
Sehari sebelum kepergian Aryan, Luna, Maya dan Dewi mengadakan pesta perpisahan dirumah Hanaya, mereka akan mengadakan pesta barbeque. Hanaya dan Luna mempersiapkan bahan-bahan yang akan digunakan, sementara itu Dewi dan Maya sibuk di dapur memasukan minuman kaleng kedalam lemari es.
"Si Aryan kemana..??" tanya Maya kepada Dewi.
"Nggak tau, belum liat dia dari tadi, mungkin dia dikamar nya"
"Oh, bisa jadi." Maya mengangguk kan kepala nya.
"Kenapa..? jangan mikir yang aneh-aneh lho, dia milik Luna sekarang." Dewi tau jika Maya juga menyukai Aryan.
"Apa-apaan sih Dewi, aku nanya bukan berarti mau merebutnya. Maya kesal dan meninggalkan Dewi sendirian di dapur.
"Yaah....dia ngambek, aku cuma bilangin doang, Maya....!! jangan ngambek Dong." Dewi agak merasa bersalah.
Maya keluar dan menghampiri Hanaya dan Luna yang lagi sibuk menyiapkan alat pemanggang. Maya memandangi Luna dari jauh, dalam hati sebenarnya Maya agak sedikit kesal, karena yang menyukai Aryan dari awal adalah Maya, tetapi Luna lah yang akhirnya berpacaran dengan Aryan.
Hanaya yang menyadari kedatangan Maya, memanggilnya dan meminta bantuan untuk mengambilkan peralatan yang akan digunakan untuk barbeque nanti.
"Kebetulan may, tolongin dong ambilkan pisau sama gunting diatas meja makan, maaf ya..!!" Hanaya tersenyum.
"Iya, santai aja kali kaya ama siapa aja..!!" Maya pun kembali masuk.
Ternyata Aryan juga berada di meja makan, dia sedang menikmati kue yang dibawa oleh Maya, melihat Aryan yang makan begitu lahap Maya begitu sangat senang.
Maya berjalan mendekati Aryan,dan menepuk pundak nya.
"Enak banget nih keliatannya."
"Eh Maya, iya nih May enak kue nya ketagihan nih makan nya." Aryan menyodorkan kue yang dimakannya ke Maya.
"Makan aja, udah sering makan begituan." Maya tersenyum.
"Aku kesini mau mengambil gunting sama pisau."
Maya lalu mengambil gunting dan pisau persis disamping Aryan. Tapi tangan Maya bersentuhan dengan tangan Aryan yang ingin membantu mengambilkan gunting dan pisau tersebut. Seketika itu Maya menjadi gugup jantung nya berdetak begitu sangat cepat membuat Maya dan Aryan gugup satu sama lain.
"Sorry, sorry.." Aryan menarik tangan nya.
"Nggak apa-apa" Maya tersenyum dengan muka memerah.
Tak disangka ternyata kejadian tersebut dilihat oleh Luna dan membuat dia agak sedikit cemburu.
"Sayang, kamu ngapain..?" Luna menghampiri Aryan.
"Sayang, aku lagi makan kue ini enak banget, kamu yang bawain ya..??" Aryan mencium keningnya nya Luna di hadapan Maya.
Luna tau, Maya pasti merasa cemburu dengan kemesraan mereka, karena Maya pernah mengatakan jika dia sangat menyukai Aryan.
Maya yang hampir hilang kendali memutuskan untuk keluar, dan menghampiri Hanaya.
"Ini Hana, pisau sama gunting nya, udara disini kenapa menjadi sangat panas ya..??" Maya mengibas-ngibas kan tangan nya.
"Ah masa, nggak kok orang adem begini, kamu lagi sakit ya..??" Hanaya pun menaruh tangan nya di kening Maya.
"Iya nih, kaya nya aku lagi nggak enak hati nih, eh,, maksudnya nggak enak badan, apa aku pulang aja kali ya..?" Maya merasa tidak lagi betah.
