
Nyonya Sandra dan Herman akhirnya melangsungkan pernikahan, karena usia mereka yang tak lagi muda, mereka melangsungkan pernikahan yang hanya dihadiri oleh Hanaya, Luna, Maya, Dewi,dan Riko dan beberapa orang dari keluarga Herman meskipun Aryan tidak bisa hadir, namun Aryan sudah memberikan restu kepada Nyonya Sandra dan Herman.
Pada malam hari Nyonya Sandra mengadakan makan malam disebuah hotel bintang lima yang hanya dihadiri oleh para sahabat Hanaya, dan keluarga terdekat Herman.
Malam itu menjadi malam yang sangat berkesan bagi Nyonya Sandra, dan Herman karena setelah puluhan tahun berlalu, akhirnya mereka bisa menikah. Terutama bagi Herman setelah sekian lama menunggu dia akhirnya bisa menikahi wanita yang dicintai nya.
Di meja makan, sebelum jamuan makan malam tiba Herman tak sekalipun melepaskan tangan Nyonya Sandra, tampak jelas jika mereka benar-benar saling mencintai.
"Hanaya yang duduk disamping Riko menatap ibunya dengan senyuman, tapi Riko bisa melihat ada kesedihan didalam mata Hanaya.
"Hana, are you okay..??" Riko memegang tangannya.
Hanaya menatap Riko, dan tersenyum.
"Aku bahagia jika mama bahagia."
Dewi yang memperhatikan Riko dan Hanaya merasa sangat cemburu, tapi dia tak bisa melakukan apa-apa, dia hanya menatap Hanaya dengan tajam.
"Mam, aku permisi ke toilet sebentar ya." Hanaya mencari alasan untuk keluar dari ruangan tersebut.
"Mau aku temani nggak Hana..??" Luna menawarkan diri.
"Oh, nggak usah cuma sebentar aja."
Hanaya keluar dari ruangan yang membuatnya sesak.
Riko yang memperhatikan Hanaya dari tadi, merasa Hanaya hanya beralasan untuk ke toilet. Lalu menyusul Hanaya keluar.
"Om, Tante Riko keluar sebentar ya."
"Oh, iya Riko jangan lama-lama ya, sebentar lagi makanan kita datang."
"Siap Tante.." Riko pun bergegas keluar.
Dia mencari-cari Hanaya disetiap sudut ruangan, dan tidak menemukannya lalu berjalan menuju kearah lift dia mengira Hanaya mungkin turun kebawah.
Tapi sebelum sampai di lift, dia melihat pintu tangga darurat yang sedikit terbuka, dan benar saja setelah Riko membuka pintu darurat tersebut dia melihat Hanaya yang sedang menangis.
Riko menghampiri Hanaya yang sesenggukan karena tangisannya
"Hana..??"
Hanaya sangat kaget, dan segera menghapus air matanya.
"Kak Riko.." meskipun air mata nya dihapus tetapi masih saja mengalir.
"Hana, kamu kenapa..?" Riko mengusap air mata Hanaya yang mengalir deras di pipinya.
"Aku kangen papa..!!" Tangis Hanaya semakin menjadi-jadi.
"Udah, papa kamu akan sedih jika melihat kamu seperti ini, dan aku yakin melihat mama mu bahagia, pasti papa mu juga ikut bahagia."
"Aku senang melihat mama dan pak Herman, aku bahagia melihat mereka sudah menikah, tapi kenapa dadaku menjadi sesak, ingat almarhum papa."
"Sudah, apakah kamu mau merusak kebahagian Tante Sandra dengan tangisan itu..?" Riko berusaha untuk menenangkan Hanaya.
"Enggak.." Hanaya menggelengkan kepala.
Hanaya kembali menangis.
Tapi kali ini Hanaya menyenderkan kepalanya ke dada bidang Riko.
"Aku ingin bersandar sebentar, biarkan aku seperti ini untuk beberapa saat."
Riko tau, apa yang dirasakan Hanaya karena itu juga terjadi terhadapnya. Dia langsung memeluk Hanaya dengan erat, dan mencium kening Hanaya.
Hanaya yang merasa dikasihani, kembali menangis, dan membalas pelukan dari Riko.
"Menangis lah sepuasnya, jika sudah selesai kita akan kembali masuk, kamu tidak mau kan merusak malam bahagia mereka..?"
"Iya" Hanaya menganggukan kepalanya.
Beberapa menit kemudian Hanaya mulai tenang, lalu Riko membawa Hanaya kembali ke ruangan VIP tersebut.
Sesampainya didalam ruangan Riko masih saja menggenggam tangan Hanaya, Sehingga mata mereka yang berada di ruangan tersebut fokus terhadap tangan mereka yang saling berpegangan.
"Kalian darimana aja, kenapa lama sekali." Luna melihat mata Hanaya yang sedikit membengkak karena habis menangis.
"Sudah, karena Hana dan Riko sudah masuk mari kita makan." Herman membuka suara agar suasana tidak menjadi canggung.
Tapi sementara itu Nyonya Sandra tidak merasa tenang melihat putrinya yang sepertinya habis menangis, dia ingin tau apa yang terjadi, dan kenapa dia masuk berbarengan dengan Riko dengan tangan bergandengan.
Setelah makan malam selesai Maya, dan Dewi pamit pulang terlebih dahulu, tapi Dewi hanya berpamitan dengan Nyonya Sandra dan Herman. dan sedikit berbicara kepada Hanaya, namun tidak seperti biasanya.
Tapi disaat Dewi melewati Riko dia berkata.
