
"Hanaaa....!!" suara Luna terdengar dari luar kamar, yang membuat Hanaya terbangun dari tidurnya, dia segera beranjak dan membukakan pintu lalu kembali menghempaskan tubuhnya ke atas tempat tidurnya, sepertinya dia enggan untuk berpisah dari ranjang empuk miliknya.
"Hei...anak perawan buruan bangun, ayo sarapan bareng-bareng, Aryan dan Riko sudah mau berangkat tuh." Luna menarik tangan Hanaya sekuat tenaga, agar Hanaya tidak kembali tertidur.
"Lima menit aja nanti bangunin aku lagi." rengek Hanaya yang masih mengantuk.
"Tidak bisa, ada Suga juga tuh, cepat bangun."
"Apa, Yoongi juga disini..?" seketika mata Hanaya terbuka dan segera bangun.
"Tapi bohong.." Luna tertawa sambil berlari dan keluar dari kamar Hanaya.
"Aaah, Luna rese banget sih." Hanaya kesal.
"Buruan keluar." teriak Luna dari luar.
Tidak lama kemudian Hanaya keluar dari kamar, dia pun berpakaian rapi karena akan berangkat bekerja.
"Wah, udah cantik nih, tumben bangun pagi." ledek Luna.
"Jangan berisik." ketus Hanaya.
Luna tertawa sambil mencolek Aryan, Riko yang memandangi Hanaya tidak berkedip sedikitpun karena melihat Hanaya yang begitu cantik meskipun hanya memakai celana jeans dan kemeja over size berwarna putih dengan rambut lurusnya yang di gerai. Hanaya sangat berbeda daripada semalam di saat mereka berada di sungai Han.
"Pagi semua.." sapa Hanaya.
Hanaya tersenyum melihat Riko yang ada disampingnya. Aryan dan Luna pun penasaran apa yang telah terjadi antara Riko dan Hanaya tadi malam.
"Ayo, Rik udah mau jam delapan, Lo harus nyampe kantor jam sembilan kan." Aryan mengajak Riko untuk sarapan.
"Oh, iya." Riko langsung mengambil makanan yang ada didepannya, tapi bukannya mengambil untuk dia sendiri, malah memberikannya kepada Hanaya.
"Terimakasih kak." Hanaya tersenyum.
Aryan dan Luna semakin tidak mengerti terlebih Aryan melihat tingkah laku adik dan sahabatnya membuat tanda tanya besar di benaknya.
Tapi karena akan berangkat bekerja Aryan tidak berkesempatan untuk bertanya kepada mereka berdua.
Mereka berempat pun menikmati sarapan paginya dengan lahap, tidak terlalu banyak suara yang keluar, karena menikmati masakan Luna yang semakin hari semakin nikmat disantap.
***
"Sayang aku pamit ya." Aryan mengecup kening Luna.
"Udah sana, ini adik mu loh baaang, jangan mesra-mesraan depan aku..!!" Hanaya menggerutu.
"Bawel.." Aryan mencubit pipi Hanaya.
"Aaa..." Hanaya kesakitan, tapi tiba-tiba tanag Riko reflek dan menepis tangan Aryan yang mencubit pipi Hanaya.
"Apa-apaan ini..??" Aryan membelalakkan matanya.
Hanaya mundur dan berlindung dibelakang Riko.
"Sudah-sudah, kamu juga suka banget becandain Hanaya." Luna mendorong Aryan masuk kedalam lift.
Luna masuk ke dalam rumah, lalu meninggalkan Hanaya dan Riko yang masih berdiri di depan lift.
"Ayo, biar sekalian aku antar kamu bekerja." Riko menawarkan diri.
"Oh, nggak usah kak, aku jalan kaki aja sekalian olah raga." Hanaya menolak tawaran Riko.
"Ya sudah, aku pergi ya sambil ketemu lagi." Riko pun pamit sambil mengelus pipi Hanaya.