"Kok gitu, nggak boleh kamu harus disini, aku tau kamu pasti lagi cemburu ya sama Luna..?" Hanaya mencoba menebak apa yang dirasakan Maya.
Maya hanya tersenyum secara tidak langsung dia mengiyakan apa yang dikatakan Hanaya.
"Udah lah May, masih banyak kok laki-laki diluar sana yang lebih baik dari kak Aryan, aku nggak mau lho gara-gara laki-laki persahabatan kita jadi hancur." Hanaya mencoba menghibur Maya.
"Iya sih May, tapi aku nggak apa-apa kok aku berusaha untuk menerima apa yang jadi pilihan Aryan." Maya tersenyum kecut.
"Ya sudah, aku nggak mau ya ngeliat kalian berantem gara-gara ini. Hanaya memeluk Maya.
"Iyaa, sayang ku..." Maya pun membalas pelukan dari Hana.
***
Malam pun datang, pesta perpisahan Aryan di mulai, ternyata Aryan juga mengundang Andrew, dan Lexa.
"Hai bro, sepertinya Lo disini di kelilingi oleh para bidadari semua nih." Andrew berbarengan dengan Lexa.
"Hai, thank you ya kalian udah datang, padahal ini cuma acara makan-makan biasa."
"Apa sih yang nggak buat Lo.." Lexa menepuk pundak Aryan.
__ADS_1
"Halo Hana bucin nya Yoongi, senang bisa bertemu kembali dengan mu." Lexa dan Andrew melambaikan tangannya kepada Hanaya yang sibuk mempersiapkan makan malam nya.
"Hai kak.." Hanaya membalas sapaan dari Andrew dan Lexa.
Mendengar nama Yoongi, Luna teringat dengan kertas yang ditemukan nya pada saat membereskan kamar Hanaya. Diapun menghampiri Aryan, dan menanyakan kertas tersebut.
"Kertas yang waktu itu kamu simpan dimana..??"
"Di laci meja samping TV, memang nya mau kamu apakan..??" Aryan penasaran.
"Ayo ikut aku.." Luna menarik tangan Aryan.
"Bro, duduk dulu gue kedalam sebentar ya." Aryan mempersilakan teman-teman nya.
"oke bro.." Andrew dan Lexa menjawab serempak.
Luna menarik tangan Aryan dan masuk kedalam rumah, sepertinya dia ingin mengatakan sesuatu. tapi dia tidak yakin dengan apa yang akan dikatakannya.
"Gini, nomor yang kita telpon kemarin, tadi pagi menghubungiku."
"Nomor yang mana..??" Aryan tidak mengerti.
"Itu,, nomor yang ada di kertas yang aku temukan dikamar nya Hana." Luna berusaha menjelaskan.
"Oh, iya.." Aryan baru mengingat nya.
"Tadi pagi nomor itu menelpon ku, tau nggak suara siapa yang menelpon itu..?"
"Siapa..?" Aryan sangat penasaran.
"Semoga aja aku nggak salah, itu sama seperti suara Min Yoongi, karena aku kaget dan gemetaran itu telpon aku matiin."
"Ah, kamu bercanda." Aryan tidak percaya.
"Sayang beneran aku nggak bohong, tapi aku coba telpon lagi, telpon nya tidak diangkat, aku menyesal sekali, seharusnya aku berbicara sedikit dengan bahasa Inggris." Luna berkata demikian karena dia mendengar orang yang dibalik telpon tersebut menggunakan bahasa Korea.
"Aku nggak tau sayang apakah itu benar atau tidak, yang jelas kita harus kasih surat itu ke Hana, siapa tau itu lebih baik." Luna melihat secercah harapan untuk kesembuhan mental Hanaya.
"Semuanya aku serahkan kepada kamu,kalau itu memang yang terbaik, kenapa nggak..?" Aryan mempercayakan Hanaya kepada Luna.
Setelah percakapan yang cukup panjang, akhirnya Aryan dan Luna keluar dari dalam rumah, mereka kembali bergabung bersama teman-teman nya.
"Ah, norak Lo, maklumin aja Yan, efek baru ngejomblo abis diputusin ama Seo bin.
