
Satu bulan kemudian.
Akhirnya Hanaya dan Min Yoongi melangsungkan acara pertunangan, mereka memutuskan hanya mengundang orang-orang terdekat, dan memilih melangsungkan acara pertunangan itu di rumah Min Yoongi agar awak media tidak mengetahui tentang pertunangan mereka, Min Yoongi yang terlihat tampan memakai tuxsedo membuat para tamu berdecak kagum, dan yang sangat menyita perhatian para tamu adalah Hanaya dia tampak begitu cantik memakai gaun putih selutut dengan rambut terurai sedikit melewati bahu.
"Anak ku begitu sangat cantik." nyonya Sandra terlihat bahagia.
"Iya, Tan Hanaya sangat cantik." Luna menggenggam tangan nyonya Sandra yang terlihat mulai mengeriput.
"Iya, Tante bahagia sekali tapi Tante bingung kenapa Hanaya ketemunya sama orang sini."
"Kita nggak tau tan kalo jodoh, contohnya aku belum di lamar juga, meskipun udah bertahun-tahun pacarannya." Luna menekuk wajahnya.
"Sabar, habis ini kamu dan Aryan." Hibur nyonya Sandra.
Setelah acara pemasangan cincin Hanaya dan Min Yoongi akhirnya tiba di ujung acara, tiba-tiba Aryan berjalan menuju kearah Hanaya dan Min Yoongi yang berada di depan tamu undangan.
"Untuk para tamu, di mohon perhatiannya sebentar, ada hal yang sangat penting yang harus saya sampaikan, tapi terlebih dahulu kita ucapkan selamat kepada Hanaya dan Min Yoongi atas pertunangannya." Para tamu pun bertepuk tangan dengan meriah.
"Seharusnya saya melakukan ini sejak lama, tapi saya masih merasa, dan berfikir jika itu adalah keputusan yang harus di ambil secara tepat, dan pada malam ini, di saat adik saya satu-satunya sedang berbahagia dengan pertunangannya, saya juga ingin." Aryan terhenti, suaranya sedikit bergetar jelas sekali jika dia tampak gugup.
Aryan menarik nafasnya berusaha tenang, dan menghembuskan perlahan, lalu menatap para tamu, dan sedikit rasa gugupnya mulai menghilang.
"Luna, mau kah kamu menikah denganku..?"
Luna yang tidak menyangka dengan tindakan Aryan di depan para tamu terpaku, dia tidak menyangka Aryan akan melakukannya di depan orang banyak.
Tepuk tangan para tamu menyadarkan kembali Luna yang merasa berada di alam mimpi, matanya digenangi butiran bening yang mulai jatuh satu persatu ke pipinya. Aryan menghampiri Luna dan sekali lagi berkata.
"Menikahlah denganku..!!" kali ini Aryan berlutut sambil mengeluarkan kotak kecil berwarna ungu yang berisi cincin.
Dengan malu-malu Luna menganggukkan kepalanya.
"Ya.."
Tepuk tangan kembali terdengar, kali ini terdengar sangat meriah disertai dengan sorak-sorai teman-teman Aryan yang hadir.
Hanaya yang juga sama kagetnya dengan Luna, lalu menghampiri mereka berdua Hanaya memeluk Luna dan ikut merasa bahagia dengan lamaran kakaknya terhadap sahabatnya sendiri.
"Akhirnya.." Hanaya semakin mempererat pelukannya.
"Thank you Hana." Luna pun membalas pelukan Hanaya.
Min Yoongi yang sedari tadi melihat adegan mengharukan tersebut menghampiri Aryan dan mengucapkan selamat atas lamarannya kepada Luna.
Acara pertunangan Hanaya dan Min Yoongi dan sekaligus menjadi acara lamaran Aryan dan Luna berkahir dengan tawa kebahagiaan.
