Driver Ojek Online Itu Ternyata Ceo

Driver Ojek Online Itu Ternyata Ceo
Bab. 57. Romantis yang menular.


__ADS_3

Ghazali  kembali membungkam bibir ranum itu ketika, Zahra hampir memekik. Lantaran Zahra tak tahan ketika merasa sensasi perih di area pribadinya. Dimana pada saat ini selaput mahkotanya telah koyak oleh paku bumi yang melesak perlahan menembus pertahanannya di bawah sana.


'Ya Allah, apa aku terlalu kasar?'


Seketika Ghazali merasa bersalah. Apalagi ketika ia membuat wanita di bawah kungkungannya ini menangis tanpa suara.


Butiran kristal bening telah menggenang di ujung matanya indahnya. Sekuat tenaga ia menahan sakit pada intinya, mencoba menikmati dan menerima hentakan demi hentakan yang membuat perih dan ngilu secara bersamaan. Zahra hanya bisa mengucap istighfar lirih berkali-kali.


"Maafin aku ya .... sebentar lagi aja. Aku janji ini gak akan lama. Tahan ya, sayang," bujuk Ghazali di sela kegiatannya yang cukup menguras tenaga itu. Karena. Inipun pertama kali baginya. Sehingga, ia masih meraba-raba apa yang harus ia lakukan.


Uhhmmm ...!"


"Sayaaaaangg ...!"


Setelah hampir satu jam berkutat dalam perjuangan, hingga peluh keduanya bercampur lengket. Tiba juga saat bagi mereka berdua untuk sampai pada ujung kenikmatan secara bersamaan.


"Alhamdulillah ...," lirih Zahra berucap. Ketika Ghazali telah memisahkan diri dari tubuhnya.


'Tulangku, rasanya seperti remuk.'


"Terima kasih, ya sayang. Anna uhibbuki fillah ...." Ghazali berkata manis seraya menatap penuh arti kedalam iris mata Zahra yang sayu dan lemas karenanya.


Setelah mengecup seluruh permukaan wajah istrinya yang basah oleh keringat, Ghazali lantas menutupi raga polos itu dengan selimut. Ia membantu Zahra membersihkan sisa percintaan mereka. Meskipun Zahra sempat menolak, tapi Ghazali akhirnya berhasil membujuk.


Pria berambut ikal ini pun tersenyum ketika di lihatnya kedua mata Zahra  telah terpejam.


"Maaf, telah membuat mu kesakitan dan lelah Semoga, engkau menjadi istri yang sholihah dan menjadi salah satu wanita penghuni surga nya Allah."


Ghazali memanjatkan doa dengan tulus, kemudian ia pun turun dari peraduan mereka, membersihkan diri dari sisa penyatuan barusan. Meski waktu telah menunjukkan jam tengah  malam, dirinya tetap mandi wajib. Karena ia tak kan bisa tidur dengan tubuh yang lengket.


Sebelum itu ia membersihkan bagian inti Zahra, dengan waslap dan air hangat. Lalu, mengompresnya sebentar karena agak bengkak akibat ulahnya yang tidak bisa mengontrol diri.


"Aduh, kasian istri ku. Maaf ya sayang. Darahnya, banyak juga. Aku janji akan menahan diri sebelum kamu pulih."


Setelahnya Ghazali kembali menutup tubuh itu, ikut berbaring di sebelahnya. Menarik tubuh hangat Zahra kedalam pelukannya.


'Enaknya punya istri, jadi punya guling hidup." Ghazali bergumam dengan senyum


Keesokannya, Zahra terbangun ketika sensor pada otaknya memerintahkan raga untuk bergerak. Dilihatnya benda bulat yang menempel pada dinding kamar. Dimana waktu telah menunjukkan pukul 5 pagi.


"Astagfirullah, sudah kelewatan subuh, harus segera mandi ini!" Zahra pun memekik panik ketika tersadar telah  bangun kesiangan.


