Driver Ojek Online Itu Ternyata Ceo

Driver Ojek Online Itu Ternyata Ceo
Bab. 55. Benda Tumpul Meresahkan.


__ADS_3

"Mandi dulu gih, lagian mau magrib juga, tanggung," ucap Ghazali.


"Eh i–iya." Zahra yang kikuk dan salah tingkah tanpa sadar, telah berjalan terlalu cepat. Hampir saja, ia tersandung karena bawahan dari inner gamisnya terinjak olehnya sendiri.


Ghazali sempat menahan napas sesaat lantaran Zahra hampir saja nyungsep. Untung ia segera menangkap raga istrinya itu.


Selepas melaksanakan solat magrib. Keduanya kembali keluar dan makan bersama. Kemudian mengantar kepulangan Kazenia dan juga Shireen.


Zahra berpelukan pada ibu mertua dan juga adik iparnya yang imut itu. Berjanji mereka akan mengunjungi mereka besok.


Ayah Umar yang memang pengertian. Menitahkan agar Ghazali dan juga Zahra istirahat kembali di kamar. Biar mereka para orang tua saja yang menyambut tamu. Karena masih ada beberapa kerabat dan tetangga yang datang telat karena kesibukan mereka.


Zahra pun menuntun sang suami ke dalam kamarnya yang tak jauh dari ruang tamu. Meskipun kecil, namun sudah di bentuk dan dihias sedemikian rupa. Sehingga nyaman untuk pengantin baru ini.


Selepas isya kedua juga mengerjakan solat sunnah dua raka'at. Yaitu, solat hajat malam pengantin.


Hingga terlihat saat ini kedua tangan mereka terbuka memanjatkan harapan dan pinta. Agar kehidupan rumah tangga mereka selalu dicurahkan Rahmat dan juga keberkahan oleh Allah Ta'ala. Mereka juga berharap selamanya, di dunia dan akhirat kelak.


Setelah mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangan. Ghazali kemudian berbalik menghadap kebelakang, di mana di sana ada sang istri yang menjadi makmum satu-satunya. Meskipun kamar Zahra kecil tapi masih bisa menampung mereka solat berdua. Karena lemari dan benda yang lainnya ada di luar.


Didalam kamar ini hanya ada tempat tidur dipan yang sudah dipasang seprai berbahan satin mengkilap juga ditaburi kelopak bunga. Di sebelahnya ada meja rias berukuran sedang dengan kaca besar.


Zahra yang paham dan mengerti, segera meraih tangan kokoh itu, mendekatkan pada kening dan hidungnya, hingga menempel pada mulutnya, itulah cara mencium tangan yang benar, secara takzim.


Ghazali tersenyum penuh syukur, kemudian ia meletakkan telapak tangannya ke atas ubun-ubun sang istri. Lantas ia, melafalkan sebait doa di sana. Doa yang akan membuat berkah dan pahala atas apa yang akan mereka lakukan ke depannya.


Senyum bahagia pun tersungging dari keduanya, menampakkan kebahagiaan dan kelegaan akan rindu yang terburai satu per satu.


Ghazali, menyentuh pucuk mukena yang dikenakan oleh Zahra , lalu jemarinya menyusuri pinggiran dari penutup kepala dan rambut Istrinya itu. "Abang, boleh buka ini?"

__ADS_1


Pertanyaan dari Ghazali barusan serta merta membuat Zahra menunduk segera, akan tetapi kepalanya tergerak perlahan, mengangguk. Meskipun tadi suaminya ini telah melihat bagaimana rambutnya tergerai. Namun, mendengar Ghazali meminta ijin membuatnya kembali merasa malu.


Telah mendapat lampu hijau, Ghazali langsung mengulurkan kedua tangannya menyingkap apa yang Zahra tutupi selama ini. Hingga menampakkan keindahan dari mahkota perempuan yang hanya dapat di lihat oleh mahramnya.


Perasaan cinta dan rindu membuat gelora tiba-tiba berkobar perlahan. Setiap sentuhan dari jemari Ghazali yang kini menyusuri rahang pipinya, mendatangkan gelenyar serta desiran yang membuat hasratnya seketika menggelegak.


Desah napas mereka memburu satu sama lain, entah siapa yang memulai. Mukena yang di kenakan oleh Zahra telah teronggok di atas sajadah. Wajah keduanya kini tak lagi berjarak. Kecapan demi kecapan terdengar manis manja, mereka yang sama-sama pemula hanya di dorong oleh naluri alami untuk memulai semua.


Penyatuan kedua bibir itu pun terlepas. Sesaat, dua pasang mata bertemu, beradu dalam kilau cahaya penuh damba, penuh rindu. Sebelah tangan Ghazali membelai rambut Zahra yang berwarna hitam legam. Kemudian, bergerak untuk menekan tengkuk istrinya ini.


Tanpa aba-aba, Ghazali kembali menyesap bibir ranum berwarna merah delima alami milik Zahra. Secara reflek, ia pun mengalungkan kedua tangannya pada leher Ghazali.


Pria berwajah putih bersih dengan rambut pendek ikal ini, melepas tautan mereka sebentar. Mengajak Zahra berdiri dengan tetap melingkarkan satu lengannya pada pinggang ramping Zahra. Ghazali berbalik dan mundur perlahan hingga ia duduk di pinggir kasur. Ia pun menarik Zahra agar naik ke atas pangkuannya.


