
"Saka, kemana papa?"
"Kenapa susah sekali menghubungi ponselnya?" gerutu Rasti. Di dalam rumahan kantornya. Karena wanita ini memiliki perusahaan kosmetik sendiri.
"Mungkin tuan sedang sibuk, Nona. Biar saya hubungi asisten Bongo," ucap Saka. Mengehentikan ocehan Rasti yang menyakiti telinga siapapun yang mendengarnya.
Tak lama kemudian.
"Tuan Roger sedang berada di klub miliknya, Nona," jelas Saka.
"Antar aku kesana. Aku ingin meminta bantuannya untuk mencari Ghazali. Karena anak buahmu payah!" sarkas Rasti membuat Saka, mendengus di belakang tubuh gadis itu.
Dasar majikan cerewet! Ku perkosa baru tau rasa kau!
Umpat Saka, tapi hanya bermain dalam hatinya saja. Di depan Rasti ia hanya akan menundukkan kepalanya. Beginilah nasib anak buah. Tak bisa protes bahkan membela diri. Meskipun, sebenarnya ia telah melakukan tugas semaksimal mungkin.
Sang Nona yang arogan dan manja ini tetap saja melihat setiap usahanya itu selalu salah dan gagal. Sang Nona yang selalu menginginkan apapun yang ia mau tanpa kendala. Setiap yang ia inginkan harus segera di miliki. Sifat yang sangat buruk bagi wanita. Mungkin, karena memang bibirnya juga buruk. Roger sang papa adalah pengusaha yang akan menghalalkan segala cara demi meraih keuntungan besar.
"Baik, Nona."
Mereka pun meluncur menuju klub milik Roger Oxxon.
Sementara itu.
Ghazali naik kelantai atas sendirian. Karena ia pikir, penjaga telah dilumpuhkan di bawah sana. Ia telah mempersiapkan nyalinya dan juga skill yang selama ini tak pernah ia gunakan lagi. Meksipun, di masa muda atau remaja dulu, Ghazali pernah terlihat kehidupan malam yang bebas. Balap motor, berkelahi antar gangster, hingga bukan hanya pernah menggunakan senjata tajam tapi juga senjata api.
Karena, memang sang papa memfasilitasi Ghazali. Arkhan memang hendak menciptakan putranya itu menjadi pria terkuat yang tak mudah di kalahkan. Namun, takdir berkata lain. Ghazali bertemu seseorang yang menyelamatkan nyawanya dan juga menariknya kembali ke jalan yang benar.
Jika terlambat, mungkin saat ini ia telah menjadi pemimpin kumpulan gangster di kota. Itulah, yang sang papa inginkan. Ia justru bangga ketika sang putra menjadi kuat dan ditakuti. Ia bukan hanya membekali sang putra dengan pendidikan formal tapi juga mendatangkan beberapa pelatih beladiri untuk menanamkan skill bertahan hidup dan juga mempertahankan posisinya.
Di dalam ruangan, Zahra yang tak tau jika penolongnya telah tiba dan melumpuhkan sebagian penjaga di luar. Ia tetap menantang dengan berani untuk keluar dari tempat ini.
Zahra memutar tubuhnya dan mengarahkan sikunya hingga mengenai perut Gilbert. Cekalan pria Riu pun terlepas, dan Zahra menarik tangan Sisca kemudian mendorong wanita itu Kedinding.
"Buka pintunya! Bilang ke bos-lu untuk buka pintunya!" ancam Zahra membuat Sisca kaget tak menyangka jika ternyata Zahra bukan gadis lemah dan polos seperti yang ia sangka selama ini.
"Kalian gak akan bisa keluar! Lagipula kita belum memulai permainan sesungguhnya yang lebih seru daripada ini. Aku suka, tipe gadis yang berani sepertimu. Pasti permainan kita nanti akan semakin luar biasa," ucap Roger seraya memasang seringai bengis di wajahnya. Zahra sempat bergidik ngeri sekaligus jijik. Ingin sekali ia memukul Sisca demi melampiaskan rasa kesalnya.
Bagaimanapun ia tetap memiliki rasa takut. Posisinya hanya wanita dan penjahat di hadapannya ini adalah laki-laki dengan tubuh kekar.
__ADS_1
Apalagi kalau sampai Roger memanggil anak buahnya. Bisa mati riwayatnya. Begitu pikir Zahra.
Ia dan Reva memundurkan langkahnya kala Gilbert dan Roger semakin melangkah maju mendekatinya. Sisca yang mendapat kode dari sang pacar kemudian memegang sebelah tangan Reva. Namun, di luar dugaannya, Reva menangkis cekalan pada tangan dan mendorongnya keras.
Brukk.
Sisca terjatuh mencium lantai.
Sementara Gilbert telah berada di belakang Reva dan berhasil mendekap tubuhnya berniat mengunci pergerakannya. Akan tetapi, Reva segera mengerahkan sikunya ke belakang dengan tenaga yang kuat. Hingga Gilbert mendapat pukulan siku ke perut. Juga, Reva mengarahkan kakinya untuk memandang bagian vital Gilbert. Pria itu melolong dan menggelinding merasakan sakit.
