Fantasi Hana My Yoongi

Fantasi Hana My Yoongi
Lamaran buat Mama


__ADS_3

Hanaya, dan Luna tampak begitu sibuk mereka memanggil beberapa orang untuk mendekorasi ruang tamu, dan halaman rumah nya. Dia mempersiapkan segala sesuatunya dengan sangat baik, karena ini adalah kejutan untuk mama nya yang akan di lamar oleh Herman.


"Lun, aku akan menjemput mama ke kantor, karena Pak Herman harus standby disini, jadi pas mama mau masuk, nanti lampu-lampu yang ada ditaman akan menyala satu persatu sesuai langkah mama yang akan mau masuk kedalam rumah. Kami harus menemani pak Herman ya biar nggak grogi.


"Oke, sip.." Luna mengangkat tangan nya, pertanda dia menerima perintah dari Hanaya.


Sebelum Hanaya pergi Herman menghampiri Hanaya terlebih dahulu, untuk mengatakan jika suasana hati Nyonya Sandra sedang tidak baik,karena Herman tidak bisa menjemputnya dengan alasan ada keperluan keluarga.


Sementara Hanaya dibuat terperangah oleh penampilan Herman yang rapi, karena biasanya dia hanya melihat Herman dengan seragam sopir yang berwarna biru.


"Pak Herman, beginikah wujud aslimu..?"


Hanaya sangat kagum melihat ketampanan Herman.


Meskipun Herman berumur 50 tahun, tapi dia masih kelihatan muda dari umur yang sesungguhnya, postur badannya yang tinggi, dan masih keliatan segar, menjadikan Herman lebih terlihat tampan, dan ditambah lagi dengan badan nya yang agak sedikit berotot.


"Ya, Tuhan pak Herman anda benar-benar keren, pantas saja mama Hanaya menyukaimu pak.." Luna juga dibuat kagum oleh penampilan Herman.


"Kalian bisa saja, membuat saya malu." Herman menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Oke pak Herman, pertahankan ketampanan mu sampai mama, dan aku balik..!!"


"Lun, tunjukkin ke pak Herman, dia harus berdiri dimana.." Hanaya langsung pergi setelah memberikan instruksi kepada mereka berdua.


Dua jam kemudian.


"Mama kenapa, kok diam aja..??" Hanaya bertanya kepada nyonya Sandra, hampir setengah jam Nyonya Sandra duduk di dalam mobil, tak sepatah kata pun yang terucap dari bibirnya.


Nyonya Sandra hanya diam, dan mengacuhkan pertanyaan Hanaya.


Namun Hanaya mengerti dengan sikap Nyonya Sandra yang tidak ingin berbicara, karena suasana hatinya sedang buruk.


Hanaya hanya bisa tersenyum melihat Nyonya Sandra bertingkah seperti abg yang sedang kesal terhadap pacarnya.


Satu jam kemudian, akhirnya mereka sampai dirumah, melihat lampu rumah yang tidak menyala, Nyonya Sandra akhirnya membuka suara untuk bertanya.


"Kok lampu kita mati Hana, bibi nggak ada dirumah..??" tanya Nyonya Sandra sambil melangkahkan kaki menuju halaman rumah.

__ADS_1


"Kan bibi datangnya siang, trus pulang nya sore ma lagian tadi udah aku nyalain lampu nya.." Hanaya tetap diam diposisi nya berdiri.


Nyonya Sandra melangkahkan kakinya perlahan-lahan, dia berfikir mungkin ada maling dirumah nya.


Tiba-tiba....


Lampu taman menyala, setiap langkah nyonya Sandra membuat lampu taman menyala. Diapun kaget dan bertanya.


"Apa-apaan ini Hana..??" Nyonya Sandra menoleh kebelakang tapi dia tidak melihat Hanaya.


"Hana...!! Kemana dia..??" tapi Nyonya Sandra tetap melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah.


Lampu yang berbentuk lilin menyala dan mengelilingi Nyonya Sandra, dan tidak jauh dari Nyonya Sandra berdiri, terlihat Herman yang mulai berjalan melangkahkan kakinya menuju Nyonya Sandra.


Nyonya Sandra melihat sekeliling ruangan rumah nya yang dipenuhi oleh bunga mawar merah, mawar adalah kesukaan Nyonya Sandra dari gadis, Namun karena papa Hanaya alergi dengan bunga. Selama bertahun-tahun Nyonya Sandra tidak pernah lagi membeli ataupun menanam bunga mawar.


