Fantasi Hana My Yoongi

Fantasi Hana My Yoongi
Di dalam hati saja


__ADS_3

Hanaya yang pulang bekerja sendirian sedang menunggu taxi online di depan lobi utama kantornya, hari ini Luna tidak bisa menemaninya karena ada pertemuan keluarga, yang mewajibkan Luna untuk hadir dipertemuan tersebut.


"Tin, tin.." terdengar suara klakson yang tak asing di telinga Hanaya. Dia lalu melihat kearah mobil tersebut. Ternyata itu adalah Riko. Hanaya kaget melihat Riko yang sudah ada didepannya.


"Kak Riko..?" Hanaya berlari kearah Riko.


"Hai, ayo pulang." Riko menyuruh Hanaya masuk kedalam mobilnya.


"Tapi aku sudah pesan taxi, gimana dong..?"


Melihat ekspresi Hanaya yang bingung dengan taxi online yang sudah dipesan, membuat Riko tersenyum.


"Hana kenapa kamu sangat menggemaskan sekali." Riko berbicara dalam hati.


"Ya udah cancel aja, nanti bayar aja berapa tarif taxi nya." Riko keluar dari dalam mobilnya


"Oh, Ya udah kalo gitu, berarti kita tunggu sampai taxi nya datang." Hanaya bergeser agak sedikit mendekat untuk bersandar di mobilnya Riko.


Beberapa menit kemudian taxi online pun datang, dan Riko menghampiri taxi online tersebut lalu memberikannya ongkos sesuai dengan tarif.


"Ayo..!!" Riko membukakan pintu mobil untuk Hanaya.


"Oke, terimakasih..." Hanaya tersenyum. sehingga membuat Riko beberapa detik sempat tertegun karena terpesona oleh senyuman manis Hanaya.


"let's go.." Riko melajukan mobilnya.


"Mau makan dulu atau langsung pulang..?" Riko bertanya kepada Hanaya.


"Kita langsung pulang aja kak, aku udah pesan makanan, lagian hari ini bibi full seharian dirumah soalnya nggak ada Luna.


"Oh, ya udah."


Dalam perjalanan pulang Riko menyalakan musik, yang disambungkan dari bluetooth handphone nya.


Hanaya yang tadinya tersenyum, sekarang berubah menjadi murung, lagu yang diputar oleh Riko, ternyata mengingatkannya kepada Min Yoongi, lagu yang berjudul All i ask dari Adele begitu sering didengarkan nya pada saat perpisahannya dari Min Yoongi meskipun hanya sebatas fantasi Hanaya, tapi cukup membuat pengaruh besar dalam hidupnya.


"Hana kamu baik-baik aja kan..?" Riko panik melihat raut wajah sedih Hanaya.


Hana langsung menangis dengan suara yang sangat kencang, mau tidak mau Riko menepikan mobilnya lalu bertanya kepada Hanaya.


"Kamu kenapa Hana, apa yang terjadi..?" Riko memegang pundak Hanaya.


Hanaya tidak menjawab satu patah kata pun pertanyaan Riko, tetapi tangisnya semakin menjadi-jadi.


Riko yang tidak tau apa-apa menjadi kebingungan.


"Apapun permasalahannya pasti akan ada jalannya kok." Riko berusaha menghibur Hanaya dan langsung memeluk Hanaya yang tidak sudah-sudah dengan air matanya yang terus mengalir.


Tidak lama kemudian Riko tidak lagi mendengarkan tangisan Hanaya, dia berpikir mungkin Hanaya sudah mulai tenang.


"Hana, Hana.." tapi Hanaya tetap diam.


Riko tersenyum, dia tau jika Hanaya tertidur lagi dipundaknya dan menarik tubuhnya pelan-pelan lalu memegang kepala Hanaya dan agak sedikit menurunkan jok tempat duduk Hanaya agar Hanaya bisa tidur tanpa merasa terganggu.


"Riko, kali ini pundakmu benar-benar ajaib." Riko berbicara sendiri dan menepuk-nepuk pundaknya. Lalu diapun melajukan kendaraannya menuju rumah Hanaya.


Satu jam kemudian Riko pun sampai di kediaman Hanaya. Melihat Hanaya yang begitu sangat pulas, Riko tidak tega untuk membangunkan nya.


