
Setelah satu Minggu, Nyonya Sandra dan Herman kembali dari bulan madunya, mereka tidak mengabarkan sebelumnya kepada Hanaya jika mereka akan kembali.
Hanaya yang baru saja pulang dari bekerja bersama Luna, melihat hidangan makan malam telah tersedia diatas meja.
"Siapa yang masak..? nggak mungkin bibi"
Hanaya mendekati meja makan, dan melihat setiap masakan yang terhidang.
"Oh, ini masakan mama nih..!!" Ucap Hanaya sambil mencicipi makanannya.
"Tante udah pulang, kok aku nggak tau..?" Luna mencari-cari keberadaan Nyonya Sandra dengan menengok ke kanan dan ke kiri.
"Aku aja gak di kasih tau." Ucap Hanaya sambil mengambil air dari dalam lemari Es.
"Halo anak-anak mama, pasti pada capek ya, pulang kerja..?" Terdengar suara Nyonya Sandra dari arah belakang.
"Hmm, mama kok nggak bilang-bilang sih, kalau mau pulang" Hanaya memeluk Nyonya Sandra.
" Surprise dong..!!"
Begitu sangat jelas terlihat, kebahagiaan terpancar dari mata Nyonya Sandra, apalagi setelah pernikahannya dengan Herman Sang cinta pertama.
"Mama sepertinya sangat bahagia, dia begitu bersemangat, syukurlah mama bahagia dengan pernikahannya" Hanaya berbicara dalam hati dan tersenyum sambil melihat ke arah Nyonya Sandra, yang sibuk menata piring dan sendok untuk makan malam mereka.
Setelah makan malam selesai, Nyonya Sandra meminta Hanaya untuk tidak masuk ke kamar terlebih dahulu.
"Hana, ada sesuatu yang ingin mama bicarakan, dan Luna juga."
"Aku juga?" Luna mengarahkan jari telunjuknya ke dirinya sendiri.
Merekapun menunggu Nyonya Sandra diruang tamu dengan beribu pertanyaan yang ada di benak mereka, kenapa Nyonya Sandra ingin berbicara dengan mereka berdua, mereka berpikir apakah mereka melakukan kesalahan sehingga Nyonya Sandra akan memarahi mereka.
Akhirnya Nyonya Sandra keluar dari kamarnya bersama Herman, yang membuat Hanaya dan Luna, sedikit merasa deg-degan.
"Hana, Luna, "
"Ya ma, kenapa..?" Hanaya yang sedari tadi begitu sangat penasaran mengeluarkan suara.
"Begini, mama sudah bicara berdua dengan ayahmu, mungkin mama akan menyerahkan bisnis kita yang disini kepada ayahmu, meskipun awalnya dia menolak, tapi mama tau ayahmu ini lebih berpengalaman untuk mengelolanya."
"Hanaya sih, setuju-setuju aja lagian kak Aryan kan nggak mau." Hanaya tanpa berpikir panjang langsung menyetujui keputusan Nyonya Sandra. Karena dia tau ayah tirinya itu adalah orang yang baik, dan pantas untuk mengelola bisnis orangtuanya.
"Dan mama akan menyerahkan bisnis kita yang ada di Jepang dan Korea, kepada kamu."
"Mama serius..?" Hanaya agak sedikit kaget dengan keputusan Nyonya Sandra.
"Iya, dan mama minta Luna juga bisa ikut bersama kamu, mama sudah bicara dengan mama Luna, dan sekalian membahas hubungan kamu dan Aryan, dan mama kamu menyetujuinya." Nyonya Sandra ternyata sudah mengetahui niat Hanaya yang ingin mengajak Luna jika seandainya dia dikirim ke Korea, karena dia tau Hanaya selalu bergantung terhadap Luna.
"Iya Tante, Hanaya akan ikuti keputusan Tante." wajah Luna memerah karena Nyonya Sandra mengungkit hubungannya dengan Aryan.
