
Setahun Aryan di Korea, Hanaya sudah kembali dengan kehidupan nya seperti sediakala. Dia kembali bekerja dan lebih sering berkumpul dengan para sahabat nya, hari-hari Hanaya di penuhi oleh senyuman, karena secarik kertas pada malam perpisahan Aryan, membuat Hanaya yakin jika suatu hari nanti dia akan bisa menemui sang idolanya ya itu Min Yoongi,atau lebih dikenal dengan nama SUGA.
Begitupun dengan Nyonya Sandra begitu sangat bahagia, dan sekarang memiliki hubungan yang baik dengan putri nya. Dia berencana untuk menyerahkan usaha restoran keluarga kepada Hanaya terutama restoran yang berada di Jepang dan Korea, restoran Nyonya Sandra dalam dua tahun terakhir ini berkembang sangat pesat, dan selalu ramai oleh pengunjung, namun Aryan sebagai anak tertua tidak mau memegang kendali atas bisnis tersebut, Aryan lebih memilih untuk bekerja di bidang yang dia sukai.
Hari itu cuaca sangat cerah, Nyonya Sandra yang sedang bersantai di halaman depan rumah nya asyik bercengkrama dengan Herman, sopir yang setia menemani Nyonya Sandra dari delapan tahun silam.
"Sepertinya aku akan fokus dengan usaha yang ada disini, dan akan menyerahkan cabang restoran yang ada diluar negri kepada Hanaya." Nyonya Sandra mengawali pembicaraan.
"Kenapa, kok tiba-tiba..?" Herman agak sedikit terkejut dengan keputusan Nyonya Sandra.
"Usia ku dua tahun lagi akan mencapai setengah abad, dan aku seharusnya sudah pensiun, dan beristirahat dengan tenang, tapi karena Aryan tidak mau mengambil alih, terpaksa aku yang harus mengontrol semua nya."
"Aku mengerti kamu pasti sudah lelah, dan aku merasakan itu, selama delapan tahun aku menemani mu, aku cukup salut untuk seorang single parent seperti kamu." Herman pun menggenggam tangan Nyonya Sandra dengan hangat.
Nyonya Sandra hanya bisa tersenyum, dan membiarkan tangan halusnya digenggam oleh Herman.
"Aku beruntung, karena kamu selalu menemani ku di saat aku butuh seseorang untuk bersandar. Kamu ada disaat aku terpuruk, maupun disaat aku bahagia seperti saat ini, kamu selalu menjadi yang terdepan dikala aku menjadi putus asa karena melihat Hanaya terbaring koma dirumah sakit, aku benar-benar berterimakasih sekali."
"Itu karena aku tidak ingin melihat perempuan yang aku cintai menderita, kamu tau kenapa aku memutuskan bertahun-tahun sendiri..?? meskipun aku tau kamu memiliki pernikahan yang bahagia.
"Tidak, aku belum mengetahuinya dan kamu tidak pernah bercerita." Nyonya Sandra tersenyum, tapi didalam hatinya ada segudang tanda tanya untuk Herman yang dari semenjak SMA sampai detik ini masih mencintai nya.
" Karena aku tidak ingin membuatmu sendiri disaat kamu berada di masa sulit, dan jika aku sendiri tidak akan ada yang tersakiti disaat aku akan lebih memperhatikan mu." Herman tersenyum, matanya penuh dengan cinta untuk Nyonya Sandra.
"Hmm..." tiba-tiba Hanaya datang, dan melihat adegan romantis antara ibunya dan Herman.
Nyonya Sandra yang terkejut segera melepaskan tangan Herman dan mendorong nya, sehingga Herman terjatuh dari kursi.
"Ha, Hanaya kamu sudah pulang nak..?" Nyonya Sandra menghampiri Hanaya dan mencium pipinya.
"Iya ma, udah dari tadi malah." Hanaya melirik Herman, dengan mata tajam.
"Oh, iya Bu saya pamit dulu, saya harus ke bengkel untuk mengambil mobil."
"Oh, ya udah segera ambil"
Hanaya melihat wajah ibunya yang memerah menimbulkan kecurigaan, sehingga dia mengintrogasi ibunya sendiri.
"Mama kayaknya makin akrab ya sama pak Herman.." Hanaya mulai bertanya.
"Oh, itu wajarlah udah berapa lama dia bekerja buat kita..??" Desember nanti sudah sembilan tahun lho." Nyonya Sandra mencari jawaban yang tepat agar Hanaya tidak mencurigainya.
"Terus, tadi mama ngobrol apaan sama pak Herman, kayaknya intens banget pembicaraan nya." Hanaya lanjut bertanya.
