Fantasi Hana My Yoongi

Fantasi Hana My Yoongi
hari pertama


__ADS_3

Korea saat ini sudah memasuki musim gugur, tapi cuaca masih saja terasa panas, Hanaya yang terbangun oleh suara alarmnya segera bangun dan beranjak dari tempat tidurnya, lalu berjalan menuju jendela dan menikmati indahnya langit Korea, gedung HYBE terpampang jelas di depan matanya, Hanaya tersenyum sambil menggeliat dan, merasa dia sangat begitu dekat dengan Min Yoongi meskipun dia tidak tau apakah Min Yoongi berada di gedung tersebut, atau tidak.


"Pagiii, untuk orang yang berada didalam gedung itu." Hanaya tersenyum dan memutar lagu dari Glen Fredly yang berjudul Kisah Romantis, lalu menari mengiringi musik tersebut.


Tapi Hanaya tidak menyadari Aryan sudah berdiri di depan pintu kamarnya, sambil tersenyum Aryan memperhatikan tingkah lucu adiknya.


"Dan, dengarlah sayang ku, aku mohon kau menikah dengan ku, Dan hiduplah dengan ku, berbagi kisah hidup berdua..."


Hanaya masih saja belum menyadari keberadaan Aryan, sehingga Aryan memutuskan untuk menghampiri Hanaya.


"Wah, kayaknya pagi ini cerah sekali ya." Aryan membuat Hanaya terkejut.


"Ya ampun kak, ketuk dulu apa pintunya, atau bersuara kek, aku kan jadi kaget." Hanaya mengehentikan musiknya.


"Ye salah sendiri orang udah dari tadi berdiri didepan pintu, salah sendiri nggak liat." Aryan mencubit pipi Hanaya.


"Aaa, sakit kak.." Hanaya berusaha melepaskan tangan Aryan.


"Udah sana mandi, Luna udah nyiapin sarapan nanti jam sembilan kita akan ke restoran." Aryan keluar lalu menutup pintu kamar Hanaya.


"Gangguin aja.." Hanaya lalu masuk ke kamar mandi.


Setengah jam kemudian Hanaya pun keluar dari kamar, lalu menghampiri Luna dan Aryan yang sudah menunggunya untuk sarapan.


"Nunggu lama ya..?" Hanaya duduk dan langsung mengambil sandwich yang sudah disiapkan oleh Luna.


"Hana kamu sepertinya semangat sekali, ada apakah gerangan, apa sudah melihat gedung HYBE pagi ini..?" Luna menggoda Hanaya yang sedang menikmati sarapannya.


Hanaya menganggukkan kepalanya sambil memperlihatkan deretan gigi rapinya yang putih Luna tau apa yang akan dilakukan oleh Hanaya disaat bangun di pagi hari, dia sudah membaca pikiran sahabatnya itu saat dia memilih kamar yang jendelanya langsung menghadap ke gedung HYBE.


"Ayo buruan makannya.." Aryan yang sudah menyelesaikan sarapannya langsung mempersiapkan perlengkapannya untuk berangkat bekerja.


"Kakak kerja hari ini..?" tanya Hanaya.


"Iya, kakak akan ke kantor sebentar ada berkas yang harus di serahkan kepada atasan, setelah itu kakak akan menjemput kalian kembali ke restoran."


"Ooh, gitu." Hanaya menganggukkan kepalanya mengartikan jika dia memahami apa yang dikatakan kakaknya.


"Oke ladys kita siap untuk berangkat." Aryan berdiri tegap di depan perempuan-perempuan yang sangat dicintainya.


"Ok let's go." Hanaya memimpin untuk berjalan didepan.


Dan Aryan mengulurkan tangannya kepada Luna.


"Ayo."


Luna menyambut uluran tangan Aryan dengan senyum termanisnya.


***


Lima belas menit berlalu Aryan, Hanaya, dan Luna tiba di restoran, Hanaya tercengang melihat restoran Nyonya Sandra yang cukup lumayan besar, dan sudah di penuhi orang-orang yang ingin sarapan pagi, dan diantara orang-orang tersebut ada beberapa karyawan HYBE, terlihat dari nametag yang mereka pakai.


Mereka bertiga masuk kedalam restoran, lalu Aryan langsung menemui manager yang bertanggung jawab untuk restoran yang bernama I Hana tersebut, Nyonya Sandra sengaja memberikan nama restorannya dengan nama I Hana karena dia tau Hanaya begitu sangat tertarik dengan negara yang terkenal dengan ginseng nya tersebut.


