Fantasi Hana My Yoongi

Fantasi Hana My Yoongi
Aryan


__ADS_3

Sebulan setelah kepergian Nyonya Sandra ke Jepang, Aryan pun harus meninggal Hanaya, untuk melakukan tugas nya, dia kembali di panggil bekerja setelah sebelum nya mengundurkan diri untuk merawat Hanaya di saat koma. Aryan adalah salah satu karyawan yang rajin dan berdedikasi tinggi, semua yang di tangani nya selalu berakhir dengan baik, dan membuat atasan nya sangat puas dengan pekerjaan nya.


"Hana, jujur kakak berat sekali untuk meninggalkan kamu sendirian di sini. Apa kakak tolak aja panggilan kerja dari S** agar kakak bisa jagain kamu disini..??" Aryan begitu sangat bimbang.


"Nggak apa-apa kok kak, aku kan udah sembuh nggak bakalan terjadi apa-apa lagi sama aku kak, jadi kakak nggak usah khawatir, siapa tau aja aku bisa nyusul kakak ke Korea, iya kan..?" Hanaya berusaha meyakinkan Aryan.


"Terimakasih ya, kamu benar-benar adik yang sangat pengertian, makin sayang deh sama adik yang satu ini." Lalu Aryan memeluk Hanaya.


"Iya kak, aku nggak mau jadi penghalang masa depan kakak, apalagi ntar kalo nikah sama Luna. Hana membalas pelukan Aryan.


Tapi Aryan langsung melepaskan pelukan dari Hanaya setelah mendengarkan nama Luna.


"Tunggu, tunggu, kok Luna sih..??" Aryan protes.


"Alah, jangan sok jaim deh, Hana tau kakak suka kan sama Luna, jujur...!!!"


" jangan sok tau kamu..!!" Aryan mencubit pipi Hanaya.


"Aaaaa, sakit kak.." Hanya berusaha melepaskan cubitan dari Aryan.


"Tapi emang benarkan, yang waktu itu kakak di dapur,main tatap-tatapan berdua sama Luna, jangan pikir Hana nggak liat.."


"Oh, ternyata kerjaan nya ngintipin orang ya..!!" Aryan pun menggelitik adik nya, karena geli Hanaya pun lari, tapi di kejar oleh Aryan.


"Mau kemana tukang intip, kamu nggak bakalan bisa lolos ." Aryan membesarkan volume suara nya.


Karena takut di tangkap kakak nya Hanaya pun kabur masuk ke kamar dan mengunci pintu nya. Tapi, Aryan didalam hati sangat bahagia melihat Hana yang telah kembali ceria.


"Syukurlah, kamu kembali lagi." diapun menitikkan air mata, yang tanpa sengaja jatuh di pipinya.


***


Luna yang semakin sering ke rumah Hanaya pun datang kembali, Sekarang dia membawa spaghetti kesukaan Aryan.


"Hana...!! suara Luna terdengar sangat jelas dari arah pintu.


" Hai lun." Aryan pun menyambut kedatangan Luna dengan senyuman.


"Hai.." Luna membalas senyuman Aryan.


"Hana, ada Luna nih..!!" teriak Aryan dari bawah, sambil mengambil tentengan bawaan Luna.


"Hana masih tidur..??" tanya Luna.


"Enggak, dia udah bangun dari pagi, barusan aja masuk kamar. Terang Aryan.


"Ooh.." balas Luna sambil arah berjalan ke arah dapur,untuk mengambil piring.


Tidak berapa lama kemudian Hanaya pun keluar dari kamar nya.


"Hai Lun, akhir-akhir ini kamu semakin sering ya mampir kesini.." ucap Hanaya sambil menyendok spaghetti yang telah disiapkan oleh Luna.


"Emang kenapa, nggak boleh..?" tanya Luna.


"Hmmm..boleh banget." jawab Hanaya yang mulut nya masih penuh dengan makanan.


"Apa-apaan sih,pertanyaan nya nggak bermutu banget. Sahut Aryan.


"Eleh..yang senang banget di apelin terus.." Hanaya meledek Aryan.


Mendengar ucapan Hanaya Luna pun menjadi salah tingkah dan senyum-senyum sendiri.


" Eeeh..mulai lagi nih anak." Aryan pun mencengkram kepala Hanaya,dan agak sedikit menekan nya.


"Ah..kakak sakit, jangan main kekerasan gitu dong...!!! Hanaya meringis kesakitan, dan melepaskan tangan Aryan dari kepala nya.


Setelah mereka selesai makan, merekapun beralih ke ruang tamu, dan melanjutkan obrolan nya, Hanaya yang memperhatikan tingkah Abang nya yang mencuri-curi pandang terhadap Luna, memberikan mereka kesempatan untuk berduaan, dan memilih untuk masuk kedalam kamar.


