
" Gapapa, Mbak, saya juga liat kok tadi. Lagipula itu justru lebih aman sebenernya buat Ibu!nya, Mbak," ucap driver ojol tampan bin manis ini dengan santai.
" Saya, jadi gak enak sama, Abang, beneran gapapa nih? "tanya, Zahra memastikan.
"Beneran kok, gapapa. Santuy aja. Kan saya masih berguna juga buat nganterin, Mbaknya pulang. Eh, atau, Mbaknya ada yang jemput juga?" tanya, Ghazali ambigu.
"Saya, bisa jalan kaki, Bang, deket kok."
"Loh, nanti capek, Mbak. Panas juga cuacanya, bisa lumer loh!" seloroh, Ghazali sambil terkekeh kecil.
Zahra, hanya menggeleng pelan menanggapi kelakar, Ghazali yang macam rengginang kelamaan di dalam kaleng.
"Saya harus antri obat, takutnya lama. Lebih baik, Abang cari orderan lain aja. Sekali lagi saya minta maaf." Kata, Zahra sambil mengatupkan kedua tangan didepan dada.
"Gapapa, saya tungguin sambil nyari orderan sekitar sini. Seandainya gak dapet, berarti memang rejeki, Mbak," sahut, Ghazali santai. Entah kenapa ia tak rela jika gadis secantik itu harus jalan kaki.
Zahra mengabaikan keras kepala, Ghazali. Ia tak mau berdebat dan justru semakin memperlambat kepulangannya kerumah. Karenanya, Zahra meninggalkan pemuda itu, dan segera masuk kembali kedalam klinik.
Tanpa memperdulikan sang driver yang tersenyum penuh arti.
"Met, Met. Gadis itu kenapa selalu membuatku merasa tenang ketika memandangnya." Ghazali, bercerita pada benda mati yang setia menemaninya semenjak ia keluar dari istana sang papa.
"Hah, Met. Gila gua lama-lama, dikacangin mulu sama elu!" Ghazali tertawa sembari menepuk-nepuk bodi kendaraan roda duanya itu.
Lima belas menit kemudian giliran, Zahra dipanggil. Kemudian sang apoteker menjelaskan dengan rinci obat apa saja, dan waktu serta dosisnya.
Zahra mendengarkannya dengan seksama, karena nanti ia harus kembali menyampaikannya kepada sang bunda.
Kemudian, Zahra beralih ke kasir. Membayar seharga enam ratus tujuh puluh lima ribu rupiah.
Itu sudah termasuk obat, vitamin, infusan, dan biaya dokter.
Zahra harus merelakan sisa gajinya untuk transportasi menuju pabrik tempatnya bekerja. Ia tak mau memikirkan bagaimana nanti, terpenting nasib sang ayah dulu. Setidaknya ia lebih tenang sekarang.
__ADS_1
Setiba di depan gerbang, sebelum, Zahra berbelok. Tiba-tiba, Ghazali, telah kembali berada di hadapannya lagi.
'Demi katakululu, ingin rasanya aku menghipnotisnya agar dia mau menuruti apa kata-kataku, dan segera pergi dari hadapanku.' batin Zahra gemas.
"Ayo, Mbak. Saya anterin pulang, biar cepet diminum tuh obat sama ibunya," ucap, Ghazali enteng, sembari menyerahkan helmnya kepada, Zahra.
Akan tetapi, gadis manis di hadapan Ghazali ini tak bergeming dan hanya menatap ke arah driver ojek online ini dingin.
" Abang, gara-gara abis makan batagor, jadi gak ngerti bahasa Indonesia ya? Apa perlu saya ngomongnya pake bahasa Jerman? Apa bahasa kodok aja sekalian?" cecar, Zahra kesal. Pasalnya ia tak suka terhadap pria pemaksa. Dirinya sudah memerintahkan agar, Ghazali pergi. Tapi kenapa pemuda ini masih saja menunggunya. Tentu saja hal itu membuat pikiran buruk seketika menguasainya.
"Ya ampun, keluar galaknya." Ghazali justru terkekeh. Melihat gurat emosi di wajah cantik Zahra.
"Memangnya, ada ya kayak gitu, halu aja nih, Mbaknya. Saya gak akan faham kalau, Mbak bicara pake bahasa Jerman, dan emang bisa bahasa kodok?" ledek, Ghazali. Membuat, Zahra semakin geram saja.
