Fantasi Hana My Yoongi

Fantasi Hana My Yoongi
Dia yang terbaik


__ADS_3

Hanaya merasakan pusing yang luar biasa akibat dari semalam dia terlalu banyak menenggak minuman beralkohol, dan memutuskan untuk tidak masuk bekerja, dia lebih memilih beristirahat, tidur di kamarnya.


Luna yang tau apa yang telah terjadi, membiarkan Hana untuk tidur kembali, tanpa bertanya Luna langsung berangkat bekerja.


Selang beberapa jam kemudian Hanaya bangun dari tidurnya, meskipun masih merasakan pusing, tapi untuk kali ini dia bisa menahannya. Hanaya langsung menuju ke kamar mandi.


Setelah selesai mandi, Hanaya membuka lemari bajunya, dia memilih pakaian mana yang harus dipakainya, dan dia melihat kemeja putih oversize, baju itu mengingatkannya akan Yoongi yang marah, disaat dia memakai baju tersebut.


"Aku jadi kangen dia, aku akan memakai baju ini.." Hanaya tersenyum dan mengganti pakaiannya.


Hanaya turun ke bawa, dia menuju dapur untuk mengambil sebotol air mineral dari dalam lemari es, lalu kembali lagi masuk ke kamarnya.


disaat Hanaya akan menutup pintu, tiba-tiba saja seseorang memeluknya dari belakang, lalu menanyakan kabarnya.


"Apa kabar Hana..?" suara itu sangat dikenal oleh Hanaya.


"Yoongi..?" Hanaya membalikan badannya.


Ciuman kilat mendarat di bibirnya, lalu kembali memeluk Hanaya.


"I Miss you so much.." Hanaya membalas pelukan Yoongi.


"Hmm...aku juga , kamu kenapa tidak masuk kerja..?" Tanya Yoongi, sambil melepaskan pelukannya dari Hanaya.


"Kepalaku agak sedikit pusing, semalam habis minum bersama Luna, dan Dewi." Sampai saat ini Hanaya masih merasakan pusing, efek minuman beralkohol yang dia minum.


"Oh, ayo kita turun, aku akan memasakanmu bubur, agar pengarmu hilang."


Di dapur, Hanaya hanya bisa menjadi penonton disaat Yoongi sibuk membuatkan bubur untuknya.


Hanaya merasa, Yoongi benar-benar pantas untuk dijadikan pasangan hidup, dia tahu segala sesuatu hal yang bisa membuat perempuan merasa dicintai dan diperhatikan.


Bubur yang dibuat oleh Yoongi sudah siap. Dia menaruhnya di atas meja lalu menyuruh Hanaya untuk memakannya.


"Habiskan, agar pusing mu hilang."


Hanaya melahap bubur buatan Yoongi tersebut. Dia merasa Yoongi selalu ada dimasa sulitnya, dan akan datang disaat dia membutuhkannya.


Tapi Hanaya tiba-tiba teringat kepada Riko. Dia juga merasa Riko sama seperti Yoongi, selalu ada disaat dibutuhkan.


Selesai makan, Yoongi meletakan mangkok kotor bekas bubur Hanaya ke tempat pencucian piring kotor, dan mengambilkan segelas air putih, lalu diberikan kepada Hanaya.


"Kamu harus banyak-banyak minum air putih, agar tubuhmu kembali stabil."


"Terima kasih kak Riko.." Hanaya terdiam.


"Siapa, Kak Riko..?" Yoongi penasaran, tapi mampu membuatnya sedikit kesal karena Hanaya menganggapnya orang lain.


"Bu..bukan, maksudku..." ucapan Hanaya terbata-bata.


"Ternyata ada orang lain di pikiranmu Hana, apakah dia lebih baik dari pada aku..??" Yoongi marah agak sedikit berlebihan.


"Dengarkan penjelasanku dulu." Hanaya memegang tangan Yoongi, namun Yoongi menepisnya.


"Apa yang harus aku dengarkan darimu..??" Yoongi sangat kecewa terhadap Hanaya.


"Riko adalah sahabat kak Aryan, dan dia dekat sama aku, sama mama juga sangat dekat, aku sudah menganggapnya sebagai kakak ku sendiri." Hanaya berusaha menjelaskan.