Hanaya tersenyum dan membiarkan tangan Riko memegang pipinya.
"Hati-hati ya..!!" Hanaya melambaikan tangannya kepada Riko yang sudah masuk kedalam lift.
Hanaya pun berjalan menuju lift yang langsung terhubung ke depan lobi utama apartemen, tapi tiba-tiba Luna menarik tangannya, dan mencecar Hanaya dengan pertanyaan.
"Kenapa sih, main tarik-tarik aja." Hanaya sedikit kaget.
"Ayo masuk, kali ini ngg usah jalan biar aku yang nganterin kamu kerja, masih ada satu jam lagi." ucap Luna.
Merekapun duduk diruang tamu, Luna yang penasaran langsung bertanya kepada Hanaya.
"Kamu nggak pacaran kan sama Riko..?" tanya Luna.
"What..??" pertanyaan macam apa itu, kamu pikir aku perempuan apaan." Hanaya kesal.
"Semalam kita melihat kamu sama Riko di sungai Han." ucap Luna.
"Kamu serius Lun..?" tanya Hanaya.
"Iya.."
"Kak Riko juga..?" tanya Hanaya lagi.
"Iya..."
"Kalian melihat aku sama kak Riko peluu.."
"Iya, kami melihat semuanya, ngeliat kamu dipeluk sama Riko." Luna langsung memotong ucapan Hanaya.
"Ya ampun...!!!" Hanaya menjadi lemas, dan tidak bertenaga.
"Apa kamu sekarang berubah menjadi playgirl..?" tanya Luna sambil tertawa.
"Luna, jangan ngeledek deh, itu buka. seperti yang kalian kira." Hanaya kehabisan kata-kata.
"Bukan ngeledek,tapi itu kenyataannya, kami melihat semuanya, apalagi pas si Riko balik, aku balik ya, sampai ketemu lagi." Luna mempraktekan apa yang di lakukan Riko, sambil mengelus pipi Hanaya.
"Aah, lunaaa...!!!"
__ADS_1
Luna pun tertawa melihat wajah Hanaya yang merah.
***
HYBE
"Hai Hana.." Sapa Kim Mina.
"Hai nuna." Hanaya menghempaskan tubuhnya di sofa yang berada diruang kerja Kim Mina.
"Kenapa lagi, apa kamu berantem sama Min Yoongi..?" tanya Kim Mina.
"Bukan, ada sesuatu yang aku pikirkan." ucap Hanaya sambil mengambil ponselnya di dalam tas.
"Oh ya, tadi Min Yoongi menanyakan mu."
"Oh, my God....!!" Hanaya melihat panggilan tidak terjawab dari Min Yoongi sebanyak enam puluh tiga kali. Hanaya segera menelpon balik, tapi Min Yoongi tidak menjawab telpon dari Hanaya.
"Nuna, Min Yoongi dimana sekarang..?" tanya Hanaya dengan nada suara yang panik.
"Mungkin sedang latihan, kamu kesana aja.."
"Aku takut Yoongi marah pada ku, aku lupa ponselku nada dering nya aku matikan." Hanaya panik.
"Hahaha...sudah temui dia dulu, jika dia marah kamu harus menerimanya, karena kesalahannya berasal dari kamu." ucapan Kim Mina semakin membuat Hanaya takut.
Hanaya berlari menuju lift, dia menekan tombol dua puluh satu yang berarti dia akan menuju lantai dua puluh satu dimana Min Yoongi yang sedang berlatih koreografi bersama anggota BTS lain.
Setelah sampai ditempat tujuannya, Hanaya agak sedikit takut untuk masuk keruang latihan tersebut, dia memejamkan matanya dan menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya kembali.
"Oke, siapkan mental."
Hanaya pun masuk, dan melihat Min Yoongi yang sedang menari bersama anggota BTS lainnya. Disela-sela latihannya Jungkook yang melihat Hanaya masuk lalu melambaikan tangannya menyapa Hanaya, begitupun Jimin. Diantara keenam member BTS selain Min Yoongi Hanaya juga dekat dengan Jungkook dan Jimin.
