Fantasi Hana My Yoongi

Fantasi Hana My Yoongi
Rindu


__ADS_3

Hanaya yang sudah rapi buru-buru keluar dari kamarnya, dan hendak pergi menemui Kim Mina, tapi diruang tamu ternyata Luna dan Aryan, sudah menunggunya, ada sesuatu hal yang ingin ditanyakan kakaknya tentang dia dan Riko.


"Hana, kebetulan sekali kakak sedang menunggumu, tapi kamu rapi sekali kamu mau pergi kemana..?" tanya Aryan penasaran.


"Bertemu dengan teman kak." jawab Hanaya.


"Tapi ada yang harus kakak tanyakan." Aryan berusaha menahan Hanaya.


"Apa nggak bisa nanti saja, Hana terlanjur ada janji nih."


"Kakak ingin menanyakan hubunganmu dengan Riko." Aryan tidak mau berbasa-basi lagi.


"Maksudnya..?" Hanaya terperangah.


"Iya Hana, tadi aku pergi ke kamarmu, dan aku mendengar Riko mengatakan jika kamu adalah calon istrinya." Luna mengatakan apa yang telah didengarnya.


"Oh, masalah itu. Ok, aku akan menjawabnya tapi nanti, sekarang aku harus pergi aku sudah ada janji dengan Kim Mina."


Mendengar nama Kim Mina. Luna Pun mendehem agak keras, dan sengaja melihat kearah Aryan.


"Aku pamit ya." Hanaya segera berlari keluar.


Sementara itu di HYBE Kim Mina yang bersiap-siap untuk pulang, dihampiri oleh Min Yoongi, dia masih mempertanyakan keberadaan Hanaya, awalnya Kim Mina tidak ingin memberitahu jika dia dan Hanaya akan bertemu, tapi Kim Mina tau jika selama beberapa bulan terakhir Min Yoongi tampak begitu sangat tertekan baik itu dengan pekerjaannya maupun memikirkan Hanaya.


"Apa kamu sudah dapat kabar dari Hanaya..?"


"Hmm, sebenarnya." Kim Mina bicara dengan ragu-ragu.


"Ada apa nuna..? bicara dengan jelas..!! Min Yoongi yang awalnya akan keluar dari ruangan Kim Mina kembali masuk dan duduk di kursi singgasana Kim Mina.


"Sebenarnya hari ini aku akan bertemu dengan Hanaya."


Mendengar perkataan Kim Mina, Min Yoongi pun berdiri, lalu memohon agar dia bisa ikut dengan Kim Mina untuk bertemu dengan Hanaya.


"Nuna, izinkan aku untuk ikut denganmu."


Kim Mina pun hanya diam, lalu beranjak pergi dan disusul oleh Min Yoongi.


Ponsel Kim Mina bergetar, ternyata pesan dari Hanaya, dia lalu membuka pesan tersebut, dan melihatkannya kepada Min Yoongi sebelum dia membaca pesan tersebut.


"Aku di cafe depan HYBE."


"Cafe apa yang berada didepan gedung..?" tanya Min Yoongi.


"Kamu tidak tau, tempatnya agak sedikit tertutup, hanya kami para perempuan yang tau tempat itu." ucap Kim Mina sambil melemparkan kunci mobilnya kepada Min Yoongi.


"Ayo."


"Oke.." tampak raut bahagia dari wajah Min Yoongi.


***


"Hana....!!" Kim Mina tampak sangat senang disaat melihat Hanaya dengan penampilan yang lebih fresh.


"Nuna..!!" Hanaya pun melambaikan tangannya.


"Hana, kenapa kamu tidak pernah menghubungiku..?" tanya Kim Mina.


"Maaf, aku meninggalkan ponselku disini, dan memakai ponsel yang baru, untuk di Indonesia."


"Ya sudah, kabar kamu bagaimana, baik-baik aja kan " tanya Kim Mina.


"Ya, baik-baik saja." jawab Hanaya datar.


"Tapi kenapa wajahnya seperti itu, apa ada masalah..?" Kim Mina kembali bertanya.


"Aku sangat merindukannya."


"Benarkah begitu..?" tanya Kim Mina sambil tersenyum.