"Halo pak Lee apa kabar..?" Aryan menyapa manager yang berumur tiga puluh lima tahun tersebut dengan ramah.


"halo, pak Aryan." manager itu membungkukkan tubuhnya untuk memberi hormat.


"Pak Lee, ini adik saya Hanaya dia yang akan mengurus restoran yang ada disini." Aryan memperkenalkan Hanaya kepada manager tampan tersebut.


"Halo Nona Hanaya saya Lee jae in." manager Lee kembali membungkukkan tubuhnya.


"Halo.." Hanaya tersenyum.


"Dan ini Luna, tunangan saya dia akan mendampingi Hanaya selama di Korea."


Mendengar Aryan mengatakan Luna adalah tunangannya, Hanaya tersenyum dan menggoda Luna.


"Hmm...hmmm.." Hanaya mendehem dan membuat Luna tersipu malu.


"Halo.." Luna menyapa manager Lee.


Aryan pun membawa Hanaya dan Luna ke lantai dua restoran tersebut, untuk menunjukan ruangan yang akan ditempati oleh mereka.


"Oke, ini ruangan buat kalian berdua, dan kakak berharap kamu bisa mengembangkan restoran ini jauh lebih baik, dan makin berkembang." Aryan menepuk pundak Hanaya.


"Siap kak." Hanaya sangat bahagia.


"Ooh, ya kakak harus pergi dulu, nanti sore kakak akan jemput kamu dan Luna lagi disini." Aryan buru-buru keluar dia tidak ingin terlambat masuk kantor, karena ada berkas penting yang akan diserahkan ke atasannya.

__ADS_1


"Hati-hati kak." Hanaya melambaikan tangannya, sambil menghempaskan tubuhnya di sofa yang ada di ruangan tersebut.


Luna sedikit kecewa karena Aryan tidak menatapnya saat dia berpamitan, melihat wajah murungnya Hanaya lalu menggoda Luna kembali.


"Cie, yang kesel nggak ngedapetin ciuman perpisahan." Hanaya bangun dan memperhatikan secara detail setiap sudut ruangan yang akan menjadi kantornya.


"Apaan sih Hana, jangan menggodaku." Luna sedikit malu.


***


Hanaya, dan Luna memilih untuk berkeliling restoran yang lumayan cukup luas itu, mereka memperhatikan setiap dekorasi yang ada di restoran tersebut, lalu masuk ke dapur dan melihat para koki, dan pelayan yang sibuk berlalu lalang.


Hanaya dan Luna, yang belum terlalu fasih berbahasa Korea mengajak para karyawannya berbincang-bincang, begitu banyak pertanyaan-pertanyaan yang di lontarkan Hanaya, melihat restoran ramai pengunjung dia begitu bersemangat, dan menyemangati pelayanan-pelayanan yang bekerja di restoran nya.


"Semangat..!!" Hanaya tersenyum ramah.


Tidak butuh waktu yang lama, Hanaya telah mengambil hati para pekerja yang ada di restoran, para karyawan berbisik dan mengatakan jika Hanaya sangat ramah, dibandingkan Nyonya Sandra yang jarang tersenyum.


"Hana, kamu hebat ya baru beberapa jam disini kamu sudah bisa membuat para karyawan yang ada disini menyukaimu." Luna memuji Hanaya.


Hanaya tersenyum sambil menuju pintu keluar restoran, lalu diikuti oleh Luna.


"Lun, kita jalan keluar yuk, aku ingin berkeliling melihat lingkungan yang ada disekitar." Hanaya berkata tanpa menoleh dan melanjutkan langkah kakinya.


"Eeh, tunggu..!" Luna berlari kearah Hanaya.


Mereka pun mengitari tempat tersebut dengan berjalan kaki, sehingga tibalah mereka di depan gedung HYBE, Hanaya yang sangat senang berhenti sejenak, dan memandangi gedung tersebut.


"Yonggi aku berada tepat di depan gedung HYBE, apakah kamu ada di dalam..?" Hanaya bergumam.


"Hana, ayo kenapa kaya orang blo'on berada disini, nggak bakalan bisa ketemu sama SUGA, dia kan boyband paling sibuk, seantero jagad raya ini." Luna menarik tangan Hanaya.


"Tunggu sebentar, aku ingin sedikit lebih lama lagi disini, siapa tau aja dia keluar." Hanaya tidak mau beranjak dari posisinya saat ini, yang berada beberapa meter dari gedung HYBE tersebut.


"Ya ampun Hana, ayo dong, masa cantik-cantik begini jadi gila gara-gara sang idola." Luna kembali menarik tangan Hanaya.