"Serius Lo..?" Aryan seperti tidak percaya.
"Iya sob, karena gue bilang mau balik kesini buat beberapa bulan aja, dia malah ngambek, parah tu cewek Korea, mau nya di kelonin terus.."
Mendengar perkataan Andrew semua orang yang berada di pesta barbeque Aryan tertawa, kecuali Maya. Hanaya yang melihat Maya hanya diam, menghampiri Dewi dan menyuruhnya menemani Maya.
"Maya, Kenapa?" Dewi memberikan segelas jus jeruk kepada Maya.
"Nggak tau Dew, aku jadi tidak bersemangat begini." Maya menatap Aryan dan Luna yang sedang asyik ngobrol dengan teman-teman Aryan.
"Udah lah May, lupain perasaan mu kepada Aryan, sekarang Aryan kan udah milih Luna, jadi percuma kamu sedih begini, kamu sendiri yang akan rugi." Dewi menyemangati Maya.
"Semoga saja ini akan berlalu seiring berjalannya waktu." Maya tersenyum lalu berdiri lalu mengahampiri Hanaya, yang masih asyik dengan panggangan daging nya.
***
Pesta pun berakhir, Lexa dan Andrew pamit duluan untuk pulang, Maya dan Dewi memutuskan untuk tidur dirumah Hanaya.
Sementara itu Luna yang sedang mengumpulkan keberanian memanggil Hanaya dan memberikan sebuah kertas yang bertuliskan tinta hitam dengan huruf Hangul.
"Lun, ini apa..?" tanya Maya penasaran.
"Kamu baca, Aryan sudah menuliskan artinya."
Luna meninggalkan Hanaya sendirian, dan menghampiri Aryan, dan kedua sahabat nya Maya dan Dewi.
Hanaya mulai menitikkan air mata, dia tidak percaya jika itu adalah tulisan Yoongi, dia berfikir jika dia sedang dibohongi, dia tau apa yang terjadi diantara dia dan Yoongi itu hanya mimpi,disaat dia terbaring koma.
"Ini nggak mungkin, ini nggak mungkin" Hanaya langsung menghampiri Luna.
"Lun apa-apaan ini lun, kamu pikir aku sudah gila..? aku sudah memutuskan untuk tidak lagi terobsesi dengan Boyband tersebut, dan melupakan Min Yoongi, tapi ini..??" Hanaya sangat marah.
Aryan langsung berdiri, dan menenangkan adik nya.
__ADS_1
"Luna tidak bermaksud apa-apa Hana, malah Luna ingin kamu itu sembuh.."
"Sembuh..?? Memangnya aku sakit, kakak pikir aku gila..??" Hanaya hampir tidak bisa mengendalikan amarah nya.
Dewi dan Maya yang tidak mengetahui apa-apa menjadi takut melihat amarah Hanaya. mereka ingin sekali menenangkan Hanaya, tetapi sepertinya untuk saat ini mereka tidak perlu turun tangan karena sudah ada Aryan.
"Hana, kamu lihat nomor yang ada di kertas tersebut, kita kemarin menelpon nomor telpon tersebut, tapi tidak ada yang menjawab nya. Tapi tadi pagi nomor itu menelpon ku, kamu tau itu suara siapa..??" Luna berusaha memberitahu Hanaya secara perlahan.
Hanaya yang masih menangis, langsung menghubungi nomor tersebut.
"Aku akan mencoba menelpon nya.."
Sebenarnya didalam lubuk hati yang paling dalam Hanaya memiliki harapan, dia berharap ini benar-benar nyata.
Hanaya pun menelpon nomor tersebut, tapi tak ada yang menjawab panggilan telepon nya, Hanaya mencoba berulang-ulang kali sehingga dia pasrah. Dan membuang kertas itu ke tanah.
Namun tiba-tiba dia teringat dengan tulisan tangan Yoongi yang berada disalah satu acara TV swasta di Korea. Hanaya langsung mengambil kertas yang sudah dibuang nya tadi.