"Mungkin awal tahun kamu harus berangkat, karena banyak yang akan diurus, dan kamu juga harus mempelajari semua yang berkaitan dengan restoran." Jika menyangkut dengan urusan pekerjaan Nyonya Sandra begitu sangat tegas.
"Iya mah"
"siap Tante"
mereka berdua mengiyakan perintah dari Nyonya Sandra.
"Dan satu hal lagi, kalian harus belajar bahasa Korea dan Jepang, jangan sampai setiba disana kalian tidak mengerti apa-apa." sebelum beranjak dari kursinya Nyonya Sandra mengingatkan kalian tentang bahasa.
"Tenang ma, kita gak cuma bisa bahasa Inggris aja, dalam dalam empat bulan kedepan Korea, Jepang kita berdua babat abis." Hanaya sangat bersemangat dan percaya diri.
"Bagus, itu yang mama suka."
Melihat percakapan diantara ibu dan anak, Herman yang dari tadi hanya diam dan tersenyum melihat Hanaya yang begitu begitu bersemangat, dia mengingatkan Herman kepada Nyonya Sandra puluhan tahun lalu.
***
Di kamar, Hanaya dan Luna begitu kegirangan mendengar mereka akan diutus ke Korea. Mereka sangat bersemangat, terutama Hanaya dia berharap bisa bertemu dengan Min Yoongi member BTS yang sangat di idolakan nya.
"Lunaaa,,,aku nggak tau mama akan secepat itu buat nyuruh aku ke Korea." Hanaya begitu sangat kegirangan.
"Iya Hana, aku juga penasaran seperti apa disana." Luna juga tidak sabar untuk segera berangkat, dan paling utama bisa lebih dekat dengan Aryan.
"Yoongisie....Im coming..!!!" Hanaya berteriak.
Melihat tingkah Hanaya membuat Luna tertawa, dan merasakan kebahagiaan yang dirasakan Hanaya saat ini.
Disaat mereka asyik membahas kepergian mereka nanti ke Korea. Nyonya Hanaya datang dan masuk kedalam kamar Hanaya tanpa mengetuk pintu.
"Kayaknya seru banget nih, sampai-sampai mama memanggil kalian dari bawah nggak kedengaran, Riko dibawah tu." Nyonya Sandra memberi tahu jika Riko datang untuk menemui Hanaya.
"Oh, iya mah sebentar lagi aku turun." Hanaya membuka lemari pakaian untuk mengganti bajunya.
"ya sudah" Nyonya Sandra keluar darai kamar Hanaya.
"Si Riko mau ngapain kesini nyariin kamu malam-malam?" tanya Luna penasaran.
"Gak tau tuh, kita liat aja dia mau ngapain, sekarang mood aku lagi bagus, jadi nggak masalah buat nemuin dia."
"Ayo" Hanaya dan Luna keluar dari kamar.
"Hai, Hana, Luna..!!" Riko menyapa mereka berdua.
.
"Halo kak, tumben malam-malam kesini." Hanaya membalas sapaan dari Riko.
"Apaan tumben, bukannya si Riko hampir tiap malam kesini.." Luna berbisik dan mencolek Hanaya sambil tertawa kecil.
"Diam aja kenapa." Hanaya balik mencolek Luna.
"Tante, aku izin buat keluar sebentar sama Hanaya." mendadak Riko ingin mengajak Hanaya pergi keluar.
"Oh, iya Rik emang kalian mau kemana?" tanya Nyonya Sandra.
"Mau ajak jalan Hanaya sebentar aja tan." jawab Riko sambil tersenyum.
"Ya udah jangan terlalu malam banget ya pulangnya."
"Siap Tante." Riko langsung pamit kepada Nyonya Sandra.
"Lah aku gimana..?" Luna memasang muka memelas.
"Kamu temenin Tante aja duduk disini, mumpung ayah Hanaya belum kembali dari luar." Nyonya Sandra tau Riko menyukai Hanaya, dan dia juga berharap Hanaya bisa menerima Riko dan menjadikan Riko sebagai menantunya.
