
Satu tahun berlalu setelah kesembuhan Hanaya, Riko kembali ke Indonesia. Dia begitu sangat bersemangat dan tidak sabar untuk bertemu dengan Hanaya. Sebuah paper bag berwarna ungu tidak lepas dari genggaman tangannya, dan sesekali tersenyum melihat paper bag tersebut.
"Hana kamu pasti senang sekali dengan apa yang aku bawa." Riko memeluk paper bag yang dibawanya.
Tiga jam kemudian.
Setelah mampir kerumah kakaknya, Riko langsung menuju rumah Hanaya, karena Riko tau disaat libur bekerja, Hanaya mengisi waktu luangnya hanya untuk berolahraga dan beristirahat dirumah.
Beberapa saat kemudian.
Riko pun tiba dirumah Hanaya, dari halaman rumahnya, Riko sudah bisa melihat Hanaya dan Luna sedang santai diteras depan rumah.
"Halo Hana..!!" Riko melambaikan tangan nya, sambil berjalan kearah Hanaya.
"Kak Riko..??" Luna agak sedikit kurang yakin.
Riko semakin dekat, Luna yang mengerti akan maksud kedatangan Riko segera masuk kedalam rumah.
"Kak Riko. Kapan Kembali dari Korea..?" Hanaya mempersilahkan Riko masuk.
"Oh, Baru beberapa jam." Riko tersenyum.
"Serius..?" Hanaya agak sedikit kaget
"Iya, aku hanya ingin mengantarkan ini buat kamu." Riko memberikan paper bag yang dibawanya.
"Apa ini kak?" Hanaya membuka,dan mengeluarkan isinya.
"Ya ampun kak, ini kan yang aku mau..." Hanaya begitu sangat senang ternyata isinya adalah album terbaru dari BTS, dan photo card Min Yoongi.
"Lihatlah lebih jelas lagi, Kamu pasti akan benar-benar sangat menyukainya." Riko mengambil album BTS tersebut dan membukanya.
Mata Hanaya terbelalak disaat dia melihat tanda tangan Min Yoongi, dan kalimat manis untuknya.
"Ah, kak Riko terimakasih banyak." spontan Hanaya memeluk Riko.
Riko yang kaget tidak bisa berkutik, dia hanya terdiam dengan pelukan Hanaya, dia merasa gugup dan ingin sekali membalas pelukannya, tapi apa daya tangannya seperti membatu, tidak bisa digerakkan.
"Thank you kak." Hanaya begitu sangat senang.
"Aaa...aaah..? oh, iya" Riko gugup.
"Oh,iya lupa aku ambilkan minum dulu ya." sebelum Hanaya berdiri, Luna pun datang dengan tiga gelas jus jeruk.
"Nggak usah repot-repot. Nih..udah aku bawain." Luna menaruh minumannya dimeja.
"Makasih lun." Aryan meminum jus jeruk yang dibawakan Luna.
"Hana, sepertinya si Riko kehausan banget, jangan-jangan dari bandara dia langsung kesini nganterin oleh-oleh buat kamu, nggak sempat beli minum dulu, biar bisa ketemu sama kamu." Luna berbisik dan menggoda Hanaya
"Hus..jangan ngomong yang macam-macam deh..!!" Hanaya mencubit lengan Luna.
setengah gelas jus sudah dihabiskan oleh Riko, Hanaya dan Luna dengan mulut ternganga, mereka menatap Riko yang minum tanpa jeda. Riko sadar mereka berdua memperhatikannya, lalu berhenti menenggak jus jeruk tersebut.
"Habisin aja kak, nggak apa-apa ntar kalo mau lagi didapur masih banyak." Hanaya berbasa-basi.
"Iya, Hana" Riko menjadi salah tingkah.
***
Riko akhirnya bisa beristirahat, masih dengan jubah mandinya Riko menghempaskan tubuhnya ke ranjang, dan mulai membayangkan wajah Hanaya. Menurutnya setelah satu tahun berlalu Hanaya menjadi lebih cantik dan lebih dewasa.
"Hana, kenapa kamu semakin menarik. dan membuatku semakin menyukaimu.." Riko tersenyum sambil membayangkan wajah Hanaya.
"Aaah....." Riko bangun dari tempat tidurnya, dia menjadi gelisah, saat mengingat pelukan dari Hanaya tadi.