Sementara itu Zahra dan Roger, sedang berkelahi dan saling mengarahkan pukulan. Meskipun kaget karena mangsanya ini tidak lemah, tapi Roger tak mau melepaskan begitu saja. Skill dikala muda ternyata masih terpakai.
Zahra memberi pukulan bertubi-tubi dan juga menangkis berkali-kali dari serangan tanpa sedikit pun keraguan dari Roger. Hingga pada akhirnya, Zahra dapat menjatuhkan Roger dengan memberi pukulan telak ke arah hidung.
Roger terjatuh, berbarengan dengan pintu ruangan yang terbuka dari arah luar.
BRUGH
Daun pintu terbuka hingga lepas dari engselnya. Ketika sebuah tendangan kuat di berikan oleh pria berwajah manis yang kini sangat keras itu.
Ghazali. Dia datang ... untukku.
Zahra terkesiap dan ia hanya bisa membatin mengungkapkan kekagumannya.
"Apa yang terjadi? Zahra?" cecar Ghazali seraya mengedarkan pandangannya pada pria yang menatapnya nyalang itu.
Reva yang melihat selah langsung menyerang Gilbert demi melepaskan dirinya.
Dagh.
Sebuah tendangan pada tulang kering membuat Gilbert lumpuh. Sisca berteriak dan langsung menghampiri kekasihnya yang kesakitan. Sementara itu Ghazali hendak menghampiri Zahra , namun ...
GREP!
Sebuah tangan telah mengalung di leher Zahra dengan sebilah benda tajam bersiap mengiris leher.
"Zahra!" Ghazali memekik kala didepan matanya, Zahra tak berdaya.
"Lepasin, dia? Atau lu bakal membusuk dipenjara karena kasus pembunuhan, hah! Tempat ini sebentar lagi bakal di kepung oleh polisi. Jadi, bersikap baiklah, mungkin hukuman akan di kurangi sedikit!" ancam Ghazali, walaupun sebenarnya ia sendiri kaget bukan kepalang.
__ADS_1
"Keluar! Atau gadis ini bakal menjadi santapan pisau kesayanganku ini. Kebetulan, dia sudah lama tidak meminum darah manusia!" titah Roger mengusir Ghazali.
Ghazali bingung, posisinya kenapa jadi begini. Zahra kini berada dalam sekapan pria nekat ini. Pria yang tak segan membunuh lawannya meskipun ia seorang wanita sekalipun.
"Bang," panggil Zahra pelan. Membuat Ghazali semakin tak tau harus berbuat apa.
Di sebelah sana Reva masih berusaha melumpuhkan Gilbert dan juga Sisca.
Zahra gemetar, di saat Roger meniupkan udara ke telinganya. Meski di balut kerudung, tapi Zahra masih dapat merasakan hawa panas itu masuk. Kemudian, Roger seakan hendak meraba tubuh bagian samping Zahra. Kali ini yang menahan geram adalah Ghazali.
"Jauhkan tangan najis elu, dari tubuh Zahra! Tua bangka!" teriak Ghazali. Ia ingin sekali maju dan menghajar Roger. Namun, keadaan Zahra membuatnya berpikir beberapa kali. Bisa-bisa tindakannya yang gegabah justru menyulitkan dan semakin memperburuk kondisi Zahra.
Zahra semakin gemetar kala, Roger berhasil mencengkeram bagian belakang tubuh bawahnya.
"Kurang ajar!" Zahra dan Ghazali memekik berbarengan.
Zahra pun bertekad pada akhirnya, dengan gerakan cepat ia mendorong tangan Roger yang menempelkan pisau ke lehernya. Kemudian ia mengarahkan tangan yang menggenggam pisau itu ke arah perut Roger.
Pada saat itu Ghazali juga maju, menendang pisau dan Roger kemudian. Hingga, pria itu terjengkang dan terpental.
Hookk!
Roger memuntahkan gumpalan darah dari mulutnya dan ia pun tak sadarkan diri. Sebab, Ghazali menendangnya cukup kencang.
"Maaf, Ra. Tangan kami kena tendangan aku ya?"
"Tak apa, sedikit." Zahra nampak memegangi tangannya yang nyeri.
"Kalau kau menusuknya nanti. Maka kesalahan akan berbalik. Lagipula, kau tidak perlu mengotori tangan sendiri dengan darah kotor pria mesum itu!" ucap Ghazali masih menahan kesalnya.
"Tinggalkan mereka, kita keluar dari sini. Ayo!" ajak Ghazali. Reva pun menggandeng sahabatnya ini yang nampak menahan tekanan di dadanya.
Di depan pintu nampak Gilbert dan Sisca yang juga sudah tak sadarkan diri. Zahra menatap sebentar ke arah Sisca yang menghapus buru-buru air mata yang menggenang.
Di luar gedung klub. Rasti nampak bingung karena banyak sekali pria berseragam ojol.
"Mau apa mereka, Saka? Kenapa berkumpul di depan gedung klub papa?" Rasti bertanya heran. Sementara, Saka pun langsung menghubungi para penjaga.
"Apa yang terjadi. Tak ada yang menerima panggilan satu pun." Saka bergumam. Namun, firasatnya mengatakan bahwa ada hal besar yang baru saja terjadi.
__ADS_1
...Bersambung...