
Hanaya dan Min Yoongi, akhirnya mendapatkan tempat mereka untuk beristirahat, mereka lebih memilih tawaran seorang warga yang menyewakan beberapa kamar rumahnya yang cukup lumayan besar.
"Kalian butuh berapa kamar, satu atau dua..??" tanya pemilik rumah.
"Satu saja." ucap Min Yoongi.
"Tidak, dua kami butuh dua kamar." Hanaya memotong perkataan Min Yoongi.
"Kita kan hanya satu malam disini."
"Iya, tapi aku tidak mau kita berbagi kamar."
"Ok, baiklah, lagian geer sekali. Aku tidak akan macam-macam jika kita tinggal di satu kamar. Min Yoongi menyeringai.
"Uhh, mulut itu ya, masih saja sama." Hanaya jengkel.
Min Yoongi tertawa melihat wajah Hanaya yang kesal karena perkataannya. Tidak lama kemudian si pemilik rumah memberikan kunci kamar untuk Hanaya dan Min Yoongi.
"Yang tersisa hanya kamar dilantai dua, tapi pemandangannya cukup bagus, jadi saya yakin kalian tidak akan kecewa." terang si pemilik rumah.
"Oh, iya terimakasih." Hanaya membungkukkan tubuhnya.
"Ayo." Hanaya menaiki tangga terlebih dahulu.
Setelah sampai dilantai dua merekapun sangat suka dengan kamar mereka masing-masing, sangat bersih dan nyaman, Hanaya pun berjalan menuju balkon yang ada dikamar tersebut, tapi dia melihat Min Yoongi yang sedang berdiri sambil melihat pemandangan pedesaan yang diterangi lampu warga.
"Kamu, lah kok bisa..??" Hanaya heran.
"Hahaha....pantas saja orang-orang tidak memilih kamar ini, meskipun disini pemandangannya lebih bagus." Min Yoongi tertawa.
Ternyata kamar yang ditempati Hanaya dan Min Yoongi terhubung dengan balkon yang ada didepan kamar, tanpa ada pembatas, jadi si penyewa kamar sebelah bisa masuk kapan saja ke kamar yang satunya lagi.
"Ya ampun, ini sama saja mending satu kamar." ucap Min Yoongi sambil berjalan kearah Hanaya.
Ponsel Hanaya berdering, ekspresi wajah Hanaya berubah seketika disaat dia melihat layar ponselnya, dan ternyata yang menelpon adalah Riko.
"Halo.." Hanaya menjawab telpon dari Riko.
"Hana, kamu dimana kenapa jam segini kamu belum pulang." tanya Riko dari balik telpon.
"Tadi aku udah sudah mengirim pesan ke Luna, kalo aku malam ini ngga pulang dulu, ada sesuatu yang harus aku selesaikan."
"Posisi kamu sekarang dimana, Biar aku jemput." Riko tidak menanggapi penjelasan Hanaya.
"Aku pulang kok besok, jadi kakak nggak usah khawatir." jawab Hanaya dengan lembut agar Riko tidak terlalu banyak bertanya.
"Ya sudah, kamu hati-hati, jika ada sesuatu langsung kabari aku okey.!!"
"Iya kak, aku tutup telponnya ya." Hanaya langsung mematikan ponselnya.
"Siapa..?" tanya min Yoongi.
"Riko..?" sebelum Hanaya menjawab Min Yoongi langsung menebaknya.
"Iya." jawab Hanaya dengan berat.
"Huuff..." Min Yoongi menarik napas.
"Apa kamu sedekat itu dengannya..?" tanya Min Yoongi sedikit sinis.
"Ya, aku sangat dekat dengan dia, karena dia adalah sahabat kak Aryan." jawab Hanaya.
"Ooh, pantas saja." jawab Min Yoongi dingin.
"Ya sudah, kamu istirahat."Min Yoongi berjalan memasuki kamarnya.
"Kamu duluan saja, aku masih belum mengantuk." jawab Hanaya.
Min Yoongi berlalu begitu saja, dan membuat hati Hanaya menjadi gelisah, dia benar-benar tidak tau harus bagaimana, sementara tidak dipungkiri Riko adalah orang yang selalu ada buat Hanaya, sebelum mengenal Min Yoongi secara nyata.
Malam semakin larut, Hanaya masih belum masuk ke kamarnya, angin malam itu cukup terasa dingin, namun Hanaya tidak merasakannya, karena hati dan perasaan nya yang sedang dilema.
"Apa yang harus aku lakukan, Min Yoongi adalah hidupku, tapi Riko dia adalah orang yang tulus mencintaiku, dan selalu ada buatku, Apa aku harus pergi dari kehidupan mereka..? Biar tidak ada yang tersakiti.
Hanaya larut dalam lamunannya. Min Yoongi pun keluar karena melihat Hanaya yang masih duduk diluar, dia menjadi bertanya-tanya apa yang sedang dipikirkan Hanaya, dan apa yang membuat Hanaya tidak ingin membahas Riko.
"Hana kenapa kamu belum tidur..?"
"Ahh..??" Hanaya kaget.
