
Aryan yang akan pergi beberapa hari lagi ke Korea, sudah mempersiapkan segala sesuatu keperluan yang akan dibawa ke negara ginseng tersebut. Hanaya dan Luna juga tampak sibuk mempersiapkan makanan kesukaan Aryan biasa nya Nyonya Sandra yang akan sibuk di dapur, tetapi kali ini Luna lah yang berperan sebagai koki di dapur. ternyata Luna jago dalam hal memasak, hampir semua masakan dia bisa membuat nya. Sehingga Hanaya yang hanya bisa membuat nasi goreng dan mie rebus berdecak kagum melihat Luna.
"Waah...gila, aku nggak tau kamu bakalan Sejago ini bikin rendang nya Lun." Hanaya tak henti-hentinya memuji Luna.
"Ah, bisa aja dirimu memuji ku sendok plastik."
"Apa, sendok plastik..?" bertanya dengan memperlihatkan ekspresi kocak.
"Iiih, Hanaya jangan ganggu deh, itu muka nya.." Luna yang tertawa terbahak-bahak menjadi lemah seketika disaat dia harus mengeluarkan sedikit tenaga nya untuk mengaduk rendang yang hampir jadi di dalam wajan.
"Nanti ini lengket, kalo nggak di aduk..." Luna merengek.
"Aduk aja, nggak ada yang larang." Hanaya kembali ke mimik muka serius.
"Tuh kan Hana, udah sana jangan ganggu..". Luna mengusir Hanaya dari dapur.
"Yeee, yang salah duluan kan dia...!!" Hanaya keluar dari dapur.
"Yaah... beneran ditinggal. Hanaa......!!!" Luna kembali memanggil Hanaya.
"Iya, kenapa..??" tiba-tiba Hanaya berada dibelakang Luna.
Karena kaget Luna hampir saja menumpahkan rendang yang ada di wajan.
"Ya ampun, Hana jangan di kagetin napa..!! "Luna agak mulai kesal.
Karena melihat ekspresi Luna yang sudah mulai kesal, Hanaya pun langsung meninggalkan Luna di dapur. lalu menghampiri Aryan yang asyik dengan laptop nya di ruang tamu.
"Kak temenin Luna tuh, aku mau ke kamar dulu."
"Okey.." Aryan langsung menuju dapur.
Aryan yang memperhatikan Luna dari belakang tersenyum kagum melihat Luna, dia membayangkan jika seandainya Luna menjadi isterinya, pasti Luna adalah istri yang sempurna, dengan paras yang cantik, karir bagus, dan pintar dalam mengurus rumah.
Aryan pun berjalan menghampiri Luna, lalu memeluknya dari belakang. Luna yang kaget, hampir melemparkan sendok yang ada di tangan nya, namun langsung ditahan oleh Aryan.
" Kenapa, kaget ya..?" Aryan semakin mempererat pelukan nya.
"Datang udah kaya hantu, ya iyalah kaget, kamu sama adik kamu sama aja.." Luna membalikan badan nya. Sekarang merekapun saling berhadapan.
"Tadi tu aku juga di kagetin sama Hana, aku kesel makanya dia kabur.."
"Hahaha...tapi sekarang kan ada aku disini." Aryan perlahan-lahan mendorong Luna, dan mulai menggoda nya.
"Apaan sih, sana aku nggak mau ya nanti Hana melihat kita begini." Luna memperingatkan Aryan.
"Dia dikamar kok, tenang aja." Aryan mengangkat tubuh Luna ke atas meja, Luna yang kaget dengan begitu cepat dia sudah berada di atas meja dengan posisi duduk,dan mengalungkan tangan nya ke leher Aryan.
__ADS_1
"Aryan..." suara Luna terdengar agak sedikit manja.
Aryan pun mengecup bibir sexy Luna yang merona.
"Nanti dulu, masih bau bumbu dapur nih.." Luna berusaha menolak.