"Lalu, kenapa abangnya masih disini juga, kan udah saya bilang, saya itu gak usah ditungguin!" protes, Zahra. Gadis itu menghela napas pelan untuk menghalau emosinya.
Zahra, bukan tipe perempuan yang gampang didekati lawan jenis, bahkan banyak yang bilang dirinya termasuk judes terhadap laki-laki. Ia akan spontan menghindar jika sudah mulai melihat gelagat yang mencurigakan.
'Gila ya ni, cewek. Cakep, manis tapi mulutnya pedes kayak seblak mercon.' batin Ghazali yang menertawakan nasibnya. Apa lantaran karena keadaannya yang seperti ini, ia menjadi layak di curigai.
"Orderannya, gak ada yang nyangkut. Gimana dong? Jadi, ya saya tetap di sini. Mungkin, memang, saya disuruh standby aja kali buat nganterin, Mbak manis pulang," kilah, Ghazali. kemudian memukul kecil mulutnya sendiri.
'Pake keceplosan lagi dah, jadi mau malu kan?Nanti, di kira modus gimana? Padahal sih emang sekalian. Ya kali aja gitu.' Perang dalam batin bang ojol, jadi bikin pengen nimpuk gak si?
Zahra nampak terlihat ingin mengulas senyumnya, akan tetapi ia mencoba tetap bertahan memasang wajah tanpa ekspresi.
'Mukanya polos sih, gak kayak lagi modus. Ah, sepertinya dia jujur.' batin Zahra mencoba percaya pada driver ojol di hadapannya.
"Oke, oke! Saya terima alasannya. Tapi, saya minta di anter ke pasar dulu ya, mau nyari buah alpukat mentega." Dan akhirnya, Zahra memutuskan untuk mempercayai, penjelasan dari Ghazali. Ia pun meraih helm yang diserahkan kemudian mengembalikannya lagi setelah ingat bahwa benda itu tidaklah di butuhkan.
"Kenapa gak jadi di pake helmnya? Ghazali heran, namun pemuda itu tetap meraih helmnya yang diserahkan oleh Zahra.
"Males ah! Jarak dekat dan gak lewat jalan raya," jawab, Zahra cuek.
__ADS_1
"Jauh maupun deket, tetap harus di gunakan, biar safety." Ghazali, kembali menyodorkan helm berwarna hijau itu pada, Zahra.
Akhirnya, Zahra pun meraihnya dengan sedikit malas, daripada berdebat yang hanya akan membuat waktunya semakin banyak terbuang. Keduanya pun berlalu ke pasar yang jaraknya tidak jauh dari klinik.
"Yuk, balik. Udah mendung gitu, takutnya keburu turun hujan."
Langit memang nampak begitu gelap di sebelah timur sana.
"Kuylah!" jawab, Ghazali. Sekali lagi, ulahnya mampu memancing senyum tipis di wajah manis.
Jalan menuju pulang, hembusan angin yang tadinya pelan mulai terasa kencang, bahkan menusuk menembus jaket kumal yang dikenakan oleh, Ghazali.
Sepertinya hujan benar-benar akan turun kali ini.
Karena sudah cukup lama, kota ini berada di musim kemarau, dan memang tanah sangat mengharapkan guyuran dari langit. Agar bumi tidak terlalu gersang.
Mungkin hal inilah yang membuat cuaca siang tadi panasnya terik sekali tanpa sedikitpun angin.
Ternyata ...
Tes
Tes
Tes
Rintik demi rintik mulai turun satu-persatu membasahi tanah pijakan kering yang di lalui oleh roda kendaraan tua, milik Ghazali.
Tak lama, keduanya sampai di depan halaman rumah sederhana milik orang tua, Zahra.
Ghazali, tak melepas pandangannya ke arah, Zahra. Dimana, gadis itu meletakkan belanjaannya begitu saja di teras. Kemudian, terlihat jika gadis itu hendak mengambil uang di dalam dompetnya.
'Eh, dia pasti mau bayar. Enggak ah, gua harus buru-buru kabur ini.' Ghazali bersiap untuk putar balik.
__ADS_1
...Bersambung ...