Fantasi Hana My Yoongi

Fantasi Hana My Yoongi
pasrah 2


__ADS_3

Aryan yang melihat Kim Mina tepat berada didepan matanya, membuat laki-laki yang memiliki tinggi seratus delapan puluh sentimeter tersebut terperanjat, matanya tak sedikitpun berkedip, Ia tidak percaya jika yang dilihatnya adalah Kim Mina perempuan yang beberapa tahun yang lalu menjadi cinta pertamanya, dan membuatnya patah hati karena Kim Mina memutuskan untuk bertunangan dengan kekasihnya yang baru beberapa bulan dipacarinya.


"Kim Mina." Aryan hanya mampu untuk mengucapkan nama Kim Mina.


"Hai, apa kabar..?" tanya Kim Mina lalu menghampiri Aryan yang berdiri didepan pintu kamar Hanaya.


"Aah..? hai." Aryan gerogi.


"Kamu tidak berubah sama sekali ya." ucap Kim Mina sambil mengeluarkan senyum manisnya.


"Kamu juga, tetap cantik." Aryan sedikit terpana melihat wajah Kim Mina yang tak pernah berubah.


Kim Mina kembali tersenyum, dan kembali ke posisi semula duduk di samping Hanaya yang sedang berbaring di ranjang.


"Kakak, jangan begitu ada Luna." Hanaya yang memperhatikan gelagat Aryan yang sepertinya masih menyimpan perasaan terhadap Kim Mina memperingatinya, bagaimanapun Luna adalah sahabat terdekatnya sebelum mengenal Kim Mina, dan orang-orang baru disekelilingnya.


"Oh iya, aku keluar dulu, Luna menungguku." ucap Aryan sembari berlari keluar kamar Hanaya.


"Hah, kakak kamu lucu ya, kenapa dia seperti salah tingkah begitu saat melihat Nuna." Min Yoongi ternyata juga memperhatikan Aryan.


"Nuna adalah cinta pertama kakak ku." ucap Hanaya sambil melihat kearah Kim Mina.


"Ahh, bisa aja kamu Hana." Kim Mina merasa malu.


"Oh, pantas saja." Min Yoongi setengah meledek Kim Mina.


"Itu masa lalu, sebelum aku menikah." Kim Mina menundukkan kepalanya.


Di ruang tamu Riko, Luna, dan Aryan sedang duduk dan menikmati makanan yang dibeli oleh Aryan dan Luna, mereka tidak terlalu memperdulikan keberadaan Min Yoongi, dan Kim Mina yang sedang berada di kamar Hanaya, apalagi Aryan, dia berpikir dengan makan dia akan sedikit mengurangi kegugupannya bertemu dengan Kim Mina.


"Sayang, Riko bilang selain Min Yoongi masih ada lagi perempuan yang datang kesini, siapa dia..?" tanya Luna.


"Oh, itu dia adalah atasan Hanaya di kantornya." jawab Aryan sambil menikmati makanannya.


"Oh," Luna menganggukan kepalanya.


"Sorry ya Rik seharusnya Min Yoongi tidak berada disini." Luna meminta maaf kepada Riko karena melihat wajah Riko yang menjadi murung setelah Min Yoongi datang menemui Hanaya.


"Santai lun, aku nggak kenapa-kenapa kok, aku senang melihat Hanaya juga senang." ucap Riko sambil tersenyum.


"Posisi Lo mengingatkan gue akan masa lalu bro." celetuk Aryan.


"Apa..??" Luna menjadi kesal.


"Eh, maksudnya bukan begitu." Aryan tanpa sadar sudah membuat Luna sakit hati.


"Jangan macam-macam." Luna mengacungkan garpu yang sedang dipegangnya.


"Sayang, jangan galak-galak dong, itu kan masa lalu." Aryan pelan-pelan mengambil garpu yang ada ditangan Luna.


Dikamar Hanaya, Kim Mina yang merasa sudah terlalu lama bertamu memutuskan untuk pamit pulang kepada Hanaya dan Min Yoongi dia sudah merasa lega sudah bisa melihat Hanaya yang sejak kemarin ponselnya tak bisa dihubungi, dan itu yang membuat Kim Mina datang menghampiri Hanaya di apartemennya.


"Hana, aku pamit pulang ya, sampai bertemu di hari Senin kontrak kerjamu menunggu di atas meja ku." ucap Kim Mina dia pun berlalu tsnpa menunggu jawaban dari Hanaya.


"Aku juga, besok ada syuting untuk iklan B*** jadi aku harus siap-siap dari pagi, jangan lupa makan besok sore aku akan kesini lagi." Min Yoongi berdiri lalu mengelus lembut rambut Hanaya, tak lupa kecupan hangat mendarat di kening Hanaya.


"Hati-hati, maaf aku tidak bisa mengantarmu." ucap Hanaya sambil melambaikan tangannya.


Di ruang tamu.


