Fantasi Hana My Yoongi

Fantasi Hana My Yoongi
keberangkatan Hanaya dan luna


__ADS_3

Beberapa bulan berlalu.


Matahari pagi membuat Hanaya terbangun dari tidurnya, dan membuatnya tertarik untuk keluar dari kamar, untuk menikmati cahaya matahari yang begitu cerah.


"Huuuaaa...." Hanaya menggeliat, lalu tersenyum dia melihat Nyonya Sandra yang sedang menyirami tanaman bersama Herman yang sibuk memotong rumput yang mulai panjang, sesekali terdengar suara tawa Nyonya Sandra entah apa yang diucapkan Herman sehingga Nyonya Sandra terlihat sangat geli dan membuatnya tertawa.


Hanaya pun turun kebawah dan menghampiri nyonya Sandra.


"Pagi, ma, pagi yah.." Hanaya mencium pipi Nyonya Sandra.


"Pagi sayang, tumben udah bangun, sekarang kan weekend" Nyonya Sandra membalas kecupan dari anak gadis semata wayangnya.


"Sudah, mandi dulu sana, lalu sarapan ada sesuatu yang mama mau omongin sama kamu.." Nyonya Sandra lalu masuk ke dalam rumah.


Hanaya penasaran dengan apa yang akan dikatakan ibunya, lalu menghampiri Herman yang masih sibuk memotong rumput.


"Ayah.."


"Hmm.." Herman melihat kearah Hanaya.


"Mama mau bicara apa, kayaknya serius amat." Hanaya mencari tau dengan bertanya kepada Herman.


"Ayah, juga nggak tau." Herman tidak mau mengatakan apa yang akan dikatakan Nyonya Sandra kepada Hanaya.


"Iih, bohong banget.." lalu Hanaya pergi meninggalkan Herman, dan masuk kedalam rumah.


Herman tertawa melihat Hanaya yang langsung pergi meninggalkannya, tanpa permisi.


Satu jam kemudian.


Hanaya keluar dari kamarnya dan segera turun kebawah, dia tidak sabar dengan apa yang akan dikatakan oleh Nyonya Sandra.


Hanaya menuju ruang tamu, Hanaya melihat Nyonya Sandra yang sudah menunggunya dengan gaya kalemnya dengan segelas kopi ditangan.


"Mama mau ngomong apaan, serius banget keliatannya." Hanaya mengambil remote lalu menyalakan tv.


"Mama sudah pesankan pizza buat kamu, bibi nggak datang anaknya lagi sakit, mama nggak sempat buat masak soalnya habis ini mama mau pergi sama ayah mu." Nyonya Sandra berdiri lalu mengambil sesuatu diatas laci lemari.


"Oke.." Hanaya menjawab sambil mengacungkan jempolnya ke Nyonya Sandra.


"Ini.." Nyonya Sandra memberikan amplop kepada Hanaya.


"Apa ini ma..?" Hanaya langsung membuka amplop yang diberikan ibunya.


Hanaya sangat terkejut dengan apa yang dilihatnya.


"Ma, ini beneran..??" Hanaya begitu senang dengan amplop yang diberikan oleh Nyonya Sandra.


"Iya, mama mau kamu dan Luna Minggu depan sudah berangkat ke Korea, mama ingin kamu menyusul Aryan, dan bantu-bantu untuk mendekor rumah yang akan kalian tempati bertiga di Korea."


Ternyata Nyonya Sandra sudah mempersiapkan segala sesuatunya untuk Hanaya. Karena kecelakaan yang dialami Hanaya beberapa tahun yang lalu Nyonya Sandra begitu sangat perhatian, Hanaya sedikit lebih dimanja oleh Nyonya Sandra.


Hanaya begitu bersemangat mendengar perkataan ibunya, yang menyuruhnya untuk menyusul Aryan ke Korea, tanpa berpikir panjang mengiyakan ucapan ibunya.


"Hanaya..pizza nya udah datang tuh.." terdengar suara teriakan Herman dari luar.


"Siap Mom, nanti malam Hana bisa langsung berangkat" Hana berdiri tegap seperti tentara menerima tugas dari komando nya.


"Eh, nggak malam ini juga keles..!!" Nyonya Sandra tertawa.


"Kapan pun Mom, Hana siap berangkat, dan masalah pekerjaan itu gampang." Hana bicara sambil berlari kearah pintu untuk mengambil pizza pesanannya.

__ADS_1


***


Satu Minggu berlalu.


