
Satu bulan pun berlalu, Hanaya mempunyai waktu dua bulan lagi untuk bekerja di HYBE dia berencana untuk tetap keluar meskipun kontrak kerjanya diperpanjang. Hanaya khawatir jika nyonya Sandra mengetahui dia tidak menjalankan pekerjaan yang sudah diserahkan kepadanya, Nyonya Sandra akan bersedih karena menganggap tak ada satupun anaknya yang bisa diandalkan.
Saat ini Hanaya sudah berada diruang tata rias, dia duduk di kursi yang biasanya di duduki Yoongi, semenjak Yoongi memberikan syal kepada Hanaya, keesokannya Yoongi mulai berubah, entah apa yang terjadi tapi Hanaya mencoba mencari tau, tapi dia tak bisa menemukan jawabannya.
Dia sedikit menghela nafas, ternyata semua tak semudah yang dibayangkan untuk bisa bersama seseorang yang dicintai, seseorang superstar yang mendunia seperti Yoongi memang hanya bisa dikagumi bukan untuk dimiliki, Hanaya mulai sadar impiannya selama ini untuk bisa bersama Min Yoongi adalah adalah hal yang mustahil, dan tak akan pernah bisa terwujud.
"Hanaya sadarlah kau bukan siapa-siapa, dan berhenti bermimpi terlalu tinggi." Dia beranjak dari tempat duduknya lalu pergi.
"Hana..!!" terdengar suara Kim Mina memanggilnya dari kejauhan.
"Noona." Hanaya menoleh kebelakang.
"Kamu mau kemana..?" Kim Mina menghampiri Hanaya.
"Ngga tau kak, aku hanya ingin berkeliling saja." wajah Hanaya terlihat sangat murung.
"Kamu kenapa? Apa kamu sakit..?" Kim Mina sedikit mengkhawatirkan Hanaya.
"Tidak, aku hanya lagi memikirkan sesuatu." jawab Hanaya lesu.
"Ikutlah dengan ku." Kim Mina menarik tangan Hanaya, lalu membawanya ke roof top.
Kim Mina mengambil dua cangkir kopi dari mesin kopi otomatis, lalu memberikannya kepada Hanaya, melihat wajah Hanaya yang tidak ceria seperti biasanya Kim Mina berusaha mencari tau.
"Ayo duduklah, disini adalah tempat paling bagus di keseluruhan gedung HYBE, kamu kenapa, ceritakan semuanya padaku, mungkin aku bisa memberikan mu solusi." Kim Mina menatap Hanaya.
"Jika aku bercerita, kamu pasti akan menertawakan ku Noona." Hanaya menekuk wajahnya.
"Kenapa kamu begitu yakin jika aku akan menertawakan mu..?" tanya Kim Mina.
"Ini sesuatu hal yang mustahil untukku. Noona berapakah denda yang akan ku bayar jika aku mengundurkan diri sebelum masa kontrak ku habis?"
Pertanyaan Hanaya membuat Kim Mina tercengang. Dia begitu terkejut dengan pertanyaan Hanaya.
"Apa.. kau ingin mengundurkan diri, apakah ada yang menindas mu, katakan padaku siapa orangnya." Kim Mina merasa kesal dia berpikir ada seseorang yang membuat Hanaya ingin mengundurkan diri.
"Tidak, semuanya baik pada ku tak ada yang menindasku, hanya saja pekerjaan ini tidak cocok denganku." Hanaya berkata sambil melihat ke arah Kim Mina.
Kim Mina yang melihat Hanaya yang berusaha menahan tangis, memegang tangannya, dia meyakinkan Hanaya untuk menceritakan permasalahan yang sedang dihadapi Hanaya
"Hana, kamu bisa mempercayaiku, aku bukan anak kecil yang akan mengumbar ceritamu kesemua orang."
Disaat Kim Mina memegang tangannya, Hanaya menjadi yakin jika Kim Mina bisa dipercaya.
Hanaya pun menangis, lalu menceritakan bagaimana dia ingin bekerja di HYBE.
"Sebenarnya aku adalah seorang Army yang sangat mengidolakan BTS dan aku sangat menyukai Min Yoongi." Hanaya mulai bercerita.
"Lalu, seharusnya kamu senang saat ini, kamu bekerja dengan mereka." Kim Mina menjadi penasaran.
"Dari awal aku berharap lebih, aku menolak seseorang yang sangat mencintaiku karena aku mengharapkan sesuatu yang tidak mungkin."
"Maksud kamu.." Kim Mina makin tidak mengerti.
"Aku menyukai Min Yoongi, bukan hanya sebagai idola, tetapi sebagai seseorang laki-laki yang sangat menarik di mataku." Hanaya menundukkan kepalanya, dan menjadi sangat malu.
