Fantasi Hana My Yoongi

Fantasi Hana My Yoongi
Menunggu Hanaya part 2


__ADS_3

Malam semakin larut, Riko yang tak bisa berhenti memikirkan Hanaya sehingga dia tidak bisa tidur, dan membuatnya menjadi gundah gulana.


Tiba-tiba ponsel Riko berdering, Dia bergegas mengambil ponsel tersebut dan melihat siapakah yang telah menelponnya ditengah malam buta seperti ini.


"Dewi..?" Riko penasaran kenapa Dewi menelponnya selarut ini


"Halo Wi"


"Halo Rik, aku dengar kamu balik ya..?" tanya Dewi.


"Oh, iya Wi baru dua hari, tumben tengah malam meneleponku ada apa ya..?" tanya Riko santai.


"Aah, nggak cuma iseng aja, aku lagi otw pulang kerumah, habis dari kafe yang di K." jawab Dewi dari balik ponsel.


" Oh, gitu.." Riko yang merasa tidak terlalu akrab dengan Dewi agak sedikit canggung dengan percakapan mereka.


"Sedikit lagi aku bakalan lewat rumah kamu nih, aku boleh mampir nggak..?"


Riko yang kebingungan, tepaksa membiarkan Dewi untuk singgah di rumahnya, dan kebetulan Riko juga belum bisa tidur karena selalu teringat dengan Hanaya, dia berfikir kenapa tidak, untuk membiarkan Dewi kerumahnya karena dia juga sahabat dari Hanaya.


"Boleh, ya udah aku tunggu dirumah ya." Riko mematikan ponselnya.


Lima belas menit kemudian Akhirnya Dewi pun Sampai kerumah Riko, dengan mobil sportnya yang berwarna merah.


" Hai Rik.." Dewi menyapa Riko yang sudah menunggunya didepan pagar.


"Hai Dew, keren nih mobil, baru ya..??" tanya Riko sambil tersenyum.


"Ah, ngg juga kok." Dewi berjalan kearah Riko.


"Ayo masuk.." Riko mempersilahkan Dewi untuk masuk kerumahnya.


Setelah mereka masuk kedalam rumah, Riko menawarkan minum kepada Dewi.


"Mau minum apa, tapi disini Hanya ada air putih dan ini.." Riko memberikan minuman kaleng bersoda kepada Dewi.


"ini aja cukup." Dewi tersenyum dan mengambil minumannya.


Dewi memperhatikan setiap sudut ruangan yang ada dirumah Riko.


"Kamu tinggal sendirian Rik..?" Dewi penasaran.


"Iya, ibu dan kakak ku lagi pergi kerumah kakak ipar, mungkin kembali Minggu depan." Riko sebenarnya risih dengan kehadiran Dewi dirumahnya.


Dewi menyadari hal tersebut, namun dia pura-pura tidak tau karena dia memang ingin melihat Riko, laki-laki yang di kagumi nya.


Dewi ternyata menyukai Riko. Di mulai pada saat Hanaya koma dirumah sakit, dia menjadi sering melihat Riko mondar-mandir dirumah sakit, Dewi tau jika Riko hanya menyukai Hanaya, tapi menurut Dewi, Riko adalah laki-laki yang pantas untuk di perjuangkan bukan hanya wajahnya saja yang tampan, tapi hatinya pun baik.


"Gimana dengan Hanaya..?" Dewi mengganti topik pembicaraan yang akan membuat Aryan tertarik untuk berbicara agar tidak menjadi canggung.


"Ya, masih sama seperti biasanya, nggak tau kapan aku bisa menyatakan perasaan ku padanya, yang pasti aku akan menunggunya, dan mencari waktu yang tepat." Aryan jadi mengingat Hanaya pada saat mereka berciuman.


"Jangan mengulur waktu terlalu lama, ada yang sedang menunggu mu." Dewi tidak bisa menahan perasaannya terhadap Riko.


"Maksudnya..?" Riko tidak mengerti dengan apa yang dikatakan Dewi.


"Ya, maksudku jangan terlalu lama untuk menyatakan cinta mu kepada Hanaya. Jika kamu ditolak ada aku yang akan menggantikan nya." Dewi berdiri, lalu menghampiri Riko.