Hanaya dan Luna bersiap-siap untuk berangkat ke bandara menuju Korea, mereka akan di hantar oleh kedua orang tua masing-masing, tampak raut kesedihan di wajah Nyonya Sandra, dan ibu dari Luna, karena untuk pertama kalinya kedua putri kesayangan mereka akan pergi jauh, dengan waktu yang cukup lama, mobil pun sudah menunggu mereka di halaman rumah, sudah waktunya mereka berangkat ke bandara


Di dalam perjalanan ke bandara tak ada satu katapun yang terucap dari bibir mereka, termasuk Hanaya dan Luna, mereka berusaha menahan tangis karena melihat kedua orang tua mereka.


tiga jam perjalanan akhirnya merekapun tiba di bandara. Hanaya dan Luna berpamitan karena setangah jam lagi pesawat mereka akan berangkat.


"Ma, Hana pamit ya doain Hana selamat sampai tujuan." Hanaya memeluk Nyonya Sandra, dan mulai menitikkan air mata, begitupun Nyonya Sandra yang tak bisa lagi membendung air matanya.


"Kamu hati-hati ya sayang disana, jaga kesehatan jangan lupa minum vitamin nya, cuaca disana agak berbeda dengan cuaca disini." Nyonya Sandra mencium kedua pipi, dan kening Hanaya.


"Ayah, Hana berangkat ya, titip mama jangan biarkan mama kesepian." Hanaya memeluk Herman ayah tirinya.


"Iya sayang, kamu hati-hati disana, makan yang teratur jangan sampai sakit." Herman pun mencium kening putri tiri nya yang sangat disayangi.


"Iyah yah." Hanaya menyeka air matanya.


Dan Luna pun juga tak bisa membendung air matanya, dia memeluk erat ibu nya karena untuk pertama kalinya dia akan hidup mandiri dan jauh dari ibunya.


"Mami, Luna berangkat ya, mami harus jaga kesehatan, dan jangan terlalu memikirkan Luna, Luna pasti akan baik-baik aja."


"Iya nak, kamu juga mami akan selalu berdoa untuk kesehatan kamu disini, jaga diri baik-baik dan tetaplah akur kalian berdua, apapun yang terjadi kalian tidak boleh terpisah." Ibu Luna membalas pelukan putrinya tersebut.


Merekapun melepas kedua putri nya dengan tangisan kesedihan.


***


Delapan jam berlalu akhirnya Hanaya dan Luna tiba di bandara Soul Incheon Internasional Korea mereka begitu sangat bahagia telah sampai di negara ginseng tersebut, mereka disana telah ditunggu oleh Aryan, Luna pun tidak sabar untuk bertemu dengan Aryan kekasih sekaligus kakak dari Hanaya, karena belum sampai satu Minggu berpacaran Aryan sudah pergi meninggalkan untuk sebuah pekerjaan.


"Luna, itu kak Aryan." Hanaya menunjuk ke arah Aryan yang sedang menunggu mereka di pintu keluar untuk para penumpang yang datang.


Aryan pun melambaikan tangannya, sedangkan Luna yang dari tadi sangat menggebu-gebu ingin bertemu dengan Aryan berubah jadi malu, pipinya memerah, dan diapun menjadi sedikit diam.


Hanaya yang merindukan kakaknya langsung memeluk Aryan.


"Kakak, aku kangen..!!" Hanaya melepaskan pelukannya dari Aryan.


"Hai Luna, aku senang kamu juga ikut kesini." Aryan menghampiri Luna, dan mengacuhkan Hanaya.


"Hai.." Luna tampak gerogi.


Tiba-tiba Aryan langsung memeluk Luna, lalu berbisik.


"I Miss you.."


Luna pun tak bisa membendung rasa rindunya kepada Aryan dan membalas pelukan Aryan, lalu berbisik.


"Aku juga.."


Melihat adegan romantis Aryan dan Luna Hanaya sangat senang, dan pura-pura kesal.


"Kakak kok aku dicuekin.." Hanaya sedikit menggelembungkan pipinya.


Melihat tingkah Hanaya, Aryan dan Luna pun tertawa.


"Ayo...!! Aryan pun mengandeng Luna dan Hanaya.


"Eh, barangnya siapa yang bawa..?" Luna menunjuk kearah koper-koper yang lumayan banyak.

__ADS_1


"Oh iya.." Aryan pun berbalik kebelakang.


Mereka bertiga pun tertawa melihat tingkah lucu Aryan.


Dalam perjalanan mereka menuju rumah yang sudah disiapkan Nyonya Sandra, Hanaya yang sedari tadi sangat penasaran bertanya kepada Aryan.


"Kak gedung HYBE jauh nggak kak dari sini..?" Hanaya menjulurkan kepalanya kedepan Aryan yang sedang menyetir mobil.


