
Beberapa minggu setelah Hanaya kembali sadar dari koma,akhir nya Hanaya di izinkan untuk pulang, dan Hanaya tidak perlu lagi menggunakan kursi roda,karena kondisi Hanaya pada saat ini hampir seratus persen kembali seperti semula.
" welcome back to home..!!" Hana disambut oleh ibu,dan para sahabat Hanaya dan Aryan.
Hanaya pun hanya tersenyum, dan langsung masuk kedalam rumah.
"Nak, mama sangat bahagia sekali kamu bisa melewati masa-masa kritis, dan kamu berjuang agar bisa kembali kepada kita semua, mama benar-benar sangat bersyukur sekali.." Nyonya Sandra pun memeluk Hanaya dengan tangis yang sudah tak bisa di bendung.
"Ayo lah ma, kenapa harus ada air mata lagi sih, kita semua harus tersenyum, untuk menyambut kedatangan Hanaya kembali. Arya pun melepaskan pelukan mama nya dari Hanaya, dan mengantarkan Hanya kedalam kamar.
"Hanaya kamu harus istirahat dulu, lumayan lama lho tadi di dalam mobil."
Aryan pun menyuruh Dewi,Luna dan Maya untuk mengantarkan Hanaya kedalam kamar nya.
Setelah Hanaya masuk kedalam kamar nya, Aryan pun mengajak Nyonya Sandra dan Riko ke ruang tamu, untuk membahas sesuatu hal yang sangat penting bagi Aryan. Setelah mereka duduk Aryan langsung memulai pembicaraan.
"Ma, Aryan agak sedikit bingung dengan kondisi Hanaya saat ini."
"Memang nya kenapa yan, Mama liat Hanaya semakin hari semakin membaik." Nyonya Sandra tidak yakin tentang apa yang dibicarakan oleh Aryan.
"Sudah berapa lama coba Hanaya siuman dari koma nya..?? tapi tidak satu patah katapun keluar dari bibir nya, dan cuma bisa mengiyakan omongan kita dengan senyuman datar seperti tadi.
"Tapi kata dokter di rumah sakit Hanaya tidak ada persoalan dengan pita suara nya." Nyonya Sandra mulai memikirkan kan apa yang di pertanyakan oleh Aryan.
"Positif thinking ajalah bro, mungkin Hanaya hanya butuh waktu untuk melewati ini semua,. Gue yakin Hanaya akan benar-benar kembali seperti sebelum kecelakaan yang menimpa dirinya. Riko berusaha meyakinkan kan Aryan jika Hanaya berada dalam kondisi baik-baik saja.
Begitupun dengan ketiga sahabat Hanaya, Dewi, Luna, dan Maya di buat bertanya-tanya tentang sikap Hanaya yang sangat tertutup.
"Kalian merasa nggak, Hanaya itu agak sedikit menghindar dari kita..?" Dewi ternyata sudah memperhatikan Hanaya semenjak dari rumah sakit, Dan mulai berani bertanya kepada teman-teman nya.
"Iya, aku juga ngerasain benar-benar beda dari Hanaya yang kita kenal dulu. Timpal Maya.
__ADS_1
"Huss,, jangan asal bicara, Hanaya itu kan baru bangun dari koma nya,wajar aja sikap nya masih begitu,kan semuanya butuh proses.." Maya berusaha membuat teman-teman nya berpikiran positif.
***
Hanaya yang sendirian dikamar, bangun dari tempat tidur nya, dan mulai mengelilingi setiap sudut ruangan, memandangi setiap poster-poster yang ada dikamar nya. Hanaya pun beralih melihat ke arah jendela,dan keluar menuju teras kamar, yang lumayan agak luas tersebut. Tampak ada kesedihan didalam mata nya, Namun tak bisa di ungkapkan. Dia kembali masuk lalu, menghempaskan tubuh nya keranjang. Lama untuk nya menatap ke atas langit-langit kamar. Tiba-tiba saja butiran-butiran bening seperti kristal jatuh membasahi pipi Hanaya.
" Ini seperti nyata,tetapi aku hanya bermimpi.."
Hanaya mengeluarkan suara untuk pertama kali setelah sadar dari koma nya. Hanaya pun meringkuk ditempat tidur nya, Lalu menangis sejadi-jadinya.