"bullshit.." Yoongi tidak mempercayai apa yang sudah dijelaskan oleh Hanaya.


"please..!! percaya padaku." Hanaya ketakutan.


"Sudahlah Hana, memang kita tidak bisa bersama.." Yoongi mengucapkan kata-kata yang membuat Hanaya seperti tersambar petir di siang bolong.


"Iya, kita memang tidak akan pernah bisa bersama, lihat sekarang apakah aku mempunyai status denganmu..? apakah aku pacar, tunangan atau istrimu..?? tidak...!!!" Hanaya berbalik marah, dan melempar semua barang yang ada disekitarnya.


Melihat Hanaya. Yoongi segera menghampiri Hanaya lalu mencium bibirnya, Hanaya terkejut melihat Yoongi tiba-tiba menciumnya, bukannya menghindar Hanaya pun langsung membalas ciuman tersebut, ciuman mereka sedikit lebih lama, dan membuat nafas Hanaya sedikit sesak. Tapi Yoongi terus saja menciumnya seperti enggan melepaskan bibir Hanaya dari bibir tipisnya.


Setelah melepaskan ciumannya, Yoongi pun bertanya kepada Hanaya.


"Apakah dia lebih hebat dariku..? apakah dia hebat dalam hal berciuman..??" Yoongi mengangkat dagu Hanaya.


"Apakah itu pantas untuk dipertanyakan..?" Hanaya menatap mata Yoongi.


"Maafkan aku Hana, aku bersalah. " Yoongi pun memeluk Hanaya.


"Jangan pernah membuatku berpikir jika kamu bukanlah yang terbaik, aku sangat takut, jika kamu pergi dan tidak akan kembali lagi, aku bisa gila" Hanaya memeluk Yoongi dengan erat."


"Aku tidak akan pergi, aku akan selalu berada di sampingmu."

__ADS_1


***


"Hanaya......!!!!! banguuuuuun.....!!!! Luna yang pulang dari bekerja membangunkan Hanaya.


"Wuuuah.." Hanaya menggeliat.


"Buruan bangun, aku udah bawain makanan tu, belum makan toh..??" Luna melemparkan tas kerjanya ke atas ranjang Hanaya.


"Tungguin, bareng turunnya." Hanaya mengulurkan tangan nya agar ditarik oleh Luna.


Luna menarik tangan Hanaya, lalu memeluk sahabatnya tersebut.


"Makanya lain kali kalau tidak kuat minum, jangan sok buat minum wine langsung dua gelas sekaligus." Luna menarik tangan Hanaya untuk turun kebawah.


"Jangan dibahas lagi Luna, tapi untung Yoongi bikinin bubur buat aku, kalo tidak aku nggak bakalan bisa bangun." Hanaya menyenderkan kepalanya ke bahu Luna.


" Jangan ngawur deh.." Luna tau, tidur seharian Hanaya pasti bermimpi tentang idolanya tersebut.


Di bawah ternyata sudah ada Riko yang menunggu Hanaya, dia melihat Hanaya dengan kemeja oversize berwarna putih yang membuatnya langsung mengalihkan pandangannya, dia tidak mau tergoda oleh baju yang sedikit transparan tersebut.


Hanaya melihat Riko, namun dia tidak menyapa nya, dia hanya diam dan segera beralih ke dapur untuk mengambil minum.


Luna yang mengikuti Hanaya dari belakang bertanya.


"Eh, kamu kenapa diamin Riko, emang dia salah apa..??" Luna sedikit kurang suka dengan tingkah Hanaya.


" Aku nggak suka lun, sama pria hidung belang.." Hanaya mengencangkan volume suara nya agar di dengar oleh Riko.


"Memang siapa yang hidung belang..?" Tiba-tiba Riko berada di belakang Hanaya dan Luna.


Mereka cukup kaget dengan kehadiran Riko dibelakang mereka, apalagi Hanaya wajahnya langsung memerah.


"Nggak ikut-ikutan deh.." Luna pergi keluar dari dapur.


"Siapa yang bilang hidung belang, kucing belang kali.." Hanaya tidak berani menatap Riko.