"Iya, tapi aku tidak tau apakah dia juga merindukanku." Hanaya menekuk wajahnya.


"Aku yakin dia juga pasti sangat merindukanmu."


"Tapi aku dalam dilema, sesuatu hal besar telah terjadi kepada Riko, dan membuatku terjebak di sisinya."


"Maksudmu..?"


"Iya, mungkin saja aku tak akan bisa lagi menemui Yoongi." Hanaya tersenyum getir.


"Kenapa Hana..?" Kim Mina semakin tidak mengerti.


"Riko baru saja ditinggalkan oleh keluarganya, dalam musibah kebakaran, dan hanya aku satu-satunya orang yang membuat dia bersemangat untuk hidup."


"Tapi Hana, Min Yoongi sangat mencintaimu." Kim Mina sedikit kecewa dengan ucapan Hanaya.


"Apa, Min Yoongi kenapa..?" tanya Hanaya.


"Tidak, lupakan." Kim Mina berkilah.


"Mungkin aku akan menikah dengan Riko.."

__ADS_1


Mendengar perkataan Hanaya Kim Mina sangat kaget, dan spontan dia berdiri lalu berteriak.


"Apa..? Hana apa kamu serius..?"


"Aku bingung, tapi aku mohon jangan pernah bercerita kepada siapapun, termasuk Min Yoongi. Ok..!!"


"Ya sudah.." Kim Mina menggenggam tangan Hanaya bentuk dari dukungan yang diberikannya untuk semua keputusan yang diambil oleh Hanaya.


"Thanks.." Hanaya tersenyum.


Hanaya dan Kim Mina menghabiskan waktu berjam-jam di dalam cafe yang tampak sederhana, dengan beberapa bangku tertata dihalaman cafe tersebut. Sedangkan Min Yoongi yang sedari tadi menunggu Hanaya diluar, ia tidak sabar untuk melihat Hanaya, ada rasa rindu yang tak bisa dijelaskan oleh kata-kata, rindu Yang sangat menggebu, dan menyesakan dadanya.


Tidak lama kemudian Hanaya dan Kim Mina pun keluar dari cafe tersebut. Hanaya yang menyadari keberadaan Min Yoongi mencoba menghindar, dia berpura-pura ingin ke toilet lalu mencari jalan keluar yang lain agar dia tidak bertemu dengan Min Yoongi. Tapi sesungguhnya hati kecilnya ingin sekali berlari kearah Min Yoongi dan memeluknya untuk melepaskan rindu yang sudah berbulan-bulan dipendam nya.


"Hana mana..?" tanya Min Yoongi.


"Oh, dia tadi ke toilet dulu, sebentar lagi dia keluar kok."


Namun satu jam sudah berlalu Hanaya tidak kunjung keluar dari dalam cafe, Kim Mina lalu memutuskan untuk menyusul Hanaya ke toilet, tapi dia tak menemukan Hanaya. Lalu berlari menghampiri Min Yoongi.


"Hanaya tidak ada."


"Kok bisa..?"


"Mungkin dia melihatmu, jadi memutuskan pergi lewat pintu yang lain." Kim Mina langsung tau karena Hanaya sudah menceritakan semuanya.


"Ya sudah, kita balik aja, mungkin dia belum siap untuk bertemu dengan kamu Suga." Kim Mina menarik lengan baju Min Yoongi.


"Tidak, pulanglah terlebih dahulu aku akan mencarinya, jika perlu aku akan ke apartemennya.


"Jangaaan." Kim Mina spontan berteriak.


"Emangnya kenapa..? tanya Min Yoongi keheranan


"Oh, enggak maksudnya jangan kesana dulu, Hana pasti masih berada disekitar sini." Kim Mina berkilah.


"Ya, sudah aku akan mencari Hanaya dulu. Nuna pulanglah."


"Kamu yakin..?"


"Iya, aku pasti menemukannya."


Lalu Kim Mina mengeluarkan topi dan jaket berwarna hitam dari dalam mobilnya, dan menyuruh Min Yoongi memakainya, agar tidak ada orang yang mengenalinya.