Semua orang yang tadi nya berkumpul di ruang tamu, spontan berdiri dan berlari ke arah kamar Hanaya, mereka pun panik, tapi sayang mereka tidak bisa masuk kedalam kamar, Hanaya menguncinya dari dalam.
"Hanaya, kamu kenapa..??" tanya Aryan cemas.
"Nak,kamu kenapa katakan pada mama. Apa ada yang sakit..?? atau kepalamu pusing..?" Hanaya tidak menghiraukan pertanyaan Nyonya Sandra.
"Tante, biarkan saja mungkin Hanaya butuh waktu untuk sendiri." Riko berusaha mengajak Nyonya Sandra yang lain nya kembali ke ruang tamu.
"Hana..kamu kenapa..? Kalo ada sesuatu cerita, jangan bikin kita semua panik. Hanaya pun masih tetap saja tidak keluar sehingga Luna kesal dan memilih untuk pulang.
"Ya sudah, jika kamu tetap begini terus aku akan pulang,tapi asal kamu tau kita semua bahagia melihat kamu sudah kembali.." Tanpa pamit Luna pun langsung keluar dari rumah tersebut. Dan disusul Dewi,dan Maya.
"Tan, Rik kita balik duluan nya, besok kita akan balik lagi kesini.." Dewi pun pamit.
"Maaf ya Dew, Tante nggak tau harus bagaimana, anggap saja mungkin ini efek dari delapan bulan Hanaya tertidur.."
" Nggak apa-apa Tante kita maklumi kok." Dia pun menyusul Luna .
"Oh ya, gue juga pamit ya bro, sekarang Hanaya sudah ada dirumah, gue balik dulu ada sesuatu yang harus gue urus." Riko pun juga pamit
"Tan, Riko balik dulu ya.." Riko menyalami Nyonya Sandra.
__ADS_1
"Iya Riko, terimakasih untuk semuanya ya,, Kamu sudah ikut untuk menjaga Hanaya selama dia masih koma, kebaikan mu tak akan pernah Tante lupain.."
"Ya Tan, itu memang yang seharusnya dilakukan keluarga.
Keesokan hari nya, Hanaya bangun lebih pagi, dan langsung menuju dapur. Dia mempersiapkan sarapan pagi untuk Kakak dan ibu nya. Aryan yang baru saja keluar dari kamarnya terkejut melihat Hanaya pagi-pagi sudah berada di dapur.
"Hana..?? kamu ko sudah bangun..?" Riko pun terkejut dengan apa yang ada di depan mata nya. Melihat sarapan yang sudah terhidang di atas meja makan membuat Aryan kebingungan.
"Ini..??" Aryan tak bisa berkata-kata.
" Sarapan untuk kita." Hanaya pun tersenyum,dan meneruskan pekerjaan nya.
Aryan berlari kearah adik nya lalu memeluk Hanaya. Tanda syukur jika adik kesayangannya sudah mulai berbicara.
"Terimakasih Tuhan."
Hanaya yang melihat tingkah kakak nya,hanya bisa tersenyum dan, didalam hati nya merasakan kebahagian ternyata kakak nya begitu sangat menyayangi nya.
***
Setelah sarapan, Hanaya membersihkan meja makan. Aryan yang kasian terhadap Hanaya menawarkan bantuan,. tapi ditolak oleh nya.
"Mau dibantuin nggak..?"
"Nggak usah kak, Hana bisa kok sendiri."
Aryan yakin sekarang adiknya benar-benar sudah pulih, tapi satu hal yang membuat Aryan terharu karena dalam kurun waktu 25 tahun belum pernah sekalipun Hanaya bangun di pagi hari untuk menyiapkan sarapan.
Hanaya kembali ke kamarnya, dan langsung menuju teras. Duduk dengan di temani secangkir kopi. Hanaya bukanlah penikmat kopi. karena dia tidak menyukai aroma yang ada pada kopi. Begitupun di pagi-pagi berikut nya,dia akan beranjak masuk jika panas sudah terlalu menyengat kulit nya. Dan pada saat malam hari dia akan kembali duduk di depan teras kamar nya. Masih dengan secangkir kopi yang menemaninya, terkadang tertidur, dan Arya selalu menggendong adik nya dan memindahkan nya ke atas tempat tidur.
Aryan sadar dengan perubahan yang ada di diri adiknya, dia hanya bisa memaklumi nya,. dan berpikir pada saat Hanaya mengalami koma, dia mungkin hidup di tempat lain dengan cara yang berbeda.
__ADS_1