Driver Ojek Online Itu Ternyata Ceo

Driver Ojek Online Itu Ternyata Ceo
Bab. 43. Ternyata ...


__ADS_3

Ghazali senang karena tanggapan dari mama dan sang adik begitu luar biasa. Mereka belum bertemu saja sudah terkagum-kagum begini. Bagaimana jika sudah bertemu langsung? Bagaimana jika mereka melihat aksi keberanian Zahra pada saat itu.


"Ya udah, nanti kita atur lagi. Aku seneng denger dukungan kalian. Tinggal, menanti jawaban dari Zahra. Dan juga ... bagaimana cara meminta restu dari papa," ucap Ghazali terlihat sendu.


Mendengar hal itu sontak Kazenia dan Shireen menunduk lesu. Jangankan menyampaikan tentang keinginan Ghazali. Sedangkan bertemu dengannya saja mereka harus sembunyi-sembunyi.


"Kita pikirkan itu nanti, Bang. Sementara untuk bertemu saja kita masih harus diam-diam, dan mencuri waktu seperti ini," terang Kazenia. Membuat Ghazali dan Shireen mengangguk setuju.


"Buat ketemu Abang kayak gini aja. Kita harus nunggu papa keluar kota dulu. Juga, harus tetap waspada dan hati-hati. Karena papa banyak mengganti orang harus sebagai pekerja di rumah. Iya kan, Ma?" tutur Shireen sekaligus meminta persetujuan dari sang mama.


Penjelasannya itu membuat kening Ghazali berkerut, pertanda ia tengah berpikir keras saat ini. Berkelebat berbagai pertanyaan di dalam kepalanya.


Apa yang sedang terjadi. Kenapa keluargaku seperti tengah di awasi? Apa ada campur tangan pihak luar? Atau ini semua memang rencana papa sendiri? Ya Allah, lindungilah keluargaku.


Batin Ghazali yang seketika khawatir dengan keadaan yang terjadi didalam keluarganya ini. Karena Ghazali paham siapa saja musuh sang ayah. Mereka semua yang Arkhan anggap sebagai relasi dan kawan. Sejatinya adalah lawan. Mereka kapan waktu saja bisa menjadi bom waktu yang akan menghancurkan sang papa.


Ghazali pernah memperingatinya. Bahwa usaha yang ilegal dan haram. Pasti akan berujung pertikaian. Tidak akan ada keberkahan di dalamnya. Tidak ada penjahat yang menjadi sahabat dalam artian sebenarnya.


Mereka sejatinya adalah lawan atau musuh yang sedang menyembunyikan paruh dan cakar mereka. Namun, akan ada masanya mereka menerkam dan menggigit.


Tak ada hukum saling membantu, atau simbiosis mutualisme. Justru kebanyakan dari mereka adalah benalu. Atau bahkan musuh dalam selimut. Hukum rimba yang berlaku, makan atau dimakan. Membunuh atau di bunuh.

__ADS_1


Usaha yang dijalankan dengan cara yang salah dan keluar aturan, sejatinya tidaka kan membuat hidupmu tenang bukan. Alih-alih menikmati hasil kerja keras di masa tua, Arkhan justru semakin di pusingkan dan di sibukkan dengan berbagai persoalan mengenai perusahaan serta kredibilitasnya dalam lingkungan organisasi yang ia geluti.


Inilah hal yang sejak awal Ghazali peringatkan pada orang tuanya itu. Namun, sifat Arkhan yang keras hati tak mau menerima nasihat baik dari putranya itu. Ghazali justru dianggap sebagai pembangkang dan anak tak tau diri.


"Bang. Ilen. Apa kalian tau ini restoran siapa?" tanya Kazenia pada kedua anaknya yang kini berada di hadapannya. Tentu saja Shireen dan Ghazali saling pandang setelah akhirnya keduanya sama-sama menggeleng.


"Alhamdulillah, ini adalah usaha yang sedang Mama geluti selama tiga tahun terakhir. Setelah dua tahun kepergian Abang. Mama mulai sadar apa maksud Abang saat itu. Dan, mulai saat itu juga, Mama menggunakan warisan dari kakek untuk membangun usaha ini."


Sontak, keterangan dari kabinet tersebut membuat heran Ghazali dan juga Shireen. Kedua anaknya itu menatap tak percaya, jika ternyata mama mereka memiliki usaha yang lumayan dan tersembunyi selama ini.