__ADS_1
"Apa yang sedang kamu pikirkan..?"
"Yoongi..!!"
"Hmm.." Min Yoongi duduk disebelah Hanaya.
"Apa kamu tau, aku sangat mencintaimu."
"Iya, aku tau, aku juga."
"Apa perasaan kita akan selalu seperti ini..?" tanya Hanaya sendu.
"Entahlah, tapi yang pasti saat ini kamu adalah wanita satu-satunya yang aku cintai." jawab Min Yoongi.
"Berarti kamu belum yakin untuk kita kedepannya." ucap Hanaya.
"Maksudku bukan begitu."
Sebelum Min Yoongi menyelesaikan perkataannya, Hanaya langsung mengatakan sesuatu yang membuat Min Yoongi terdiam untuk beberapa saat.
"Riko melamar ku."
"Apa kamu menikahi ku..?" tanya Hanaya kepada Min Yoongi yang diam terpaku.
Min Yoongi tidak bisa menjawab pertanyaan dari Min Yoongi, dan membuat Hanaya menghela nafas panjang.
"Baiklah, ayo kita tidur, besok kita harus segera pulang." Hanaya berdiri dari tempat duduknya.
"Tunggu." disaat Hanaya ingin melangkahkan kakinya, Min Yoongi langsung menahan Hanaya.
"Ayo mari kita menikah " jawaban Min Yoongi membuat Hanaya untuk beberapa detik menahan nafasnya, lalu melepaskannya kembali.
"kamu serius..?"
"Iya aku serius, ayo kita menikah tapi beri aku waktu untuk itu semua, ada beberapa hal yang harus aku selesaikan." Min Yoongi memohon.
Min Yoongi mengeluarkan sebuah kotak yang berisikan sepasang cincin.
"Aku sudah mempersiapkan ini jauh sebelum ini, tapi aku tidak ada waktu untuk memberikannya kepadamu, tapi disaat kamu mengatakan agar aku menikahi mu, aku merasa yakin ini waktu yang tepat untuk memberikannya kepadamu." Min Yoongi berkata dengan mata yang berkaca-kaca.
Tanpa disadari, butiran kristal jatuh membasahi pipi Hanaya, dia tidak menyangka Min Yoongi akan melakukan hal ini kepadanya.
"Ini sebagai bukti jika aku benar-benar mencintaimu, dan aku mohon jangan menikah dengan Riko."
"Hanaya, menikahlah denganku..?" Min Yoongi berlutut sambil membuka kota cincin tersebut.
"Ya aku mau, aku mau sekali, dan aku tidak akan menolaknya " sambil mengulurkan tangannya, dengan tangisan yang menjadi-jadi.
Min Yoongi pun memasangkan cincin dijari manis Hanaya, begitupun sebaliknya, malam itu tangis kesedihan berubah menjadi tangis kebahagiaan, Hanaya berharap secepatnya min Yoongi bisa menikahinya, meskipun dia tau, itu adalah peluang nya sangat kecil untuk saat ini, karena melihat kesibukan Min Yoongi, dan apalagi Min Yoongi belum melakukan tugasnya sebagai warga negara Korea yang baik, yaitu wajib militer.
***
Matahari pagi yang sudah meninggi masuk disela-sela tirai tirai Hanaya membuat dia terbangun dari tidur lelapnya, dengan hati yang masih diliputi kebahagiaan setelah lamaran Min Yoongi semalam, berniat untuk mengahampiri Min Yoongi dan membangunkan nya.
"Chagii, bangun sudah siang." namun setelah Hanaya masuk kedalam kamar, dia tidak melihat sosok Min Yoongi.
"Kok nggak ada, Min Yoongi kemana..??" Hanaya mencari-cari keberadaan Min Yoongi di setiap sudut ruangan, tapi Hanaya tidak menemukan Min Yoongi.
"Chagii, kamu dimana..?" masih belum ada jawaban dari Min Yoongi.
Namun tiba-tiba...
"Aaaahhhhh........!!!! Hanaya berteriak.
"Pagi sayang." Min Yoongi tiba-tiba muncul dan memeluk Hanaya dari belakang.
"Apa kamu ingin aku terkena serangan jantung..?" tanya Hanaya kesal.
"Maaf, tapi kamu sangat berisik, padahal aku lagi mandi." jelas Min Yoongi.
"Tapi kenapa tidak terdengar suara air..?" tanya Hanaya.
"Mana aku tau.." jawab Min Yoongi sembari mengangkat bahunya.
"Apa yang akan kita lakukan hari ini..??" tanya min Yoongi, lalu melepaskan pelukannya dari Hanaya.
"Sebaiknya kita pulang, aku tidak mau mengganggu pekerjaanmu." jawab Hanaya.
"Baiklah." Min Yoongi menganggukan kepalanya.
__ADS_1
Sebelum mereka kembali ke Seoul Hanaya dan Min Yoongi memilih untuk sarapan terlebih dahulu di cafe tidak jauh dari penginapan. Min Yoongi begitu sangat bahagia, Hanaya tersenyum melihat seorang Min Yoongi yang terkenal dingin dan jarang tersenyum, hari ini semua itu terpatahkan senyuman yang tak pernah lepas dari bibir tipisnya membuat Hanaya yakin jika Min Yoongi benar-benar mencintainya. Tapi hatinya mulai gelisah lagi, disaat Riko terlintas kembali dipikirannya.
