
SATU BULAN KEMUDIAN.
Riko yang telah kembali ke apartemen pribadinya, memutuskan untuk melupakan kejadian tragis yang menimpa dirinya, kebakaran yang merenggut semua nyawa keluarganya. Dan memutuskan kembali bekerja meskipun atasan dikantornya memberikan waktu yang cukup untuk dia beristirahat.
Namun pikirannya masih diliputi seribu tanda tanya tentang Hanaya dan Min Yoongi, cincin yang mereka pakai membuat Riko masih kembali bertanya-tanya.
"Apakah Hana benar-benar sudah menerima Min Yoongi sepenuh hati..? atau itu hanya sekedar cincin pasangan biasa, dan tidak mempunyai arti apa-apa."
Riko berjalan menuju balkon, dengan sekaleng minuman bersoda ditangannya, sembari menengadah menatap langit yang cukup cerah di siang itu.
"Huff...!!" Riko menarik pelan nafasnya lalu menghembuskannya kembali.
"Hana, apakah waktunya untukku melupakanmu..? Aku sedikit lelah dengan perasaan ini. " Riko pun beranjak masuk kedalam dan segera mengganti pakaiannya untuk bersiap-siap berangkat kerja.
Sementara itu di Hybe Min Yoongi sangat sibuk dengan pekerjaannya bersama BTS, begitu banyak jadwal yang tertunda karena pandemi yang sedang melanda dunia, dan untuk beberapa hari ini Min Yoongi dan BTS akan pergi keluar kota untuk sebuah pekerjaan, dan pemotretan untuk brand terkenal yang bekerja sama dengan mereka.
Ponsel Min Yoongi berdering, dia merogoh kantong jaketnya lalu melihat kearah layar ponsel yang berdering ternyata sebuah panggilan dari Hanaya, Min Yoongi sedikit senyuman tersungging dari bibirnya, menandakan bahwa dia senang yang menelpon adalah Hanaya.
"Halo.."
"I MISS YOU"
"Hei, kamu meneleponku hanya ingin mengatakan itu..?" tapi didalam hatinya Min Yoongi sangat bahagia.
"Apakah tidak boleh..? Ya sudah maaf jika aku mengganggu." Hanaya berpura-pura sedih.
"I MISS YOU TOO..."
"Cepat kembali, jangan minum terlalu banyak jika kamu di kelilingi perempuan cantik." Hanaya langsung menutup ponselnya.
Mendengar perkataan Hanaya Min Yoongi tertawa bahagia. Melihat Min Yoongi seperti itu para member yang lain sudah bisa menebaknya yang bisa membuat Min Yoongi seperti itu hanyalah Hanaya.
"Hanaaa......!!!! Luna berteriak, sehingga Hanaya yang sedang mandi berlari keluar.
"Kenapa Lun?"
"Ini apa...?" Luna mengambil tiga box ****** ***** laki-laki yang terletak di atas ranjang Hanaya.
"Oh, kado buat Yoongi." Hanaya kembali masuk ke kamar mandi.
"Oh, aku pikir ada laki-laki didalam kamar." Luna bicara sendiri, lalu keluar dari kamar Hanaya.
Satu jam kemudian Hanaya pun keluar dari kamarnya, dia sudah rapi dan akan bersiap-siap untuk berangkat ke restoran.
"Kak Aryan mana..?" tanya Hanaya kepada Luna sambil duduk di meja makan untuk sarapan.
"Ouh, Aryan sudah berangkat pagi sekali katanya ada meeting pagi ini." jawab Luna sambil meletakan roti yang sudah dikasih selai cokelat didalamnya.
"Hmm, Lun kenapa kamu nggak cepat-cepat nikah aja sama kak Aryan, tunggu apalagi." tiba-tiba celetukan Hanaya membuat Luna terkejut.
"Ah..?"
"Buruan nikahin dia, Kim Mina janda lho sekarang."
Luna terbatuk-batuk mendengar ucapan Hanaya, selama ini dia belum memikirkan untuk menikah dengan Aryan meskipun tinggal di satu atap yang sama.
"Minum, minum, minum..!!!" Hanaya memberikan segelas air miliknya.
"Emang benar Kim Mina janda..?" Luna menjadi penasaran.
"Iya, udah satu bulan dia bercerai dari suaminya." jawab Hanaya santai.
"Benarkah..?"
"Hmm.." Hanaya menganggukkan kepalanya.
Dalam hati Luna mulai khawatir dengan hubungannya dengan Aryan, karena Kim Mina adalah cinta pertama Aryan.
"Ayo, udah siang."
Mereka berdua pun berangkat menuju restoran.
