
Ghazali, telah menurunkan penumpang pada gedung yang tak jauh dari sebuah klinik besar. Ia tidak menyangka akan kembali ke daerah dimana ia mengantar seorang wanita muslimah yang cantik. Bahkan, ia telah membuat gadis itu mendorong motor bututnya.
"Ini kan daerah tempat tinggalnya si adek manis." Ghazali bergumam seraya tersenyum simpul. Ia lantas menepikan kendaraannya kala menemukan barusan tukang jajanan pinggir jalan.
Berhubung ia mendapat tips lumayan. Ghazali pun memutuskan untuk mengisi kembali perutnya. Ia bahkan belum kena nasi sejak pagi. Kedua mata pekatnya menyasar pada sebuah gerobak pedagang kaki lima. Dimana penjual itu menggunakan tenda, meja dan juga kursi.
"Pesan batagornya satu ya, Mas!" ucap, Ghazali seraya tersenyum pada remaja pria tampan yang ia lihat duduk di depannya. Remaja tersebut membalas keramahan Ghazali dengan senyum tipis dan anggukan kepala.
"Bungkus, apa makan di sini, Bang?" tanya sang penjual.
"Makan di sini aja." Ghazali pun memilih duduk di sebelah remaja tampan itu. Kira-kira, remaja itu berusia tiga belas tahun. Tak lama pesanannya tiba, dan Ghazali dapat melihat betapa bocah tanggung itu makan dengan lahapnya.
___________
Di dalam klinik.
Zahra sudah sedikit tenang, karena sang bunda telah di tangani. Ia membiarkan ayah Umar yang menunggui bunda Maryam. Wanita itu berbaring di hospital bed, dimana saat ini sedang menerima infus nutrisi dan juga vitamin. Karena Zahra harus keluar mencari sang adik, Adam. Remaja kelas dua sekolah menengah pertama itu tiba-tiba menghilang dari ruang tunggu.
Zahra berdiri di depan klinik, kemudian menengok ke kanan dan ke kiri, dimana terdapat parkiran beberapa sepeda motor dan juga mobil. Ia pun beralih ke arah lain.
Kemudian, Zahra mencoba keluar gerbang, menghampiri beberapa tukang jualan dengan gerobaknya, ada siomay dan batagor, cilok juga basreng, tahu krispy, molen imut serta tukang bakso dan penjual es poci.
Pedagang yang ramai, karena memang letaknya strategis di pinggir jalan. Memuat, Zahra menyisir satu-persatu gerobak yang mangkal didepan klinik tersebut.
''Enak juga nih ... batagornya gurih, sambelnya juga, nampol,'' gumam, Adam sambil menguyah. Remaja tanggung yang bertubuh sedikit berisi ini terus saja mengomentari jajanan yang di lumuri dengan saus kacang tersebut.
"Sstt! Jangan mengunyah sambil ngomong, selain bisa bikin keselek, juga udah mengabaikan adab saat makan. "ujar Ghazali, berusaha menasehati anak remaja yang mengunyah sambil terus bergumam itu.
Tegurannya itu membuat Adam tersenyum kikuk dan kembali makan sambil menunduk.
__ADS_1
"Astagfirullah, Adam!" pekik Zahra tertahan, ketika ia menemukan sang adik tengah syahdu menikmati makanannya. Sementara dirinya menyusuri jalan sekitar pedagang kaki lima ini berjualan lantaran khawatir.
Sang adik pun terperanjat, dan spontan menghentikan aktivitas kunyah mengunyah seketika.
"Kakak!" kaget Adam segera berdiri dan memasang seringai menyebalkan yang mana menampilkan barisan giginya yang rata itu.
"Gak usah nyengir! Kamu ini! Kakak cariin juga dari tadi, taunya lagi asyik makan jajan," sembur Zahra, meski tak ayal ia pun ikut menghempaskan bokongnya di salah satu kursi. Kemudian mengambil air mineral gelas dan menyedotnya.
Akan tetapi sepasang mata indah dengan bulu mata lentik itu terpekur pada satu sosok yang sedang menatapnya di ujung sebelah kanan dari Adam, adiknya. Zahra mengedip beberapa kali mencoba memastikan apakah penglihatannya benar dan tak salah. Tapi, pria yang mengenakan jaket driver Ojek online itu tersenyum padanya.
"Aku laper, Kak, dari pulang sekolah belom sempet makan, disekolah juga tadi gak jajan," jawab Adam. Memberi penjelasan pada kakak perempuannya ini sehingga Zahra langsung menoleh padanya.