"Udah ah, ngantuk mau tidur dulu." Hanaya langsung berjalan kearah kamar nya.


"Aku ikut ya..??!" Luna berdiri.


"Nggak boleh, yang ada kalo kamu masuk aku nggak bakalan tidur." Hanaya langsung masuk ke kamar nya,dan mengunci pintu.


"Yaah..aku ditinggal." Luna pun kembali ke posisinya semula.


"Udah biarin aja, tu anak emang rada-rada." Aryan berusaha menyalahkan Hanaya, tetapi didalam hati nya di berterimakasih terhadap Hanaya, karena diberikan kesempatan berduaan dengan Luna.


"Mau dibikinin kopi nggak..?" Luna bertanya untuk menghilangkan rasa gugup nya.


"Nggak usah, ntar aku bisa ambil sendiri." Aryan menolak tawaran Luna.


"Nggak apa-apa tinggal diseduh doang, lebih seru kalo ada kopi buat temen ngobrol." rasa gugup Luna agak sedikit berkurang. Disaat Luna akan melangkahkan kaki nya, Tiba-tiba dia tersandung oleh karpet yang berada di depan kursi. Tubuh Luna terjatuh,. dan menimpa Aryan yang sedang duduk di lantai.


"Aaaaaa...." Luna pun berteriak.

__ADS_1


Aryan yang melihat Luna yang akan terjatuh langsung menangkap tubuh nya. Tapi karena tubuh Luna yang sedikit agak berat, membuat pertolongan Aryan jadi sia-sia. Luna terjatuh persis di atas Aryan, membuat kepala Luna dan Aryan berbenturan.


"Aauu.." Aryan dan Luna kesakitan.


"Aku tidak apa-apa..?" Aryan bertanya kepada Luna.


"Oh, nggak apa-apa, tapi tangan ku agak sedikit sakit." Luna pun melihat tangan nya,ternyata ada luka goresan yang membuat tangan Luna sedikit berdarah.


"Astaga, tanganmu berdarah." Aryan yang panik langsung mengambil kotak P3K.


"Sini tangan nya biar aku obati." Luna yang agak sedikit kesakitan pasrah tangannya dipegang oleh Aryan.


"Maaf ya, ini semua terjadi karena aku." Aryan meminta maaf sambil mengolesi obat luka di bagian sikut Luna, lalu meniupnya perlahan.


"Perih nggak..?" tanya Aryan.


Luna menganggukan kepala nya.


"Dikit lagi kok.." ucap Aryan dengan lembut, dan sesekali meniup nya.


Melihat Aryan yang begitu peduli padanya Luna pun tak mengalihkan pandangannya terhadap Aryan, dia terus menatap wajah Aryan yang menurut nya laki-laki sejati itu adalah seperti Aryan. dan tidak bisa dipungkiri lagi Luna benar-benar jatuh cinta kepada Aryan.


"Udah selesai.." Aryan merapikan kotak P3K nya.


"Kamu mau aku panggilkan Hanaya..?" tanya Aryan.


"Nggak usah, biarin aja kasian jka dibangunkan."


"Ya udah, istirahat di kamar aku aja." Aryan pun memapah Luna masuk kedalam kamar nya.


"Makasih ya.."


Luna seperti nya benar-benar kesakitan, bukan hanya tangan nya yang sakit, tetapi kaki nya memar dia tidak ingin menyusahkan Aryan maka dari itu Luna tidak mengatakan kepada Aryan jika kaki nya juga kesakitan.


Setelah masuk kamar, Aryan pun meninggalkan Luna di kamar nya.


"Kalo ada sesuatu, panggil aja ya..!! aku diruang tamu kok."


Luna hanya menganggukan kepala nya. Diapun beristirahat sejenak. Tapi mata Luna tertuju pada selembar foto yang ada di meja kamar Aryan. dan dia melihat foto tersebut yang ternyata itu adalah foto Kim Mina wanita yang di sukai Aryan.


"Ini foto siapa..? jangan-jangan Aryan udah punya pacar." Hati Luna menjadi tidak tenang, lalu Luna membalikan foto tersebut, dan melihat disitu tertulis nama dengan gambar hati, dengan caption yang membuat Luna semakin yakin jika wanita itu adalah pacar Aryan. " Cantik.." Luna menghela nafas panjang.


"Ternyata dia sudah punya pacar..?? tapi kenapa dia membuat aku yakin kalo dia juga menyukai ku, dan bodoh nya aku semakin berharap." tanpa mengeluarkan suara Luna pun menangis. "Dasar laki-laki brengsek, kenapa aku dikasih harapan."