"Nggak apa-apa, aku nggak mau menunda-nunda lagi, sudah lama untuk ku menahan nya, dan sekarang Luna Galista adalah milik Ku."
Luna yang baru pertama kali nya mengalami hal tersebut juga sangat menikmati nya, meskipun di awal dia agak sedikit takut, tapi bibir Aryan yang dingin dan lembut mampu membuat Luna terlena. Aryan menarik tubuh Luna dan mendekatkan ketubuh nya.
Tapi seketika itu dia langsung tersadar dan, sedikit memundurkan langkahnya. lalu memegang pipi Luna dengan kedua tangan nya.
"Maaf, aku kelepasan."
"Aku juga, Sorry..!! Luna menundukkan kepalanya, sebenarnya Luna didalam hati sangat malu menatap Aryan, karena dia ikut terlena, dengan ciuman Aryan tersebut.
Aryan mencium kening Luna, dan mengancingkan baju Luna yang dari tadi sudah terbuka.
" Ada saat nya untuk kita seperti ini, dan ini bukan waktu yang tepat." Aryan membantu Luna untuk turun dari meja.
"Aah, aku malu.." Luna menutup wajah nya dengan kedua tangan nya.
"Kenapa harus malu, wajar kok sepasang kekasih berciuman, terkadang ada yang lebih dari sekedar ciuman, mereka santai.." Aryan berusaha membuat Luna tidak malu lagi padahal dalam hati nya bertentangan dengan apa yang di ucapkan nya.
"Ini yang pertama untuk ku.." Luna pun berlari keluar,dan menuju kamar Hanaya.
"Lah, kok kamu ninggalin aku..??"
"Luna, kembali..!!" Aryan tersenyum dibuatnya dan merasa bahagia karena dia adalah laki-laki yang pertama yang menyentuh Luna.
"Luna....!!!!! mau nggak jadi istri ku..??" Aryan berteriak setelah Luna tidak terlihat lagi.
"Huhuuuuu...." Aryan kegirangan.
***
Luna sangat kaget melihat Hanaya sedang merobek foto-foto Min yoongi yang ada di kamar nya, dan membuang nya ke tempat sampah, poster besar yang terpampang di dinding kamar Hanaya pun sudah tidak ada lagi, mulai dari album, foto card Min yoongi menjadi berantakan di lantai.
"Hana kamu kenapa..??" melihat Hanaya, Luna begitu panik.
"Aku sangat merindukannya..!!" Hanaya berbicara sendiri, dan menangis.
"Hana..Hana..!!" Luna tau, jika Hanaya tidak menyadari kehadiran nya di kamar tersebut, lalu membalikan badan Hanaya menghadap ke padanya.
"Lun, aku benci dia lun." Hanaya menangis semakin menjadi-jadi.
"Kamu benci Sama siapa Hana..??" Luna tidak mengerti dengan ucapan Hanaya.
__ADS_1
"Aku sangat merindukan nya lun, kenapa bisa begini...!!!" Hanaya menangis pilu dipelukan Luna.
"Ya ampun Hanaya, kamu kenapa siapa yang kamu rindukan, siapa yang kamu maksud, aku nggak tau.." karena melihat Hanaya menangis dan begitu sedih Luna pun tanpa sengaja ikut menetes kan air mata. Dan berfikir apakah dia akan seperti Hanaya juga jika Aryan sudah pergi.
***
Hanaya mulai agak tenang dia pun tertidur, sedangkan Luna yang pada saat itu hendak membereskan semua foto,dan poster-poster Min yoongi yang di robek Hanaya menemukan secarik kertas, dengan tulisan Hangul dan nomor ponsel, dan aneh nya tanda tangan di bawah tulisan itu mirip dengan tanda tangan dari Min Yoongi. Namun Luna tidak tau dengan angka yang tertera di atas kertas tersebut, dia berfikir paling ini kerjaan Hanaya yang ingin belajar bahasa Korea lebih dalam lagi.