Zahra pun mengangguk singkat, tidak terlalu menggubris alasan dari sang adik, karena pikirannya sedang bertumpu pada sesosok pemuda manis tapi kumel yang sedang menyeruput es teh manis.
"Kayak kenal?" gumam, Zahra memicingkan matanya kepada pemuda yang sedang asyik menikmati siomay dan batagor yang disiram dengan saus kacang serta kecap itu.
Yang diperhatikan nampak gelagapan sesaat, setelah akhirnya ia kembali mampu menguasai dirinya. Ghazali pun hanya menjawab keheranan, Zahra dengan lirikan mata ke arah piring, sambil terus mengunyah.
"Nganter customer, tuh di gedung sebelah klinik," jawab si pemuda berjaket hijau yang sudah diturunkan resletingnya, hingga menampakkan kaos oblong berwarna hitam.
Zahra, pun mengangguk dan memutuskan untuk menghentikan interogasinya, setelah dirasa jawaban sang pemuda manis yang berambut ikal itu masuk di akal.
Dengan menunduk sembari menghabiskan sisa makanannya, sang driver ojol tersebut seakan tidak terganggu dengan kehadiran, Zahra.
"Em, kebetulan, Abang masih disini. Nanti saya bisa minta tolong, kan ya ... untuk anterin ayah, saya, pulang?" tanya Zahra. Ghazali pun menoleh padanya.
"Bisa kok, gampang deh," jawab Ghazali enteng. Sambil kembali menusuk makanan di atas piringnya dan garpu dan kembali memasukkannya kedalam mulut.
"Gak pake aplikasi, apa gapapa?" tanya, Zahra lagi dan seketika pandangan keduanya beradu.
__ADS_1
"Bisa kok! Bisa banget malah!" Ghazali, seketika bangun dan menegakkan badannya.
Menciptakan gelak tawa pada dari si remaja tampan, Adam.
"Alhamdulillah, terimakasih atas ketersediaannya. Mungkin, menunggu sekitar setengah jam lagi," terang Zahra.
Ghazali pun mengangguk.
"Kalau begitu, saya ke dalam dulu ya." Dengan senyum ramah, Zahra pun segera berdiri dan mengambil minuman kemasan gelas itu kemudian membayarnya.
"Kamu juga balik!" Zahra menatap tajam ke arah adiknya itu. Sehingga, membuat remaja yang memiliki paras lumayan manis itu, menelan ludah.
Kembali kedalam klinik dan ternyata telah ada beberapa kawan sang ayah yang datang menjenguk. Mereka dikenali oleh Zahra sebagai kawan ayah Umar, ketika masih menjadi tukang becak, kala itu.
Mereka datang menawarkan bantuan untuk membawa Umar dan sang istri sampai kerumah. Tanpa menyewa mobil lagi. Mereka memastikan jika kendaraan mereka pun aman. Padahal mereka juga telah lama tidak bekerja sebagai penarik becak. Lantaran, omset semakin sepi sehingga mereka memilih bekerja serabutan. Terkadang bekerja sebagai kuli bangunan maupun kuli angkut barang di pasar.
"Makasih, ya Pak Sobri. Hati-hati," ucap Zahra mengantar kepulangan sang bunda dan ayah yang naik becak.
Setelah becak yang membawa pak Umar dan Maryam, berlalu keluar dari area parkiran klinik. Zahra, membelokkan kaki dengan cepat untuk kembali ke dalam klinik demi menunggu antrian obat untuk sang bunda. Baru saja, ia berbelok dan hendak melangkah, tiba-tiba ada seseorang yang memanggilnya.
"Mbak ...!"
Zahra, pun sontak menoleh.
"Eh, Astagfirullah! Ya ampun, saya lupa kalo, Abang masih disini," ucap, gadis cantik mengenakan pasmina itu kikuk, ketika posisi si abang ojek online carteran berada di hadapannya.
"Saya tadi, liat, ayahnya, Mbak--"
"Maaf, ya, Bang. Saya, gak jadi pake jasa ojeknya. Soalnya, tadi mendadak ayah dijemput dengan becak kawannya," ucap, Zahra dengan ekspresi bingung. Sebab, ia merasa tak enak sebenarnya, sudah memesan agar, Ghazali menunggu tapi tidak jadi menggunakan jasanya.
__ADS_1
...Bersambung ...