
Hanaya berlari kerumah sakit, wajahnya begitu panik, dia mencari-cari keberadaan Riko tapi masih belum bisa ditemukan.
Setelah kembali dari rumah Hanaya, Riko pulang kerumah kakaknya karena ibunya berada disana untuk melihat cucu satu-satunya, anak dari kakak perempuan Riko bernama Rachel, tapi entah apa yang terjadi tiba-tiba terdengar suara ledakan dari dapur, dan seketika itu api dengan begitu cepat membakar seluruh rumah Rachel kakak Riko.
Riko berusaha menyelamatkan semua keluarganya yang berada di dalam rumah tersebut tetapi ledakan kedua kalinya membuat mereka terpental, Ibu, kakak, keponakan dan, kakak iparnya meninggal ditempat kejadian. Sedangkan dia sendiri terpental jauh terpisah, dan membuat nyawanya masih bisa ditolong, dan Riko hanya mengalami luka bakar ringan di kaki dan lengannya.
Dan, kejadian tersebut membuat Riko tidak mempunyai siapa-siapa lagi dan, hanya tinggal sebatang kara.
Hanaya terus berlari, dan menangis, dia tidak bisa membayangkan apa yang telah terjadi dengan Riko. Dan akhirnya Hanaya menemukan keberadaan Riko. Riko tampak tertidur setelah diberi obat penenang oleh dokter, karena dia selalu histeris dan meronta-ronta ingin melihat jasad keempat keluarganya yang hangus terbakar.
Setengah jam lebih Hanaya menunggu Riko untuk bangun, dan akhirnya Riko membuka matanya.
"Kak Riko."
"Hana." Riko pun menangis sejadi-jadinya.
"Semuanya meninggalkan aku Hana."
"Tenang kak, aku disini." Hanaya memeluk Riko dan diapun tidak bisa menahan tangisnya.
"Padahal sedikit lagi Hana, sedikit lagi aku bisa membawa mereka keluar." Riko mulai histeris kembali.
"Cukup kak, cukup aku tau kamu pasti berusaha sekeras mungkin untuk menyelamatkan mereka."
***
Disaat semua orang telah pergi dari pemakaman keluarga Riko. Hanaya dan kedua orang tuanya masih tetap tinggal untuk menemani Riko yang benar-benar sangat terpukul, ditinggalkan keluarga sekaligus membuatnya terpukul.
Nyonya Sandra mencoba menenangkan Riko yang begitu enggan untuk beranjak dari pemakaman ibunya.
"Rik, ayo kita pulang seperti mau hujan."
"Tante, apa ibuku baik-baik saja disana..?" tanya Riko seperti anak kecil.
"Tentu sayang, mereka sudah berkumpul dan pasti mereka akan baik-baik saja." Nyonya Sandra menarik tangan Riko dengan lembut.
"Ayo kak." Hanaya pun menuntun Riko berjalan menuju mobil.
Dalam perjalanan pulang Nyonya Sandra menawarkan Riko untuk sementara waktu tinggal dirumahnya, dia tidak ingin membiarkan Riko sendirian disaat dia sedang berduka.
"Riko, untuk sementara waktu kamu tinggal saja dirumah Tante, dari pada dirumah mu tak ada siapapun.
"Terima kasih Tan, tapi aku nggak apa-apa kok aku dirumah aja." Riko menolak tawaran Nyonya Sandra.
"Mama benar kak, kakak untuk sementara tinggal bersama aku dan mama, biar kakak nggak kesepian." Hanaya pun mengiyakan ucapan Nyonya Sandra.
Riko hanya diam, wajar saja Nyonya Sandra lebih perhatian terhadap Riko, karena Riko adalah sahabat anaknya, dan pada saat Hanaya koma beberapa tahun yang lalu dia rela bolak balik Korea Jakarta hanya untuk merawat Hanaya.
Hanaya yang tidak tega melihat Riko yang diam-diam menitikkan air mata lalu menggenggam jemari Riko, dia berusaha membuat Riko untuk tetap tegar dalam menghadapi cobaan yang sangat berat, dia membayangkan jika dia berada di posisi Riko entah apa yang akan terjadi, mungkin saja dia akan memilih untuk menyusul keluarganya.
beberapa jam kemudian mereka sampai di kediaman Nyonya Sandra. Nyonya Sandra dan Herman memilih masuk ke dalam rumah terlebih dahulu. Sementara Hanaya masih setia menemani Riko yang tampaknya enggan untuk masuk kedalam rumahnya.
"Aku tau apa yang kamu rasakan tapi kakak harus kuat, dan aku akan semakin sedih jika aku melihat kakak seperti ini." Hanaya tanpa aba-aba memeluk Riko, dan seketika itu tangisan Riko pecah.
