
"Hana, kenapa kamu begitu pulas tidurnya." Min Yoongi mengecup kening Hanaya.
Kecupan dari Min Yoongi membuat Hanaya terbangun, dia melihat sekelilingnya dan menyadari bahwa hari sudah semakin larut.
"Ah, aku tertidur ya? Ya sudah aku akan pulang sekarang, pasti Luna dan kak Aryan menungguku dirumah. Hanaya mengikat rambutnya dan mengambil tas yang berada diatas meja dan langsung berdiri.
"Kamu mau kemana, sudah tidur disini saja, lihat sekarang sudah lewat jam dua belas malam." Min Yoongi menunjuk kearah jam dinding.
"Apa..?" Hanaya kaget.
"Tapi kak Aryan kenapa tidak meneleponku?" Hanaya mengecek ponselnya.
Min Yoongi berjalan ke arah dapur dan mengeluarkan sebotol air mineral dari dalam lemari pendingin, dan berjalan kembali kearah Hanaya.
"Ya ampun, sepuluh panggilan dari kak Aryan."
"Tadi kakak mu juga menghubungiku, dan aku mengatakan jika kamu pergi bersama Kim Mina." Min Yoongi menyodorkan minuman yang diambilnya tadi.
"Terus kak Aryan bilang apa?"
"Dia tidak bilang apa-apa, dia cuma mencemaskan kamu, karena tidak mengangkat telpon dari dia, dan sedikit agak tenang karena aku bilang kamu bersama Kim Mina." Min Yoongi pergi menuju kamarnya.
"Ya sudah untuk malam ini kamu disini aja, aku mandi dulu ya."
"Bukanya kamu tadi sudah mandi..?" tanya Hanaya.
"Iya, tapi kan aku tadi ke studio untuk bekerja dan agak sedikit berkeringat." min Yoongi masuk ke kamarnya dan menutup pintu.
"Oh, berarti aku dari tadi tidur sendirian dong disini." Hanaya memukul kepalanya.
Selesai mandi Min Yoongi keluar dari kamarnya, dia mengambilkan pakaian ganti untuk Hanaya, dan menyuruh Hanaya mandi.
"Ya sudah kamu mandi dulu dari sore tidur dan nggak bangun-bangun."
"What, Yoongi nyuruh aku mandi jangan-jangan.." Hanaya menjadi berpikiran negatif.
"Hanaya, fokus jangan berpikir yang macam-macam." Hanaya berkata dalam hati, dan tiba-tiba berteriak."
"Aaaaaa......."
"Kamu kenapa..?" Min Yoongi berdiri dari tempat duduknya.
"Ah, nggak apa-apa." dia pun berlari ke kamar mandi.
Min Yoongi menebak apa yang dipikirkan Hanaya, dan dia tertawa geli.
"Hana..." Min Yoongi memanggil Hanaya dia melihat jam di dinding karena sudah setengah jam Hanaya tak kunjung keluar dari kamarnya.
"Hana," Min Yoongi memutuskan untuk menghampiri Hanaya ke kamarnya.
"Hana, apa kamu sudah selesai mandinya..?" Min Yoongi membuka pintu kamar, dan melihat Hanaya sedang berdiri di depan kaca meja rias sedang mengibas-ngibaskan rambutnya yang basah.
"Kenapa kamu lama sekali mandinya?" tanya Min Yoongi sambil mendekat dan memeluk Hanaya dari belakang.
"Kamu lama ya menunggunya, maaf ya." Hanaya membalikan tubuhnya menghadap Min Yoongi.
"Hmm, lumayan lama."
"Apa kamu mau kopi..?" tanya Hanaya.
"Tentu."
Merekapun keluar dari dalam kamar. Di dapur Hanaya sedikit merasa gugup dia memikirkan apa yang akan terjadi setelah mereka meminum kopi, tapi dia menepis pemikirannya sendiri, dia tidak ingin berpikir berlebihan, belum tentu seorang Min Yoongi mau berbuat lebih karena selama ini Min Yoongi begitu sangat menjaganya, karena kesempatan seperti ini sering terjadi tapi Min Yoongi tetap menjaganya.
Tiba-tiba Min Yoongi muncul di hadapan Hanaya, sehingga membuat Hanaya terkejut dan berteriak.
"Aaaaaa....!!!"
"Hana, kamu kenapa..?" Min Yoongi tertawa.
"Apa bisa kamu datang dengan bersuara..?" Hanaya pura-pura kesal untuk menutupi jika dia salah tingkah karena pikirannya sendiri.
__ADS_1
"Maaf sayang, apa kopinya sudah jadi..?" tanya Min Yoongi.