"Masyaallah, Ma. Ini luar biasa." Ghazali mengenggam tangan Kazenia. Ia begitu kagum dan bangga pada mamanya ini. Akhirnya Kazenia menyadari dan mengerti maksudnya selama ini.


"Jadi, selama ini Ilen kuliah bukan pake duit papa?" tanya Shireen penuh kebingungan.


"Alhamdulillah, enggak. Semua biaya yang mana keluarin buat Ilen adalah hasil dari restoran ini," jelas Kazenia dengan sebuah senyum hangat.


"Ah, yang bener Ma!" Shireen membekap mulutnya. Ia tak menyangka ketakutannya selama ini telah terjawab.


"Kamu kenapa sayang? Kenapa nangis?" Kazenia merengkuh raga Shireen.


"Ma, selama ini Ilen takut. Ketika Ilen kuliah dan segala kebutuhan ilen menggunakan uang papa. Setelah Ilen tau jika itu semua di raih dengan cara yang salah. Ilen takut, Ma. Karena itu, selama ini Ilen tidak menggunakan uang yang Mama kasih," terang Shireen yang seketika membuat Kazenia terkejut.

__ADS_1


"Lalu, selama ini Ilen kuliah dan membeli kebutuhan lainnya menggunakan uang siapa?" Kazenia yang sangat ingin tahu mencekal lengan putrinya itu. Ia takut jika Ilen selama ini sebenarnya tidak kuliah.


"Ilen ... Ilen, kerja Ma," jawabnya takut-takut. Ghazali yang ikut menyimak obrolan dari kedua wanita yang sangat ia sayangi ini ikutan menahan napasnya.


"Ya Allah, Sayang. Ilen kerja apa? Dimana?" cecar Kazenia lagi, masih tak melepas cekalannya.


"Ma, sabar." Ghazali menyentuh punggung tangan Kazenia dan mengusapnya. Agar wanita itu bisa mengontrol emosi dan luapan perasaannya.


"Oh, maaf, Nak. Apa Mama menyakiti kamu?" Kazenia sontak melepas cekalannya ketika ia sadar, bahwa putrinya ketakutan karena mengira ia marah.


"Ilen, mengajar, Ma. Di sebuah bimbel. Juga, privat bahasa Inggris online," jawab Shireen yang sudah mulai bisa mengontrol emosinya juga.


"Kapan waktu Ilen mengajar dan les privat? Ah, apa jam tambahan yang Ilen bilang itu?" Kazenia menutup mulutnya ketika Shireen mengangguk cepat. Pantas saja selama ini putrinya selalu aktif sejak pagi hingga jam enam sore. Terkadang malam harinya, Shireen akan sibuk di depan laptop. Ternyata putrinya selama ini bisa mencari uang sendiri. Pantas saja, ia tak pernah melihat putrinya itu shopping dan memberi pakaian baru.


Pantas saja, Kazenia melihat tampilan Shireen semakin sederhana. Ternyata putrinya itu berhemat dari uang yang ia dapat melalui usahanya sendiri. Kazenia bersyukur dan ia pun menangis tersedu. Hal yang sama pun akhirnya menular pada Shireen.


Ghazali menelan ludah, ia menahan sedih yang juga ikut membuncah di dalam dadanya. Hingga seulas senyum nampak menghias di wajahnya yang manis. Tak menyangka jika perlahan mama dan sang adik mulai menjauhi kehidupan mewah dan hedonis mereka.


"Ma, Ilen. Abang seneng dengernya juga terharu. Karena kalian begitu berjuang mencari rejeki yang halal. Sekarang, terungkap semua. Bahwa apa yang Mama kasih ke Ilen adalah hasil kerja keras, Mama. Bagusnya, karena Ilen takut jadi membuat kamu akhirnya berusaha sendiri. Sehingga, tanpa kamu sadari kamu telah berkembang, dalam segi tanggung jawab dan juga akademik. Di usia muda, kamu bisa membiayai sekolah juga kebutuhan kamu. Juga lebih hemat tidak hedonisme lagi. Abang, bersyukur. Allah telah memberi hidayahnya secepat ini pada kalian berdua," tutur Ghazali dengan linangan air mata yang terus turun meski bibirnya tersenyum.


...Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2