__ADS_1
Hanaya tertawa,dan meledek Luna sambil menjulurkan lidahnya.
"Kasian.."
"Ma, aku pergi dulu ya." Hanaya pamit.
"Iya hati-hati." Nyonya Sandra mengedipkan matanya kepada Riko, sebagai tanda dia menyemangati Riko.
Di mobil, Hanaya bertanya kepada Riko. Riko akan membawanya kemana, tapi Riko hanya diam, dan tidak menjawab semua pertanyaan yang di lontarkan Hanaya.
Mobil pun melaju, Hanaya tidak memperdulikan pertanyaannya yang tidak dijawab oleh Riko.
Satu jam perjalanan, akhirnya Riko memberhentikan mobilnya dipinggir jalan, disana terdapat pinggir pantai dengan pemandangan yang bagus jika disiang hari, dan pada saat malam, pantai tersebut akan diterangi oleh lampu-lampu para pedagang makanan disekitar pinggir pantai.
Merekapun turun dari mobil.
"Wah, kak aku udah lama nih nggak ke pantai, pasti kalau pagi hari udaranya akan semakin segar.." Hanaya merentangkan kedua tangannya, dia begitu menikmati angin malam yang bertiup dipinggir pantai.
Riko yang melihat Hanaya yang sangat senang, menarik tangannya lalu mengajak Hanaya berjalan menelusuri bibir pantai.
"Hanaya, aku besok berangkat ke Korea." Riko mengawali pembicaraan.
"Bukannya dua hari lagi..?" Hanaya tidak begitu kaget dengan ucapan Riko.
"Iya, dipercepat karena ada kerjaan yang mendesak." jawab Riko dengan nada sendu.
"Tapi kok kakak terlihat sedih..?" Hanaya melihat kesedihan di raut wajah Riko.
"Iya, karena aku tidak akan melihat kamu lagi untuk waktu tiga tahun kedepan." Riko memberhentikan langkahnya.
"Benarkah, kenapa begitu lama sekali..?" Hanaya pura-pura kaget, karena beberapa bulan lagi Hanaya juga akan berangkat ke Korea.
"Iya, kontrak ku diperpanjang tapi selama tiga tahun itu aku tidak bisa kembali ke Indonesia." Riko sebenarnya mencemaskan Hanaya jika dalam jangka tiga tahun tersebut Hanaya akan menemukan seseorang yang dia cintai, dan menikah.
"Tapi kita kan bisa bertemu lagi setelah itu." Hanaya mencoba menghibur Riko.
"Gampang sekali kamu Hana mengatakan itu, apakah memang tak ada rasa untuk ku " Riko berbicara dalam hati.
Riko lalu berjalan kearah si penjual minuman dan membeli dua botol air mineral, dan meminjam tikar kecil untuk alas mereka duduk di atas pasir.
"Pegang ini." Riko menyuruh Hanaya memegang dua botol minuman yang dibelinya lalu membentangkan tikar yang dipinjamnya tadi.
" Ayo sini duduk" Riko menarik tangan Hanaya.
"Wah, udah kaya di drama-drama aja" canda Hanaya.
Riko hanya menyeringai. Setelah Hanaya duduk disamping Riko, Hanaya yang berusaha untuk membuka tutup botol minuman, dikagetkan oleh Riko yang menyenderkan kepalanya ke bahu Hanaya.
"Bukankah di drama-drama ceweknya yang senderan..?" Hanaya masih dengan candaannya.
Riko menarik kembali kepalanya, lalu mengambil botol minuman yang berusaha dibuka oleh Hanaya.
"Kamu ternyata sangat lemah ya, masa membuka tutup botol aja butuh waktu lama."
"Keras kak.." Hanaya cemberut.
Riko menyodorkan kembali minuman yang sudah dibukanya.
"Terimakasih.." Hanaya langsung menenggak minuman tersebut.
"Hanaya kasandra Dwi a Atmaja.." Riko memanggil nama Hanaya dengan lengkap.