Rambut panjang lurus Zahra yang berwarna hitam pekat itu telah terlepas dari ikatannya. Tergerai indah hingga menyentuh ujung punggung tangan pria yang menempel erat. Lembut dan wangi, hingga pria dewasa nan tampan  itu semakin terbuai dan mabuk oleh geloranya.


Ghazali kembali melepas pagutannya, terlihat ia menyatukan kening mereka berdua. Menyuplai oksigen yang sempat habis karena keduanya belum terbiasa.


" Sejak awal pertemuan kita ... hatiku, sudah menjadi milik Abang." Zahra pun menyahut tak kalah lirih.  Hingga, bibirnya kembali di sambar dengan penuh gelora oleh suaminya.


Pernyataan cinta dari keduanya, yang mencuat dari lubuk hati terdalam. Ternyata, semakin membuai mereka dalam hasrat penuh kerinduan. Ghazali berinisiatif memindahkan posisi duduk Zahra. Hingga kini raga mereka saling berhadapan.


Zahra, masih mengalungkan kedua tangan erat di leher  pria yang selalu di sebutnya dalam doa. Kedua bibir mereka masih saling terpaut satu sama lain. Saling memagut lembut dan menyesap penuh penghayatan.


Ghazali merebahkan tubuh ramping itu pelan, kemudian kedua tangannya di gunakan untuk menopang tubuhnya. Agar ia tak menindih raga Zahra, secara keseluruhan. Seketika kedua mata Zahra mendelik besar. Ia merasa ada benda tumpul yang menusuk di bawah perutnya.


"Bang! Itu apa?" kagetnya, di sela-sela sesapan sang suami.


"Itu? Itu apa?" Ghazali yang mendadak heran pun melepas tautannya dan terpaksa menjeda kegiatannya karena pertanyaan Zahra yang begitu ambigu.

__ADS_1


Melihat kening Ghazali berkerut bingung, Zahra langsung saja mengulurkan tangannya kebawah perutnya. Dengan polos dan tanpa ragu menyentuh sesuatu yang keras, yang telah menekan bagian atas daerah pribadinya.


"Ra! Asshh ..." ringis, Ghazali setelah memekik kaget, karena pusakanya tak sengaja tersentuh dengan kencang.


"Akh! E–emang itu apa!" Coba ih, Abangnya awas dulu!" Zahra pun mendorong Ghazali yang berada di atas tubuhnya dengan kuat, hingga pria itu terjatuh miring ke sebelah tubuhnya. Dan ...


Kedua mata indah Zahra membola, otomatis tertuju pada sesuatu yang menyembul di bawah pusar Ghazali. Karena bentuknya sudah membesar sehingga menyembul di balik sarungnya.


"Akh!" sontak Zahra menutup mata. "Ya ampun!


Jadi yang aku pegang barusan itu adalah? Aaa ...!" Zahra berteriak sambil menutup wajahnya dengan selimut. Kenapa dirinya bisa tidak tau ya? Kau bodoh sekali Ra! Memang benda apa lagi yang panjang, keras tapi tumpul. Puas Zahra mengumpat dirinya sendiri dalam hati.


"Hei! Kenapa malu? Tadi, kamu lho yang  pegang duluan. Nakal ya sekarang?" goda Ghazali dengan senyum jahilnya.


"Stop! Aku gak sengaja tadi," kila Zahra masih dari balik selimut. Ghazali menjulurkan tangannya untuk menyingkap kain tebal yang menutupi wajah istrinya itu.


"Oh, jadi gak sengaja, ya? Tapi, aku malah seneng lho. Di ulang boleh dong?" goda Ghazali dengan kerlingan nakal. Setelah ia berhasil menurunkan selimut dari wajah istrinya itu.


Sontak kedua pipi Zahra semakin merona merah, ia menolehkan wajahnya kesamping karena tak tahan menahan gemuruh dalam dadanya itu. 'Abang, kenapa jadi mesum gini sih? Bunda! Tolongin Kakak! Aku harus gimana?' Zahra terus berteriak dalam hati. Semua lantaran ia takut hingga tubuhnya terasa bergetar.


Ghazali yang paham pun, segera memeluk tubuh ramping itu, kemudian mendekapnya dengan erat. Menghujani seluruh wajah tanpa cela itu dengan kecupan lembut penuh cinta.


Ia, memutuskan untuk memulai semuanya secara perlahan. Mencipta kedekatan keduanya, seperti air yang mengalir tenang. Ia tak ingin ada paksaan atau tekanan pada salah satu dari mereka.


"Alhamdulillah. Akhirnya, Abang bisa memeluk kamu. Menghirup wangi rambutmu, dan merasakan bibir manis ini," tunjuk Ghazali, pada bibir ranum alami yang senantiasa menggodanya itu.


"Aku sama sekali tidak menyangka, jika  waktu ini akan tiba. Perjuangan demi  mendapatkanmu hingga berlabel halal akhirnya usai juga. Sekarang, aku dapat melihat wajahmu setiap hari."


Zahra mengembangkan senyumnya, mendengar ungkapan Ghazali. Hal itupun membuat Ghazali gemas dan kembali melabuhkan ciumannya ke setiap inchi dari wajah istrinya itu.

__ADS_1


...Bersambung ...


__ADS_2