Setelah membereskan kamar Hanaya yang berantakan, Luna kembali turun kebawah dan menghampiri Aryan yang lagi asyik bermain game.
"Aku pikir kamu tidur.." Aryan menengok ke arah Luna.
"Enggak, tadi aku pas masuk kamar Hana, aku liat Hana nya lagi sedih gitu, nggak tau kenapa semua poster yang ada di kamar nya udah di copotin semua." Luna bicara sambil duduk di sebelah Aryan dan menyenderkan kepalanya di bahu Aryan yang masih aja sibuk dengan game nya.
"Oh, ya masa sih Hana begitu..?" Aryan agak sedikit terkejut, dikarenakan dia begitu sangat mencintai poster-poster yang ada di kamar nya.
"Aku takut Hana kenapa-kenapa,aku ngerasa Hana itu setelah kejadian yang lalu, dia mulai agak berubah, udah nggak mau lagi di ajak jalan bareng sama kita-kita, malah Maya sekarang agak dicuekin. Dewi juga dia bilang Hanaya nggak pernah lagi berkabar, dan dia kepengen banget buat nelpon atau kesini tapi dia takut dicuekin Hanaya." Luna mengatakan apa yang selama ini di perhatikan nya.
"Aku juga ngerasain sih, tapi sekarang udah nggak terlalu, nggak separah yang kemarin-kemarin." Aryan meletakan stik game nya,dan sekarang menghadap ke arah Luna.
"Coba kamu liat, kamu baca deh apa yang ditulis Hana." Luna menyodorkan kertas temuan nya tadi kepada Aryan.
Aryan lalu membaca tulisan dengan huruf Hangul tersebut.
..."Untuk orang yang selalu mengagumi ku, hari demi hari telah ku jalani disini, semua hal yang ku lalui, begitu sangat berarti untukku, aku mulai agak sedikit cerewet bila bersama mu, tapi, lucu nya aku menikmati itu. Hana, kini saat nya ku pergi, aku ingin kesembuhan mu, dan berkumpul dengan keluarga mu, aku akan menunggu mu di tempat ku jika kau telah datang kamu bisa menghubungi ku....
Min Yoongi
Membaca tulisan tersebut Aryan agak sedikit merinding, dia sempat berfikir jika Hanaya memiliki gangguan mental karena terlalu mengagumi idola nya.
"Ya ampun Hana, kok kamu jadi begitu sefanatik nya sama orang yang nggak pernah mikirin kamu, dia itu orang yang mustahil untuk kamu gapai."
"Coba kamu telpon nomor ini, kalo nggak salah inikan no Korea.." Luna mengetik no handphone nya.
"Oh, iya bener." Aryan pun menelepon no tersebut.
"Aah, tersambung.."
Tapi tak ada yang menjawab telpon tersebut, lalu Aryan melihat tanda tangan yang ada di kertas tersebut dan begitu sangat mirip dengan tanda tangan Min Yoongi.
"Kenapa Hanaya jadi begini..??" Aryan menjadi hilang akal.
"Tapi Hana sebelum nya nggak kaya gini, malahan Hana lebih bersemangat, bukan nya jadi begini." Luna juga tidak Habis pikir, apa yang telah terjadi dengan Hanaya.
"Semoga saja ini tidak semakin larut, setelah aku pergi, aku mau Kamu jagain Hanaya, aku percayakan Hanaya ke kamu, karena mama masih tiga bulan lagi kembali kesini." Aryan begitu sangat mencemaskan adik nya.
"Kamu tenang aja,tanpa kamu minta pun aku akan tetap jagain Hanaya." Luna memeluk Aryan dan dia juga tau Aryan begitu sangat mencemaskan adik nya.
__ADS_1
"Terimakasih banget kamu Udah ada untuk kita berdua." Aryan membalas pelukan Aryan.