Tiba-tiba ponsel Hanaya berdering, dan yang menelpon adalah nomor yang dihubungi nya tadi. Tangan Hanaya gemetaran, untuk menjawab telpon pun dia tidak sanggup. dengan bersusah payah akhirnya Hana bisa menjawab telpon tersebut.
"Yeoboseo..!!" suara dibalik telpon
"Yoongi.."
Mendengar suara tersebut Hanaya tak bisa berkata apa-apa, diapun terdiam seribu bahasa, dan meyakini suara di balik telpon tersebut adalah Yoongi. Tiba-tiba saja telpon pun terputus, Hanaya yang begitu sangat bahagia memeluk kakak nya.
"Kak, aku akan menyusul mu ke Korea nanti." Hanaya berbicara penuh semangat, air mata kesedihan kini berganti dengan air mata bahagia.
Aryan, dan Luna masih tidak yakin dengan surat dan nomor telpon tersebut, tapi melihat Hanaya bahagia merekapun ikut bahagia, Dewi dan Maya yang dari tadi hanya bisa melihat Hanaya sekarang berlari menuju Hanaya, lalu memeluk nya.
"Hana, aku seperti lagi shooting drama Korea, melihat kamu seperti tadi." Dewi menyeka air mata Hanaya.
"Hana, dalam doa ku tak pernah aku melewatkan nama mu, aku ingin kau selalu bahagia.." Maya menangis sejadi-jadinya, lalu memeluk nya.
Melihat ke tiga sahabat nya berpelukan Luna menjadi terharu, lalu ikut memeluk Hanaya.
"Semoga hari ini, adalah awal dari kebahagiaan kita teman-teman." Luna semakin mempererat pelukan nya.
Melihat kuatnya ikatan persahabatan adik nya dengan Luna, Dewi, dan Maya. Aryan merasa tidak perlu khawatir untuk meninggalkan adik nya.
***
Dorm BTS
"Ini seperti nomor ponsel dari negara lain, tapi siapa..?" Yoongi yang sedang sibuk bekerja terhenti karena telpon masuk yang berulang-ulang kali. Dia pun keluar untuk menanyakan nya kepada member yang sedang ngobrol diruang tamu.
"Apakah kalian tau, ini nomor telpon dari negara mana..?" Yoongi memperlihatkan nya kepada Namjoon.
"Oh, ini saya ingat, nomor ini berasal dari Indonesia, aku sangat yakin seratus persen." Namjoon sangat yakin dengan jawaban nya.
"Benarkah..? tapi siapa yang menelepon ku malam-malam begini, dan aku juga tidak mempunyai kenalan yang berasal dari Indonesia, kecuali yang bekerja dilingkungan kita, itupun aku tidak pernah membagikan no pribadiku."
"Hyung mungkin saja itu Hana.." Jungkook meledek Yoongi.
Semua member Bangtan tertawa mendengar perkataan dari Jungkook.
"Mungkin saja.." Jhope berkata dengan mimik muka yang serius.
"Hyung, apakah army ada yang mengetahui nomor ponsel mu..?" Jimin bertanya kepada Yoongi.
"Tidak mungkin, nomor ku hanya beberapa orang terdekat saja yang tau." untuk pertanyaan Jimin, Yoongi kurang merasa yakin.
"Sudahlah, lanjutkan obrolan kalian aku akan kembali ke kamarku."
Dan dia mencoba untuk menelpon nomor tersebut, karena dia begitu penasaran.
"Aku akan coba menelpon nomor ini."
Dan dari balik telpon tersebut terdengar suara wanita yang menyebut nama nya.
"Yoongi.."
Yoongi langsung mematikan ponsel nya.
"Ternyata dia adalah seorang wanita, tapi siapa..??" Yoongi semakin penasaran, namun dia tidak ingin melanjutkan nya.
Namun ada sesuatu hal yang mengganjal didalam hati nya, tapi dia tidak tau apakah itu.
__ADS_1
"Ah, jangan membuat pikiranku kacau, masih banyak hal yang penting untuk aku selesaikan."
Yoongi mematikan ponsel nya.