"Hana, kamu kenapa begitu bodoh, kamu cantik, dan kamu juga pintar kenapa kamu jadi sangat bodoh." Kim Mina tertawa.
"Ini yang aku hindari, Noona pasti menganggap ku bodoh." Hanaya merasa jika dia memang bodoh seperti yang dikatakan Kim Mina.
"Maksudku bukan begitu. Apakah kamu tidak mau berjuang, siapa tau saja seiring berjalannya waktu Min Yoongi tertarik kepada mu." Kim Mina menyemangati Hanaya.
__ADS_1
"Tapi setelah pertemuan ku dengan Min Yoongi dan dia memberikan syal ini kepadaku, dia mulai mengabaikan ku." Hanaya mengeluarkan syal berwarna merah dari dalam tasnya.
"Benarkah, dia tidak pernah melakukan itu kepada staf-staf yang lain. Kim Mina sedikit tidak percaya.
"Dia menjadi lebih dingin padaku, dan aku tidak menyukai itu." Hanaya merengek seperti anak kecil.
"Hanaya, apakah kamu mau aku membantumu..?" Kim Mina menawarkan diri.
"Soal apa..?" tanya Hanaya.
"Agar kamu lebih dekat dengan Yoongi."
"Terimakasih Noona aku tidak bersemangat lagi." Hanaya menolak tawaran Kim Mina.
"Ayolah Hana, kamu harus bersemangat paling tidak untuk dua bulan kedepan." Kim Mina memegang pundak Hanaya.
"Iya, Noona benar, aku harus profesional dan mengenyampingkan perasaan ku. Hanaya tersenyum.
"Aku ingin bertanya sesuatu kepadamu."
"Apa yang ingin kamu tanyakan Noona..?" Hanaya penasaran.
"Sebelum masuk kesini kamu bekerja dimana..?" tanya Kim Mina.
"Aku memilik beberapa restoran makanan Korea-indonesia disini, dan salah satunya berada tidak jauh dari sini." jawab Hanaya datar.
"Benarkah..? sekali-sekali boleh dong aku mampir di restoran mu."
"Tentu saja, apakah kamu mau kesana hari ini..?" tanya Hanaya.
"Jangan sekarang, mungkin aku akan berkunjung besok, atau akhir pekan." jawab Kim Mina.
Mereka berdua pun tersenyum, lalu beranjak pergi karena hawanya menjadi sedikit lebih dingin.
Disaat mereka menuju lantai sembilan, mereka pun bertemu dengan Min Yoongi yang akan menaiki lift.
"Hai Suga," sapa Kim Mina.
"Hai Noona." Yoongi menyapa balik, lalu masuk kedalam lift.
"Eh, tunggu aku melupakan sesuatu, Hana kamu langsung keruangan ku ya. Kim Mina pun keluar dari lift.
"Noona mau kemana..?" Hanaya menjadi takut.
Kim Mina tidak menjawab pertanyaan Hanaya, lalu melambaikan tangannya.
Di dalam lift Hanaya dan Yoongi diam seribu bahasa, tak ada satu patah katapun yang keluar dari bibir mereka.
Hanaya mengeluarkan syal yang berada dalam tasnya dia berniat untuk mengembalikannya kepada Yoongi, tapi sebelum Hanaya memberikannya kepada Yoongi, Diapun berkata.
"Buang saja jika kau tidak mau menyimpannya."
Hanaya yang terkejut dengan perkataan Yoongi meremas syal yang ada ditangannya.
"Apakah kau memang sekejam itu." Hanaya menahan tangisnya.
Diapun langsung keluar disaat lift berhenti. Namun tiba-tiba Yoongi menahannya, dan kembali menutup pintu lift.
"Apa-apaan kamu." Hanaya mulai kesal.
"Jangan pernah berlagak kau dekat dengan ku." Yoongi menatap Hanaya dengan mata yang penuh dengan kekesalan.
__ADS_1
"Aku tidak pernah merasa dekat denganmu." dengan suara bergetar Hanaya melepaskan cengkraman Yoongi dari lengannya.
"Keluarlah dari sini, jika kamu tidak ingin tersiksa." Yoongi memperingatkan Hanaya.
"Iya, aku berniat akan keluar dari pekerjaan ku, kau puas sekarang..?" Hanaya sangat marah sehingga dia tidak merasakan air mata yang telah membasahi pipinya.
"Tapi kenapa kau menangis?" Yoongi kembali mencengkram lengan Hanaya.
Hanaya yang ketakutan tidak sabar untuk keluar dari lift. Hatinya sangat hancur ketika Yoongi menyuruhnya untuk berhenti bekerja.
Entah apa yang terjadi dengan Min Yoongi, yang awalnya sangat ramah kepada Hanaya, sekarang berbalik menjadi kejam.
Tapi Hanaya menguatkan diri, dia berteriak dan menangis sembari berkata.