Riko yang tidak paham dengan apa yang diucapkan oleh Dewi, hanya tersenyum, dan menganggap itu hanyalah gurauan Dewi untuk menghibur dirinya.

__ADS_1


Dewi yang kini semakin dekat duduk disamping Riko, mencoba merebahkan kepalanya kepundak Riko


Riko ingin menepisnya, tetapi dia takut Dewi akan tersinggung, lalu membiarkan Dewi dengan tingkah aneh nya tersebut.


"Kamu tau, aku sudah sejak lama menyukaimu, pada saat kamu berlari kerumah sakit karena mengkhawatirkan kondisi Hanaya, aku melihat kamu begitu sangat tulus, dan benar-benar ada cinta untuk Hanaya yang belum tentu bisa sadar kembali. Aku sangat iri sehingga aku rela jika pada saat itu aku bisa bertukar posisi dengan Hanaya." Dewi memeluk lengan Riko yang berotot, lalu memejamkan matanya seakan tak ingin melepaskan pelukan tersebut.


Riko melihat ke arah Dewi, dia kembali mengingat Hanaya pada saat menciumnya dengan posisi yang persis sama seperti Dewi saat ini.


Pandangan merekapun beradu, Riko dengan pikiran nya yang kalut, membuat dia membayangkan jika Dewi itu adalah Hanaya.


Dewi yang tidak bisa menahan hasratnya untuk bercumbu dengan Riko langsung mencium bibirnya, dan secepat kilat menyilangkan tangannya ke leher Riko.


Riko yang berfikir jika Dewi itu adalah Hanaya membalas ciumannya. Riko menarik tubuh Dewi, dan membenamkan nya kedalam pelukannya.


Namun, setelah cukup lama untuk mereka saling berciuman, akhirnya Riko tersadar, dan melihat kearah Dewi.


"Oh, tidak.." Riko mendorong Dewi, sehingga dia terjatuh dari kursi, dan membuat Riko panik.


"Maaf Dewi, ini adalah sebuah kesalah pahaman aku bukan berniat untuk melakukan itu, tapi kenapa wajahmu berubah menjadi Hanaya."


Riko begitu sangat panik, sehingga dia mengusir Dewi dari rumahnya.


"Sekali lagi aku minta maaf, dan bukan untuk ku bermaksud seperti tadi. Maaf banget Dew bisakah kau pulang, aku sedang tidak stabil."


"Riko, apa kamu tau aku juga mencintaimu.." Dewi berusaha mendekat kearah Riko.


"Cukup, jangan mendekat aku mohon kamu pergi sekarang juga...!!! Karena aku tidak mau kamu disini..!!" Riko mulai marah.


"Kamu keterlaluan Rik." Dewi berlari keluar dan memasuki mobil mewahnya.


"Aaaaaa... brengsek.." Dewi memukul stir mobilnya.


Amarah Dewi semakin memuncak, dia lalu menyalakan mesin mobilnya dan melaju dengan kecepatan tinggi pergi dari rumah Riko.


***


Hanaya terbangun dari tidurnya, dia heran kenapa dia bisa berada di atas tempat tidurnya, padahal tadi dia sedang duduk di balkon bersama Riko.


"Kak Riko nya kemana..??" Hanaya keluar dari kamarnya, lalu turun kebawah, dia melihat Luna yang masih belum tidur sedang asyik mengobrol dengan seseorang lewat telpon, meskipun waktu sudah menunjukan pukul satu dini hari.


"Kak Riko nya kemana..?" Hanaya menghampiri Luna, lalu berbaring dan meletakan kepalanya di atas pangkuan Luna.


"Udah pulang..." Luna mematikan teleponnya.


"Masa..?" Hanaya bingung.


"Lihat sekarang udah jama berapa..?!" Luna menunjuk kearah jam yang berada di dinding.


"Oh my good, trus yang bawa aku ketempat tidur siapa..?" Hanaya mulai mengingat jika dia ketiduran di ayunan.


"Siapa lagi, kalau bukan Mr. Riko." Luna mencolek pinggang Hanaya.