"Mungkinkah kita akan bisa menikah..?"
pertanyaan Riko membuat Hanaya menyemburkan minuman yang berada di mulutnya.
"Pertanyaan apa itu kak..?" Hanaya pura-pura tidak mengerti.
"Apakah aku bisa menikahi mu nanti..?" Riko kembali bertanya.
"Apakah itu sebuah lamaran, atau hanya sebuah pembualan yang tidak bermutu..?" Hanaya mencoba menjawab dengan santai, karena membuat dia sedikit salah tingkah.
"Menurutmu..?" Riko kembali melemparkan pertanyaan kepada Hanaya.
"Entahlah, yang jelas aku senang bisa mempunyai seseorang seperti kakak.." Hanaya menjadi agak sedikit serius.
"Kamu tau, disaat kamu koma aku pernah melamar mu, dan tidak perduli dengan kondisimu jika kelak kamu sadar nanti, meskipun aku malu karena tiba-tiba Aryan berdiri didepan pintu." Riko tersenyum mengenang masa itu.
"Ah, kakak jangan membuatku merasa tidak nyaman.." Hanaya memutar badannya lalu berbalik menatap Riko
"Sudahlah, seharusnya aku tidak mengatakan ini padamu. Riko memutar kembali tubuh Hanaya lalu menyenderkan kepalanya ke bahu Hanaya.
"Bukan kah aku yang harus bersandar..?" Hanaya masih mampu bertanya, meskipun merasa bersalah kepada Riko.
"Aku akan tidur sejenak, karena beberapa hari ini aku tidak bisa tidur nyenyak." Riko pun memejamkan matanya.
"Ya, tidurlah aku akan membayar hutangku karena selalu meminjam bahu mu untuk aku bersandar dan tertidur.
Hanaya tersenyum, dalam hatinya dia selalu mengatakan Riko adalah seseorang yang pantas mendapatkan perempuan yang lebih baik. Meskipun dia sedikit menyukai Riko tapi Hanaya belum ingin membuka hatinya.
Riko pun benar-benar tertidur, Hanaya mendengarkan setiap tarikan nafas Riko, dan menikmati wangi cologne yang berasal dari tubuh Riko.
"Kamu bodoh kak, masih saja menyukai ku, padahal aku belum bisa membalas perasaan mu itu." Hanaya melihat kearah wajah Riko, lalu melihat, mata Riko yang terpejam.
Pada saat Hanaya melihat bibir Riko yang merah, Hanaya sedikit menelan ludah karena disitulah salah satu daya tarik Riko, mempunyai bibir merah dan sedikit tipis, membuatnya sedikit berimajinasi namun Hanaya langsung membuang muka.
"Hana, itu bukan ide yang bagus, dasar bodoh" Hanaya berbicara sendiri.
Beberapa menit pun berlalu, akhirnya Riko terbangun dari tidurnya.
"Kamu sudah bangun kak..? sepertinya bahu ku juga bisa membuat kamu tertidur pulas" Hanaya sedikit menyombongkan diri.
"Ya, biarpun hanya sebentar bahu mu cukup membantuku untuk tidur sedikit lebih nyenyak.
Hanaya tersenyum setelah mendengarkan perkataan dari Riko,lalu memberikan minuman yang dibeli oleh Riko tadi.
"Apakah kamu mau mampir kerumah ku dulu..?" tanya Riko.
"Sudah malam kak, kapan-kapan aja " Hanaya menolak.
"Ayolah, temani aku untuk berkemas, karena aku berangkat pesawat jam 10 pagi.". Riko sedikit memaksa.
"Ya sudahlah,aku akan menemanimu." Hanaya langsung berdiri.
Riko tersenyum, dan langsung berdiri disaat Hanaya menerima tawarannya untuk mampir kerumahnya.
__ADS_1
***
Jam sudah menunjukan pukul sebelas malam, Riko akhirnya sampai dikediamannya.