"Aku disini karena ingin lebih dekat denganmu, mungkin itu terlalu mengada-ada, tapi sekarang aku yakin kamu benar-benar tak bisa digapai, maaf aku telah lancang kepada mu.
Lift pun berhenti, dan pintu terbuka Hanaya yang ingin keluar segera melepaskan kembali cengkraman Yoongi dan membuang syal pemberiannya.
"Terimakasih untuk perhatiannya kemarin." Hanaya berlari, dan keluar dari lift.
***
Disaat berlari Hanaya tidak sengaja menjatuhkan diary nya, lalu Yoongi mengambil buku diary tersebut.
Hanaya yang menangis langsung menelpon Kim Mina lalu meminta izin untuk pulang lebih awal, dia merasa tidak tahan dengan perlakuan Yoongi yang sudah kelewatan. Dan berniat untuk mengundurkan diri, dia tidak mempermasalahkan soal denda yang harus di bayarnya.
Menjauh dari HYBE itu adalah keputusan yang tepat bagi Hanaya untuk saat ini. Dia berniat untuk menemui Luna, tapi dia takut jika Luna akan menceritakan persoalan yang sedang dialami kepada Aryan dan dia pun memutuskan untuk kembali ke apartemen.
Hanaya mencoba menenangkan dirinya, dia memutuskan berendam di bathtub kamar mandi, dan berusaha untuk tidak memikirkan permasalahan yang ada.
Dia pun tertidur, tapi selang beberapa menit ponselnya berdering. Hanaya yang terbangun langsung mengambil ponselnya, dan melihat siapa yang telah menelpon.
Nomor yang menelponnya tidak memiliki nama, dia penasaran lalu mengangkat telpon tersebut.
"Halo."
"Hanaya.." ucap pria tersebut dibalik telpon.
Hanaya langsung teringat dengan nomor yang telah menelponnya, dia menatap layar ponselnya. Dan ternyata itu adalah nomor telpon Min Yoongi. Diapun mematikan ponselnya, tapi nomor tersebut masih saja menelpon.
"Ya ampun, apa yang harus aku lakukan." Hanaya menjadi sedikit takut, karena dia tidak ingin mendengarkan perkataan yang lebih menyakitkan lagi. Dia pun mematikan ponselnya.
Sementara di Dorm BTS, Yoongi agak sedikit kesal karena Hanaya tidak menjawab telpon darinya. Padahal dia berniat ingin mengembalikan buku diary yang dijatuhkan nya.
Yoongi yang penasaran dengan isi diary Hanaya, dan dia membuka diary tersebut, tapi karena terlalu banyak orang dia beralih ke kamar dan duduk di depan meja kerjanya.
Yoongi mulai membacanya dengan menggunakan translate bahasa di smartphone miliknya, di beberapa lembar pertama Yoongi mengetahui jika Hanaya adalah seorang army, dia tersenyum melihat tulisan-tulisan Hanaya tentang BTS, dan sedikit salah tingkah sendiri saat dia membaca jika Hanaya sangat mengidolakan nya, dan berlanjut ke lembaran berikutnya, lembar demi lembaran dibaca oleh Yoongi.
Yoongi menjadi tertegun, dan seketika itu raut wajahnya berubah, di menjadi sangat serius membaca buku diary Hanaya.
"Apa-apaan ini, kenapa tulisan Hanaya bisa hampir sama dengan mimpiku..?" Yoongi tidak percaya, dengan apa yang dibacanya.
Dia melanjutkan membaca diary Hanaya, dan mengetahui jika Hanaya menolak seseorang karena dirinya, Yoongi merasa itu sedikit gila.
"Apakah dia akan sendirian sampai tua..? benar-benar perempuan aneh."
Di beberapa lembar terakhir Yoongi membaca tulisan Hanaya tentang pertama kali dia bertemu dengan Yoongi, tentang syal yang diberikan kepada Hanaya, Yoongi tidak perlu menggunakan translate di smartphone miliknya,karena Hanaya menuliskannya dengan huruf Hangul.
"Sekarang akulah wanita yang paling bahagia di dunia, Yoongi memperhatikan ku, dia memberikan syal untukku agar aku tidak kedinginan, dan aku benar-benar ingin mengatakan jika aku sangat menyukainya bukan sebagai idola saja, tapi sebagai wanita yang tertarik pada laki-laki, tapi pemikiran itu sedikit keterlaluan, yang pasti aku bisa dekat dan berbicara dengannya itu sudah cukup untukku, Yoongisie aku mencintaimu.
Min Yoongi menutup buku diary Hanaya, dia memikirkan tentang hal yang di alami Hanaya, dan mimpinya kenapa ada kemiripan, padahal itu adalah hal yang mustahil,dan tidak mungkin terjadi.
__ADS_1