
Cuaca di pagi hari yang begitu cerah membuat Hanaya enggan beranjak dari tempat duduk yang berada di depan teras kamarnya, menikmati indahnya langit yang agak sedikit berawan, semakin membuat Hanaya betah duduk berlama-lama,sambil mendengarkan lagu dari boy band kasukaannya LIFE GOES ON dari BTS. Sesekali Hanaya tampak memejamkan matanya dan tersenyum menunjukan Hanaya begitu menikmati suasana di pagi hari. Tiba-tiba dari balik pintu kamarnya terdengar suara Aryan yang memanggil agar Hanaya segera keluar dari kamarnya.
"Han, masih lama nggak..?" Aryan mengetuk pintu kamar Hanaya. "Buruan, yang ada nanti kakak ketinggalan pesawat."
Hanaya yang agak sedikit kesal langsung membuka pintu kamar, dan memarahi Aryan,bukan karena merasa terganggu, tetapi karena Hanaya tidak suka siapa pun memanggilnya dengan sebutan Han.
"Hanaya,atau Hana bukan Han..!!! Emangnya aku pak Han yang di kantin kantor apa." Hanaya cemberut.
"Hahaha...!!! Sorry keceplosan." Aryan tersenyum sambil mengalungkan lengannya di leher Hanaya.
"Ayo..!!" Hana menuju garasi untuk mengeluarkan mobil.
"Lah, kok dia yang jadi buru-buru, kakak yang nungguin kamu dari tadi, kamu udah bosan ya liat kakak selama dua Minggu ini..?" Aryan merajuk.
Tiba-tiba langkah Hanaya terhenti dan berbalik kearah Aryan, lalu memeluk kakaknya tersebut dengan erat, seketika suasana yang gaduh tadi menjadi hening.
"Aku nggak bakal pernah bosan,Hana sayang sama kakak,kalo bisa kakak tetap disini untuk Hana, temenin Hana biar nggak septi."
"Kan masih ada mama dirumah, kamu nggak nggak akan kesepian kok." Aryan membalas pelukan dari Hanaya.
"Makanya jangan pernah ngomong-ngomong bosan lagi Hana nggak suka." Hanaya manyeka air matanya.
"Iya maaf." Aryan pun melepaskan pelukannya dari Hanaya.
"Halo Hana..!" Tiba-tiba terdengar suara yang sudah tidak asing bagi Hanaya dari belakang.
"Riko..? eh maksudnya kak Riko.." kok bisa ada disini, bukannya udah balik duluan..? tanya Hanaya.
"Kemarin nggak jadi pergi, jadi sekarang bareng kakak berangkatnya." Aryan menjelaskan ke Hanaya kenapa Riko berada di rumahnya.
"Oh.." Hanaya pun langsung membuka pintu garasi.
Aryan dan Riko sibuk memasukan barang-barang meraka yang akan di bawa,Hanaya sudah brada di dalam mobil dan duduk di bangku kemudi.
"Eh, mau ngapain..?" tanya Aryan
"Hari ini biar Hana yang jadi sopir kalian berdua, kalian cukup duduk tenang di belakang." Hanaya dengan gaya sombongnya menyalakan mesin mobil,dan siap untuk mengemudi.
"Wah, memang adik yang sangat berbakti." Aryan ikut senang karena melihat Hanaya yang udah ceria lagi.
"Ayo Rik..!!"
Sebelum berangkat Aryan dan Riko pun pamit kepada nyonya Sandra.
"Mah kami jalan dulu ya, doain kita selamat sampai tujuan." Aryan dan Riko mencium tangan nyonya Sandra.
"Hati-hati di jalan.." jawab nyonya Sandra datar.
Nyonya Sandra adalah ibu dari Hanaya dan Aryan, tetapi bagi Hanaya Nyonya Sandra adalah ibu yang buruk, dan Aryan juga merasakan hal yang sama, tapi sebagai anak laki-laki yang di tinggal mati oleh seorang ayah, Aryan tetap menghormati ibunya tersebut.
"Ayo, kelamaan nih.." Hanaya agak sedikit ketus.
"Iya sabar." Aryan dan Riko masuk mobil dan duduk di bangku belakang.
"Oke boy,sebelum kita berangkat wajib untuk mendengarkan lagu yang satu ini." Hanaya pun memutar lagu kesukaannya, dan mobil pun melaju.
Eoneul nal sesangi meomchwosseo
******Amureon****** *********yegodo Hana eopsi
Bomeun gidarimeul mollaseo*********
__ADS_1
************Nunchi eopsi wabeoryesseo
Baljagugi************ ***************jiwojin geori
yeogi neomeojyeoinneunna
Honja gane sigani,mianhae maldo eopsi***************
Hana yang asyik mendengarkan Lagu tersebut tiba-tiba dimatikan oleh Aryan dan langsung melompat ke depan.