"Keluarga kakak kemana, kelihatan sepi kayanya." setelah masuk kedalam rumah Hanaya mencari tau keberadaan ibu, kakak, dan ipar Riko.
"Mereka pergi kerumah kakak ipar ku dan dua hari lagi baru kembali." Riko menyodorkan satu kaleng soda kepada Hanaya.
"Oh, tapi mereka tau nggak kakak mau pergi besok..?" Hanaya bertanya sedikit menyelidik.
"Mereka tau kok, tadi siang aku sudah menelpon mereka."
Hanaya mengagukkan kepalanya dan memperhatikan keadaan di sekeliling.
Hanaya pun penasaran dengan isi kamar Riko, dan meminta izin untuk masuk ke kamarnya
"Kak boleh nggak aku masuk ke kamarmu..?" sebelum Riko menjawab pertanyaan Hanaya, dia sudah terlebih dulu menyelonong masuk ke kamar Riko.
"Wah, kak kamarnya rapi banget" Hanaya mengagumi tatanan kamar Riko, yang rapi dan bersih.
Dan, laptop yang berada diatas meja menjadi perhatian Hanaya, dia mencoba membuka laptop Riko yang terkunci, beberapa kali mencoba memasukan password tapi semua yang dimasukan oleh Hanaya salah, dan terfikir oleh Hanaya untuk memasukan namanya, akhirnya laptop yang terkunci pun terbuka. Disitu dia melihat salah satu proposal pekerjaan Riko, yang melibatkan BTS didalamnya, lalu Hanaya pun tersenyum.
Riko yang masuk ke kamarnya segera berlari ke arah meja dan langsung menutup laptopnya, namun Hanaya sudah melihat semuanya, jadi Riko tidak perlu lagi menutup-nutupi pekerjaannya yang membuat dia tidak akan bisa pulang untuk beberapa tahun kedepan.
"Iiih, kak Riko kok nutup-nutupin sih padahal ini kan berita bagus."
Riko tau, jika Hanaya mengetahui jika perusahaan tempat Riko bekerja akan bekerja sama dengan BTS, Hanaya pasti akan meminta yang macam-macam, dan itu sedikit memberatkan dia.
"Bukan begitu, aku diberi tahu baru beberapa hari ini." Riko berkilah.
"Jadi nanti aku bisa dong main ketempat kak Riko bekerja." Hanaya merasa bersemangat
"Kaya Korea Deket aja dari Jakarta." Riko mengacak-acak rambut Hanaya.
"pasti dong, sangat dekat." Hanaya tersenyum sambil keluar dari kamar.
Riko pu selesai membereskan semua barang-barang yang akan dibawanya.
"Aduh, akhirnya selesai" Riko menghempaskan tubuhnya ke sofa tempat Hanaya duduk.
"Ini juga bukannya bantuin malah sibuk main handphone." Riko melihat kearah Hanaya.
Namun Hanaya tidak menggubrisnya, dia masih saja sibuk dengan handphonenya. Riko yang merasa kesal mengambil ponsel Hanaya lalu.
"Ah, kak Riko jangan iseng deh tinggal dikit lagi itu gamenya." Hanaya berusaha mengambil handphonenya.
Dan terjadilah tarik menarik antara Riko dan Hanaya.
"Balikin..!!" Hanaya menarik tangan Riko.
"Enggak.." Riko masih tidak mau memberikan handphone Hanaya.
"Oh, mau nyari gara-gara ya, liat aja nih." Hanaya berdiri, tanpa berpikir panjang Hanaya menghamburkan dirinya keatas pelukan Riko, lalu memegang kedua tangannya dan Hanaya berhasil mengambil ponsel tersebut.
"Liat kan, siapa yang lebih kuat..?" Hanaya gembira atas kemenangannya.
Riko yang kaget hanya bisa terdiam dan memandangi Hanaya yang duduk diatas pahanya, jantung nya berdetak tak lagi mengikuti ritmenya, Riko tidak percaya Hanaya akan berbuat seperti itu tanpa ada rasa canggung sedikitpun..