"Apa yang harus aku lakukan Hana, aku tidak mempunyai siapa-siapa lagi."
"Kamu masih punya aku kak, kamu punya Aryan, mama dan ayah." Hanaya mencoba menenangkan Riko.
"Terimakasih untuk kebaikanmu Hana." Riko memeluk Hanaya dengan sangat erat.
"Ini belum seberapa kak, dengan apa yang sudah kamu lakukan kepadaku."
"Ayo masuk, kita harus membersihkan lukamu."
Hanaya membersihkan luka bakar di kaki dan lengan Riko dengan sangat hati-hati, tapi melihat Riko Hanaya tidak dapat membendung tangisnya.
Setelah selesai membersihkan luka bakar Riko Hanaya mengantarkan Riko untuk beristirahat di kamar Aryan.
***
Satu minggu setelah kejadian naas yang menimpa Riko, akhirnya di izinkan kembali kerumahnya oleh Nyonya Sandra.
__ADS_1
"Riko, sebenarnya tante senang banget kamu disini, tapi Tante juga ngg mau menahanmu disini, kapanpun kamu mau kembalilah kesini pintu rumah Tante terbuka lebar untukmu nak." Nyonya Sandra memeluk Riko dengan hangat.
"Terimakasih kasih Tante untuk kebaikannya, Riko benar-benar merasakan mendapatkan seorang ibu yang baru." Riko membalas pelukan Nyonya Sandra.
"Hana, kamu temani Riko ya, mama nggak mau terjadi sesuatu hal terhadap anak mama ini." perintah Nyonya Sandra.
"Iya mah, aku akan mengantarkan kak Riko sampai kerumahnya."
"Tan, Riko pamit ya, Om Riko pamit."
"Hati-hati Riko, jangan sungkan untuk menelpon Om jika kamu butuh bantuan." Herman memeluk Riko.
"Ya om, terimakasih banyak untuk kebaikannya."
Riko pun kembali kerumahnya dengan ditemani Hanaya. Diperjalanan Riko terus-terusan menatap Hanaya, sehingga membuat Hanaya sedikit salah tingkah.
"Kenapa kak, kok ngeliatin aku kaya gitu banget..?"
"Hana menikahlah denganku."
Ucapan Riko membuat Hanaya terdiam, dia tidak menyangka Riko akan mengajaknya menikah begitu saja.
"Jangan becanda kak, pernikahan itu tidak main-main."
"Aku serius, dan kamu tau perasaan ku seperti apa kepadamu."
Hanaya terdiam, dan tidak bisa berkata apa-apa, Hanaya berpikir untuk saat ini dia tidak bisa menolak permintaan Riko, karena dia masih dalam keadaan berkabung, dia tidak ingin menambah luka di hati Riko dengan penolakannya.
"Akhirnya kita sampai." Hanaya bersyukur mereka telah sampai, dan bisa mengganti topik pembicaraan.
Riko memasuki rumahnya, dengan mata yang berkaca-kaca, lalu melihat foto dengan ukuran besar tergantung diruang tamu, melihat Riko Hanaya langsung menghampirinya, dan memegang tangan Riko yang lumayan kekar.
"Tante akan bahagia jika kakak melanjutkan hidup dengan baik.
"Hana, ayo kita kembali ke Korea."
"Secepat itu..?" tanya Hanaya.
"Baiklah, ayo kita kembali ke Korea." Hanaya tersenyum.
"Terimakasih untuk semuanya Hana." Riko memeluk Hanaya.
" Ya Tuhan, Apa yang harus aku lakukan, aku juga tidak bisa memungkiri perasaan ini tiba-tiba saja luluh melihat Riko yang sedang rapuh." Hanaya bergumam dalam hati.
"Jangan bersedih lagi kak, aku tidak sanggup melihatmu seperti ini." Hanaya tanpa sadar memeluk Riko sangat erat.
"Hana, aku benar-benar mencintaimu."
"Ya, aku tau itu." tanpa disadari Hanaya mengeluarkan butiran-butiran kristal dari matanya.
***
"Mam Hanaya pamit ya, mama jangan sakit-sakitan lagi, biar Hana bisa tenang."
"Iya sayang, mama aka. menjaga kesehatan mama."
"Riko jaga Hanaya untuk tante ya."
"Iya Tan, Riko akan selalu menjaga Hanaya." Riko pun bermapitan. Salam untuk om Herman."
"Iya sayang."
Hanaya dan Riko pun berpamitan, mereka pergi ke bandara, dan tidak membiarkan Nyonya Sandra untuk mengantarkan mereka, karena melihat kondisi Nyonya Sandra yang baru saja sembuh dari sakit.