Akhirnya para member BTS pun beristirahat, Hanaya sengaja menghampiri Min Yoongi, seperti tebakan Hanaya, Min Yoongi tidak mengacuhkan Hanaya, dia diam seribu bahasa, Hanaya mengambilkan sebotol minuman mineral lalu memberikan kepada Min Yoongi, tapi dia tidak menerimanya, malah Min Yoongi menerima air yang diberikan oleh kang Bora yang sedari tadi berada diruangan tersebut.
Hanaya sedikit kesal, tapi dia berusaha untuk tetap tenang, dia terus berusaha untuk mengajak Min Yoongi bicara, dan menjelaskan apa yang terjadi. Namun usaha Hanaya sia-sia Min Yoongi tetap membatu, dia memilih duduk disamping kang Bora dari pada duduk didekat Hanaya yang jelas-jelas kekasihnya, dan orang-orang didalam ruangan itu pun tau.
"Oke, jika dia semarah itu padaku untuk sementara waktu aku akan membiarkannya sendiri, sampai dia bicara lagi padaku." Hanaya bicara sendiri, dan memutuskan keluar dari ruang latihan.
Orang-orang yang berada didalam ruangan tersebut menjadi saling pandang pandangan, karena melihat ekspresi Hanaya dan Min Yoongi yang tidak seperti biasanya, lalu Jimin menghampiri Min Yoongi.
"Hyung apa kau bertengkar dengan Hana?" tanya Jimin.
"Entahlah, aku kesal dari kemarin dia tidak mengangkat telpon ku, apa yang dia lakukan dibelakang ku..?" Min Yoongi tersenyum pahit.
"Ayo lah Hyung, mungkin Hana tidak mengangkat telponnya karena ada sesuatu, kamu harus mendengarkan penjelasannya dulu. " Jimin berusaha untuk membuat Min Yoongi berpikiran positif terhadap Hanaya.
"Sudahlah, ayo kita mulai lagi.." Min Yoongi pun berdiri.
Kang Bora menyusul Hanaya keluar, dia sangat senang karena Hanaya diabaikan oleh Min Yoongi, dia menganggap Hanaya hanya sebagai pelampiasan kejenuhan Min Yoongi disaat tidak bisa lagi beraktifitas seperti biasanya, karena dunia sedang dilanda musibah dengan pandemi covid 19 yang sudah setahun lebih dan tak kunjung usai. Dan mengakibatkan para member BTS lebih banyak bekerja di gedung HYBE.
"Hanaa.." teriak Kang Bora.
"Jangan sok deh, Min Yoongi sudah bosan denganmu, jadi jangan harap dia akan bicara padamu, dan kau cukup tau dirikan untuk tidak lagi mendekatinya." ucapan Kang Bora membuat Hanaya ingin sekali mengacak-ngacak rambut Kang Bora yang sepertinya habis di salon. Ia mengurungkan niatnya jika dia melakukan itu, bisa-bisa Min Yoongi akan semakin marah dan memutuskannya.
"Nuna, kamu cantik, tapi kenapa kau selalu mencari gara-gara dengan ku, apa kau juga menyukai Min Yoongi..? jika kamu mampu silahkan rebut dia dariku, tapi ingat selama aku masih berstatuskan kekasih Min Yoongi jangan pernah berharap aku akan membiarkanmu."
Mendengar ucapan Hanaya, Kang Bora menjadi kesal dan mengayunkan tangannya untuk menampar wajah Hanaya, tetapi bukan Hanaya namanya jika dia tidak bisa menepis tangan Kang Bora.
