Driver Ojek Online Itu Ternyata Ceo

Driver Ojek Online Itu Ternyata Ceo
Bab. 33. Tawaran Dari Ghazali.


__ADS_3

Di sebuah kamar, seorang wanita mendapat kekerasan begitu rupa dari pria paruh baya yang super kasar. Raga polosnya beberapa kali mendapat pukulan. Baru saja Sisca hendak menoleh dan menegakkan tubuhnya, sebuah tendangan kuat kembali mendarat di wajahnya, membuatnya tersungkur dan terguling mencium lantai marmer yang licin.


"Cium tu marmer sampe puas! "


teriak Roger Oxxon mengeluarkan emosinya dengan nafas yang memburu dan rahang yang masih mengeras. Ia pun menarik rambut Sisca hingga kepala wanita itu mendongak dan Roger langsung membenturkannya dengan kuat.


"Akhh!"


"Sakit, Om!" Sisca berteriak sambil menangis. Entah sudah berapa kali ia memohon dan berapa banyak mengeluarkan air mata. Karena begitu perih yang ia rasakan pada kulit kepalanya. Juga sakit di seluruh tubuhnya.


"Dasar gadis bodoh tidak berguna! "


Kali ini Roger mendorongnya ke dinding dan mencekik leher Sisca , hingga nafas gadis itu tercekat.


"Egh! To– tolong ...!" Sisca memekik tertahan karena cekikan yang kuat dari Roger pada lehernya.


"Kau yang harus menggantikan sahabatmu, untuk memuaskan ku! Karena dia terlepas,


maka akan kubuat kau mati lemas di atas tempat tidurku," ucapnya pelan namun bernada mengancam dengan seringai yang dan tatapan mata yang sangat mengerikan. Membuat bulu kuduk Sisca meremang seketika.


"Tidak, Uncle ... tidak!" Sisca menggeleng lemah dan berteriak sekuat tenaganya, ketika kini Roger menyeretnya raganya tanpa ampun. Kemudian melemparnya ke atas tempat tidur.


Roger melakukan hal penyatuan yang kasar beberapa kali. Geloranya memang sangatlah besar, sehingga tak cukup satu kali. Tubuh Sisca yang mungil nampak terengah-engah di bawah kuasa Roger. Tenaganya sudah habis ia telah lemas mengikuti setiap gerakan dan posis yang diinginkan oleh Roger. Ia sudah lelah, Bahkan kedua kakinya sudah gemetar.


"Lepaskan Sisca, Uncle ...," ucapnya lirih denhan sisa-sisa tenaganya. Roger yang memang kejam dan berhati dingin mana perduli rintihannya. Apalagi Sisca telah membuatnya kecewa dan merasa di permalukan atas peristiwa tadi. Maka, beginilah akibatnya. Roger, benar-benar tidak akan berhenti membuat Sisca mengerang dan merintih kesakitan.

__ADS_1


Sisca beberapa kali tersedak dan muntah atas perbuatan Roger yang melakukan beberapa kali perbuatan menyimpang dari penyatuan mereka. Hingga teriakan melengking dari Sisca hingga berakibat ia tak sadarkan diri. Karena, Roger memasukinya tidak melalui tempatnya. Sungguh, penyiksaan yang kejam.


Mendapati keadaan Sisca sudah lemas, Roger menampilkan seringai bengis di wajahnya yang kini terlihat sangar. Ia merasa sedikit puas. Meskipun, tak jadi merasakan anak perawan. Setidaknya geloranya yang besar telah terlampiaskan. Roger meninggalkan begitu saja raga mungil polos itu tergeletak lemah di atas tempat tidur ruang VVIP.


Sebelum keluar, ia menarik laci di meja kerja. Mengeluarkan sesuatu yang mampu membuat kepala seseorang berlubang.


Pucuk dicinta ulam pun tiba, Gilbert menghampiri Roger demi menanyakan keberadaan Sisca. "Kau ternyata mengantar nyawamu sendiri. Pergilah ke neraka bersama pacarmu itu!" teriak Roger lantang dan ...


Dorr!


Letusan dari suara tembakan menandakan bahwa peluru telah menembus dan membuat lubang di tengah kepala, Gilbert. Senjata api itu kembali ke saku, setelah raga kekar Gilbert roboh bersimbah darah.


____________


"Aku, tidak mau pulang." Sontak saja ucapan Zahra barusan membuat sepasang mata Ghazali membola.