"Seharusnya aku nggak perlu gugup, dan seharusnya aku membalas pelukannya Hanaya. Aaagghhh.....!!!" Riko frustasi, dia berpikir kesempatan seperti itu sangat jarang terjadi.
"Sudahlah tidur saja, semoga besok bisa ketemu sama Hanaya lagi." Riko mengganti jubah mandinya dengan baju tidur.
Di rumah Hanaya.
Hanaya yang sangat senang dengan album BTS pemberian dari riko langsung meletakan nya di dalam lemari khusus koleksi-koleksi album dan barang-barang kesukaan Hanaya, yang berkaitan dengan BTS selama ini, dan memajang photo card Min Yoongi dengan tanda tangan nya.
Luna yang memperhatikan Hanaya yang sedang kegirangan sedari tadi menarik tangan Hanaya dan duduk diatas tempat tidur.
"Hana, kamu nggak liat apa si Riko salting gitu tadi..??"
"Salting maksudnya..??" Hanaya tidak mengerti dengan pertanyaan Luna.
"Iya, Salah tingkah gitu." Luna berkata sambil mengambil cemilan di atas meja.
"Memangnya kenapa, kok kamu bisa berpikir begitu..?" Hanaya masih saja belum paham.
"Ya ampun, Hana kamu benar-benar nggak peka ya jadi cewek." Luna menoyor kepala Hanaya.
"Aduh, emangnya apa sih..??" Hanaya bingung.
"Kamu tau nggak Riko suka sama kamu." Luna langsung ke pokok pembahasan
"Ah, nggak mungkinlah dia baik karena aku adiknya kak Aryan, sahabatnya dia."
Hanaya menepis tuduhan Luna.
"Kamu udah diceritain Aryan belum, pada saat koma siapa yang lebih sering jagain kamu dirumah sakit..?" Luna teringat kejadian dua tahun silam.
"Nggak, kak Aryan nggak ngomong apa-apa, emang siapa yang jagain aku, bukannya kak Aryan, mama, dan kalian bertiga..?" Hanaya penasaran.
__ADS_1
"Yang lebih banyak ngabisin waktu buat jagain kamu bukan kita aja, tapi Riko juga."
"Ah, masa siih..? Mungkin saja dia datang pada saat kalian ada disana" Hanaya menanggapi perkataan Luna dengan candaan.
"Ya ampun, untuk apa aku berbohong, kamu bisa tanya Tante sama Aryan. Kamu tau disaat kita sudah mulai pasrah dengan keadaan mu, Riko lah yang meyakinkan Tante dan Aryan jika kamu itu pasti bangun." Luna menceritakan apa yang terjadi disaat dia koma
Hanaya hanya terdiam mendengarkan cerita tentang Riko disaat dia koma. dia tidak yakin dengan kebenaran cerita Luna tentang Riko.
"Bukannya dia ke Korea, aku lho yang nganterin dia kebandara." Hanaya sebenarnya masih ingin tau kelanjutan cerita Luna.
"Aku sih, kurang tau yang pasti nggak lama setelah kamu koma Riko datang, dan hampir setiap hari bolak-balik rumah sakit, menggantikan Aryan, pada waktu kamu koma Tante jatuh sakit, karena mikirin kamu yang tak kunjung sadar, padahal dokter bilang kamu baik-baik aja, setelah operasi." Luna menceritakan semua yang dia ketahui.
"Kenapa kakak, dan mama nggak pernah cerita ke aku..?" Hanaya sangat kecewa karena dia berpikir harus berterimakasih kepada Riko jika semua yang diceritakan Luna itu benar.
"Waktu itu Aryan pernah bercerita, di hari kamu sadar, sebelum kamu membuka mata Riko menyatakan cintanya kepada kamu, dan ingin melamar kamu, apapun yang terjadi ketika kamu sadar pada saat itu. Luna berharap setelah dia menceritakan tentang Riko Hanaya akan membuka hatinya, dan tidak lagi terobsesi dengan SUGA.
Hanaya merasa berhutang Budi terhadap Riko, selama ini dia tidak pernah mengetahui jika Riko ikut andil dengan kesembuhannya.
"Aduh, kak Riko pasti menganggap aku tidak tau diri, yang nggak pernah berterimakasih padahal dia yang ikut jagain aku. Ya, udah ntar malam aku telpon dia, dan mengajaknya ketemuan."
Luna hanya tersenyum melihat ekspresi Hanaya, dan dia berhasil membuat Hanaya semalaman akan terus-menerus memikirkan Riko.