Setelah melihat ekspresi Riko, Hanaya menyadari jika yang dilakukannya adalah salah, dia tak sepantasnya berbuat seperti itu kepada Riko yang jelas-jelas sudah mengakui cinta kepadanya.
"Maaf kak." Hanaya segera turun dari pelukan Riko, tapi Riko menahannya.
"Hanaya kenapa kau memancing ku, kamu menganggap ku kakak, atau sebagai seorang laki-laki..??" Riko menahan tangan dan pinggul Hanaya.
Hanaya begitu sangat grogi, dan merasa sangat ceroboh dengan apa yang dia lakukan.
"Bukan begitu, tapi siapa suruh kakak menggangguku." Hanaya berusaha membela diri.
Riko mendekap tubuh Hanaya, sambil berkata.
"Kamu yang membuat aku seperti ini Hana, dan maaf jika aku berbuat salah."
Riko langsung mencium bibir Hanaya. Hanaya yang terkejut berusaha untuk lepas dari pelukan Riko dia memberontak , tetapi tenaga Riko terlalu kuat, dan apa yang dilakukan Hanaya menjadi sia-sia. Riko mencium Hanaya dengan buas. Tapi kali ini Hanaya tak lagi memberontak, dia menikmati dan terhanyut oleh suasana dan membalas ciuman Riko.
Setelah cukup lama, Hanaya kembali sadar, dan melepaskan tangan Riko dan mendorongnya.
"Ini salah kak, ini tidak benar " Hanaya berlari keluar.
Riko menyusulnya, dan menahan Hanaya.
"Kenapa Hana, kamu menyesal..??"
"Aku mau pulang, antarkan aku balik" Hanaya tidak menjawab pertanyaan Riko, namun meminta Riko untuk mengantarkan Hanaya pulang.
****
Dalam perjalanan pulang, Hanaya tidak mengeluarkan satu patah katapun, dia menghindari kontak mata dengan Riko. Dia merasa sudah melakukan kesalahan yang besar, dan menganggap telah merusak hubungan baik mereka.
Melihat Hanaya yang hanya diam, Riko mulai merasa bersalah, dan meminta maaf kepada Hanaya.
"Maafin aku Hana, aku sudah melakukan kesalahan kepadamu, aku tidak seharusnya mencium mu." Riko memecah suasana hening.
"Nggak usah dibahas kak, aku juga bersalah dalam hal ini."
Setelah sampai didepan rumah Hanaya, Riko pun turun dan membukakan pintu mobil untuk Hanaya.
"Hati-hati dijalan." Hanaya pergi tanpa menoleh ke arah Riko.
"Hana,, apakah kau akan melepas ku seperti ini..?" Riko berteriak karena kesal melihat Hanaya.
Hanaya langsung berbalik dan menghampiri Riko.
"Terus aku harus bagaimana lagi, apakah aku harus melakukan hal seperti tadi..??" Hanaya langsung mencium bibir Riko.
Riko melepaskan ciuman Hanaya, namun Hanaya mengalungkan tangannya ke leher Riko, dan menciumnya kembali.
Riko mendorong Hanaya, dan membuat Hanaya hampir terjatuh.
"Sorry Hana, aku bukan bermaksud."
"Sudahi perasaan mu sampai disini kak, aku tidak akan bisa menerima perasaan mu." Hanaya menangis.
"Iya, aku akan menyudahi perasaan ku, aku tau kamu tidak akan bisa menerima ku, karena orang yang belum tentu bisa kamu gapai, keluar dari imajinasi mu Hanaya, keluar dari fantasi mu." Riko berteriak dia merasa tersinggung oleh ucapan Hanaya.
"Tega kamu kak.." Hanaya menangis dan berlari masuk kedalam rumah.
__ADS_1
"Ha.. Hana, maksud ku.." Riko menyesal dengan apa yang telah diucapkan.
"Hana maafin aku." Riko sangat menyesal.