Driver Ojek Online Itu Ternyata Ceo

Driver Ojek Online Itu Ternyata Ceo
Bab. 37. Membuat Terkesan.


__ADS_3

[ Alhamdulillah, Mama, baik. Abang gimana? Maafin, Mama ya ...! ]


Tiba-tiba Kazenia terisak. Ia tak sanggup lagi menahan rasa sedih dan khawatir yang menumpuk di dada serta kepalanya. Apalagi pertemuan pertama mereka kala itu ketika Ghazali keluar dari rumah sakit.


"Abang jagoan lho. Apa, Mama lupa?"


"Jadi, jangan khawatir keadaan Abang." Ghazali berusaha menenangkan hati wanita yang telah melahirkannya itu. Namun, dadanya sendiri merasa sesak. Karena ia telah membohongi semuanya. Sejatinya ia tak sanggup. Ia sudah tak kuat berada jauh dari keluarganya.


Karena itu Ghazali menjeda ucapannya sesaat, demi menyuplai kembali pasokan udara yang tercekat di tenggorokannya.


Di seberang sana Kazenia hanya mengangguk sambil membekap mulutnya. Ia tak dapat mengeluarkan suara meski hanya sekedar berkata bahwa ia percaya. Percaya bahwa putranya itu memang kuat dan mampu.


"Ma. Abang jatuh cinta. Apa yang harus aku lakukan sekarang? Abang mau melamar dia tapi--"


[ Masya Allah, Abang! Alhamdulillah. Kita harus ketemu ya. Mama gak peduli apapun lagi. Pokoknya kita harus ketemu!]


Kazenia berkata dengan mata yang berbinar, karena selain akan mengakhiri kerinduannya dengan putra semata golek nya. Ia juga akan bertemu dengan calon menantunya. Di sebelahnya, Ilen tersenyum bahagia.


Sudah sejak lama ia ingin agar putranya melepas masa bujang nya. Dengan menemukan tambatan hati serta jantung .


Diseberang sana, nampak Ghazali mengusap wajahnya dan menghela nafas lega. Semua di luar dugaannya. Sang Mama ternyata sangat antusias dan mendukungnya.


Ghazali terkekeh mendengar cecaran dari Kazenia. "Siap, Ma, sampe ketemu ya. Nanti Abang atur lagi tempat dan waktunya. Salam buat Ilen. Udah kalian berdua jangan lama-lama di toiletnya."


Setelah saling memberi salam sambungan seluler itu pun akhirnya terputus.


Terputus, untuk menyambung sesuatu yang sekian lama telah terpotong jarak dan waktu. Jarak yang tercipta karena kekerasan dan keegoisan hati.


Sebentar lagi rajutan kasih sayang dan pertalian darah yang sempat terkoyak itu. Akan menyatu dan kembali utuh.


Semoga.


"Eh, Len. Mama lupa!" Kazenia memekik tertahan setelah mereka keluar dari bilik toilet.


"Kenapa, Ma. Apaan sih? Kenapa kaget gitu mukanya!" Shireen seketika panik melihat ekspresi sang mama.

__ADS_1


"Mama lupa. Tadi di dalam toilet malah beri salam. Kan kata Abang itu gak boleh." Kazenia meringis. Karena ia keceplosan tadi.


"Eh, itu Ilen juga lupa, Ma!" Kini giliran Shireen yang panik.


"Astagfirullah!" Keduanya pun mengucap istighfar bersamaan.


 


Ghazali mematut dirinya di depan kaca spion. Ia merapikan sedikit jambangnya tadi pagi. Ia setia menunggu jemputan spesialnya. Ghazali sudah sampai di depan kafe muslimah sejak lima belas menit yang lalu.


Tempat dimana Zahra mulai bekerja sebagai pembuat kue, selama beberapa hari terakhir ini.


Ghazali nampak gusar menunggu di parkiran. Beberapa hari ini ia memiliki rutinitas baru untuk mengantar dan menjemput sang gadis pujaannya itu. Semua atas perintah ayah Umar. Entah kenapa pria penuh kharisma dengan segala tutur kata lembut namun mampu membuat siapapun sungkan padanya.