"Apa kamu tida akan memberikan aku kesempatan untuk menjelaskan semua yang terjadi antara aku dan Dewi..??" Riko hanya ingin menjelaskan apa yang telah terjadi diantara dia dan Dewi.


"Udah lah kak, kalo kalian ada apa-apanya juga nggak jadi masalah, Dewi jomblo kok."


Hanaya berjalan menuju ruang tamu, lalu menyenggol lengan Riko, tapi malah dia yang merasa kesakitan.


Riko melihat lengan Hanaya tersebut, lalu menarik tangan Hanaya. agar dia mengikutinya.


"Kamu duduk." Riko menyuruh Hanaya duduk setelah berada diruang tamu.


"Kamu tau kotak P3K letaknya dimana..?" Riko bertanya kepada Luna.


Luna langsung mengambil kotak tersebut lalu memberikannya kepada Riko.


Riko mencari obat oles untuk luka lebam di kotak P3K tersebut, setelah menemukannya dia mengoleskan kelengan Hanaya yang membiru.


melihat mereka Luna memilih untuk masuk ke kamar Hanaya, dan meninggalkan mereka berdua.


"Maafin aku, ini terjadi gara-gara aku." Riko menundukkan kepalanya.


Hanaya diam tanpa kata, mendengar permintaan maaf dari Riko.


"Jangan minum-minum lagi, jika kamu tidak kuat dengan alkohol, dan disaat mabuk jangan pernah bertingkah konyol, yang membuat aku tidak bisa melupakan kekonyolan kamu itu."


Hanaya melihat Riko menetaskan air matanya. Hanaya semakin. tak bisa berkata-kata.


"Aku tidak ada hubungan apa-apa dengan Dewi." Riko berusaha menjelaskan apa yang telah tejadi.


Namun Hanaya tidak mau mendengarkan apapun alasannya, karena dia berusaha untuk menghilangkan perasaan yang mulai tumbuh terhadap Riko.


"Nggak usah dibahas, tidak masalah jika itu seandainya benar, Dewi orang yang baik kok." Hanaya langsung berdiri dari hadapan Riko.


Tapi Riko menahannya, "Kamu jangan seperti itu, jangan pernah mengabaikan ku.


Hanaya tetap saja berdiri dan beranjak dari hadapan Riko.


"Dan tolong kamu bisa nggak untuk tidak memakai baju yang lebih tertutup dari pada ini..?"


Mendengar ucapan Riko, Hanaya menjadi malu, dan segera berlari ke kamarnya.


"Aaa.....!! kenapa dia memperhatikan pakaian ku." Hanaya malu bukan kepalang dan menutup wajahnya dengan kedua tangannya.


"Kamu kenapa Hana..??" Luna yang berada didepan Hanaya terheran-heran.

__ADS_1


"Kenapa dia kesini pada saat aku berpakaian seperti ini.." Hanaya seperti cacing kepanasan.


"Heeey, kamu kenapa..? Luna tertawa melihat tingkah laku Hanaya.


"Bisa-bisanya dia komplen dengan baju yang aku pakai disaat aku sedang marah sama dia.."


Hanaya membuka lemari pakaiannya dan mengeluarkan semua isi didalamnya.


"Hahaha.... pantaslah Riko komplen, bajumu sangat menggoda mata, untung aku cewek yang normal, kalo tidak.." Luna menjadi ikut-ikutan meledek Hanaya.


"Keluar-keluar, kamu sama kak Riko sama aja.." Hanaya mendorong Luna keluar kamar lalu mengunci pintu.


"Rese banget, kenapa sih pake dipermasalahkan segala, lagian siapa suruh kesini." Hanaya masih ngedumel sendiri.


Butuh waktu yang lama untuk Hanaya keluar dari kamarnya, dia sangat malu untuk keluar dan menatap Riko.


Dan akhirnya Hanaya keluar dari kamarnya, lalu turun kebawah untuk menghampiri Luna dan Riko, yang sedang asyik mengobrol, sesekali terdengar gelak tawa mereka, entah apa yang sedang dibicarakan, sehingga membuat Hanaya merasa mereka sedang membicarakannya.


Luna yang melihat Hanaya segera menariknya, dan menyuruhnya duduk ditengah-tengah mereka.