Kim Mina yang melihat Aryan sedang duduk diruang tamu tersenyum, lalu pamit untuk pergi, tapi entah apa yang dipikirkan Aryan dia langsung berdiri, dan menawarkan dirinya untuk mengantarkannya ke depan lift.


"Aryan, aku pamit ya." ucap Kim Mina.


"Aryan..??" Hatinya mulai bergemuruh, dia teringat akan cinta pertama Aryan yang bernama Kim Mina.


"Oh, mari aku antar keluar." Aryan pun berjalan pelan dibelakang Kim Mina.


Selang beberapa menit kemudian Min Yoongi pun keluar dari kamar Hanaya, dia juga berpamitan kepada Luna dan Riko. Min Yoongi mulai menyapa ramah semua yang ada didalam apartemen Hanaya, karena dia menganggap orang-orang yang berada disana adalah orang-orang terdekat yang sangat menyayanginya.


"Maaf, saya pamit dulu." ucap Min Yoongi seraya membungkukkan tubuhnya.

__ADS_1


"Oh, kamu sudah mau pulang, terimakasih sudah merawat, dan membuatkan makanan untuk Hanaya." Luna membalas salam hormat Min Yoongi.


Riko yang melihat Min Yoongi yang cukup ramah hanya bisa tersenyum, dan menatap dalam-dalam laki-laki yang dicintai oleh Hanaya, meskipun dia sudah mengetahui siapa Min Yoongi, tapi Riko baru kali ini berhadapan langsung dengan Min Yoongi.


"Itu sudah tugasku untuk menjaga Hanaya, dan karena sudah banyak yang akan menjaga Hanaya, maka saya pamit pulang karena besok ada jadwal untuk syuting."


"lebih cepat lebih bagus." gerutu Riko dalam hati.


"Hati-hati.."


Min Yoongi kembali membungkukkan tubuhnya.


***


Luna langsung berlari ke kamar Hanaya, dan meninggalkan Riko begitu saja diruang tamu, dia tidak sabar menanyakan perempuan yang di curigai sebagai Kim Mina cinta pertama Aryan.


"Hana.."


"Kenapa lun..?" tanya Hanaya.


"Perempuan cantik tadi siapa..?" tanya Luna sambil merapatkan diri nya ke kursi yang ada disamping Hanaya.


"Dia atasan ku dikantor." jawab Hanaya.


"Oh, tapi kok keliatannya akrab ya, sama Aryan."


"Entahlah.." jawab Hanaya singkat, tapi dalam hatinya dia sedikit cemas jika Luna tau jika itu cinta pertama Aryan akan terjadi perang dunia ketiga, dan membuatnya harus siap-siap menahan badai yang akan terjadi.


"Aku itu iri terhadap mu Hana." tiba-tiba saja terdengar suara Luna dengan wajah memelas.


"Kenapa..?"


"Dicintai Dua laki-laki yang sangat baik." jawab Luna.


" Terus kakak ku bukan orang yang maksudnya." Hanaya mengerutkan keningnya.


"Bukan begitu." Luna merasa dia salah bicara.


" Aku salut sama Riko, yang begitu sangat mencemaskan mu, jika melihat mu seperti ini."


Hanaya hanya tersenyum mendengar perkataan dari Luna.


"Luna, aku yakin kak Aryan juga sama dia akan mencemaskan mu jika kamu berada di posisiku saat ini, aku tau kak Aryan sangat mencintaimu."


"Entahlah Hana, aku hanya bisa pasrah jika suatu saat takdir ku berbeda dengan apa yang aku harapkan."


"Luna, kamu kenapa, kok jadi melankolis begini..?" tanya Hanaya.


"Hal tau Hana, perasaan ku tidak enak aja dari tadi, ya sudah aku istirahat duluan ya." Luna pun beranjak pergi dari kamar Hanaya.


"Luna kenapa jadi begini, apa dia mengetahui tentang kak Aryan dan Kim Mina." Hanaya bergumam.


"Apa kamu merasa lebih baik..?" tiba-tiba saja Riko sudah berada didepan pintu kamar Hanaya.


"Kak Riko." Hanay tersenyum.


"Beruntung sekali, ternyata Min Yoongi sangat mencintaimu, dia begitu cemas melihat kondisiku, dan membuatkan makanan untuk mu setelah dia tau jika kamu belum makan sama sekali." Aryan tersenyum dan menghampiri Hanaya yang masih terlihat lemas duduk di atas tempat tidurnya.


"Iya, aku bersyukur ternyata dia juga memiliki cinta yang sama denganku."


Melihat raut wajah Hanaya yang sangat bahagia, Aryan hanya bisa tersenyum, meskipun didalam hatinya ada kerikil tajam yang menghujam jantungnya.


"Ya sudah, kamu harus istirahat, besok pagi aku akan membawa mu keluar, kita akan mencari udara segar, agar kamu terlihat lebih fresh dan tidak lagi seperti orang yang tidak mempunyai semangat untuk hidup."


"Baiklah." Hanaya pun berbaring, dan Riko menarik selimut yang berada di kaki Hanaya lalu menyelimutinya ketubuh Hanaya.