Hanaya yang berhasil menghindari Min Yoongi, terus saja berjalan, hatinya berkecamuk, ingin rasanya dia berbalik dan menemui Min Yoongi hanya untuk sekedar mengatakan bahwa dia sangat merindukannya, tapi dia tidak ingin melukai Min Yoongi dan dirinya sendiri. Tanpa disadari Hanaya berjalan menuju stasiun kereta bawah tanah, dia memutuskan akan pergi kemana saja dengan menaiki kereta tersebut, agar dia bisa menghindari Min Yoongi, dia berpikir tidak mungkin Min Yoongi akan mencarinya sampai ke kereta bawah tanah. Hanaya pun agak sedikit lebih santai, meskipun hatinya tidak, beberapa buah kereta dilewati oleh Hanaya, dia tidak menaikinya entah apa yang sedang dipikirkannya, sehingga perlahan-lahan air mata menetes membasahi pipi merahnya.


"Yoongi, aku sangat merindukanmu." diapun menyeka air matanya yang tak henti-hentinya menetes.


Hana hanya diam karena merasa tidak mengenali pria tersebut, dia menundukkan kepalanya karena merasa malu jika orang-orang disekitarnya mengetahui jika dia sedang menangis.


"Kenapa kamu menghindar, jika kamu begitu sangat merindukanku."


Hanaya langsung melirik melihat ke arah pria tersebut.


"Yoongi..?" Ternyata pria itu adalah Min Yoongi, dia berhasil menemukan Hanaya berkat gantungan tas Hanaya yang selalu dibawanya terjatuh.


"Ayoo..!!"


Min Yoongi menarik tangan Hanaya, namun Hanaya berusaha menepisnya, tapi Min Yoongi juga tidak mau mengalah dia bahkan semakin erat menggenggam tangan Hanaya.


"Lepaskan tanganku, aku bisa berjalan sendiri." Hanaya berusaha melepaskan tangannya.


"Oke, aku akan melepaskannya, tapi kamu jangan lari lagi." Min Yoongi berkata dengan mata yang berkaca-kaca.


Dan Hanaya melihat itu, Hanaya menundukkan kepalanya, karena air matanya mengalir begitu saja disaat dia melihat mata Min Yoongi yang berusaha menahan tangis.


"Aku tau, jika kamu juga merasakan hal yang sama denganku." Hanaya berkata dalam hati.


"Ayo.." Min Yoongi menarik tangan Hanaya dan memasuki gerbong kereta.


"Kamu mau ajak aku pergi kemana..?" tanya Hanaya.


"Ketempat tidak ada orang yang mengenali kita." jawab Min Yoongi.


"Tapi tetap aja, orang-orang tidak ada yang tidak mengenalimu." Hanaya bicara dalam hati.


Setelah beberapa saat kereta pun berhenti, dan Min Yoongi mengajak Hanaya untuk turun, lalu kembali menaiki kereta yang berbeda. Hanaya yang tidak tau apa-apa, hanya bisa pasrah dan mengikuti langkah kaki Min Yoongi. Untuk pertama kalinya Hanaya keluar dari kota Seoul, dia tidak mempertanyakan Min Yoongi akan membawanya kemana, yang pasti jauh didalam lubuk hatinya yang terdalam dia begitu merasa bahagia karena Min Yoongi ada disampingnya.


Hana menatap Min Yoongi yang tertidur pulas, sepertinya dia sangat kelelahan, Hanaya merasa kasian dan meraih kepala Min Yoongi dan meletakkannya dipundaknya.


Tapi seketika itu Hanaya kembali teringat dengan Riko.


"Apa yang harus aku lakukan, aku tidak mungkin kembali dengan Min Yoongi disaat kak Riko sangat membutuhkanku."


***


Kereta pun berhenti, Min Yoongi terbangun dari tidurnya, tapi dia tidak melihat keberadaan Hanaya, sehingga membuat dirinya panik.


"Hana..? Hanaya... Hanaya...!! Min Yoongi mencari-cari keberadaan Hanaya, tapi dia tidak menemukan keberadaan Hanaya, dan matanya tertuju kepada selembar kertas yang ada di kantong jaket yang dikenakannya. Min Yoongi segera mengambil dan membaca tulisan yang ada di kertas tersebut.