"Kalian harus bicara berdua, jangan ada kesalah pahaman lagi oke.." Luna meninggalkan Hanaya bersama Riko.


Riko yang melihat Hanaya yang berganti pakaian terus saja memandangi Hanaya sambil tersenyum.


Sedangkan Hanaya Hanaya bisa menekuk wajahnya karena malu.


"Kamu sudah makan..?" Riko memulai pembicaraan.


"Udah." jawab Hanaya singkat.


"Pengar kamu sudah hilang..?" Riko bertanya lagi.


"Sedikit" Hanaya masih saja menekuk wajahnya.


"Dua hari lagi aku akan balik ke Korea."


Riko mengejutkan Hanaya dengan ucapannya, dan memandang Riko dengan mata yang sendu. Tapi Hanaya kembali menekuk wajahnya.


"Sebelum aku pergi, aku ingin meminta maaf untuk semua hal yang terjadi, aku tidak ingin masalah ini akan berlarut-larut, dan menilai aku sebagai laki-laki yang tidak benar." Riko berusaha untuk menjelaskan situasinya pada saat itu."


"Oke, aku akan mendengarkan penjelasan dari kak Riko, untuk semua hal yang terjadi." Hanaya menegakkan kepalanya.


"Sehabis pulang dari sini, saat kamu mengundangku makan malam, Dewi menelpon dia ingin mampir kerumah, dan karena aku tau Dewi adalah sahabat kamu, kenapa nggak kalo hanya untuk mampir saja, tapi tanpa sepatah kata pun Dewi langsung menciumku."


"Dan kakak menikmatinya kan..?" Hanaya memotong perkataan Riko yang belum selesai.


"Bukaan, aku mengusirnya."


"Aku tidak akan percaya begitu saja." Hanaya tetap pada pendiriannya.


Riko menghampiri Hanaya, dan langsung mencium Hanaya.


Hanaya yang kaget langsung mendorong riko.


"Apa-apaan sih kak." Hanaya marah.


"Dan itu yang aku lakukan terhadap Dewi." Riko melakukan apa yang dirasakannya saat Dewi tiba-tiba menciumnya, meskipun dia agak sedikit berbohong, yang pasti Dewi lah yang bersalah.


Hanaya terdiam, dan tak bisa berkata apa-apa.


Dan pada saat itu Riko pun menyatakan perasaannya kepada Hanaya.


"Aku tau, ini bukan saatnya, tapi aku harus mengatakannya sebelum aku pergi. Hanaya jujur dari pertama kita bertemu aku sudah menyukaimu, dan aku pikir itu hanya perasaan sesaat, tapi semakin hari, perasaan ini semakin berkembang, dan aku jatuh cinta padamu, aku hanya akan mengatakan kali ini saja, maukah kamu menjadi wanita yang spesial dalam hidupku, maukah kau menjadi bagian dari kehidupan ku..?"


Hanaya terdiam untuk sesaat, dan tidak berkata sepatah katapun, dia sedikit terkejut dengan pengakuan Riko kepadanya.


Namun pada akhirnya Hanaya menjawab pertanyaan Riko.


"Aku sangat nyaman berada didekat kakak, aku marah disaat aku mendengar Dewi berada dirumah kakak pada saat tengah malam, dan memikirkan hal yang bukan-bukan, tapi untuk saat ini aku tidak tau dengan perasaanku sendiri, dan aku belum bisa menjawab semua pertanyaan yang kak Riko berikan." Hanaya, berusaha untuk tidak menyakiti hati Riko.


Kali ini Riko lah yang terdiam, ada rasa kekecewaan yang amat mendalam setelah mendengar jawaban dari Hanaya.


"Aku tidak memaksamu untuk menjawab, tapi disaat kamu membuka hati untukku, datanglah padaku. Aku tidak akan pernah berubah."


Mendengar perkataan Riko Hanaya menjadi sangat sedih, karena belum bisa menerima Riko lebih dari seorang teman, Ataupun sebagai kakak.


"Maafkan Hanaya kak, karena Dia masih menjadi yang terbaik." Hanaya berkata didalam hati.


Hanaya masih menganggap Yoongi masih menjadi yang terbaik, meskipun Hanaya tau, dia Tak akan pernah mendapatkan Yoongi.

__ADS_1



__ADS_2