***
Keesokannya, Riko kembali datang kerumah Hanaya, kali ini karena undangan makan malam dari Hanaya. Riko begitu terlihat sangat tampan dengan perpaduan jins dan kemeja hitam polos yang dipakainya, ditambah lagi dengan potongan rambut two block yang membuat pria yang mempunyai tinggi seratus delapan puluh ini semakin menarik, dengan tubuh yang berotot membuat dia tampak sempurna
"Oh, my God...!!" Luna terperangah.
"Kenapa Lun..??" Hanaya heran melihat ekspresi wajah Luna.
"Kamu lihat kebawah deh, itu kan si Riko." Luna memutar kepala Hanaya,dan mengarahkannya ke bawah, .
Hanaya melihat Riko dan tidak dipungkiri dia juga mengagumi ketampanan Riko.
"Gila, ini cowok keren juga." Hanaya berbicara dalam hati.
Luna yang melihat Hanaya yang tidak berkedip melihat Riko, tersenyum.
"Tu cowok keren ya.." Luna melihat kearah Hanaya.
"iya.."
Hanaya mengiyakan pertanyaan Luna, tapi tidak mengalihkan pandangannya, dan masih tetap melihat kearah Riko yang sedang berjalan masuk kedalam rumah.
Luna semakin yakin, untuk menjadi Mak comblang antara Riko dan Hanaya.
Karena Riko sudah melihat Hanaya dan Luna yang lagi santai duduk di balkon lantai dua rumah Hanaya, Riko pun masuk dia sudah tau mereka telah menunggu kedatangan nya.
Riko naik kelantai dua rumah Hanaya, karena mereka bertiga akan makan malam disana, dengan pemandangan yang lumayan bagus, ditambah dengan langit yang penuh dengan bintang.
"Hai," Riko menyapa Luna dan Hanaya.
Sementara Hanaya, hanya tersenyum, dan memandang kagum terhadap Riko.
"Wah.." Riko mengagumi pemandangan yang terlihat dari balkon.
"Iya dong.." Hanaya sedikit agak menyombong.
"Kenapa tiba-tiba aroma tubuhnya kak Riko wanginya enak gini sih.." Hanaya bergumam.
"Oke, mumpung yang ditunggu sudah datang ayo kita langsung makan." Hanaya mengajak Riko langsung duduk dimeja yang sudah disediakan.
"Ayo Rik, jangan malu-malu hidangan ini spesial untuk yang teristimewa." Luna membuat Riko tersenyum oleh ucapannya.
"Iiih, yang pintar ngegombal pantesan kak Aryan klepek-klepek." Hanaya balik menggoda Luna.
"Thank you ya, untuk hidangannya, tapi by the way ini dalam rangka apa ya, soalnya jarang-jarang nih dapat hidangan spesial kaya gini.." Riko dengan memperlihatkan senyuman manisnya bertanya kepada Hanaya.
"Aduh, nih orang kok jadi manis gini sih." Hanaya bicara dengan suara pelan. Tapi perkataannya itu, terdengar oleh Luna.
Ternyata Riko pun mendengarkan apa yang diucapkan Hanaya sehingga dia menundukkan kepalanya karena malu.
"Ooh, ini adalah ungkapan terimakasih ku sama kak Riko, aku baru tau ceritanya dari Luna kemarin, kak Riko yang sudah menjaga aku disaat aku dirumah sakit, dan juga untuk semua kebaikannya kak Riko selama ini, memberikan apa yang aku mau, terimakasih untuk tanda tangan Min Yoongi yang kedua kalinya, sekarang aku bukan hanya mempunyai satu kakak laki-laki tapi dua, kak Aryan dan kak Riko.
Mendengar perkataan Hanaya,Riko hanya tersenyum, dan agak sedikit kecewa setelah mendengar perkataan dari Hanaya.
"Hana, kamu tidak perlu berterimakasih apa yang aku lakuin belum seberapa dengan apa yang kamu lalui selama berbulan-bulan, dan aku adalah sahabat terdekat Aryan, aku merasa aku juga mempunyai kewajiban untuk menjaga dan membuat kamu bahagia.
Luna Yang dari tadi melihat kearah Aryan, menjadi sedih melihat pengorbanan Aryan selama ini, tapi Hanaya hanya menganggap Riko sebagai seorang kakak, bukan sebagai seorang laki-laki yang menyukainya.