***
"Hana...??" Aryan menatap Hanaya sambil memegang tangannya. "Dokter....dokter....!!! suara Aryan menggelegar di lorong Rumah Sakit, dia segera berlari menuju ruangan dokter Lucy.
"Hana, dok Hana" Aryan yang tanpa permisi masuk ke ruang dokter Lucy segera menarik tangan dokter yang hampir separuh baya tersebut.
"Kenapa Aryan..?" dokter Lucy mengikuti langkah kaki Aryan yang sangat terburu-buru.
__ADS_1
Mereka masuk kedalam kamar dan menatap Hanaya yang sedang terbaring penuh dengan selang infus, dan oksigen yang masih menempel di hidungnya.
"Dok, Hanaya tadi membuka matanya." Aryan sangat bersemangat sekali.
Tidak lama kemudian beberapa perawat pun datang ke ruangan tersebut, untuk membantu dokter Lucy
"Aryan, Tunggu sebentar diluar ya, kita akan memeriksa Hanaya terlebih dahulu."
"Iya, dok." Aryan hanya bisa menuruti perkataan dokter Lucy.
"Aku harus menelpon mama, aku yakin ini adalah kabar baik, Hanaya bangun, ya.. Hanaya sudah bangun dari tidur pulasnya." Aryan merogoh ponselnya dari kantong celana, tiba-tiba butiran bening jatuh membasahi layar ponsel Aryan, tangannya gemetar, dia tidak sabar lagi untuk menelpon ibunya. tapi tangis kebahagiaannya pecah sebelum sempat menelpon nyonya Sandra.
"Aryan..?? suara laki-laki separuh baya terdengar memanggil di telinga Aryan.
"Ayah..??" Aryan segera memeluk Herman ayah tirinya tersebut.
"Kamu kenapa nak, tidak terjadi apa-apa kan terhadap Hanaya?" Herman penasaran.
"Hana, tadi membuka matanya yah." Aryan menghapus air matanya.
"Benarkah..?" tiba-tiba nyonya Sandra berada dibelakang Herman.
"Mama" Aryan memeluk ibunya.
"Aryan, benarkah apa yang kamu katakan?"
"Iya, mah kita sama-sama berdoa semoga ada kabar baik, dan keajaiban dari Tuhan."
Tidak lama kemudian dokter Lucy keluar dari ruangan Hanaya. nyonya Sandra segera menghampiri sahabatnya tersebut.
"Gimana Lucy? apa Hanaya..?"
"Alhamdulillah, Hanaya sudah sadar sepenuhnya dari koma, sekarang kita hanya menunggu proses pemulihannya karena butuh waktu untuk Hanaya pulih sepenuhnya.
"Lucy, terimakasih banyak aku tidak akan pernah melupakan ini, kamu benar-benar yang terbaik Lucy." nyonya Sandra memeluk dokter Lucy.
"Iya, sama-sama San." dokter Lucy membalas pelukan nyonya Sandra.
Merekapun masuk untuk melihat Hanaya dengan mata terbuka setelah satu tahu koma, dikarenakan kecelakaan yang menimpanya setelah kembali dari bandara untuk mengantarkan Aryan dan Riko yang akan berangkat ke Korea.
"Hana, terimakasih ya Allah Engkau menjawab sudah semua doa-doa ku." nyonya Sandra duduk dan memegang tangan Hanaya.
Hanaya yang baru saja bangun dari tidur panjangnya hanya bisa diam dan menatap ibunya, wajah yang masih pucat dan bibir yang sangat begitu kering terlihat memaksakan diri agar bisa tersenyum.
"Hana, tidak apa-apa jangan dipaksa melihatmu seperti ini kakak benar-benar sangat bersyukur." Aryan mengusap rambut adiknya.
"Hanaya butuh waktu lumayan lama untuk bisa pulih, mungkin akan memakan waktu satu atau dua bulan, ototnya pasti laku dan harus terapi, jadi saran saya Hanaya tetap di Rumah Sakit agar aksesnya lebih gampang dan tidak memakan waktu."