"Lima menit lagi oke, nggak lebih." Hanaya teringat dengan nomor telpon yang disimpannya" meskipun ponsel dan nomor telpon telah diganti dengan yang baru, Hanaya tetap menyimpan ponsel lamanya, meskipun di Korea dia tidak bisa menggunakan nya.


"Tunggu, aku akan mencoba nomor telpon yang waktu itu, siapa tau aja masih aktif."


Hanaya segera menyalin nomor telpon tersebut ke ponsel baru nya. Hanaya segera menelpon nomor tersebut, dan ternyata nomor telpon itu masih aktif, tapi meskipun dia menelpon berkali-kali tak ada yang menjawab.


"Tunggu..." Hanaya pun menyusul Luna.


***


14.30


Hanaya sedikit agak mengantuk setelah selesai melihat pembukuan tentang pemasukan, dan pengeluaran restoran, lalu dia membaringkan tubuhnya di atas sofa, yang berada di ruangannya. Sedangkan Luna asyik bermain dengan telpon genggamnya.


"Kak Aryan kesini jam berapa sih, kok lama banget, katanya kan sebentar doang." Hanaya tidak sabar menunggu Aryan untuk datang.


"Sabar, ini dia lagi dijalan kan jaraknya dari tempat kerjaannya kesini kan cukup jauh." Luna menghampiri Hanaya yang berbaring di sofa.


"Oh ya lun, gimana caranya ya aku bisa kerja di gedung HYBE, kayaknya seru deh, apalagi aku bisa masuk jadi make-up artis." Hanaya mengucapkan hal yang sangat mustahil untuk masuk menjadi make-up artis di agensi yang menaungi BTS tersebut.


Tapi tidak dipungkiri, meskipun Hanaya lebih suka berdandan natural dia sangat berbakat untuk fashion, apalagi soal make-up, dia sangat jago sekali.


"Entahlah." Luna sedikit malas menanggapi perkataan Hanaya.


"Kok jawabannya begitu sih." Hanaya kesal.


"Hana, kamu kesini untuk mengelolah restoran, bukan jadi make-up artis di HYBE, ingat tante yang ngabisin duitnya buat beli apartemen buat kita tinggal karena mau nyenengin anak perempuan satu-satunya biar betah kerja disini." Luna mulai menasehati Hanaya.


Hanaya yang mendengarkan perkataan Luna tersebut, tertawa sembari meledek Luna.


"Ketuaan ngomongnya udah kaya ibu-ibu paruh baya." Hanaya pun tertawa dengan ucapannya sendiri.


Luna yang mendengar perkataan Hanaya langsung menghampiri Hanaya lalu menggelitiknya. Hanaya yang tidak tahan tertawa begitu sangat kencang sehingga suara tawanya terdengar keluar ruangan, dan membuat Luna ikut tertawa.


"Tok,,tok,," terdengar suara ketukan dari luar.


"Masuk.." Suara Hanaya berubah menjadi kalem, dan Luna membenarkan duduknya.


Dan ternyata yang masuk adalah Aryan.


"Ah kakak, kenapa harus pake suara begitu, kirain karyawan" Hanaya mencubit kakaknya.


"Kaget ya...?" Aryan masuk dan langsung duduk di samping Luna.

__ADS_1


"Udah ah, aku turun dulu mau bikin kopi." Hana berjalan menuju pintu.


"Kan ada pelayan, ngapain harus capek-capek turun kebawah."Aryan mengingatkan Hanaya, jika dia adalah bos di restoran tersebut.


"Masih bisa ambil sendiri, mereka sangat sibuk, kasian disuruh-suruh terus."


Mendengar jawaban dari Hanaya, Aryan hanya tersenyum,dia dari dulu sangat mengagumi kebaikan adik nya tersebut.


Beberapa saat setelah Hanaya pergi, Aryan yang hanya tinggal berdua dengan Luna, membuat Luna agak sedikit salah tingkah,dia berpura-pura memainkan handphone nya, Aryan yang mengetahui, memegang tangan Luna, lalu menariknya, dan membuat Luna sangat kaget.


"Kamu mau ngapain...??" Luna semakin salah tingkah.


"Aku ingin mencium mu." Aryan langsung mendaratkan ciuman kilatnya ke bibir tipis Luna.


"Kamu, nanti Hanaya masuk lho, kan malu.." sebenarnya Luna senang Aryan melakukan itu.


"Iya, sorry." Aryan pun mengecup kening Luna.