"Allah ... aw ... aw," desis nya pelan, ketika sensasi perhitu kembali ia rasakan di bawah pusat tubuhnya. Zahra punmencoba turun perlahan-lahan saja dari pembaringan. Kemudian, ia merasa jika tubuhnya tiba-tiba melayang.


"Akh!"


"Astagfirullah! Abang!" pekiknya kaget. Ketika sepasang tangan kekar telah mengangkatnya dan menggendongnya ala bridal style.


Cup.


"Abang!"

__ADS_1


Cup.


"Ih!"


"Panggil yang benar, seperti semalam."


"I–iya, Suami ku sayang."


" Gitu doang panggilan untukku?"


"Iya. Emang mau gimana lagi?" Zahra merona malu apalagi tubuhnya masih polos tanpa sehelai benang.


" Ya udah deh. Daripada abang-abang. Emangnya aku ini, abang tukang bakso?" kelakar Ghazali membuat Zahra menyusupkan wajah pada dada bidang suaminya ini.


"Bukan tukang baso. Tapi tukang ojek. Lupa ya?" ledek Zahra. Membuat kedua bola mata Ghazali terbelalak kaget. Iya ya, kok dia bisa lupa.


"Turunin!"


"Enggak. Pak suami mau bantu kamu mandi."


"Ehh! A–apa!"


Tanpa memperdulikan protes dari istrinya, Ghazali tetap hendak membawa Zahra ke kamar mandi. Ghazali nampak melupakan sesuatu.


"Enggak usah! Biar Zahra mandi sendiri aja!" tolaknya, karena tidak mungkin ia keluar seperti ini kan? Sebenarnya apa yang Ghazali pikirkan.


" Kenapa, kamu lupa ya? Kisah Rasulullah yang mandi junub satu bejana dengan Sayyidatina Aisyah R.A?" tanya Ghazali percaya diri, namun hal itu seketika membuat menatapnya aneh.


"Ingat sih, hanya--"


"Eits, tunggu!" Zahra bahkan sampai menepuk keras bahu suaminya itu demi mengembalikan kesadaran.


"Ya ampun, baru semalam jadi suami. Udah Nerima kdrt aja."


Kali ini bibir Ghazali yang mendapat tepukan dari Zahra.


"Asal aja deh kalo ngomong. Liat ini kita dimana? Bukan di hotel loh, tapi di kamar aku," gemas Zahra.


Ghazali pun sontak mengedarkan pandangannya dan ia meringis malu. Lupa, seenaknya saja ingin mengajak Zahra keluar dalam keadaan seperti ini. Bisa geger seluruh isi rumah.


Apalagi, Zahra mirip macam tutul sekarang.


Mau di kata apa oleh seluruh penghuni rumah?


Akhirnya Ghazali menurunkan raga istrinya itu dari gendongan. Ia pun memasang senyum demi menutupi rasa malunya.


'Haihh, niatnya romantis kayak cowok-cowok yang ada di Drakor. Malahan jadi malu banget ini sama Zahra. Oneng banget, lu Al!'


Ghazali puas mengumpat dirinya sendiri. Zahra sudah mengenakan pakaian dan membawa handuknya serta baju ganti. Ia melewati Ghazali sambil menggeleng.


Selepas mandi, Ghazali kembali menarik tubuh Zahra dan mendudukkannya ke pinggiran tempat tidur. "Masih bengkak gak? Sini, coba aku lihat!" tanya Ghazali sambil menyingkap bawahan daster panjang nan lebar yang Zahra kenakan.

__ADS_1


"Hyaaa ...!" Zahra yang kaget karena tindakan tiba-tiba dari suaminya pun segera menepis tangan Gibran cukup keras.


"Idih pelit amat!"


"Maaf, tapi Zahra kan malu ...," lirihnya kecil. Cukup menyesal karena sentakannya cukup keras barusan. Refleks sih niatnya.


"Kan, aku udah liat. Udah ngerasain juga," goda Ghazali, seraya tersenyum jahil. Ia suka melihat pipi Zahra yang putih menjadi merona merah.


"Abang!" pekik Zahra lagi. Bahkan kali ini ia telah merapatkan kedua kakinya.