"Ah, masa..? kan jadi malu ntar kalo ketemu sama dia." Hanaya merengek seperti anak kecil.


"Hana, apa pendapat kamu tentang Riko..?" Luna bertanya kepada Hanaya berharap dia akan tertarik oleh Riko yang menurutnya sangat cocok dengan Hanaya.


"Hmm, ganteng, wangi, dan baik.."


Luna terkejut mendengar penilaian Hanaya terhadap Riko.

__ADS_1


"Kamu pasti mulai tergoda sama Riko kan..?" Luna tersenyum jahil kepada Hanaya.


"Aaaa, nggak kok, itu penilaian adik terhadap kakaknya." Hanaya terlihat gugup namun tetap tidak mengakuinya.


"Oh,ya..??" Luna tidak tidak segampang itu percaya terhadap Hanaya.


"Aku jadi ingat Kak Aryan, apakabar nya ya..? kamu udah nelpon dia hari ini..?" tanya Hanaya.


"Barusan..." Luna tersenyum dan memperlihatkan deretan gigi rapinya.


"Wah curang, kenapa nggak kasih ke aku dulu telponnya, main mati-matiin aja." Hanaya menggelitik Luna, sehingga membuat Luna kabur menuju kamar Hanaya.


***


Riko begitu sangat gelisah, dia tidak ingin Hanaya mengetahui apa yang telah terjadi diantara dia dan Dewi. Riko yang tidak bisa tidur semalaman hanya bisa uring-uringan, dia ingin menelpon Hanaya tapi dia takut, takut Hanaya sudah mengetahui apa yang telah terjadi diantara dia dan Dewi.


Sementara itu Hanaya dan Luna sudah bersiap-siap akan berangkat bekerja, tampak Luna sudah menunggu Hanaya keluar dari dalam rumah.


"Tin..tin.." Luna tidak henti-hentinya membunyikan klakson mobilnya.


Terlihat Hanaya terburu-buru keluar dari dalam rumah, sambil berlari menuju kearah Luna.


"Sabar, ini aku udah keluar" Hanaya dengan sepatu hak yang lumayan tinggi terjatuh.


"Bruuk.."


"Auuu, sakit" dia melihat lutut nya terluka, namun tak ada waktu lagi untuk dia membersihkan lukanya.


"Makanya, kalau dibangunin itu bangun.." Luna memarahi Hanaya.


"Iya maaf, jangan marah dong ntar cantiknya luntur." Hanaya menggoda Luna.


Merekapun berangkat, tapi sebelum mobil mereka keluar, Hanaya melihat mobil Dewi melewati mereka.


"Itu bukannya Dewi..? tanya Hanaya kepada Luna.


"Oh,iya tapi Kenapa dia tidak melihat kita..?"


mereka sangat penasaran apa yang dilakukan oleh Dewi.


"Coba aku telpon ya.." Hanaya menghubungi no Dewi. Tapi Dewi tidak menjawab telpon dari Hanaya.


"Ya sudahlah, nanti kita tanyain secara langsung ke orangnya. Ngomong-ngomong Riko udah nelpon belum..,? Luna mengalihkan topik pembicaraan.


"Belum,apa dia marah padaku..?" Hanaya menyesali kejadian disaat di tertidur disamping Riko.


"Tenang aja, nggak bakalan marah kok percaya padaku." Luna tau jika Riko tidak akan pernah marah, kepada Hanaya.


"Ya udah, aku aja deh yang menelponnya"


Tetapi setelah beberapa kali Hanaya mencoba menelpon Riko. Dia tidak menjawabnya.


"Tuh kan, dia nggak mau menjawab teleponnya." Hanaya kesal dan membanting ponselnya kedalam tas.


"Biarin aja dulu, nanti juga nelpon sendiri." Luna berusaha menenangkan Hanaya yang terlihat sangat jelas sekali jika dia begitu kesal.


Namun melihat tingkah Hanaya seperti itu, Luna semakin yakin jika Hanaya mulai tertarik kepada Riko. Dia pun tersenyum lalu menambah kecepatan mobilnya.


__ADS_1


__ADS_2