Sementara itu Hanaya yang berada di restoran, sibuk memperhatikan para pekerja dia sangat mengagumi cara mereka bekerja begitu cepat, dan sangat ramah kepada pelanggan.


Lalu manager Lee menghampiri Hanaya, dan bertanya.


"Nona, apa ada yang bisa saya bantu, apakah anda membutuhkan sesuatu..?" manager Lee bertanya dengan ramah kepada Hanaya.


"Oh, tidak, saya hanya melihat-lihat saja, dan saya kagum dengan para pekerja disini, manager Lee kamu melakukan tugas yang sangat bagus." Luna memuji manager Lee, dan mengacungkan jempolnya.


"Terimakasih nona, anda terlalu banyak memuji saya." manager Lee membungkukkan tubuhnya.


"Panggil saja saya Hana, tidak perlu berbicara formal terhadap saya, karena anda lebih tua dari saya." Hanaya tersenyum lalu menuju ke dapur.


"Ya tuhan gadis itu baik sekali, biarpun dia adalah bos disini, berbeda dari ibunya, orang nya juga baik tapi sangat pendiam." manager Lee berbicara sendiri. Dan dia juga sangat mengagumi kecantikan Hanaya, dia memiliki kulit yang bersih, dan putih, ditambah dengan penampilannya yang santai tapi sangat menarik karena tubuh nya yang langsing apapun yang dia kenakan pasti akan terlihat bagus, dan riasan yang natural, membuat kecantikannya sangat alami.


***


Keesokannya Hanaya pergi ke restoran tanpa didampingi Aryan dan Luna, karena memberanikan diri untuk pergi sendiri, dengan berjalan karena dia melihat begitu banyak pejalan kaki di pagi hari, dan sebagian mereka adalah para pekerja kantoran.


Ditengah perjalanan Hanaya mendengar dua orang pejalan kaki sedang membahas tentang lowongan pekerjaan yang ada di gedung HYBE, mereka mengatakan sedang mencari make-up artis pengganti, make up artis yang sebelumnya mengundurkan diri karena akan menikah.


Hanaya yang sangat antusias memberanikan diri untuk bertanya, kepada dua wanita yang mungkin seumuran dengannya.


"Permisi..." Hanaya menghampiri mereka.


"Ya..?" jawab salah satu dari wanita tersebut.


"Sebelumnya saya minta maaf, tadi saya secara tidak sengaja mendengarkan pembicaraanan anda, tentang lowongan pekerjaan make-up artis di HYBE." Hanaya agak grogi bertanya karena dia masih belum terlalu fasih untuk berbahasa Korea.


"Iya, memang kenapa apakah kamu mau melamar pekerjaan disana..?" tanya wanita yang satunya lagi.


"Jika saya bisa masuk kenapa tidak, saya akan mencobanya." jawab Hanaya dengan ramah.


"Hmm, saya akan memberikan nomor telpon orang yang bisa kamu hubungi, karena setau saya, seleksinya sangat ketat dan biasanya lebih megutamakan orang dalam." wanita tersebut memberikan nomor seseorang yang bekerja di HYBE.


"Ooh, terimakasih banyak." Hanaya mencoba meniru cara orang Korea berterimakasih dengan sedikit membungkukkan tubuhnya."


"Semoga berhasil ya, kamu sangat cantik sekali, operasi dimana..?"


pertanyaan wanita tersebut membuat Hanaya kaget, tapi dia menjadi percaya diri.


"Maaf, saya tidak pernah merubah wajah saya dari lahir." jawab Hanaya dengan ramah.


"Sekali lagi terimakasih untuk informasinya." Hanaya pun berlari, tapi dia masih bisa mendengarkan pujian dari kedua wanita yang tidak dikenalnya itu.


Sesampainya di restoran Hanaya memanggil manager Lee, lalu bertanya.


"Manager Lee, apakah aku cantik hari ini..?" Hanaya memutar-mutar badannya.


"Anda selalu cantik nona Hana." manager Lee bingung dengan tingkah Hanaya.


"Tuh, kan mulai lagi, cukup Hana saja okey...!!"


"Iya, baiklah." manager Lee menjadi sedikit salah tingkah.


"Sekali lagi Mr Lee, apakah aku cantik..?" Hanaya masih meminta saran dari manager Lee.


"Mr Lee..?" tertawa.


"Kamu sangat cantik Hana, jika kamu mau kamu bisa jadi artis." manager Lee memuji Hanaya sedikit berlebihan.


"Ah, bisa saja.." Hanaya menepuk pundak Manager Lee lalu pergi ke ruangannya.

__ADS_1


__ADS_2