"Ingat, aku masih menghormati mu, karena kau senior ku disini, tapi jika kita bertemu diluar, dan kau masih seperti ini padaku, jangan harap aku akan mengampuni mu." Hanaya melampiaskan semua amarahnya, jika Min Yoongi tidak mendiamkan nya, Hanaya tidak akan membuat Kang Bora menjadi ketakutan, dan pasti akan hanya menganggap ucapan Kang Bora seperti angin lalu.
"Lepaskan, liat saja nanti apa yang akan aku lakukan." Kang Bora ketakutan, dan lari menghindari Hanaya.
Lee Hye jie yang melihat adegan Hanaya dan kang Bora dari jauh, segera menghampiri Hanaya, dia sangat cemas karena Kang Bora adalah wanita yang licik, sudah beberapa orang staf HYBE yang di pecat gara-gara kelakuannya, karena kang Bora adalah keponakan salah satu petinggi HYBE, dia akan dengan mudahnya menyuruh pamannya untuk memecat staf HYBE yang tidak dia sukai.
"Hana, kamu tidak apa-apa? tanya Lee Hye jie.
Mendengar pertanyaan dari Lee Hye jie, dia merasa tidak berdaya, dia tidak bisa menutupi jika dia sedang tidak baik-baik saja, dalam hatinya Hanaya merasa bersalah kepada Min Yoongi, karena semalam dia sengaja mematikan nada dering ponselnya pada saat bersama Riko di sungai Han.
Hanaya tidak bisa membendung tangisnya, dia takut apa yang dikatakan oleh Kang Bora benar-benar terjadi, dan Min Yoongi akan mengabaikannya.
"Nuna...Huhuuuuu......." Hanaya menangis.
Lee Hye jie memeluknya, dan segera membawa Hanaya turun dan menuju ruangan Kim Mina.
"Jangan menangis disini, orang-orang akan memperhatikanmu." ucap Lee Hye jie.
Melihat mata Hanaya yang basah Kim Mina pun tersenyum.
"Pasti kamu di diamkan oleh min Yoongi kan..?" Kim Mina langsung menebak.
"Dia habis berantem sama Kang Bora."
Mendengar perkataan Lee Hye jie, Kim Mina langsung marah.
"Perempuan itu benar-benar keterlaluan, berapa orang lagi yang akan dimusuhi nya, ini tidak bisa dibiarkan, aku akan bicara dengannya." Kim Mina segera mengambil ponselnya dari atas meja.
"Tidak perlu nuna, biarkan saja toh aku sebentar lagi akan keluar dari sini." ucap Hanaya lesu.
"Hana, perusahan sudah menyiapkan kontrak kerja yang baru untuk mu, kamu tidak bisa keluar begitu saja." Kim Mina mengatakan apa yang seharusnya masih dirahasiakan oleh perusahaan.
"Aku tidak bisa melanjutkan pekerjaan ini, aku sudah memutuskan untuk keluar, dan fokus untuk mengurus usaha keluarga." Hanaya berkata masih dengan air mata membasahi pipinya.
Lee Hye jie dan Kim Mina terdiam dan tidak bisa berkata apa-apa.
"Ya sudah kamu harus menenangkan dirimu dulu, sebentar lagi kita akan sibuk dengan pemotretan TXT." ucap Lee Hye jie.
"Iya Nuna." Hanaya menghapus air matanya.
***
Akhirnya pekerjaan Hanaya pun selesai, dia berniat untuk langsung pulang, dan ingin beristirahat karena permasalahannya dengan Min Yoongi membuatnya tidak bisa berpikir jernih, tapi sebelum pulang Hanaya berniat untuk menghampiri Kim Mina untuk berpamitan pulang, tapi dalam perjalanan menuju ruangan Kim Mina, Hanaya melihat Min Yoongi yang sedang asyik mengobrol dan tertawa bersama Kang Bora, dan beberapa orang lainnya yang tidak dikenal oleh Hanaya.