"Maaf, aku tidak bisa pergi denganmu, aku pulang"

__ADS_1


"Hana, apa yang harus aku lakukan." Min Yoongi segera turun dari kereta dan, langsung menaiki kereta menuju Seoul.


Di dalam perjalanan menuju Seoul Min Yoongi tampak mencari-cari keberadaan Hanaya didalam kereta yang ditumpanginya. Ia berharap Hanaya berada di salah satu gerbong kereta tersebut.


Pemberhentian kereta di stasiun berikutnya akan segera tiba dalam beberapa detik, Min Yoongi yang masih saja mencari keberadaan Hanaya, matanya tersita oleh seseorang wanita yang duduk sendirian dengan kepala tertunduk di bangku yang telah tersedia di stasiun tersebut. Dan ternyata itu adalah Hanaya, sebelum pintu kereta tertutup Min Yoongi berlari keluar dan menghampirinya.


"Hana..!!"


Hanaya pun mengangkat kepalanya, dan melihat kearah Min Yoongi. Hanaya pun menangis sejadi-jadinya dia tidak tau apa yang harus dilakukan, dengan rasa cinta yang begitu sangat besar terhadap Min Yoongi, namun ada tembok penghalang bagi mereka yaitu Riko.


"Kenapa kamu kembali, seharusnya kamu tidak berbalik lagi kebelakang." ucap Hanaya masih dengan air mata di pipinya.


"Hana, apa kau gila..?" Min Yoongi sedikit kesal.


"Ya, aku sudah gila, aku memang sudah tidak waras." Hanaya berteriak sangat keras.


"Apakah kamu ingin pergi lagi dariku..?" tanya Min Yoongi.


"Iya, aku ingin pergi darimu, aku ingin menyudahi semuanya, tapi kenapa kamu berbalik dan mencari ku..?"


"Oke, jika itu yang kamu inginkan, aku akan menghormati keputusan mu." Min Yoongi tertunduk lesu. Tanpa sadar air matanya pun menetes, bukan ini yang diharapkan Min Yoongi, tapi melihat Hanaya ia tidak ingin memaksakan keinginannya, dan berusaha menerima keputusan Hanaya.


Langit yang sedari tadi gelap, akhirnya menurunkan hujan, sepertinya alam mewakili perasaan mereka masing-masing. Gemuruh yang disertai kilat membuat Hanaya sedikit ketakutan, tapi dia tidak mungkin berlari kearah Min Yoongi, karena itu akan membuatnya berubah pikiran.


Perlahan-lahan Min Yoongi pun membalikkan badannya berjalan perlahan menerjang hujan deras dan petir, hatinya begitu hancur oleh orang yang sangat dia cintai, untuk pertama kali dihidupnya dia merasakan cinta yang benar-benar tulus untuk seseorang, tapi ternyata yang terjadi tidak sesuai dengan apa yang diinginkan.


Setelah ucapannya kepada Min Yoongi, Hanaya merasa sangat menyesal, apa yang dikatakannya bertolak belakang dengan apa yang dirasakannya pada saat ini. Dan sekarang dia tau jika dia juga tidak mau kehilangan Min Yoongi.


"Min Yoongi, kamu membuatku gila, aku sangat merindukan mu...!!" teriak Hanaya.


Min Yoongi samar-samar mendengar suara Hanaya ditengah hujan deras, memberhentikan langkah kakinya.


"Min Yoongi...!!! Aku sangat merindukanmu....!!!" Hanaya berteriak sekuat tenaga.


Min Yoongi yang mendengar teriakan Hanaya langsung membalikan badannya. Dia tidak percaya dengan apa yang didengarnya, baru beberapa menit Hanaya ingin menyudahi hubungannya, dan sekarang dia malah mendengar jika Hanaya sangat merindukannya, dia bertanya-tanya apa tujuan Hanaya mengatakan hal seperti itu.


"Min Yoongi aku sangat mencintai mu...!!!" Hanaya kembali berteriak, dia tidak peduli dengan apa yang ada disekitarnya, tapi memang kebetulan hanya ada mereka berdua disana.