"Hmm," Hanaya memberikan secangkir Americano untuk Min Yoongi.
Hanaya dan Min Yoongi kembali ke ruang tamu untuk menikmati kopi malamnya, sambil menonton film action kesukaan Hanaya.
"Apa kita menikah saja..?" pertanyaan Min Yoongi yang tiba-tiba membuat Hanaya terkejut.
"Apa aku tidak salah dengar." Hanaya berusaha santai.
"Menikahlah denganku." sekarang pertanyaan tadi menjadi sebuah permintaan.
"Kamu jangan bercanda." Hanaya berusaha santai dan menutupi rasa gugupnya.
"Hana, apa kamu tidak ingin menikah denganku?" Nada suara Min Yoongi agak mulai sedikit meninggi.
"Tentu saja, dan itu adalah impianku menikah dengan seorang Min Yoongi." Hanaya tersenyum lalu memeluk Min Yoongi dari samping.
"Menikahlah denganku." Ucap Min Yoongi sekali lagi.
"Tentu saja, aku harus menikahi mu." Hanaya membenarkan posisi duduknya.
"Hahaha...." Min Yoongi tertawa.
"Kenapa tertawa..?" tanya Hanaya.
"Ayo kita menikah." Min Yoongi memeluk Hanaya, disaat Hanaya akan berdiri dan membuat tubuh Hanaya tidak seimbang dan terjatuh menimpa tubuh Min Yoongi.
"Yoongisie, apa yang kau lakukan..?" tanya Hanaya yang posisinya masih di atas tubuh Min Yoongi.
"Aku tidak melakukan apa-apa." jawab Min Yoongi santai.
"Dasar." Hanaya memukul dada Min Yoongi."
"Aaau...!!" Min Yoongi pura-pura kesakitan.
"Ah, maaf pukulan ku terlalu kencang ya..?" Hanaya menggosokkan tangannya ke bagian tubuh yang dipukul tadi.
"Apa yang kau lakukan..?" tanya Hanaya.
"Aku melakukan hal yang seharusnya dilakukan pasangan." ucap Min Yoongi kalem.
Diapun kembali meneruskan aksinya, sekarang Min Yoongi mengganti posisinya saat ini dialah yang berada diatas Hanaya, dia melihat wajah Hanaya yang cantik, yang penuh cinta untuknya, dan kembali ******* bibir Hanaya. Hanaya pun hanya bisa pasrah tapi tiba-tiba saja Min Yoongi berhenti dan menarik tubuhnya untuk menjauh dari Hanaya.
"Maaf, aku aku melewati batas." Min Yoongi berlari masuk ke kamar mandi.
Di sisi lain Hanaya yang sudah pasrah dengan apa yang akan dilakukan Min Yoongi jadi tertegun dan tidak percaya, jika Min Yoongi tidak ingin melakukannya.
"Kenapa dia tiba-tiba berhenti?" Hanaya sedikit kesal.
"Jangan-jangan dia ada wanita lain, jadi disaat dia berduaan denganku, dia Jadi teringat dengan perempuan itu." Hanaya menjadi berpikiran negatif.
Min Yoongi keluar dari kamar mandi, dia tampak membasuh mukanya, tetapi disaat dia ingin menghampiri Hanaya kembali, dia tidak melihat Hanaya dan membuat dia agak sedikit panik. Min Yoongi mencarinya keseluruh ruangan tapi tetap saja tidak melihat Hanaya, dan dia melihat ke arah meja ternyata tas Hanaya tidak ada.
Ponsel Min Yoongi berbunyi, satu pesan dari Hanaya.
"Aku pulang."
Setelah membaca pesan dari Hanaya, Min Yoongi segera berlari keluar apartemen, dia tidak peduli dengan dinginnya malam itu, yang penting dia bisa menemukan Hanaya.
Min Yoongi langsung berlari kearah parkiran, dan benar saja Hanaya berjalan kearah parkir untuk menunggu Kim Mina mengantarkan mobilnya.
"Hana....!!!" teriakan min Yoongi bergema, dan memecah keheningan malam.
Hana pura-pura tidak mendengar suara Min Yoongi yang memanggilnya.
"Hana..!!" Suara itu semakin mendekat.
Hana mempercepat langkah kakinya, namun secepat apapun Hanaya melangkah, Min Yoongi tetap masih bisa mengejarnya.
"Kamu mau pergi kemana, ditengah malam begini?" Min Yoongi menarik tangan Hanaya.
__ADS_1
"Aku mau pulang." ucap Hanaya sambil menunduk.