__ADS_1
Spontan Hanaya memutar balik tubuhnya, dan langsung berlari kecil agar Min Yoongi tidak melihatnya. tapi usaha Hanaya sia-sia, Min Yoongi melihat Hanaya, lalu mengejarnya.
"Beginikah caramu untuk menyelesaikan Masalah diantara kita..?" Min Yoongi menarik tangan Hanaya.
"Apa..??" Hanaya memandang sinis kepada Min Yoongi.
"Apa kamu tidak berniat meminta maaf padaku..?" Min Yoongi sedikit meninggikan suaranya.
"Keterluan sekali." Hanaya menarik nafas dalam-dalam.
"Bukankah yang keterlaluan itu kamu..?" tanya Hanaya.
"Kenapa jadi aku..?"
"Aku berlari keruang latihan mu agar bisa menjelaskan apa yang terjadi, tapi kamu mendiamkan aku, malah kamu menyakiti perasaanku, aku memberikan minuman padamu, kamu malah mengambil minuman yang ada ditangan Kang Bora, aku malu, aku diperhatikan oleh orang-orang."
"Trus kamu maunya apa..?" tanya Min Yoongi.
"Terserah, kamu hanya lebih baik di imajinasi ku saja." Hanaya menyeringai dan pergi meninggalkan Min Yoongi.
"Hana, aku belum selesai bicara.."
Hanaya mengabaikan panggilan Min Yoongi dan terus berjalan, menuju lift.
Hanaya tak henti-hentinya menangis, dia sangat kecewa dan merasa sangat bersalah dia tidak tau dengan perasaannya sendiri, seharusnya dia sedikit mengalah, dan tidak memperpanjang pertengkarannya bersama Min Yoongi.
***
"Apa kamu tidak akan berangkat kerja..?" tanya Luna, dia melihat Hanaya yang masih bermalas-malasan diatas tempat tidur, sambil memainkan ponselnya.
"Aku tidak akan masuk kerja hari ini." jawab Hanaya datar.
"Apa kamu sakit..?" Luna langsung memegang jidat Hanaya.
"Aku sehat, jangan khawatir." Hanaya menepis tangan Luna.
"Apa kamu lagi ada masalah..?" Luna tak henti-hentinya bertanya, dan membuat Hanaya kesal.
"Apa bisa kamu keluar..? Aku hanya ingin sendirian."
Melihat ekspresi Hanaya, Luna langsung keluar dari kamar Hanaya dengan seribu tanda tangan di pikirannya.
Di ruang tamu Aryan sedang menikmati secangkir kopi buatan Luna, dia melihat wajah Luna yang sepertinya memikirkan sesuatu.
"Kenapa sayang..?" tanya Riko.
"Hanaya tidak mau bekerja, dia masih berbaring ditempat tidurnya, sepertinya dia mempunyai masalah, tapi biasanya dia selalu cerita, tapi sekarang dia malah mengusirku dari kamar."
Mendengar ucapan Luna, Aryan pun tersenyum.
"Biarkan saja, itu lebih baik semoga dia berhenti dari pekerjaannya, dan lebih fokus usaha keluarga." Aryan langsung berdiri dan berpamitan kepada Luna untuk berangkat kerja.
"Apa kita suruh Riko kesini aja besok kan weekend, mungkin akan lebih baik dia disini untuk menghibur Hanaya." usul Luna.
"Hmm, ide bagus nanti aku coba hubungi Riko dulu, semoga saja dia bisa kesini, aku berangkat ya..!!"
"Hati-hati.." Luna melambaikan tangannya kepada Aryan.
Sementara itu di HYBE Kim Mina yang mencoba menghubungi Hanaya merasa khawatir, tidak biasa-biasanya Hanaya tidak masuk kerja tanpa memberi kabar. Dia berpikir pertengkaran Hanaya dan Min Yoongi membuat Hanaya tidak ingin lagi bekerja di HYBE.
"Apa kita apartemennya saja..?" tanya Kim Mina kepada Lee Hye jie dan Kim Hara.