"Nanti diteruskan lagi obrolannya sekarang kita makan dulu." Luna memotong percakapan antara Hanaya dan Riko.
***
Setelah selesai makan malam. Hanaya, Riko, dan Luna beralih duduk di kursi yang telah disediakan di balkon rumah mewah tersebut. Sebotol wine dan tiga gelas kaca menyambut mereka.
Luna menganggap ini adalah waktu yang tepat meninggalkan mereka berdua lalu menuangkan wine ke gelas dan memberikannya kepada Riko dan Hanaya.
"Terimakasih Kaka ipar" Hanaya mengambil gelas yang disuguhkan oleh Luna.
"Thanks Lun." Riko mengangkat gelas nya, seperti pria berkelas yang sudah terbiasa meminum minuman yang beralkohol.
Riko langsung menenggaknya.
"Hmm, lumayan.."
"Itu wine koleksi kak Aryan, kita belum pernah sama sekali meminumnya, tapi buat kak Riko kita mengambil nya." mendengar ucapan Hanaya,Riko tertawa.
__ADS_1
"Benarkah..?? pasti Aryan akan marah kepada ku, bukan ke kalian berdua."
"Tenang aja Rik, tadi udah izin kok sama dia." Luna berkata sambil mengupas buah yang terletak diatas meja.
Semakin lama obrolan merekapun tampak begitu asyik, sesekali tawa mereka bertiga memecah keheningan malam. Hanaya tampak begitu bahagia, karena setelah bangun dari koma nya, saat malam datang Hanaya mempunyai kebiasaan menyendiri dan tertidur di teras depan kamarnya, meskipun Luna selalu menemaninya, hal itu tetap saja dilakukan oleh Hanaya.
Beberapa saat kemudian ponsel Luna berdering, dan langsung masuk kedalam rumah untuk menjawab teleponnya.
"Sebentar ya, aku angkat telpon dulu." Luna meminta izin kepada Riko dan Hanaya untuk mengangkat telpon yang entah dari siapa.
Ternyata itu adalah skenario dari Luna agar Hanaya dan Riko bisa berduaan, Luna telah menyetel ulang alarm ponselnya, dan mengganti nada nya dengan nada dering panggilan masuk.
Suasana pun menjadi canggung setelah Luna masuk kedalam rumah. Beberapa saat mereka hanya diam, tak sepatah kata pun terucap baik dari Hanaya maupun Riko.
Hanaya beralih ke ayunan yang sudah tersedia di balkon rumahnya, dan mengambil gelas yang masih berisi wine.
Riko hanya memandangi Hanaya, Dimata Riko dia begitu sangat cantik meskipun hanya memakai celana jins dengan baju oversize.
"Wah, pantesan bulannya nggak muncul, begitu banyak bintang, cantik banget..!!" Hanaya menatap langit, dan tersenyum.
"Iya, kaya kamu.." Riko tiba-tiba duduk disebelah Hanaya, dia mengayunkan ayunan nya dengan kaki.
"Ah, kak Riko bisa aja." Hanaya tersipu malu.
Meskipun hanya mengeluarkan beberapa kata saja, namun Hanaya dan Riko sepertinya tidak canggung lagi, mereka sesekali melemparkan senyuman dan hanyut dengan keindahan langit malam itu.
"plaaak.." Hanaya tertidur dipundak Riko.
Riko agak sedikit terkejut, melihat Hanaya yang tertidur di pundak nya.
"Hanaya, kamu lebih cantik jika dilihat dari dekat." Riko memandangi wajah Hanaya yang hanya berjarak beberapa centimeter darinya.
Riko tergoda untuk mencium bibir Hanaya yang merah meskipun tanpa lipstik tapi dia berusaha menahannya, dan mengalihkan pandangan ke gelas yang dipegang Hanaya.
"Kenapa kamu harus minum kalau tidak terbiasa." Riko tersenyum dan mengambil gelas yang berada ditangan Hanaya.
Riko memperbaiki posisi kepala Hanaya agar nanti disaat bangun Hanaya tidak akan merasakan sakit dilehernya.
"Hana, apakah kamu tau..? Aku tidak ingin kau menganggap ku sama seperti Aryan, aku tidak ingin menjadi kakakmu.
Riko kembali menatap Hanaya yang semakin lelap tertidur dipundaknya, Riko menyentuh pipi Hanaya, dan tiba-tiba tangan Hanaya memeluk tangan Riko. Dia sangat terkejut, karena takut perkataannya tadi terdengar oleh Hanaya.