"Nggak, biasa aja kok,masa iya mama sedekat itu sama Herman, sudahlah, kamu udah kaya polisi mengintrogasi penjahat aja, ayo masuk."
Nyonya Sandra pun menarik tangan Hanaya masuk kedalam rumah.
"Kalau ada sesuatu pun, tidak masalah.." ucapan Hanaya membuat Nyonya Sandra sedikit terkejut.
"Udah ah, ngapain sih ngebahas si Herman."
***
__ADS_1
Hanaya yang curiga dengan hubungan Nyonya Sandra dan Herman, mencoba mencari tau namun sebelum itu, Hanaya terlebih dahulu memberi tahu Aryan, dan menceritakan apa yang telah dia lihat.
Dan Aryan pun tidak mempermasalahkan hubungan ibu nya dengan Herman, jika memang benar Nyonya Sandra dan Herman mempunyai hubungan spesial, Aryan akan memberikan restunya.
Tapi sebelum Hanaya mencari tau tentang hubungan ibunya dan Herman. Herman memutuskan untuk menemui Hanaya secara pribadi tanpa sepengetahuan Nyonya Sandra.
"Maaf, Nak Hana bisa minta waktunya sebentar..??" Herman menghampiri Hanaya yang sedang asyik mendengarkan musik di teras rumahnya.
"Ya pak Herman, ada apa..?? Hanaya melepaskan headphone yang terpasang ditelinga nya.
"Ada sesuatu yang harus saya bicarakan, dan menurut saya ini sangat penting."
"Oh,ya katakan apa yang mau bapak katakan kepada Hana, duduk pak.." Hanaya menyuruh Herman duduk disamping nya.
Herman yang agak sungkan duduk disamping Hanaya, membuat Hanaya menarik tangan Herman, dan memaksanya untuk duduk.
"Sudah, nggak apa-apa kok pak, duduk aja.."
"bapak mau membicarakan apa? Tumben, biasanya selalu ngomong ke mama.
"Gini.." Herman memulai pembicaraan.
"Nak Hana, harus mendengarkan apa yang saya katakan dengan baik-baik, dan saya tidak mau, Nak Hana menjadi emosi." sebelum bicara Herman sudah mewanti-wanti Hanaya, agar apa yang dibicarakannya nanti tidak akan menimbulkan keributan.
"Iya pak, bapak mau ngomong apa sih, kok bikin Hana jadi penasaran..??"
Herman pun memulai pembicaraannya.
"Sebenarnya saya ingin meminta restu untuk hubungan saya dengan Sandra."
"Iya, saya sangat mencintai mama mu, dan saya tidak ingin menutup-nutupi hubungan kita, terutama dari kamu, dan Aryan."
Hanaya yang melihat kesungguhan hati Herman, dan melihat dari matanya Herman benar-benar mencintai ibunya. Dan itu juga terlihat dari kesetiannya selama ini yang selalu setia mendampingi ibu nya.
"Sejak kapan bapak berhubungan dengan mama..??" Hanaya penasaran.
Herman pun mulai bercerita.
"Mama mu adalah adik kelas saya di SMA, dia murid biasa aja, tidak pintar, tapi juga tidak bodoh, tapi mama mu sangat menarik di mata saya." Herman tersenyum mengenang masa lalunya bersama ibu Hanaya.
"Terus..?" Hana semakin penasaran
"Bisa dibilang mama mu adalah cinta pertama saya. Di hari kelulusan saya menyatakan cinta kepada Sandra, tak disangka ternyata cinta saya tidak bertepuk sebelah tangan, dan kami pun mulai berpacaran. Saya kuliah di Universitas I, dan hubungan kami berjalan baik, sampai mama mu juga kuliah di tempat saya kuliah. Tapi Tuhan berkehendak lain mama mu di jodohkan dengan pilihan nenek mu, karena ibu mu tidak mau menjadi anak yang durhaka dia meninggalkan saya,lalu menikahi almarhum papa mu, setelah lulus kuliah." Herman bercerita dengan mata yang berkaca-kaca.
"Lalu apa yang terjadi selanjutnya..?" selidik Hanaya.
"Yah, kami berpisah begitu saja, lalu saya memutuskan untuk menerima tawaran pekerjaan di Singapura dari sahabat ayah saya, sampai enam belas tahun berlalu, Lalu suatu hari saya mendapatkan kabar jika papa mu meninggal karena kecelakaan. Dan pada saat itu saya memutuskan untuk langsung kembali menemui ibu mu."
"Terus, pak Herman melamar pekerjaan ke mama sebagai seorang sopir..??" Hanaya masih ingin tau kelanjutan cerita Herman dan ibunya bertanya kembali.