__ADS_1
***
Mulai dari hari itu, Luna selalu memikirkan Aryan dan Kim Mina, dia selalu membayangkan hal-hal yang aneh antara mereka berdua, dan itu sedikit mengganggu hubungan nya dengan Aryan. Luna menjadi sedikit sensitif dan posesif, bahkan terkadang membuat Aryan kesal dengan sifat Luna yang meledak-ledak.
"Kamu dari mana..?" tanya Luna sinis kepada Aryan.
"Aku tadi ada meeting dadakan, jadi mau nggak mau aku harus datang."
"Meeting apa miiitiiing....??"
"Jangan mulai lagi Lun, apa aku harus menelepon orang kantor agar kamu percaya..??"
"Nggak usah." Luna masuk kedalam kamarnya dan sedikit membanting pintu.
"Ya ampun, kamu kenapa sih lun..??" Aryan menghempaskan tubuhnya yang lelah bekerja ke atas sofa diruang tamu.
Tidak lama kemudian Hanaya pun datang, dan melihat Aryan tertidur di atas sofa masih dengan baju kerja dan tas disampingnya.
"Kak, kak Aryan bangun kok tidur disini sih.." Hanaya membangunkan Aryan.
"Oh, kamu udah pulang?"
"Udah kak, Luna mana?"
"Tadi di kamar, kakak nggak tau kenapa akhir-akhir ini Luna suka banget marah-marah sama kakak."
"Masa..?" Hanaya seperti tidak percaya dengan ucapan kakak nya, dan seketika ingatannya kembali pada saat dia mengatakan jika Kim Mina berstatus janda, dan langsung menebak jika Luna sedang cemburu
"Lun, Luna, Luuun....!!" Hanaya berjalan kearah kamar Luna, lalu membuka pintu kamarnya.
"Kak, Luna kok nggak ada..?" tanya Hanaya.
"Lah, kok bisa tadi dia masuk kedalam kamar."
"Nggak ada kak, kalian kenapa bertengkar lagi..?" tanya Hanaya.
"Yah, begitulah kakak telat pulangnya karena ada meeting mendadak, tapi dia kaya nggak percaya gitu dengan penjelasan kakak."
"Maka dari itu udah satu Minggu ini, kakak berantem terus sama dia gara-gara hal yang sepele.
"Kak..!!"
"Kenapa..?"
"kakak duduk dulu ada sesuatu yang ingin aku bicarakan." Hanaya menarik tangan kakaknya.
"Aku tau Luna kaya gitu gara-gara apa."
"Kenapa, kamu tau sesuatu..?"
"Sebenarnya itu gara-gara aku sih, aku bilang sama Luna jika Kim Mina sekarang berstatus janda." Hanaya agak sedikit takut dengan reaksi Aryan.
"Apa..??" Aryan spontan berteriak.
"Ya, aku minta maaf maksudku bukan begitu." Hanaya panik.
"Kamu tau dari mana jika Kim Mina janda..?" tanya Aryan penasaran.
"Yeee,, aku pikir dia marah, ternyata malah nanyain Kim Mina." Gumam Hanaya.
"Kok Kim Mina bisa bercerai..?" tanya Aryan kembali.
"Aku nggak tau juga sih kak permasalahan mereka, yang jelas sekarang status Kim Mina kembali single."
"Kasian juga Kim Mina, baru dua tahun pernikahannya sudah hancur." Aryan merasa kasihan.
"Ya sudah, kamu mempunyai kesempatan untuk mendekatinya kembali" tiba-tiba suara itu mengejutkan Hanaya dan Aryan.
"Luna.."
Hanaya dan Aryan sangat kaget dengan kedatangan Luna secara tiba-tiba.
__ADS_1
"Sayang, bukan begitu." Aryan langsung bergegas menyusul Luna yang akan masuk kamar."
"Lepas, besok aku balik ke Indonesia." perkataan Luna membuat Aryan dan Hanaya terkejut.
"Lun, kamu jangan begitu kak Aryan bukan bermaksud apa-apa, kalo kamu marah-marah terus aku kan sedih, aku merasa nggak becus jadi seorang sahabat, please... jangan berpikir yang macam-macam." Hanaya berusaha membujuk Luna.
"Kim Mina hanya masa lalu, dan kamu adalah masa depan buat aku." Aryan menggenggam tangan Luna dengan lembut."
Tiba-tiba Hanaya langsung menarik tangan Luna. "Eh, jangan ambil kesempatan dalam kesempitan."
Ucapan Hanaya membuat Luna tersenyum, dan dia merasa yakin jika Hanaya akan menjaga kakaknya dari kesalahan yang akan berdampak fatal terhadap hubungannya dengan Aryan.
"Ya sudah, aku mandi dulu." Aryan meninggalkan Hanaya dan Luna lalu masuk ke kamarnya.