***
Delapan jam perjalanan udara dari Indonesia ke Korea. Akhirnya Hanaya dan Riko sampai di bandara internasional Seol. Mereka dijemput oleh Aryan dan Luna. Aryan tak bisa membendung kesedihannya, Ia langsung memeluk dengan erat sahabatnya tersebut, dia merasa bersalah tidak bisa mendampingi sahabatnya tersebut di saat sedang berduka, dan membutuhkan dukungan.
"Sorry bro, gue ngg ada disaat Lo berduka."
"Nggak apa-apa bro, Hanaya dan nyokap Lo udah lebih dari cukup."
__ADS_1
"Yang kuat Rik."
Melihat adegan dua sahabat yang sedang berpelukan membuat Hanaya dan Luna juga ikut menitikkan air mata.
"Ayo, kalian pasti capek, kita langsung pulang aja." Luna menarik tangan Hanaya.
Apartemen
"Untuk beberapa hari ini Lo tinggal aja dulu disini bersama kita."
"Terimakasih bro, gue benar-benar beruntung berada ditengah-tengah kalian." Riko mengelap air matanya yang keluar karena terharu oleh kebaikan Aryan dan keluarganya.
"Udah lah bro, dalam keluarga Taka ada kata-kata terimakasih." Aryan menepuk pundak Riko.
"Kak aku ke kamar dulu ya." Hanaya ingin beristirahat karena perjalanannya berjam-jam membuat tubuhnya sangat lelah. Ia pun menarik koper yang lumayan besar kedalam kamarnya.
"Biar aku yang bawa." Riko langsung mengambil koper yang ditarik oleh Hanaya.
"Oh, terimakasih kak." Hanaya tersenyum dan menyusul Riko dan koper besarnya kedalam kamar.
Sebelum keluar dari kamar Hanaya, Riko masih menyempatkan dirinya untuk memeluk Hanaya, dia merasa nyaman saat Hanaya ada diperlukannya, sebenarnya Hanaya ingin menepisnya tapi Hanaya tidak ingin Riko merasa kecewa karena dia masih dalam keadaan berkabung.
"Selamat beristirahat calon istriku." ucapan Riko sedikit mengganggu Hanaya, tapi Hanaya hanya bisa tersenyum, dan diam.
Luna yang melihat Riko, yang tadinya ingin menghampiri Hanaya, di memilih mundur dan kembali keluar, dia penasaran dengan ucapan Riko yang menyebut Hanaya adalah calon istrinya.
"Apa aku tidak salah dengar, tadi Riko bilang Hanaya sebagai calon istrinya" Luna penasaran dan mengatakan apa yang dilihatnya kepada Aryan.
"Biarkan saja untuk sementara ini, disaat waktunya sudah tepat aku akan menayakannya kepada Hanaya dan Riko"
"Tapi gimana dengan Suga..?" tanya Luna.
"Jujur aku lebih suka Hanaya dengan Riko dari pada Suga, karena aku tidak mau Hanaya terluka."
"Iya sih, tapi Suga sepertinya sangat mencintai Hana." Luna menebak.
"Kenapa kamu bisa berkata seperti itu..?" tanya Aryan.
"Aku tidak tau persis yang jelas saat Hana pulang ke Indonesia Suga dan Kim Mina kesini untuk menemui Hanaya."
"Apa mereka sedang ada masalah..?" tanya Aryan.
"Entahlah, tapi waktu itu raut wajah Suga sangat sedih saat aku bilang Hanaya pulang ke indo, mungkin Hana pergi tanpa pamit."
"Bagus kalo begitu, berarti Riko punya kesempatan untuk mendekati Hanaya." Aryan merasa sedikit senang.
"Kamu, jangan begitu kita tidak tau apa yang terjadi diantara mereka."
"Bro gue juga mau istirahat, gue masuk kamar Lo ya." Aryan tiba-tiba muncul.
"Oh, iya silahkan."
Di kamar Hanaya yang bingung mengahadapi Riko, menjadi teringat dengan Min Yoongi.
"Yoongi, aku begitu sangat merindukanmu." Hanaya menghempaskan tubuhnya ke empuk miliknya.
"Ah, aku akan coba menelpon Kim Mina." Hanaya segera mengambil ponselnya.
"Halo..??" terdengar suara dibalik ponsel Hanaya.
"Hai nuna, apa kabarmu?" tanya Hanaya.
"Hana..? apakah itu kamu..?"
"Iya, ini aku tapi aku mohon jangan katakan kepada Yoongi jika aku menghubungimu.
"Oke, tenang aja."
"Aku sangat merindukanmu nuna, ayo kita ketemuan." ajak Hanaya.
"Oke, aku akan menunggumu di depan kantor jam lima nanti. ucap Kim Mina dari balik telpon.
__ADS_1
"Ok." Hanaya pun langsung mematikan ponselnya.