"Tidak usah, aku yakin Hanaya akan baik-baik saja, jangan ganggu dia dulu, mungkin dia ingin menenangkan diri." jawab Lee Hye jie.
"Benar juga." timpal Kim Hara.
tiba-tiba seseorang mengetuk pintu, lalu membuka pintu tanpa menunggu Kim Mina memberikan perintah, dan membuat mereka bertiga terdiam, ternyata itu adalah Min Yoongi dia juga mengkhawatirkan Hanaya.
"Apa Hana ada disini..?" tanya Min Yoongi.
"Dia tidak masuk kerja hari ini." jawab Kim Mina.
Lee Hye jie dan Kim Hara pun pergi keluar, dan ingin memberikan ruang untuk Min Yoongi dan Kim Mina berbicara.
"Apa yang sudah kamu lakukan kepada Hana..?" tanya Kim Mina.
"Aku tidak melakukan apa-apa." jawab Min Yoongi datar.
"Hana sudah bercerita kepadaku kemarin, apa kamu tau di saat dia berlari untuk menemui mu di ruang latihan, dia terjatuh, dan membuat kakinya terluka, tapi dia tidak menghiraukannya, dia lebih takut jika kamu akan marah kepadanya." terang Kim Mina.
Min Yoongi hanya terdiam mendengarkan perkataan Kim Mina, dia merasa sangat bersalah, dia ingin sekali pergi menemui Hanaya di rumahnya, tapi sebentar lagi dia akan ada pertemuan dengan salah satu artis yang akan berkolaborasi dengan BTS, dan dia tidak mungkin mengacaukan pertemuan tersebut.
Min Yoongi hanya bisa menunggu sampai malam nanti, untuk menemui Hanaya, dia berusaha berulang kali menelpon Hanaya tetapi telpon Hanaya tidak aktif.
Min Yoongi pun pamit untuk pergi.
"Ya sudah, saya pergi dulu nuna, anak-anak sudah menungguku."
"Oke, semoga sukses." Kim Mina menyemangati Min Yoongi, dia tau saat ini Min Yoongi pasti sedang memikirkan Hanaya.
***
Hanaya beranjak dari tempat tidurnya, di berjalan menuju jendela dan pandangannya tersita oleh sebuah gedung yang bernama HYBE, entah apa yang dipikirkannya yang jelas butiran bening tiba-tiba jatuh membasahi pipinya yang mulus. Dia lalu mengalihkan pandangannya ke langit yang tampak mendung, sepertinya akan turun hujan, Yoongsan sedikit menjadi gelap karena awan yang mulai gelap pekat, gemuruh pun mulai terdengar, beberapa menit kemudian hujan deras pun turun disertai kilat yang membuat Hanaya sedikit takut, tapi bukannya beranjak dari tempatnya berdiri Hanaya malah duduk di kursi yang sudah tersedia di dekat jendela kamar apartemennya.
Dia mulai menangis, dan entah apa yang dipikirkannya, tapi sepertinya langit pun ikut bersedih, semakin deras air mata Hanaya mengalir, hujan dan petir pun semakin menjadi-jadi.
"Apa aku harus mengakhiri semua ini." Hanaya berkata tanpa seorangpun bisa mendengarkannya.
"Apa aku harus melepaskannya, apa perjuangan ku selama ini untuk bisa bersama Yoongi akan berakhir dengan sia-sia..?? Memang benar aku dan Min Yoongi itu bagaikan bumi dan langit, mungkin aku akan tersakiti dan belum tentu aku bisa mendapatkan yang lebih baik darinya. Sedangkan dia..?? dia tidak akan menemui kesulitan untuk bertemu dengan perempuan-perempuan yang lebih baik dari aku."
Hanaya menangis sejadi-jadinya, dia merasa harus melepaskan rasa yang sesak di dadanya.
"Apa aku akan berakhir gila..??" Hanaya kembali menangis.
__ADS_1