"Apa kamu gila, mau pulang sendirian ditengah malam begini..?" Min Yoongi meninggikan suaranya.
"Aku sudah menelpon Kim Mina dia akan segera kesini." Hanaya melepaskan genggaman Min Yoongi.
Min Yoongi membuka ponselnya.
"Nuna, Hanaya akan pergi bersamaku." Min Yoongi menutup ponselnya.
"Siapa yang kamu telepon..? Kim Mina..?" Hanaya mengambil ponselnya lalu menelpon Kim Mina, tapi ponsel Kim Mina sudah tidak aktif lagi.
"Min Yoongi....!!! Apa yang kamu lakukan, aku ingin pulang bersama nuna (Kim Mina)
"Aku akan mengantarmu besok pagi." Min Yoongi menarik tangan Hanaya.
"Lepas, aku akan pulang sendiri naik tadi." Hanaya berusaha untuk melepaskan tangannya.
"Hana, ada apa denganmu..?" Min Yoongi masih belum sadar dengan perubahan sikap Hanaya.
"Lepas." Hanaya menarik tangannya.
"Ayo masuk lagi, aku tidak akan membiarkanmu pulang sendiri." Min Yoongi menarik kembali tangan Hanaya dan genggaman tangannya begitu sangat kuat sehingga Hanaya kesakitan dan terpaksa mengikuti Min Yoongi.
Setelah masuk lagi ke dalam apartemen Min Yoongi mengambilkan sebotol air mineral dan memberikannya kepada Hanaya, dia heran dan tidak tau dengan apa yang dilakukan Hanaya, dan memberanikan diri untuk bertanya.
"Kamu kenapa?"
Hanaya masih diam.
"Kamu marah kepadaku karena hampir melewati batas..?"
Hanaya masih saja tetap diam.
Lalu Min Yoongi melihat luka memar di pergelangan tangan Hanaya, dia sadar jika luka tersebut terjadi karena genggamannya terlalu kuat saat menarik tangan Hanaya. Min Yoongi pergi kearah dapur dan membawa wadah berisi air hangat dan handuk kecil.
"Tanganmu." Min Yoongi menyuruh Hanaya mengulurkan tangannya.
Dia mulai mengompres luka memar di pergelangan tangan Hanaya, raut wajahnya tampak sedih, entah apa yang sedang dipikirkan, yang pasti tatapan Min Yoongi membuat Hanaya menitikkan air mata.
Min Yoongi pura-pura tidak melihatnya, meskipun dia tau dia juga tidak ingin memperlihatkan sisi cengengnya terhadap perempuan yang dia cintai.
"Maaf, tanganmu terluka gara-gara aku." selesai mengompres Min Yoongi mengoleskan krim obat luka ke tangan Hanaya yang membiru.
"Ada apa denganmu, kenapa tiba-tiba ingin pergi." suara Min Yoongi terdengar sangat lembut.
"Tidak kenapa-kenapa, aku hanya ingin pergi saja." Hanaya tidak berani menatap Min Yoongi.
"Ya sudah, kamu tidur besok pagi aku akan mengantarmu pulang.
"Apa kamu mencintaiku?" tanya Hanaya.
Langkah kaki Min Yoongi terhenti karena pertanyaan Hanaya, dia benar-benar tidak tau apa yang ada dipikiran Hanaya.
"Tentu saja aku sangat mencintaimu." ucap Min Yoongi.
"Lalu kenapa kamu tidak ingin melakukannya..?"
Sontak Min Yoongi menjadi kaget dengan pertanyaan Hanaya, dan dia baru tau jika Hanaya bersikap seperti itu karena sesuatu hal yang dia pikir itu di luar batas, tapi Hanaya berpikir sebaliknya.
"Apa aku tidak salah dengar..?" Min Yoongi di tertawa kecil.
"Kamu tidak ingin melakukannya karena perempuan lain kan?" suara Hanaya meninggi.
Mendengar perkataan Hanaya Min Yoongi langsung mencium Hanaya dengan brutal, Hanaya pun kaget dengan reaksi Min Yoongi tapi dia juga menikmati keganasan ciuman Min Yoongi.
Nafas merekapun tersengal-sengal, lalu Min Yoongi menghentikan ciumannya, dan menarik nafas panjang-panjang.
"Untuk saat ini, ini sudah cukup untukku, aku tidak ingin merusak mu, perempuan lain..? aku tidak mempunyai perempuan lain selain kamu, dan percayalah karena aku sangat mencintaimu."
Hanaya hanya bisa menganggukkan kepala, ada rasa malu, bahagia dan perasaan lega setelah mendengar ucapan Min Yoongi.
__ADS_1