Riko pun menggendong Hanaya masuk kedalam rumah.


Bibi yang melihat Riko sedang menggendong Hanaya langsung membukakan pintu, dan bertanya.


"Hanaya kenapa nak..?" pembantu separuh baya itu khawatir.


"Nggak apa-apa Bi, Hanaya cuma tidur." Riko bicara dengan suara yang pelan.


"Ooo... iya, iya." Setelah Riko masuk bibi kembali menutup pintu.


Riko langsung menuju ke kamar Hanaya. Sebelum Riko merebahkan tubuh Hanaya diatas ranjang, Hanaya pun terbangun lalu membuka matanya.


Namun setelah melihat wajah Riko, Hanaya kembali memejamkan matanya, dan tertidur kembali.


" Selamat beristirahat putri tidur. "Riko menurunkan Hanaya dari pelukannya.


"Tetaplah disini walau hanya sebentar." Terdengar suara Hanaya yang sedang mengigau.


"Aku tidak tau siapa yang ada didalam mimpi mu, tapi aku akan disini sampai kamu terbangun."


Riko, melangkahkan kakinya ke teras kamar Hanaya, dia memperhatikan suasana di sekeliling tempat tersebut, sebelum dia duduk dan tertidur di kursi yang biasanya Hanaya juga sering tertidur disana.


***


Hanaya yang terbangun dari tidurnya melihat ke jam tangan yang dipakainya, waktu sudah menunjukan pukul 10 malam, dan Hanaya mulai kelaparan.


Hanaya menghampiri Riko yang duduk di teras, dia melihat riko yang tertidur lalu memperhatikan Riko mulai dari ujung kaki sampai ujung kepala.

__ADS_1


"Lagi tidur aja dia udah ganteng kaya gini pasti banyak yang suka sama dia nih.."


Tiba-tiba Riko membuka mata dan membuat Hanaya kaget bukan kepalang.


"Ya ampun, kak Riko bikin aku kaget aja.." Hanaya menjadi salah tingkah.


"Hana, kamu sudah bangun..?" Riko berdiri dari tempat duduknya.


"Maaf ya aku ketiduran lagi. Ayo kak kita makan." Hanaya langsung menarik tangan Riko.


Setelah sampai di meja makan, Hanaya melihat makanan yang dipesannya sudah ada di atas meja.


"Yah.. sop nya udah dingin, tunggu sebentar ya, aku panasin dulu." Hanaya membawa makanannya kedapur untuk dipanaskan kembali.


Setelah memanaskan makanannya, akhirnya Riko dan Hanaya makan. Malam itu, begitu sangat menyenangkan bagi Riko bisa makan malam berduan dengan Hanaya untuk sekarang sudah lebih cukup baginya. Melihat Hanaya saat ini membuat Riko memimpikan jika dia bisa menikahi Hanaya itu akan lebih membuatnya bahagia dari apapun.


Selesai makan merekapun beranjak ke ruang tamu, Hanaya menyuguhkan segelas kopi kepada Riko.


Mereka menghabiskan waktu dengan menonton televisi. Jam yang sudah menunjukan pukul 12 malam membuat Riko pamit untuk pulang, karena dia merasa tidak pantas bertamu sampai tengah malam, apalagi hanya ada Hanaya dirumah.


"Hana, sebaiknya aku harus pulang, soal nya sudah larut malam, kamu harus istirahat juga, besok pagi kamu akan berkerja bukan?."


Hana yang duduk disebelah Riko hanya bisa mengiyakan ucapan Riko, tapi sejujurnya dia sangat takut sendirian di rumah.


"Oh, iya kak." Hana pun mengantarkan Riko sampai kedepan pintu.


"Hati-hati dirumah sendirian, nanti kalo ada apa-apa langsung kabari aku ya." Riko pun berjalan dan masuk kedalam mobilnya.


Disaat Riko menyalakan mesin mobil nya, Hanaya berlari dan menghadang mobil Riko. Riko yang kaget langsung keluar dari dalam mobilnya.


"Ada apa Hana..? Riko menghampiri Hanaya.


Hanaya memandangi wajah Riko, tidak berani mengatakan yang sebenarnya, dia merasa gugup.


"Hana ada apa..?" Riko bertanya kembali.