"Aku cuma lihat aja. Masih bengkak apa enggak? Soalnya semalam udah aku kompres sih, tapi sebentar soalnya keburu ngantuk," jelas Ghazali jujur.


"Apa? Abang kompres? Eh?"


"Iya, itu kan udah kewajiban ku sayang,"


Zahra yang kini telah mengerti maksud dari suaminya itu, kini menurut. Ia mulai membuka kakinya sedikit demi sedikit. Posisi Zahra agar bersandar pada punggung dipan.


Ghazali sontak menelan ludahnya kasar serta jakunnya turun naik. Seketika gairahnya kembali menggelegak membakar birahinya. Semua rasa itu datang tatkala pemandangan indah itu, tertangkap oleh matanya. Pada saat ia telah menyibak bawahan daster Zahra.


Paku bumi yang lemas seketika kembali tegak berdiri, hingga membuat sesak celana boxer yang ia kenakan. Zahra yang menyadarinya lantas kembali menutup rapat kedua pahanya. Ia masih belum sanggup jika harus melayani lagi.


Zahra, kembali memalingkan wajahnya, ketika Suaminya itu  berdiri. Sehingga menampakkan dengan jelas  tonjolan besar itu di tengah celananya.


'Makanya aku nolak tuh ya gitu. Pasti kamu kepengen lagi. Sementara inti ku aja masih sangatlah perih.' batin Zahra.


'Hadeww ... gimana ini? Paku bumi mau menyerang negara api lagi. Sedangkan istriku saja masih ... ahh, alamat pusing deh.'


"Cepet mandi sana! Nanti bisa kesiangan nanti solat subuhnya." usir Zahra mendorong bahu Ghazali.


Ghazali pun mengangguk dan tersenyum, ia harus bisa menahannya.


Setelah solat subuh. Ghazali kembali menggiring Zahra ke tempat tidur mereka. Dirinya sungguh tak tahan mengingat bentuk tubuh sang istri yang membakar gairahnya. Pagi ini, mereka pun mengulang kisah semalam. Tanpa berpikir untuk mengisi perut yang kosong. Lantaran gelora keduanya yang menuntut untuk dipuaskan terlebih dahulu.


"Mereka gak keluar sarapan ya, Bun? Apa gak lapar?" tanya Umar heran.


"Ayah, kayak gak pernah jadi pengantin baru aja. Dulu inget gak. Ayah sama Bunda keluar dari kamar pas adzan juhur malah," celetuk Maryam. Seketika Umar pun terkekeh mengingat kelakuan dirinya dulu.


"Duh, Bunda pake ngingetin. Ayah jadi pengen nostalgia deh!" goda Umar seraya mengedip nakal.


"Ya ampun, inget umur Yah!" Maryam memukul lengan suaminya itu pelan. Tapi Umar justru menangkap tangannya.


"Ayah serius. Nanti abis sarapan, kita balik ke kamar ya," pinta Umar seraya menatap Maryam dengan puppy eyes.


"Iya, deh. Dasar tua keladi!" Maryam pun mencubit hidung Umar dan kembali berlalu ke dapur.


Kembali ke kamar pengantin.


Zahra yang merasa sudah lebih baik, tak sampai hati menolak keinginan suaminya itu. Apalagi, ia juga menginginkan hal yang sama. Perlakuan Ghazali yang lembut membuatnya ingin merasakan sensasi surga dunia itu lagi.


Meskipun, rasa takut itu masih menggelayuti hari dan juga pikirannya, ia mencoba menjalani kewajibannya dengan santai dan tenang. Dengan begitu maka kenikmatan akan ia raih sempurna.

__ADS_1


Karena hal yang membuatnya menjadi sangat sakit itu adakah ketika kita terlalu tegang. Karena itulah fiqih menganjurkan untuk melakukan pemanasan terlebih dahulu. Suami juga tidak boleh egois dengan memikirkan kepuasannya sendiri. Sejatinya, hubungan ini harus memuaskan kedua belah pihak secara adil.


...Bersambung...


__ADS_2