"Semuanya aku serahkan kepadamu Lucy, aku percaya kamu akan memberikan yang terbaik untuk Hanaya." nyonya Sandra menggengam tangan dokter Lucy.
"Baiklah, saya akan memberikan yang terbaik untuk Hana, dia adalah anakmu, berarti dia juga anakku. dokter Lucy berkata sambil tersenyum.
Tiga bulan Hanaya koma nyonya Sandra memutuskan untuk membawa Hanaya ke Singapore dimana sahabatnya Lucy adalah dokter terbaik yang bekerja di salah satu rumah sakit terkenal di Singapore, di saat para dokter pasrah dengan keadaan Hanaya, hanya Dokter Lucy yang yakin jika Hanaya akan bisa sadar kembali, menurutnya Hanaya hanya malas untuk bangun, dan sedang berada di alam mimpi yang membuatnya enggan untuk membuka matanya. orang-orang menganggap ucapan dokter Lucy adalah pembualan, dan ada beberapa dokter yang bilang dia adalah dokter konyol yang pernah mereka temui. Tapi sekarang semuanya terbukti Hanaya bangun dari koma. Orang-orang terkejut dan tak sedikit sekarang memuji dokter Lucy.
__ADS_1
***
Beberapa Minggu berlalu Hanaya pun sudah bisa berbicara wajah dan lidahnya sudah tidak terlalu kaku lagi, tapi untuk kakinya sendiri Hanaya butuh waktu untuk bisa berjalan tanpa harus dibantu, sekarang Hanaya masih mengandalkan kursi roda untuk berjalan dan menghirup udara segar di taman Rumah Sakit
"Hana"
"iya, kenapa kak?" jawab Hanaya.
"Ada seseorang yang ingin bertemu denganmu." Aryan mendorong Hanaya dengan kursi rodanya ke arah bangku taman.
"Siapakah?" tanya Hanaya penasaran.
"Yang pastinya bukan Min Yoongi." goda Aryan.
"Ih, kakak apaan sih." Hanaya tersenyum, lalu teringat dengan sedikit mimpinya.
"Hana..!!" terdengar dari jauh suara seseorang memanggil nama Hanaya."
"Hai..!!" Aryan melambaikan tangannya.
"Kak Riko?" Hanaya sedikit mengerutkan keningnya.
"Hmm.."
"Kak Riko kenapa bisa disini kak?" tanya Hanaya."
"Dia sengaja terbang dari Korea kesini hanya untuk melihatmu." jawab Aryan sambil tersenyum
"Terimakasih sudah kembali." Riko langsung memeluk Hanaya."
"Iya kak, maaf sudah membuatmu khawatir." Hanaya tersenyum
"Jika saja waktu itu." Riko tertunduk dan memanglingkan wajahnya agar Hanaya tidak melihat butiran bening keluar dari matanya.
"Jangan menyalahkan diri sendiri, itu sudah takdir untuk ku kak." tiba-tiba saja Hanaya meraih tangan Riko.
"Dan saat ini kakak masih bisa melihat aku." Hanaya tersenyum.
Riko menggenggam tangan Hanaya dengan lembut, lalu tersenyum, Aryan yang melihatnya, pura-pura batuk lalu pamit untuk pergi mengambil minum.
"Hana, apa kamu haus? tenggorakan kakak sedikit gatal kakak ambil minum dulu ya, sekalian buat kamu dan Riko.
"Tapi." Riko merasa tidak enak dan sedikit salah tingkah.
"Iya kak." jawab Hanaya santai.
"Apa kamu ingin mengelilingi tempat ini?" tanya Riko.
"Hmm, aku ingin melihat pemandangan sedikit lebih jauh dari sini.
"Oke, ayo aku akan mendorongmu."
Aryan melihat Hanaya dan Riko dari jauh, dan diapun tersenyum karena Riko akan membuat Hanaya semangat untuk sembuh lebih cepat.
__ADS_1