"Kim Mina apakah kamu baik-baik saja..?" Aryan mengambil ponselnya dan mencari kontak Kim Mina.
Aryan pun seketika ingat kepada Luna, dan langsung meletakkan ponselnya, "Jangan Aryan, kamu nggak boleh memikirkan Mina, kamu sudah ada Luna yang sangat mencintai kamu." Aryan segera masuk ke kamar mandi berharap setelah mandi dia bisa berpikiran jernih.
Diluar Hanaya dan Luna sedang asyik mengobrol, entah apa yang sedang mereka bicarakan, tapi percakapan itu membuat Luna menjadi lebih tenang. Aryan pun keluar dari kamar dan melihat Luna dengan tatapan bersalah, karena selama ini Aryan ternyata masih menyimpan rasa untuk Kim Mina, meskipun Kim Mina telah menikah Aryan masih saja belum bisa sepenuhnya melupakan Kim Mina.
"Maaf, aku sudah mengkhianati cintamu" Aryan bicara dalam hati, lalu menghampiri adik dan kekasihnya.
***
Hari sudah menunjukan pukul setengah satu dini hari, Luna yang sudah mengantuk Pamit untuk tidur terlebih dahulu, dan meninggalkan Hanaya dan Aryan diruang tamu.
"Hubungan kamu dan Suga gimana?" pertanyaan Aryan yang sedikit membuat Hanaya tercengang, karena selama ini Aryan tidak pernah bertanya, dengan wajah serius seperti itu.
"Baik, dan sangat baik." Hanaya tersenyum.
"Ayo kita bicara dikamar mu." Aryan berdiri dan langsung berjalan masuk kedalam kamar Hanaya.
Hanaya jadi bingung dengan tingkah Aryan, tapi hanya bisa mengikuti apa yang di ucapkan kakaknya.
"Kenapa kak, sepertinya serius sekali."
"Aku ingin bertanya tentang Kim Mina." Aryan langsung ke inti permasalahannya.
"Jangan bilang kakak masih cinta sama Kim Mina." Hanaya langsung menebak.
"Kenapa dia bercerai dari suaminya..?"
"Entah, dia tidak pernah bercerita secara detail kepadaku." jawab Hanaya sambil menenggak minuman bersoda yang ada ditangannya.
"Kakak nggak tau, tapi kakak merasa sakit disini disaat kamu bilang Kim Mina sudah bercerai dari suaminya." Aryan memegang dadanya sebelah kiri.
"Kak, kakak harus sadar sudah ada Luna dan jangan membuat Luna sedih. Hanaya berusaha meyakinkan Aryan.
"Aku juga mencintai Luna, tapi aku tidak bisa segampang itu melupakan Mina.
"Sadar kak, Luna itu udah banyak berkorban buat kita."
"Bantu kakak Han, kakak benar-benar nggak bisa berpikir jernih, kenapa Kim Mina jadi menguasai pikiran kakak."
"Sebesar itukah cinta kakak buat Kim Mina..?" Hanaya bertanya dengan nada lirih.
"Ya, jujur dari dalam hati, Kim Mina masih ada di sudut ruang hati kakak."
"Begitu juga dengan aku kak, aku sangat mencintai Min Yoongi, bukan hanya sekedar fans dan idola, tetapi sebagai perempuan dan laki-laki, biarpun kak Riko selalu ada untuk aku tetapi Min Yoongi." Hanaya terdiam, dan tidak melanjutkan perkataannya.
"Ya ampun, kenapa kita Adek kakak jadi begini." Aryan meremas kepalanya.
"Tapi kakak ingin bertanya, apa memang nggak ada kesempatan untuk Riko..?" pertanyaan Aryan sangat menjebak, sehingga Hanaya hanya bisa jujur.
"Jujur, aku sempat Suka dan jika melihat dia dengan perempuan lain aku merasa sedikit cemburu, tapi itu terpatahkan oleh Min Yoongi yang selalu ada pada saat itu, tapi disaat aku membutuhkan seseorang untuk bersandar, kak Riko selalu ada untuk ku, dan itu membuatnya aku gila, tapi setelah Min Yoongi memberikan cincin ini, itu membuat aku yakin jika aku harus, dan hanya memikirkan Min Yoongi."
"Aku ingin menanyakan kabar Kim Mina, aku sangat khawatir." Aryan mengeluarkan ponselnya.
"pikirkan perasaan Luna kak, jika kakak ingin menelpon atau menemui Kim Mina,lebih baik besok, dan jangan sampai Luna tau."
"Baiklah, aku akan pergi tidur, selamat tidur adik kesayangan Ku." Aryan mencium ubun-ubun adiknya.
__ADS_1
"Aah, aku jadi kangen Yoongi."