Luna pun bergegas keluar dengan kaki pincang nya, lalu menghampiri Aryan yang lagi asyik menonton tv.


Aryan yang terkejut mengejar Luna dan memegang tangan nya.


"Kamu kenapa..??" tanya Aryan keheranan.


"Alah nggak usah pura-pura bodoh, aku udah tau kok.." Luna melepaskan genggaman tangan Aryan. "Jangan menyentuh ku, Bajingan."


Aryan pun agak kesal dengan ucapan Luna dan bertanya dengan suara agak meninggi


"Kamu kenapa sih...? tiba-tiba marah nggak jelas, ada apa hah...??" Aryan merebut tas Luna dan menghempaskan nya ke lantai, sehingga membuat Luna terkejut dan agak sedikit takut.


"Minggir, SAYA mau pulang.." Luna mengambil tas nya lalu berlari kearah pintu. Tapi sebelum Luna sampai didepan pintu dia pun terjatuh, dan melukai kaki nya yang sebelum nya terluka. Luna menangis karena kesakitan, dan ditambah lagi dengan kekecewaan nya terhadap Aryan. diapun menangis dengan suara keras.


Aryan yang melihat Luna terjatuh menjadi panik, dan langsung berlari untuk membantu nya, tapi tidak diterima baik oleh Luna.


"Lepasin, SAYA TIDAK BUTUH BANTUAN ANDA" Luna berkata dengan suara berat,dan tegas. Diapun berusaha sekuat tenaga untuk berdiri, meskipun kesakitan tetapi di tahan nya.


Karena mendengar suara keributan diluar Hanaya pun keluar, dan melihat Luna menangis,dan kaki nya yang terluka mengeluarkan darah, dengan cepat dia berlari dan membantu Luna, dan melihat Aryan dengan wajah kesal.


"Kakak, kok Luna jadi begini kakak apain dia..??" Hanaya memarahi kakak nya.


"Tanya orang nya, memang nya aku ngelakuin apa..??" Aryan pun kesal dan memutuskan masuk kamar lalu membanting pintu kamar nya.


"Lun, kaki mu berdarah, kita obatin dulu ya.." Hanaya membawa Luna kembali duduk di ruang tamu.


"Jangan marahi Aryan Hana, aku yang salah kok." Luna menundukkan kepala nya.


"Sekarang kita obati dulu kaki mu, setelah itu baru kita bahas, apa yang terjadi." Hanaya pun mengobati kaki Luna yang terluka.


Sementara itu Aryan di kamar juga sangat kesal, dia bertanya-tanya dalam hati kenapa Luna tiba-tiba marah dan berkata seperti tadi kepadanya. Dia semakin tidak tenang, dia terus-terusan mondar-mandir seperti orang kebingungan. Tapi dia melihat foto Kim Mina yang berada di lantai.


"Bukan nya foto ini ada didalam tas..??" Aryan bertanya-tanya.


"Ya ampun,, pasti Luna marah gara-gara melihat foto ini.." Aryan pun merasa bersalah.


Aryan pun bergegas keluar dari kamarnya, sebelum Luna pergi dia harus menjelaskan tentang foto tersebut.


Hanaya sibuk untuk menenangkan Luna, dia melihat Luna yang menangis biarpun tak mengeluarkan suara.


"Cerita sama aku,kok aku tinggal kekamar kamu jadi babak belur begini..?? Hanaya penasaran dengan apa yang terjadi.

__ADS_1


Sebelum Luna menjawab Aryan pun datang, dan meminta Hanaya untuk meninggalkan mereka berdua.


"Han, kakak minta waktu nya sebentar, kakak mau bicara dengan Luna."


Hanaya segera berdiri, tapi ditahan oleh Luna.


"Nggak ada yang perlu dibicarakan lagi.." Luna menjadi dingin.


"Aku hanya butuh waktu sebentar untuk meluruskan ini semua."


Hanaya yang mengerti dengan situasi yang dihadapi oleh Aryan dan Luna, segera meninggalkan mereka, dan kembali ke kamar.


"Kamu marah dengan foto ini kan..?" Aryan memperlihatkan foto Kim Mina.


"Dia bukan siapa-siapa aku, dia perempuan yang pernah aku sukai, setahun yang lalu saat aku bekerja di Korea, tapi dia sudah bertunangan." Aryan menjelaskan langsung ke inti permasalahan.


Luna pun terdiam, dan tidak berkata sepatah katapun.


"Kamu boleh tanya Hanaya, boleh tanya Riko, mereka tau semua nya, aku hanya sekedar menyukai nya, karena dia baik dan sangat lembut."


"Oh, berarti aku kebalikan dari dia begitu..?" Luna kesal.


