dirinya saja.


"Ma ..., "


Ghazali mengatupkan rahangnya, menahan sesuatu yang membuncah dan siap meledak. Rindunya pada sang mama belum tersalurkan semua. Pertemuan mereka hari itu terlampau singkat.


Hening, hingga beberapa saat tiada satupun dari keduanya yang berbicara.


Sepertinya kedua manusia yang mempunyai hubungan darah sebagai ibu dan anak ini, sedang menguasai endapan emosi mereka.


Rindu yang mencipta sesak membuat nafas seakan tercekat. Hingga suara tak mampu terucap oleh lidah yang seketika kelu.


Ghazali memejamkan matanya, sambil memegangi dada dengan satu tangan. Ia berusaha menetralkan udara yang terasa sulit mengisi paru-parunya.


Sedangkan di seberang sana.


Seorang ibu yang merindukan anaknya. Kazenia. Ia terus membekap mulutnya dengan derai air mata yang menganak sungai di kedua pipinya.


Dengan anak perempuan yang setia merangkulnya dari samping. Mereka, sedang berusaha melebur rindu dari jauh. Meskipun harus berjuang dan bersusah payah demi sekedar menelepon.


Situasi ini seketika mengubah tekanan udara hingga menipis dan menghimpit dada.


Tatkala mereka harus sembunyi-sembunyi, hingga kini mereka berdua berada di dalam ruangan toilet sebuah universitas negeri.

__ADS_1


"Mama, gimana kabarnya?" Akhirnya Ghazali memutuskan memulai percakapan mereka lebih dulu. Tentu saja setelah ia berhasil mengontrol luapan rindu yang hampir meledak dari rongga dadanya. Ia belum puas memeluk kehangatan sang mama kala itu.


...Bersambung...


__ADS_2