Hanaya menatap Riko, dan mengumpulkan keberanian untuk bicara.


"Temani aku malam ini, Aku takut." Hanaya menundukkan kepalanya karena malu.


Riko menghela nafasnya, dia berpikir ada sesuatu yang terjadi, sehingga membuatnya ikut panik melihat Hanaya berlari dan menghadang mobilnya.


"Ya ampun Hana." Riko tersenyum dengan tingkah Hanaya yang membuatnya gemas.


"Aku takut." Hanaya seperti memohon kepada Riko agar tetap tinggal.


"Iya.." Hanaya menganggukkan kepalanya.


"Tapi apa kata orang-orang nantinya, melihat cewek cowok berduan didalam rumah.


"Oh, ya udah, kalo nggak mau." Hana langsung berjalan dan ingin masuk kedalam rumah sebelum Riko benar-benar pergi.


"Eeh, tunggu dulu jangan main kabur-kabur-kaburan gitu." Riko menahan tangan Hanaya.


"Kenapa..?" Hanaya menjadi ketus.


"Kamu serius mau ditemani..?" tanya Riko meyakinkan Hanaya.


"Ya serius lah, masa becanda." Hanaya kesal, karena Riko bertanya kembali.


"Ya udah, aku nggak jadi pulang, aku bakalan nemenin kamu malam ini."


Mendengar ucapan Riko Hanaya begitu senang, dan melompat kearah Riko, lalu memeluknya.


"Ini nih, yang akan membuatku khilaf" Riko berbicara sendiri.


***


Ternyata Dewi dari kejauhan sudah memperhatikan Hanaya, dan Riko. Disaat dia melewati rumah Hanaya dia melihat mobil Riko terparkir di balik pagar rumah Hanaya. Lalu menunggu sampai Riko keluar dari rumah Hanaya.


Namun melihat Riko yang kembali masuk kedalam rumah membuat Dewi begitu sangat kesal.


"Sialan, kenapa dia masuk lagi sih." Dewi pun pergi dengan amarah.


Sementara itu Hanaya dan Riko telah masuk kembali kedalam rumah. Riko yang memperhatikan Hanaya dari belakang hanya bisa tersenyum, dan hanya itulah yang bisa dilakukan oleh Riko.


Merekapun kembali melanjutkan menonton televisi, kebetulan pada saat itu acaranya sama-sama disukai oleh Hanaya dan Riko.


Malam pun semakin larut, Riko yang memperhatikan Hanaya yang sudah mengantuk mengambil bantal yang sudah disediakan lalu meletakkannya di pangkuannya sendiri, dan menarik bahu Hanaya yang sedang duduk disampingnya.


"Kak Riko.." Hanaya berusaha untuk bangun, tapi Riko menahannya.


"Sudahlah tidur saja, jangan menahan matamu yang sudah mengantuk."


Dan benar sekali, hanya dalam hitungan detik Hanaya langsung tertidur. Riko kembali tersenyum melihat Hanaya yang begitu nyaman sekali tertidur di atas pelukannya.

__ADS_1


Riko mengambil handphone nya lalu memotret Hanaya yang tertidur.


"Cantik.." Riko menyimpan foto Hanaya, dan menjadikannya wallpaper dilayar utama handphone nya.


***


Pagi pun datang menjelang, Hanaya bangun lebih dulu dari pada Riko. Alangkah kagetnya Hanaya melihat posisi tidur nya yang berada di pelukan Riko.


"Oh, my God, ini nggak bener nih.." Hanaya langsung berdiri."


Tapi melihat Riko yang yang tertidur menggoda mata Hanaya untuk menatapnya sedikit lebih lama.


"Seandainya aku bisa menyukainya, mungkin aku akan menjadi perempuan yang beruntung, tapi entah kenapa Yoongi selalu ada dalam hati dan pikiran ku.


Hanaya masih menatap Riko yang sedang tidur, dia sengaja duduk dilantai, didepan sofa yang menjadi tempat tidur Riko.


"Aku menyukai aroma tubuhnya, dan membuat ku bisa sangat nyaman disaat aku didekatnya." Hanaya berbicara dengan dirinya sendiri.


Hanaya pergi ke kamarnya untuk mandi, sementara itu, Riko ternyata telah bangun dari tadi, dan mendengarkan setiap kata yang terucap dari bibir Hanaya.