Herman dengan gagah, menghampiri Nyonya Sandra, dia mengulurkan tangannya lalu disambut baik oleh Nyonya Sandra.


Nyonya Sandra masih belum mengerti sejauh ini, masih menjadi tanda tanya apa yang dilakukan Herman kepadanya. Herman pun menggandeng tangan Nyonya Sandra dan membawanya ketempat yang telah disiapkan untuk melamar nyonya Hanaya.


Tiba-tiba bunga-bunga yang ada di sekitar Nyonya Sandra berubah menjadi terang, dan lampu yang tadi menyala sekarang padam.


Nyonya Sandra kebingungan lalu bertanya.


"Herman, apa yang kau lakukan..??"


Dengan sigap Herman mengeluarkan kotak yang berisi cincin lalu mulai bertanya kepada Nyonya Sandra.


"Sandra, izinkan aku menjadi ayah bagi Aryan dan Hanaya" Herman membuka kotak cincin dan menunggu jawaban apa yang akan diberikan oleh Nyonya Sandra kepadanya.


"Herman..." Nyonya Sandra tidak bisa berkata apa-apa, dia teringat akan masa lalu, disaat Herman bercerita dia akan melamar Nyonya Sandra dengan ribuan mawar.


"Apakah kau mau menikah denganku..?" Herman bertanya kembali.


Dan Nyonya Sandra menganggukan kepala nya.


"Ya, aku mau..!!"

__ADS_1


Herman pun memasangkan cincin Ke jari manis ibu Hanaya tersebut, lalu memberikan setangkai mawar merah, Nyonya Sandra begitu sangat bahagia.


Apalagi dia tau cincin yang dipasangkan ke jarinya adalah cincin yang di beli Herman dari saat mereka kuliah dulu. Dan cincin itu masih pas di jari Nyonya Sandra sampai sekarang.


"Akhirnya cincin ini bertemu dengan si pemilik nya.." Herman mengatakan dengan mata yang berbinar.


Dan semua lampu menyala, ternyata Hanaya dan Luna berada tidak jauh dari Nyonya Sandra, mereka memeluk Nyonya Sandra, dan memberikan selamat.


"Mama, akhirnya kisah cinta mu berakhir bahagia.." Hanaya pun memeluk ibu nya, namun dalam hati, dia merindukan ayah nya, dia menjadi sedih, karena ibunya bertemu kembali dengan cinta pertamanya.


"Selamat ya Tante, Luna ikut bahagia" Luna memeluk Nyonya Sandra.


"Terimakasih sayang, Tante juga berdoa untuk hubungan kalian, semoga Aryan cepat melamar kamu.."


Mendengar perkataan nyonya Sandra, Luna merasa sangat senang, dan langsung memantapkan dirinya untuk menerima tawaran Hanaya untuk ke Korea.


Merekapun berakhir dengan makan malam yang menyenangkan, meskipun Hanaya teringat akan almarhum papanya, tapi dia ikut bahagia atas lamaran Herman ke ibu nya.


"Terimakasih ya pak, bapak sudah baik banget dan menjaga mama selama ini, Hanaya jadi lega jika suatu saat Hanaya pergi, Hanaya tidak akan mencemaskan mama yang tinggal sendirian dirumah.


Ucapan Hanaya disambut dengan senyuman bahagia oleh Herman dan Nyonya Sandra.


"Tapi sayang, Aryan nggak ada disini untuk merasakan kebahagian dirumah ini." Luna jadi merindukan Aryan.


"Tenang aja lun, tahun depan kita akan menyusulnya kesana."


"Sekarang mama benar-benar bersyukur, anak mama sudah bisa untuk diandalkan."


Nyonya Sandra sangat senang mendengarkan Hanaya yang akan pergi ke Korea, beberapa bulan yang lalu Nyonya Sandra meminta Hanaya untuk memegang cabang usahanya yang ada di Korea, dan jepang, tapi pada saat itu Hanaya masih ragu.


" Aaa...Hanaya ke Korea untuk menemui Sunggi kan..?" Herman yang tadi nya hanya diam dan tersenyum sekarang sedikit memojokkan Hanaya, tapi pertanyaan nya membuat tiga perempuan disana tertawa.


"Bukan Sunggi pak...!!! tapi Yoongi." Hanaya tak bisa menahan tawa nya.


"Ooh, Yoongi, iya maksud itu.."


malam berakhir dengan tawa kebahagiaan.

__ADS_1


__ADS_2