"Iya, saya melihat ibu mu kondisinya sangat menyedihkan, dia begitu terpukul dengan kepergian ayah mu yang tiba-tiba. Aku sempat iri kepada ayah mu, seharusnya tatapan itu adalah milikku, tapi papa mu berhasil merebutnya dari ku." Tanpa disadari Herman menjatuhkan air mata nya, karena terbawa suasana cerita di masa lalu.
"Pak, jika bapak benar-benar mencintai mama, aku hanya meminta satu hal kepada bapak."
__ADS_1
"Apa itu.." tanya Herman kepada Hanaya.
"Bahagiakan mama, dan buat dia selalu tersenyum." Hanaya memegang tangan Herman sebagai tanda Hanaya merestui hubungan Herman dengan ibu nya.
Herman yang mendengar perkataan Hanaya sempat terkejut, dia tidak menyangka Hanaya akan merestui hubungannya dengan Sandra.
"Terimakasih Hana, kamu benar-benar anak yang baik, dan pengertian, aku berjanji akan selalu membahagiakan mama mu." Herman pun langsung memeluk Hanaya.
"Terima kasih cantik, aku akan mendoakan mu agar kau bisa bertemu dengan si Sunggi." Herman pun berlari, dan segera menjemput Sandra yang masih berada di restoran.
"Sunggi..? Siapa itu..??" Hanaya pun tertawa melihat tingkah Herman, sebenarnya dia tau yang dimaksud Herman itu adalah Yoongi.
***
Hanaya masuk kedalam kamarnya dia menuju laci meja yang ada disamping ranjang, Lalu mengambil selembar kertas yang dulu diberikan Luna kepadanya.
"Yoongi, ternyata ibuku mempunyai love story yang membuat aku iri, aku juga ingin bertemu dengan seseorang yang seperti pak Herman, tetapi bukan berarti aku melupakan papa ku. Aku mau mempunyai sebuah cerita yang pemeran utamanya adalah kita yaitu Kau dan aku, dengan ending yang bahagia."
"Hana...!!" Hanaya disadarkan dari lamunan nya oleh suara yang memanggil nya dari luar.
"Hana," Nyonya Sandra membuka pintu kamar Hanaya.
"Iya ma, kenapa..?" Hanay masih berbaring di tempat tidurnya.
"Tadi Herman ketemu sama kamu nggak..?" tanya Nyonya Sandra.
"Iya, tadi pak Herman ngobrol sama aku." pura-pura tidak tertarik oleh pertanyaan ibunya.
"Dia ngomong apa aja sama kamu..? sambil duduk di pinggir ranjang Hanaya.
"Hmm...pak Herman minta restu buat nikahin mama..??" jawab Hanaya sambil meletakan kepalanya di pangkuan Nyonya Sandra.
"What, kamu serius..??" Nyonya Sandra kaget.
"Ah, nggak usah panik gitu kali..!!" Hanaya pun tersenyum.
"Kamu yang serius donk ngomong nya." ucap Nyonya Sandra sambil mengelus-elus rambut Hanaya."
"Pasti pak Herman sudah menceritakan semuanya ke mama, jadi aku nggak usah bicara lagi, tapi yang pasti Hana ingin yang terbaik buat mama." Hanay bangun dari pangkuan Nyonya Sandra.
"Terimakasih untuk pengertian nya, tapi bukan berarti mama mengkhianati papamu, karena papamu juga lelaki yang terbaik buat mama, kamu dan Aryan. Nyonya Sandra memeluk Hanaya."
"Tapi Hana penasaran, pak Herman dulu pasti ganteng banget ya mah..?" Hanaya menjadi bersemangat ingin mengetahui masa muda Herman sang sopir kesayangan Nyonya Sandra.
"Herman itu, adalah idola waktu SMA, bukan di SMA aja, di tempat kami kuliah pun dia juga menjadi idola, banyak perempuan yang suka dengan nya,dan termasuk mahasiswa berprestasi."
"Terus..??" Hanaya terus bertanya.
"Tapi mama di jodohkan dengan papamu oleh nenek, dan sebagai anak perempuan satu-satunya mama harus mengikuti apa yang menjadi keinginan nenek, dan mama memutuskan untuk menjauh dari Herman, tanpa satu patah katapun.
"Iih,,mama ternyata Zahara ya.." Hanaya meledek ibunya.
"Ya, mau gimana lagi, tapi sehari sebelum mama menikah dengan papamu, Herman pergi ke Singapura untuk bekerja. Dan kembali lagi kesini setelah papamu meninggal."
__ADS_1
"Aku benar-benar salut buat pak Herman, kayak nya cinta mati sama mama, dan sampai sekarang dia tidak menikah." Hana bersyukur, Herman selalu menjaga mama nya setelah papa nya meninggal.
Nyonya Sandra pun hanya tersenyum mendengar perkataan dari Hanaya.