Dia merasa bahagia karena Hanaya merasa nyaman, disaat bersamanya, tapi di sisi lain dia merasa sedih karena Hanaya ternyata tidak menyukainya.


"Hanaa.....!!!!" terdengar suara Luna yang memanggil Hanaya.


Dia masuk, dan menuju ruang tamu Luna begitu kaget melihat selimut dan bantal yang berantakan.


"Ya ampun Hana, apa-apaan ini kenapa bisa berantakan seperti ini, pasti dia tidur diluar karena takut nih." Luna yang masih mengoceh langsung menuju dapur untuk menyiapkan sarapan pagi.


Luna menjadi lebih kaget lagi, melihat Riko yang sedang sibuk membuat sarapan pagi.


"Riko, kenapa ada disini..??" Luna menarik lengan Riko dan mencecarnya dengan pertanyaan.


"Mukanya biasa aja dong.." Riko mengepalkan tinju lalu menunjukannya ke pangkal lengan Luna dengan pelan.


"Eh, kamu ngapain disini, kamu tidur dirumah ini..?" Luna bertanya penuh selidik kepada Riko.


"Iya." jawab Riko santai, dan dia keluar dengan dua piring nasi goreng yang siap disantap, lalu meletakkannya di atas meja makan.


"Rik, ah yang benar, jangan bikin aku mikir yang macam-macam dong." Luna masih mengikuti kemana arah langkah Riko.


"Aku tidur disini karena Hanaya yang memintaku, dan kami tertidur di sofa saat menonton." jelas Riko.


"Serius, cuma itu aja..?" Luna merasa kurang yakin.


"Jangan terlalu kejauhan mikirnya, tanya Hanaya sendiri tuh." Riko menunjuk kearah Hanaya yang sudah turun dari kamarnya.


"Hana, kenapa ngebiarin Riko tidur disini, tanpa ada satu orangpun dirumah ini." Luna masih saja, mengoceh.


"Aku yang meminta nya agar kak Riko tinggal disini, habisnya kamu nggak pulang-pulang." jawab Hanaya santai.


"Kalian ya, aku nggak yakin dengan apa yang kalian katakan, karena kemarin aku


tinggal sebentar aja kalian berani untuk...." Luna keceplosan, lalu berhenti sebelum Luna menyelesaikan kalimatnya.


"Berani untuk apa..? tanya Luna.


"Aah, nggak lupakan, nggak jadi ayo sarapan." Luna mengalihkan pembicaraan.


"Luna kamu pasti nyembunyiin sesuatu.." Hanaya semakin ingin tau.


"Ayo Hana kita sarapan dulu, baru nanti setelah itu kita bahas." Riko menarik tangan Hanaya untuk duduk.


Kali ini nasi goreng bikinan Riko menyita perhatian Hanaya.


"Ini nasi goreng siapa yang bikin..??" Hanaya menyendok, dan memasukannya kedalam mulutnya.


"Si Riko yang bikin tuh." Luna membantu menjawab pertanyaan Hanaya.


"Kamu suka Hana..?" Riko bertanya sambil mengambilkan segelas air putih untuk Hanaya.


Namun Hanaya terdiam, dia merasakan masakan Riko persis seperti nasi goreng yang dibuat oleh Yoongi.


Dan Hanaya baru sadar kenapa dia betah, dan bisa tertidur dipundak Riko, karena aroma tubuh Riko sama dengan aroma tubuh dari Min Yoongi, mereka mempunyai wangi parfum yang sama.


"Ya Tuhan.." Hanaya meneteskan air mata.


Melihat reaksi Hanaya setelah memakan nasi goreng buatan Riko. Luna dan Riko menjadi heran, tumbuh seribu satu pertanyaan di benak mereka.


"Hana, kenapa..? kamu terharu karena dimasakin Riko..?" Luna mendekati Hanaya.


"Hana, kamu kenapa..? aku membenci tangisan mu itu.." Riko mengambil topi nya lalu pergi.


Riko tau Hanaya sedang memikirkan sesuatu meskipun dia tidak tau entah apa itu. namun Riko tida ingin larut didalam tangisan Hanaya. dan memilih pergi.


__ADS_1



__ADS_2