"Apa yang harus aku katakan kepada Riko, apakah aku harus jujur jika aku akan tetap bersama Min Yoongi, dan menolak lamarannya." Hanaya bergumam dalam hati sambil menatap Min Yoongi yang dengan lahap menyantap sarapannya.
Min Yoongi sadar, jika Hanaya dari tadi selalu memperhatikannya, dan ada sesuatu yang di pikirkan Hanaya.
"Kamu kenapa, dari tadi aku lihat kamu tidak memakan sarapannya, apa ada sesuatu lagi..??"
Dan Hanaya memberanikan diri untuk mengatakan apa yang sedang dia pikirkan nya.
"Sebenarnya, Riko sekarang ada di apartemen, mungkin untuk beberapa hari kedepannya di akan tetap tinggal di sana, aku pribadi ngg mungkin menyuruhnya untuk pergi secepatnya, karena dia masih berduka."
"Lalu..??' tanya Min Yoongi.
"Aku mohon pengertiannya, dan aku akan berusaha pelan-pelan untuk membicarakan soal ini kepada dia."
"Sampai kapan..?" tanya Min Yoongi singkat.
"Aku akan membicarakan ini terlebih dahulu kepada kak Aryan, agar dia juga bisa membantuku menjelaskan semuanya kepada Riko."
"Oke.." jawab Min Yoongi datar.
"Apa kamu marah .?" tanya Hanaya.
"Tidak." Min Yoongi mengalingkan wajahnya.
"Ayolah, jika kamu seperti ini aku tidak akan tenang, yang ada kita akan salah paham terus-terusan." Hanaya memohon kepada Min Yoongi sambil memegang tangannya.
"Baiklah, tapi dengan satu syarat kamu tidak boleh melepaskan cincin itu "
"Iya, aku tidak akan pernah melepaskannya." Hanaya tersenyum.
Setelah selesai sarapan Hanaya dan Min Yoongi langsung menuju stasiun kereta dan segera pulang ke Seoul, perjalanan mereka cukup menyita waktu berjam-jam, tapi mereka tidak peduli dengan semua itu. yang terpenting bagi mereka, bisa bersama-sama setelah berbulan-bulan terpisah dan akhirnya bisa bertemu kembali, dan mereka pun berkesempatan untuk menghilangkan rasa lelah dan melepas rindu yang berkepanjangan.
***
"Hana, kamu kemana aja..?" tiba-tiba Luna muncul dari balik pintu.
"Aaaaaa...." Hanaya kaget bukan kepalang, karena tiba-tiba saja pada saat Hanaya membuka pintu Hanaya langsung berdiri dihadapannya.
"Ayo, jujur." Luna menyeret tangan Hanaya.
"Kak Aryan sama kak Riko mana..?" tanya Hanaya sambil melihat ke sekeliling apartemen.
"Mereka ke restoran, tenang aja." Luna penasaran.
"Kamu jangan cerita sama kak Aryan ya..!!!"
"Ok.."
"Kemarin siang, aku bertemu dengan Kim Mina, tapi aku nggak tau ternyata Min Yoongi juga ada di sana, aku berusaha untuk menghindar dari dia, tapi dia berhasil menemukan ku."
"Terus...?" Luna makin penasaran.
"Aku dibawa naik kereta, dan aku nggak tau dia mau bawa aku kemana, tapi yang jelas aku semalaman bersama Min Yoongi."
"What...??" are you crazy Hana..??" Luna kaget dengan gaya alay nya.
"Jangan berpikiran negatif dulu." Hanaya memukul kepala Luna dengan bantal.
"So..?"
"Kita menginap disalah satu penginapan tapi dengan dua kamar yang berbeda, dan kamu tau Luna, Min Yoongi melamar akuuu......!!!" Hanaya bersorak kegirangan, sambil memperlihatkan cincin dijari manisnya.
"Really..??"
Hanaya menganggukan kepalanya.
"Lalu bagaimana dengan Riko..?" tanya Luna.
"Itu membuat kepalaku pusing, memikirkan kak Riko, aku harus bagaimana."
"Aku nggak bisa ngebayangin reaksi Riko jika dia mengetahui ini."
"Maka dari itu, untuk sat ini kak Riko begitu rapuh."
"Perasaan ku ke Riko gimana..?" tanya Luna.
"Jujur, ada sedikit rasa suka terhadap dia, dan ngg tau kenapa aku selalu nyaman jika dia ada disamping aku, tapi aku sangat mencintai Min Yoongi, dan begitu sebaliknya."
__ADS_1
"Ya sudah, kamu harus benar-benar bisa memutuskan mana yang terbaik untuk kamu, jangan Sampai semuanya jadi berantakan."
Luna tau, apa yang dirasakan Hanaya saat ini, dan sebagai sahabat dia hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk Hanaya.