"Good night.." ucap Riko sambil mematikan lampu kamar Hanaya.


"Good night..." Hanaya pun langsung memejamkan matanya berusaha untuk langsung tertidur.


***

__ADS_1


"Waaah....Uda pagi memang menyegarkan." Hanaya membentangkan tangannya sambil memandang sungai Han.


"Pastinya, kamu harus sering-sering berolahraga biar tubuh mu sehat." ucap Riko.


"Hmm.."


Hanaya dan Riko melanjutkan perjalanannya sambil berlari kecil menyusuri pinggiran sungai Han. Tapi hal yang tidak inginkan terjadi pada saat Hanaya dan Riko bertemu dengan Kang Bora. Kang Bora yang sangat tidak menyukai Hanaya membuat Hanaya kesal dengan ocehannya dengan mengatakan jika Hanaya adalah perempuan murahan, yang gampang dekat dengan laki-laki manapun.


"Ooh, ternyata ada nona Hanaya sedang berolahraga dengan pria tampan yang lainnya." ucap Kang Bora sambil menghadang langkahnya.


"Heiii, Kang Bora apa yang salah dalam otak mu, kenapa kau selalu mencari masalah dengan ku." Hanaya tidak bisa menahan amarahnya.


"Apa...?? Kang Bora..?? kau mulai berani denganku.


"Apa kau ingat apa yang aku katakan terakhir kali kita bertemu..?" Hanaya melangkahkan kakinya menghampiri Kang Bora.


"Apa yang akan kau lakukan padaku..??" tanya Kang Bora sedikit ketakutan.


Tapi Riko menahan Hanaya dengan memegang tangannya.


"Cukup Hana, kamu tidak usah meladeni perempuan itu." lalu Riko menarik tangan Hanaya.


"Tidak kak, dia sudah benar-benar kelewatan, kali ini aku akan menghajarnya." Hanaya geram.


"Huh, memangnya kau berani, sedikit saja kau menyentuhku siap-siap saja untuk kehilangan pekerjaan mu." ancam Kang Bora.


"Aku tidak takut dengan ancaman mu, kau selalu saja mengusikku, baik itu dengan hubungan ku dengan Min Yoongi, dan sekarang kau mengusik pekerjaan ku juga." Hanaya semakin tidak terkendali.


"Sudah cukup Hana, orang-orang melihat kita, biarkan saja kita hanya harus pergi dari sini." Riko masih berusaha menahan Hanaya.


"Liat saja apa yang akan aku lakukan." Kang Bora tersenyum sinis.


"Kau benar-benar.." Hanaya mengepalkan tinju menahan amarah.


"Ayo pukul aku, itu kan yang kamu inginkan bukan." Kang Bora semakin memancing amarah Hanaya.


Disaat Hanaya akan melayangkan tinjunya kepada Kang Bora, Riko dengan cepat menarik tangan Hanaya sehingga Hanaya kehilangan keseimbangan dan berujung jatuh ke pelukan Riko.


"Ooh, sungguh romantis, apa kau masih merasa kurang, tapi aku rasa Min Yoongi sudah melebihi apapun yang kau inginkan, cuuih....dasar perempuan ******." Meskipun Kang Bora mulai merasa takut tapi dia tetap saja memaki Hanaya.


"Ayo, kita pergi aku tidak tau apa yang telah terjadi antara kamu dan perempuan jelek ini, yang pasti aku tidak mau tangan mu kotor hanya untuk memukul perempuan yang mulut nya penuh dengan kotoran itu." Riko menjadi sedikit emosi melihat Kang Bora yang tidak henti-hentinya menghina Hanaya.


"Apa, kau bilang aku jelek..?" Kang Bora memanas.


"Ayo.."


Hanaya dan Riko pergi meninggalkan Kang Bora yang seperti cacing kepanasan disaat mendengarkan perkataan Riko.


"Lihat saja Hana, aku akan membalasmu." kang Bora menyunggingkan senyuman jahatnya dari sudut bibir tipisnya.


"Hana..!!"


"Ya..?"


"Minumlah.." Riko menyodorkan sebotol minuman mineral kepada Hanaya.


"Terimakasih kak " Hanaya lalu meminumnya.


"Perempuan tadi siapa? sepertinya dia sangat membencimu." Tanya Riko.


"Dia adalah senior ditempat kerjaku, dia cukup dekat dengan Min Yoongi, dan sepertinya dia menyukainya."


"Oh, pantas saja." Riko menganggukan kepalanya.


"Kenapa..?"


"Enggak, aku baru tau jika Hanaya yang aku kenal ternyata dia bisa galak, dan bisa mengepalkan tinju untuk memukul orang." Riko meledek Hanaya.


"Iih, apaan sih kak, itu karena aku terlalu kesal, dia begitu sering menggangku."


"Ya sudah, lebih baik kita pulang, matahari sudah mulai meninggi, Ayoo..!!"

__ADS_1


__ADS_2