"Ah,nggak seru kalo cuma dengerin musik doank,mumpung kita nyampe bandara beberapa jam lagi,mending kita ngobrol, ngebahas apa gitu." ajak Aryan sambil mematikan bluetooth dari handphone Hanaya.
"Emang dari mau ngobrolin apa sih kak..?" Hanaya mulai bertanya.
"Kamu nggak tukeran no ponsel Ama Riko..?" Aryan pun memakai Riko sebagai topik pembahasan.
"Oh,iya bener mau donk kak no ponselnya." Hanaya langsung memberikan handphone kepada Riko yang duduk di belakang.
Riko pun kaget, dan melihat ke arah Aryan,lalu Aryan pun memberikan isyarat untuk Riko agar memberikan no ponselnya kepada Hanaya.
"Nih udah.." Riko memberikan ponsel Hanaya kembali.
"Ok, makasih kak, ini buat jaga-jaga aja takutnya kak Aryan macam-macam disana.
Misi Aryan berhasil, ternyata Aryan ingin menjodohkan adiknya dengan Riko, sahabat yang di kenal baik dan dia menganggap Riko pantas untuk Hanaya.
Dua jam pun berlalu, akhirnya mereka sampai di Bandara, Aryan yang sengaja menjauh dan ingin Hanaya lebih dekat dengan Riko, akhirnya ketauan oleh Hanaya,dan menghampiri kakaknya, lalu memarahi Aryan.
"Waaah, parah.." Hanaya tampak agak sedikit salah tingkah,biarpun merasa kesal,sebenarnya dia malu.
"Apaan..?" Aryan pura-pura tidak tau.
"Hahaha, ada-ada aja kamu nay.." Aryan berkilah.
"jujur, jangan bohong kalo nggak awas.." Hanaya mengancam Aryan.
Dari jauh, Riko menatap Aryana dan Hanaya tanpa mereka katakan, Riko sudah tau apa yang Aryan dan Hanaya bicarakan, dan Riko tetap berpura-pura tidak tau dengan isi pambicaraan mereka, yang penting satu hal, dia telah mendapatkan nomor ponsel Hanaya. Ternyata Riko menyukai Hanaya, dan sudah di berikan lampu hijau oleh Aryan.
***
Akhirnya waktu pun tiba Aryan dan Riko akan segera berangkat, Hanaya dengan perasaan setengah ikhlas melepaskan kakaknya pergi.
"Hati-hati disana, jangan lupa makan, selalu ingat Tuhan,dan tiap hari harus kabari aku.." Hanya sedikit berteriak kepada Aryan karena jarak mereka semakin jauh.
"Iya.." Aryan melambaikan tangannya.
"Kak Riko, jagain Kak Aryan ya..!!
Riko pun mengangkat Jempolnya sebagai isyarat mengiyakan perkataan Hanaya.
Hanaya berjalan menuju mobil yang di parkir agak sedikit jauh, disaat pandangannya tertuju kearah mobil, dia melihat seseorang berdiri di samping mobil, dengan celana agak sedikit gombrong, dan memakai jaket jins, di padukan dengan dengan topi yang warnanya senada dengan jaket yang di pakainya.
Hanaya semakin dekat, dan dia melihat dengan jelas siapa yang berdiri didekat mobilnya, dengan tatapan yang penuh cinta,dan senyuman manis Hanaya menyapa orang tersebut.
"Yoongi.." Hanaya tersenyum lebar.
"Ayo jalan..!!" Yoongi langsung masuk kedalam mobil Hanaya.
Hanaya pun melajukan kendaraannya dengan kecepatan sedang. Dia begitu sangat senang karena di temani Yoongi. Dia merasa Yoongi selalu ada disaat dia bahagia maupun bersedih. Diperjalanan pun, senyuman di wajah Hana tak pernah lepas, dan terkadang tatapannya beradu dengan Yoongi.
"Yoongi, aku bahagia banget,kamu selalu menemani aku, kapan pun dan dimana pun.." Hanaya memulai untuk membuka pembicaraan.
__ADS_1
"Benarkah..??" Yoongi tersenyum.
"Hmmm.." Hanaya pun ikut tersenyum.
Yoongi pun menatap Hanaya,sehingga Hanaya menjadi sedikit agak salah tingkah, melihat Hanaya seperti itu, Yoongi menggenggam jemari Hanaya dan berkata.
"Kita akan tetap seperti ini, aku tidak akan melepaskan genggamanku, dan aku akan selalu ada di samping mu."
"Terimakasih, walaupun aku tau ini hanyalah fatamorgana, tapi aku juga akan tetap di samping mu."
"BRaaak....." Mobil Hanaya menabrak pembatas jalan. Orang-orang berkerumunan melihat kecelakaan tersebut. Tubuh Hanaya berlumuran darah.