"Eh, terus kamu mau kemana? Apa ada alamat lain selain rumah tempat tinggal keluargamu? Saudara mungkin? Aku akan mengantarnya." Ghazali tak menyerah, ia takkan membiarkan Zahra pulang sendiri.


"Aku gak tau mau kemana. Tapi yang pasti, ayah dan bunda gak boleh tau keadaanku dan juga kejadian ini. Apa yang harus aku lakukan?" Zahra meluruhkan raganya di atas trotoar. Keadaannya sungguh sangat sedih dan menyedihkan. Tak ad lagi sosok Zahra yang kuat dan berani. Ia tampak rapuh. Membuat Ghazali menatapnya penuh iba.


"Aku pasti terlihat sangat menyedihkan saat ini. Apa kau ingin menertawakan ku. Tertawa saja. Jangan memandangku dengan tatapan seperti itu. Aku tidak butuh air matamu!" ucap Zahra angkuh. Namun, tidak begitu bagi Ghazali. Ia justru melihat Zahra hampir putus asa karena tak dapat menyembunyikan sisi lemahnya. Meskipun ia telah berusaha mati-matian. Bahkan, dihadapan Reva sekalipun. Zahra tidak menunjukkan perasaannya seperti saat ini.


Hal Itu tentu saja membuat Ghazali semakin teriris. Tinggal saja di rumahku." Celetukan Ghazali membuat Zahra sontak membulatkan kedua matanya.


"Kau pikir itu saran bagus? Apa kau sudah gila, Bang. Apa kau mau kita di grebek warga, hah!" Zahra kesal. Ghazali dengan enteng mengutarakan idenya tanpa berpikir efek dan akibatnya.

__ADS_1


"Dengar dulu." Ghazali mencoba menenangkan Zahra. Ia duduk di sebelah gadis itu.


"Nanti, aku numpang di rumah Jaka. Aku juga paham batasan, Ra. Kita gak akan digrebek. Kalau perlu, ajak Reva. Biar nanti kalau berangkat kerja dia Abang yang anterin. Seenggaknya kamu ada teman di rumah itu. Aku akan bicara pada pak RT. Pria itu pasti mengerti. Istrinya juga baik. Kamu memang harus menenangkan diri dan menyembuhkan beberapa luka." tutur Ghazali lembut. Ia menjelaskan maksudnya dengan perlahan dan sabar.


Ghazali sama sekali tidak merasa tersinggung atas nada bicara Zahra yang meledak-ledak. Ia mengerti jika emosi gadis ini masih belum terkontrol. Jiwanya masih terguncang. Zahra masih syok dan sulit menerima. Kajadian yang hampir saja menghilangkan nyawa serta kehormatannya.


Ghazali ikut merasa sesak, ketika ia tau bahwa Zahra masih menahan sesak di dalam dadanya. "Pikirkan alasan untuk kamu berikan pada kedua orang tuamu. Jika kebohongan ini bermaksud untuk menjaga perasaan dan mengontrol pikiran mereka. Aku mendukungmu, Ra. Pikirkan alasan yang baik dan masuk akal. Hubungi Reva, utarakan niatmu ini. Biar nanti aku yang menjemputnya di kosan jika dia setuju."


Zahra mendongak dan menatap lekat ke arah Ghazali. Baru kali ini ia berani menatap intens kearah lawan jenis. Ghazali, pria yang baru di kenalnya dan selalu mendapat sikap dingin bahkan sarkas darinya. Tapi, selalu ada ketika dirinya membutuhkan pertolongan. Pria itu selalu hadir di saat yang tepat.


Mendapat tatapan lekat dari Zahra justru membuat Ghazali menelan ludahnya kasar. Ia tergagap dan seketika gugup.


Zahra kenapa ya. Kok ngeliatin aku kayak gitu banget. Dia ... gak lagi kesambet kan? Jujur, aku ngeri Ra.


"Apa aku terlalu merepotkan kamu?" tanya Zahra yang akhirnya memalingkan wajah. Lama kelamaan ia tak kuat juga. Wajah pria di hadapannya ini semakin menawan jika dilihat terus.


"Gak sama sekali. Yok, naik!" Ghazali menyerahkan helm ke arah Zahra.


"Jadikan jaket ini sebagai jarak diantara kita," ucap Ghazali karena ia tahu jika Zahra nampak ragu. Ghazali melipat jaketnya dan meletakkannya di tengah jok.


Zahra pun mengangguk dan mengenakan helmnya.


Kasian, cantik-cantik mukanya bonyok . Kalo aja gak inget dosa dan hukum dunia. Udah ku habisi si tua bangka itu!


...Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2