Sebentar lagi adalah jam pulang dan jam tutup toko. Ghazali berniat akan mengajak Zahra maka di sebuah restoran murah. Ia sudah mengumpulkan uang juga keberanian untuk mengungkapkan perasaan serta niat dalam hatinya.


Sekali-sekali, makan di tempat bergengsi.


Apalagi, mau mengungkap isi hati.


yang sekian lama terkunci.


Di bawah pohon yang rimbun.


Ia menatap gadisnya yang sedang beranjak keluar dan menuju ke arahnya.


Belum juga mulai tapi hati dan jantungnya sudah kehilangan fokus untuk mengontrol debarannya. Udara di sekitarnya tiba-tiba seakan menipis. Membuat paru-paru seakan kembang-kempis.


Ghazali menghela napas panjang untuk menghirup udara sebanyak-banyaknya. Ia hendak memenuhi rongga dadanya dengan oksigen agar dapat kembali bernapas dengan sempurna.


"Bang?" Zahra yang sudah berada di hadapan Ghazali menyapa sambil menatap heran.


Kemudian ia memindai penampilan laki-laki yang selalu ada di saat ia terpuruk dan lemah ini dengan tatapan memicing penuh selidik.


"Tumben rapi banget, apa mau ada acara?" tanya Zahra heran, bahkan ia mengernyitkan keningnya. Seakan hal ini adalah kemungkinan yang aneh. Bagaimana tidak, jika saat ini Ghazali mengenakan kemeja di balik Coat.

__ADS_1


Haish, Ra. Aku tapi gini demi kamu. Kenapa ekspresi kamu malah kayak liat penampakan Ki Jambrong.


Ghazali menggerutu gemas dalam hatinya. Ya hanya berani dalam hati saja.


"Gapapa kok, biar ganteng aja. Biar kamu gak malu. Punya kang ojek langganan yang rapih," jawab Ghazali santai meski hatinya macam di bantai. Dia pun berjalan menghampiri motornya yang terparkir tak jauh.


Sedangkan gadis yang tidak peka itu, hanya membulatkan mulutnya.


Hingga membentuk huruf "O".


Pengen di puji siapa sih dia. Apa ada salah satu anak toko yang lagi taksir? Kok tumben banget gitu mikirin penampilan.


Tanpa sadar Zahra memajukan bibirnya. Ia rada kesal juga melihat Ghazali semakin tampan setiap harinya. Gaya cuek saja driver ojek pribadinya ini sudah menjadi buah bibir kawan kerjanya. Apalagi sekarang.


Zahra yang sudah siap duduk manis di jok belakang, masih saja menautkan alis dan mencebikkan bibirnya. Ia asik tenggelam dalam pemikirannya sendiri.


"Siap ya? Halo! Ra!" Gjazali memanggil hingga hingga tiga kali, barulah ada sahutan dari penumpang yang bisa dibilang istimewa ini. Sampai Ghazali melihat ke arah spion karena ingin tau kenapa Zahra diam saja.


"Oh, iya siap!" seru Zahra yang kaget.


Haih, dia melamun ternyata .


Hoii, hati. Kuat gak?


Ngomong sekarang aja apa besok-besok nih?


Ghazali nampak ragu karena Zahra sama sekali tidak memuji penampilannya. Justru gadis itu malah menatapnya aneh dan penuh curiga. Padahal, Ghazali ingin membuat Zahra terkesan padanya. Ya itu lah yang sebenarnya.


Meskipun ternyata kenyataan di luar ekspektasi.


"Kok kayaknya bukan jalan ke arah rumah ya Bang! Apa kamu mendadak lupa ingatan!" pekik. Zahra mencoba berkomunikasi ketika kendaraan Ghazali melaju kencang.


Sementara itu Ghazali hanya berpura-pura tak mendengar. Hingga, Zahra berakhir mengetuk helm hijau yang menutupi kepalanya.


"Iya, Ra. Kenapa? Kok kepala Abang di ketok sih!"

__ADS_1


...Bersambung...


__ADS_2