"Maksud nya bukan begitu.." Aryan tidak bisa berkata apa-apa lagi, karena menurutnya agak susah untuk menjelaskan kepada Luna.


"Sekarang terserah kamu, mau percaya atau nggak, yang pasti aku nggak ada hubungan dengan Kim Mina dan foto ini aku berencana untuk membuang nya tadi pagi."


Aryan yang bingung, dan takut Luna tidak mempercayainya memilih untuk kembali ke kamarnya.


"Kamu yakin dengan apa yang kamu jelasin tadi..?" Luna menghentikan langkah Aryan dengan pertanyaan nya.


Aryan pun kembali menghampiri Luna. dan berlutut.


" Aku sudah mengatakan semuanya, jadi aku mohon percayalah, nanti akan ku buktikan lagi agar kamu semakin yakin, jadi jangan marah lagi."


"Sorry.." Luna mengeluarkan suaranya begitu pelan.


"it's oke." Aryan tersenyum.


"Maaf seharusnya aku nggak pantas memakimu, sedangkan kita bukan apa-apa, kamu hanya kakak dari sahabat ku, jadi aku nggak pantas cemburu."


"apa, cemburu..??" Aryan tertawa kecil


"Ee,ee, Bu,bukan itu maksudnya" Luna malu dengan ucapan nya.


" Oh, kamu cemburu..?? galak juga ya cewek kalo lagi cemburu." Aryan meledek Luna yang menekuk wajah nya karena malu.


"Enggak kok, siapa yang cemburu sih.." wajah Luna memerah.


"Nggak apa-apa kok, aku malah senang, dan sekarang aku mau ngomong sesuatu sama kamu."


Luna menjadi deg-degan, dia tidak tau apa yang akan dikatakan Aryan kepadanya.


" Sebentar lagi, aku akan berangkat ke Korea aku dapat panggilan kembali untuk bekerja di tempat ku yang lama."


Sebelum Aryan selesai dengan kalimat nya Luna pun memotong nya dengan pertanyaan, yang bertubi-tubi.


"Kok cepat banget, kapan pergi nya, kenapa nggak ngomong dari kemarin-kemarin,trus berapa lama disana..dan aku disini gimana..??"


Aryan tersenyum dengan pertanyaan Luna yang terakhir. dan membuat nya sangat gemas melihat tingkah Luna seperti itu.


"Dengarkan aku dulu oke.." Aryan menenangkan Luna,dengan menggenggam tangan nya.


"Apa kamu tidak masalah dengan hubungan jarak jauh..??"


Luna Hanaya terdiam, dia tak bisa menjawab pertanyaan Aryan.


"Jujur, aku mulai suka semua hal tentang kamu, apalagi setelah kejadian hari ini, kamu marah karena cemburu, dan aku senang aku ternyata tidak bertepuk sebelah tangan, tapi aku akan menyerahkan semua keputusan kepada kamu, jika kamu mau kita akaan berhubungan jarak jarak jauh,dan aku janji aku akan setia. Aryan berusaha meyakinkan Luna.


Luna yang mulai luluh langsung memberikan jawaban kepada Aryan.


"Baiklah aku akan berusaha untuk menerima hubungan kita ini, tapi kenapa disaat kita baru akan memulai, tapi dengan cara berjauhan, apa kamu nggak bisa kerja disini aja..??"


Aryan yang mendengarkan ucapan Luna, hanya bisa tersenyum. " Nggak segampang itu sayang, jika ingin menuju ke yang lebih baik kenapa nggak harus berkorban dulu, kamu kan bisa kesana bersama Hanaya, iya kan..??!!"


Luna hanya mengangguk, tapi dalam hatinya berkecamuk.


"Aku pergi tiga hari lagi, aku harap kamu bisa bantuin aku jagain Hanaya, dan kita bisa membawa hubungan ini ke yang lebih baik."


"Kenapa cepat banget..?? padahal kita baru saja meresmikan hubungan kita." Luna masih belum bisa melepas Aryan pergi.


"Masih ada tiga hari kan, buat kita ketemu." Arya tidak melepaskan genggaman tangan nya dari Luna.


"Udah tidur sini aja Ampe kak Aryan pergi.." tiba-tiba suara Hanaya mengejutkan Aryan dan Luna.


"Kapan keluar nya..?" tanya Aryan.

__ADS_1


"Udah dari tadi, kalian aja tuh asyik pacaran jadi aku ngg dianggap, untung nggak ada adegan mesum nya." Hanaya meledek Aryan, dan Luna. dan langsung lari.


"Eeh....udah mulai songong nih, Sama kakak ya, awas aja ntar." Aryan pun mengejar Hanaya.


__ADS_2