"Hmm, lumayan." jawab Aryan singkat.


"Kita mutar kesana dulu yuk kak,aku pengen liat gedung HYBE nya." Hanaya merengek.


"Kapan-kapan aja, Luna tampaknya butuh istirahat dia sangat lelah keliatannya." Aryan mengelus pipi Luna.


"Apa-apaan sih, ada adeeek mu bang....!!!" Hanaya kesel, karena Aryan lebih perhatian kepada Luna.


Karena kesal Hanaya pun hanya bisa pasrah dan duduk berdiam diri di bangku belakang. Melihat adiknya kesal Aryan hanya tersenyum dan menginjak pedal gas lebih dalam lagi.


Hampir dua jam perjalanan, Hanaya hanya membatu, dia hanya berdiam diri dan, melihat pemandangan disepanjang jalan entah apa namanya.


Lalu tiba-tiba Hanaya berteriak.


"Kakak, itu gedung HYBE oh my God Yoongi aku ada diluar gedung mu..!!" Hanaya membuka kaca mobilnya dan sedikit menjulurkan kepalanya.


Aryan yang sudah menduga akan ekspresi Hanaya tertawa geli, dia tau adiknya akan sangat senang, dengan Hanaya melewati gedung tersebut, Aryan pun melirik Luna.


"Apakah kamu juga ikut senang..?" tanya Aryan.


"Tentu, aku senang melihat Hanaya senang." Luna pun tersenyum.


Dan tidak lama kemudian mereka memasuki gedung apartemen yang tidak jauh dari gedung tersebut, sehingga membuat Hanaya melontarkan pertanyaan kepada Aryan.


"Kak kok kita kesini, bukankah kita akan kerumah yang udah di sediain mama..??"


Aryan hanya diam dan memarkirkan mobilnya.


"Ayo.." Aryan turun dari mobilnya, dan menurunkan semua barang-barang yang ada di dalam mobil.


"Kakak.." Hanaya masih saja belum paham.


"Ayo Luna." Aryan mengajak Luna untuk memasuki gedung apartemen tersebut. Hanaya Hanya mengikuti kakaknya dari belakang.


Mereka bertiga masuk kedalam lift dan menekan tombol nomor dua puluh lima, dari 30 nomor yang ada di dinding lift tersebut.


Lift pun berhenti, Aryan pun langsung membuka pintu yang bertulisan nomor dua lima A.


Hanaya pun langsung tersadar ternyata bukan rumah yang sudah disiapkan ibu nya, tapi sebuah apartemen yang tidak terlalu jauh dari gedung HYBE markas BTS.


"Mama...!!!! I LOVE YOU.....!!!" Hanaya berteriak.


Melihat adiknya yang sangat kegirangan Aryan pun hanya tersenyum. Aryan menyuruh Hanaya memilih kamar tidur untuknya, dia ingin adiknya merasa nyaman dengan kamar yang akan ditempatinya.


Hanaya memilih kamar yang menghadap ke gedung HYBE, agar setiap pagi disaat dia bangun yang akan dilihat pertama kali adalah gedung tersebut.


Setelah mereka selesai dengan pilihan kamar masing-masing, mereka bertiga pun berkumpul di ruang tamu.


"Ya ampun Hana, ini jauh dari ekspektasi aku, aku pikir kita akan tinggal di satu rumah, ternyata kita tinggal di apartemen mewah begini, berapa Tante Sandra ngeluarin duit.." Luna sangat mengagumi apartemen yang cukup luas tersebut.


"Aku juga berpikir sama kaya kamu, apalagi pas mama bilang bantu kak Aryan beres-beres, aku pikir kita akan tinggal di perumahan." Hanaya juga mengagumi apartemen tersebut.


" Mama milih apartemen ini karena lebih dekat dengan restoran pusat di sebelah gedung HYBE" Aryan mencoba menjelaskan.

__ADS_1


Ternyata Nyonya Sandra memilih distrik Yongsan untuk restoran cabangnya di Korea berkat salah satu sahabatnya yang menyuruhnya untuk membuka restoran Korea yang berlebel halal, dan dalam waktu beberapa tahun belakangan restoran itu maju pesat, apalagi setelah gedung HYBE pindah ke distrik Yongsan, banyak turis dan orang-orang lokal berkunjung kesana dan membuka cabang restoran lainnya di beberapa wilayah lainnya terutama di Itaewon, yang semakin banyak pengunjungnya semenjak markas BTS berpindah.


Jadi hanya dengan membelikan anak-anak tempat tinggal yang nyaman, dan mewah tidak akan membuat kekayaan Nyonya Sandra berkurang.


__ADS_2