"Ambulance...!! cepat telpon ambulance..!!!" Hanaya samar-samar mendengar dan melihat orang-orang berlarian dan menelpon ambulance, lalu Hanaya pun tidak sadarkan diri. Tidak membutuhkan waktu yang lama ambulance pun datang, dan Hanaya pun langsung di bawa kerumah sakit.
***
Telepon nyonya Sandra berdering berkali-kali, tetapi dia tidak menghiraukan sama sekali, dia tetap sibuk dengan urusannya di depan komputer setelah kematian suaminya, dia yang menggantikan posisi suaminya, untuk mengurus semua usaha keluarga, mulai dari restoran, cafe dan,beberapa usaha lainnya.
Beberapa jam kemudian nyonya Sandra penasaran dengan nomor telpon yang menghubunginya berkali-kali, lalu menelpon balik nomor tersebut.
"Halo,maaf ini siapa ya..??" tanya nyonya Sandra.
"Ini dengan ibu Sandra bukan..??" tanya orang di balik telpon tersebut.
"Benar, ada apa ya..?" nyonya Sandra penasaran dengan si penelpon.
"Oh, maaf Bu kami dari pihak rumah sakit Mitra sejahtera ingin memberikan informasi bahwa yang bernama Hanaya Dwi Sandra masuk rumah sakit karena kecelakaan, dan pasien sekarang sedang kritis dirumah sakit."
Mendengar kabar dari rumah sakit, dan menyatakan Hanaya kritis nyonya Sandra bagaikan tersambar petir di siang bolong, tanpa sadar nyonya Sandra menjatuhkan ponselnya ke lantai, dan disusul tubuhnya yang terhempas, lemah tak berdaya ke lantai. Untung situasi tersebut di lihat oleh sopirnya, dan langsung membantu nyonya Sandra untuk berdiri. Sopirnya berusaha untuk menenangkan nyonya Sandra.
"Her, antarkan saya ke rumah sakit Mitra sejahtera..!!" Nyonya Sandra berusaha untuk berdiri.
"Iya Bu." Herman memapah majikannya berjalan menuju ke arah mobil.
"Tolong agak cepat aja ya, kasian Hanaya sendirian di Rumah Sakit." nyonya Sandra agak sedikit linglung.
Herman pun bertanya-tanya dalam hati,apa yang terjadi dengan Hanaya, tetapi dia tidak berani menanyakan hal tersebut kepada majikannya. Dan hanya bisa mengiyakan perintah nyonya Sandra.
Satu jam berlalu Nyonya Sandra dan sopirnya sampai di rumah sakit, dan langsung ke resepsionis untuk menanyakan keberadaan putrinya.
"maaf sus, saya ibu dari Hanaya Dwi Sandra, anak saya diruang mana sus..??" nyonya Sandra tidak sabar untuk menemui anaknya.
"Anak ibu sekarang berada di ruang operasi, rumah sakit langsung mengambil tindakan karena pendarahan yang cukup hebat di kepala nona Hanaya Bu, jika kami menunggu kedatangan ibu, anak ibu belum tentu bisa selamat.." kebetulan salah satu dokter yang menangani Hanaya berada di resepsionis, jadi lebih gampang untuk menerangkannya.
"Lakukan apapun dok, untuk anak saya uang tidak dari akan jadi masalah, yang penting anak saya bisa selamat, saya mohon bantuannya dok.." Nyonya Sandra begitu sangat khawatir terhadap Hanaya.
"Aku harus telpon Aryan, dia harus balik lagi kesini.." nyonya Sandra mengeluarkan ponselnya. Tapi di halangi oleh Herman.
"Percuma ibu telpon, mas Arya pasti masih dalam pesawat, ibu hubungin mas Arya besok aja, itu saran dari saya Bu,maaf sebelumnya.."
Mendengar perkataan Herman, nyonya Sandra pun berpikir, dan menganggukkan kepalanya. "Kamu benar Herman,sebaiknya besok saja kita hubungi.."
Lima jam pun berlalu, akhirnya Hanaya pun selesai di operasi. para dokter yang menanganinya sudah keluar,dan dari salah satu dokter yang menangani Hanaya menghampiri nyonya Sandra.
"Ibu orang tuanya Hanaya..?"
"Benar Dok, saya ibunya, gimana keadaan anak saya dok..?" nyonya Sandra khawatir tentang kondisi anaknya.
"kondisi Hanaya sebenarnya sudah stabil, pendarahan di otaknya Alhamdulillah sudah berhenti, tapi yang lebih pasti kita liat setelah Hanaya sadar.."
"Ya Tuhan...gadis kecilku, kenapa begitu berat cobaan yang kau berikan kepadanya..??" Nyonya Sandra pun tak bisa membendung kesedihannya.
__ADS_1