Akhirnya Min Yoongi berlari kearah Hanaya, dia ingin memastikan apakah Hanaya sadar dengan perkataan dia baru saja.


"Hana, apakah aku tidak salah mendengar...?" Min Yoongi memegang kedua pipi Hanaya.


Tanpa ada aba-aba Hanaya langsung memeluk Min Yoongi.


"Aku sudah tidak tahan lagi, mungkin ini yang terakhir kalinya, tapi aku benar-benar sangat merindukanmu, berbulan-bulan rasa ini aku tanggung sendiri."


"Aku juga merasakan apa yang kamu rasakan, maaf sudah menyalahkan mu, aku benar-benar bodoh." Min Yoongi membalas pelukan Hanaya.


***


Hujan pun mulai mereda, Hanaya dan Min Yoongi tampak begitu kedinginan karena baju yang mereka kenakan basah kuyup, Min Yoongi pun mengajak Hanaya untuk pergi ke toko baju, karena mereka tidak tau dengan daerah yang ada disana mereka pun cukup lama mencari toko baju yang berada agak jauh dari stasiun kereta tersebut.


"Cantik." Min Yoongi memuji Hanaya dengan baju yang baru dibelinya.


"Terimakasih.." Hanaya pun tersenyum.


"Ayo, kita langsung saja ke stasiun, takut nantinya tidak ada lagi kereta menuju Seoul." Min Yoongi segera mencari taxi untuk mereka agar lebih cepat sampai di stasiun.


Min Yoongi sedikit gelisah karena waktu sudah menunjukan pukul setengah lima sore, sedangkan kereta terakhir akan berangkat jam lima sore, mereka hanya mempunyai waktu setengah jam untuk sampai di stasiun kereta api. Dan akhirnya Min Yoongi mendapatkan taxi, mereka langsung bergegas masuk kedalam mobil dan melaju menuju stasiun.


Sesampai di stasiun mereka bergegas untuk memasuki stasiun kereta, tapi ternyata mereka terlambat, kereta sudah berangkat dari lima menit yang lalu.


"Bagaimana ini, kita tidak bisa pulang, sedikit lagi hari mulai gelap." Hanaya mulai panik.


"Tenang, kita akan mencari tempat peristirahatan, karena jalan satu-satunya kita harus menginap, dan baru bisa pulang."


Mendengar perkataan Min Yoongi Hanaya merasa cemas, pasti kakaknya dan Riko akan khawatir, tapi apa boleh buat, dia tidak bisa kembali.


"Aku akan mengirim pesan kepada Kim Mina jika aku tidak akan pulang malam ini."


"Iya aku akan menelpon Aryan juga agar dia tidak mencemaskan aku."


Dari kejauhan Hanaya memperhatikan Min Yoongi yang sedang menelpon seseorang, hatinya mulai resah, perasaan cinta yang begitu sangat besar membuat Hanaya berpikir untuk tetap bersama Min Yoongi dan meninggalkan Riko.


Perlahan Hanaya mulai menghampiri Aryan yang tak sudah-sudah menelpon, entah siapa yang dihubunginya Hanaya tidak tau, dan tidak mau tau.


Hanaya menatap Min Yoongi, dan begitu juga sebaliknya Min Yoongi pun tersenyum kepada Hanaya meskipun dia sedang berbicara dengan seseorang, lalu Hanaya pun mendekap dia menyelinap masuk di sela-sela tangan Min Yoongi yang sedang menelpon.


Hanaya memeluknya, melihat tingkah Hanaya yang sedikit kekanak-kanakan Min Yoongi hanya bisa tersenyum dan segera mengakhiri percakapannya.


"Hei, kamu Kenapa? Hmm..??" suara Min Yoongi terdengar lembut ditelinga Hanaya.


"Rinduku belum hilang, sepertinya tak ada habis-habisnya." Hanaya semakin erat memeluk Min Yoongi.


"Benarkah begitu..?" Min Yoongi pun membalas pelukan Hanaya.


"Aku sangat nyaman disini, apakah kita bisa seterusnya seperti ini..?" Air mata Hanaya mengalir disudut matanya.


"Hmm, pasti bisa." jawab Min Yoongi dan tersenyum.


__ADS_1


__ADS_2