Riko menatap Hanaya dan mendekatkan wajah nya ke wajah Hanaya.
"Hana, aku mencintaimu."
Dan Hanaya membuka matanya, lalu melihat kearah Riko. Hanaya mendaratkan sebuah ciuman ke bibir Riko, dan Riko membalas ciuman tersebut, dia tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan tersebut. Mereka berdua sangat menikmati ciuman dibawah cahaya bintang.
Luna yang ingin menghampiri Hanaya dan Riko karena sudah terlalu lama ditinggal, melihat adegan romantis diantara mereka,dan membuat Luna memundurkan langkahnya.
"Ya ampun, baru ditinggal sebentar kok malah jadi begitu." Luna menutup matanya
Tapi dengan pemikiran jahilnya Luna memotret mereka berdua, dia akan menjadikan photo tersebut sebagai senjata ampuh untuk melawan keisengan Hanaya. Dan Luna pun kembali masuk kedalam.
Riko masih ******* bibir Hanaya, seakan tidak mau melepaskannya, dia merasakan getaran yang hebat dalam tubuh nya, jantung pun berdetak sangat cepat.
Hanaya menarik tubuhnya dari dekapan Riko, dan meletakkan kepalanya ke posisi semula yaitu pundak Riko.
Riko tersenyum, setelah melihat Hanaya ternyata masih tertidur. dan sedikit merasakan kekecewaan, karena Hanaya menciumnya disaat dia berada dibawah alam sadar.
Riko menatap Hanaya yang masih terlelap tidur, lalu mengecup keningnya, sambil berkata.
"Terimakasih untuk malam ini, mungkin saja besok setelah kamu bangun tidur, tidak akan ingat dengan apa yang telah kamu lakukan kepadaku, tapi tidak masalah karena malam ini aku bisa menatap mu seperti ini."
Riko pun menggendong Hanaya ke kamarnya.
Melihat Riko, Luna menjadi bertanya-tanya, apa yang sudah terjadi diantara mereka.
"Kok Hanaya tidur..? Padahal aku melihat mereka sedang asyik berciuman, tapi sekarang kenapa Hanaya digendong Riko, tidur lagi." Luna nggak habis pikir, dan membiarkan Riko masuk kedalam kamar Hanaya.
Riko menurunkan Hanaya dari pangkuannya dan meletakan Hanaya diatas tempat tidur.
"good night Yoongisie.." terdengar suara Hanaya menyebut nama idolanya.
Seketika itu Riko merasakan sakit, yang tak bisa diungkapkan, dia menatap Hanaya yang tertidur, dan menyelimutinya sambil mengusap-usap rambut Hanaya.
"Selamat malam Hana, tapi aku bukan yoongi." Riko mengecup kening Hanaya.
Namun ada luka di hati Riko disaat Hanaya menyebut nama Yoongi. Riko keluar dari kamar Hanaya dengan sedikit rasa kecewa. Dia turun kebawah. Dan melihat Luna yang sedang asyik menonton TV di ruang tamu sendirian.
"Hai Lun, kok duduk disini..?" Riko bertanya sambil menghempaskan tumbuhnya, dan duduk di sofa.
"Sorry Rik, aku cuma ingin memberikan kalian kesempatan untuk berduaan, siapa tau aja dengan begitu tujuan kamu selama ini bisa tercapai." Luna berkata sambil menyuguhkan satu kaleng minuman bersoda kepada Riko.
"Entahlah Lun." Riko menarik nafas panjang.
"Aku pikir kamu udah nyatain cinta ke Hanaya, soalnya..." Luna berhenti dan tidak meneruskan kalimatnya.
"Berciuman..?" Riko langsung menebak apa yang ingin dikatakan Luna.
"Sorry aku liat kalian, soalnya tadi mau gabung lagi ama kalian berdua, tapi aku liat ya....begitu." Luna merasa tidak enak dengan kata-katanya sendiri.
"Ciuman itu bukan buat aku lun, ciuman itu buat idolanya, dia tersenyum sangat manis disaat dia menyebut nama Yoongi, dan itu sedikit bikin aku kesal." Aryan menenggak minuman kalengnya.
"Yang sabar, kita akan bantu biar Hanaya bisa menerima kamu Rik." Luna berusaha menyenangkan hati Riko.
"Thank you ya Lun." Riko mengajak Luna bersulang.
__ADS_1
"jangan sungkan." Luna pun tersenyum.