__ADS_1
"Jika butuh teman ngobrol tinggal telpon aja, aku banyak waktu luang entah itu malam atau siang." Dewi pun pergi dengan gaya sombongnya.
"Dewi kenapa..?" Luna penasaran.
"Nggak tau, akhir-akhir ini dia banyak berubah, sekarang dia sangat jarang menelpon atau main kerumah, biasanya kan tau sendiri, orangnya nggak bisa kesepian." Hanaya juga merasa heran dengan sikap Dewi.
Sementara itu Luna mencurigai ada sesuatu hal terjadi antara Riko dan Dewi, tapi Luna tidak mau bertanya di depan Hanaya.
"Tante, om Luna pamit dulu, sekali lagi selamat untuk pernikahan kalian berdua." Luna akhirnya pamit pulang untuk mengantarkan bingkisan dari Nyonya Sandra.
"Hana, sampai ketemu dirumah ya..!!" Luna melambaikan tangannya kepada Hana.
"Sayang...!!" Nyonya Sandra memeluk Hanaya.
Selamat ya Ma, semoga pernikahan Mama sama pak Herman bahagia, dan hanya maut lah yang bisa memisahkan kalian." Hanaya kembali memeluk Nyonya Sandra.
Hanaya menatap Herman, dan memeluknya
"Jaga mamah ya pak, dan Hana harap cinta bapak tak pernah memudar buat mama"
"Terimakasih Hana, tapi saya berharap kamu bisa memanggil saya dengan sebutan ayah." Herman pun membalas pelukan Hanaya.
"Terimakasih juga karena ayah selalu mencintai mama."
mendengar Hanaya memanggil Herman dengan sebutan Ayah, nyonya Sandra dan Herman begitu sangat senang.
"Sekarang malam pertama kalian, berarti aku harus pamit pulang dulu, Hanaya nggak mau mengganggu waktu kalian." Hanaya pamit kepada orang tuanya.
"Tapi kamu pulang sama siapa..?" tanya Nyonya Sandra.
"Kak Riko yang akan mengantarku." jawab Hanaya.
"Riko, Tante titip Hanaya ya, pastikan dia langsung pulang kerumah." dari beberapa sahabat Aryan, Nyonya Sandra sangat menyukai Riko.
"Siap Tante, Riko pamit dulu ya, sukses om..!! Aryan mengedipkan matanya kepada Herman.
"Bye Ma, ayah have fun ya sampai berjumpa Minggu depan..!!" Hanaya melambaikan tangannya.
Di parkiran, sebelum masuk kedalam mobil Riko memperhatikan Hanaya, dan membuat Hanaya sedikit salah tingkah.
"Ada apa kak, kok ngeliatin Hanaya gitu banget.."
"Enggak, aku berpikir kamu benar-benar anak yang baik, tidak mau melihatkan kesedihan di depan orang-orang yang kamu sayangi." Riko mengacak-acak rambut Hanaya.
"Kak Riko, Kerah bajumu kotor ada sesuatu yang menempel, sini aku bersihkan."
Riko yang lengah pun menunduk, dan alhasil Hanaya mengacak-acak rambut Riko yang masih tertata rapi.
"Aish, Hana...!!" Melihat Hanaya tertawa membuat Riko tersenyum, dia begitu pandai untuk menutupi kesedihannya, dan itu menambah kekaguman Riko terhadap Hanaya.
***
Hanaya dan Riko akhirnya sampai dirumah. Mereka melihat mobil Dewi terparkir didepan rumah, dan membuat Hanaya penasaran, ada apa Dewi datang kerumahnya.
Sementara itu, Riko sedikit merasa takut jika Dewi membuka suara, kesempatannya untuk mendapatkan Hanaya akan pupus seketika.
Mereka berdua pun masuk kedalam rumah, dan melihat Luna dan Dewi sedang minum di mini bar yang ada di dekat meja makan.
"Hi guys." Hanaya menyapa sahabatnya.
"Halo.." Dewi tidak melepaskan tatapan matanya dari Riko, sehingga membuat Riko risih.
"Hana, Dewi bawain kita ini." Luna memperlihatkan sebotol wine mahal.
"Hanya untuk malam ini saja, apa kamu nggak penasaran dengan rasanya..?" Dewi membujuk Hanaya.
Riko yang mengetahui Hanaya tidak bisa meminum, minuman beralkohol tinggi, memutuskan untuk bergabung dengan mereka.
"Hmm..oke" Hanaya mengiyakan ucapan Dewi.
"Tapi aku ganti baju dulu ya..!!" Hanaya berlari menuju kamarnya.
"Tunggu, aku juga." Luna menyusul Hanaya.
Saat ini hanya Dewi dan Riko yang tinggal di mini bar tersebut, karena Riko masih marah terhadap Dewi dia pindah keruang tamu, tapi Dewi mengikutinya dari belakang.
"Kenapa kamu menghindar dari aku Rik..?" tanya Dewi.
"Aku bukannya menghindar, tapi menjaga jarak yang akan membuatku melakukan kesalahan.
Mendengar perkataan Riko, Dewi menjadi sedikit kesal.
"Apa, kesalahan..? berati kamu menganggap aku sebuah kesalahan..??" Dewi tidak terima dengan perkataan Riko.
"Iya, kesalahan yang mengizinkan kamu untuk datang ke rumahku ditengah malam." Amarah Riko mulai terpancing.
__ADS_1
Tanpa mereka sadari Hanaya dan Luna sudah berdiri cukup lama mendengarkan perdebatan antara Riko dan Dewi. Tapi Hanaya memilih untuk pura-pura tidak mendengar.
"Ayo, Luna buka wine nya, aku mengambil gelasnya dulu." Hanaya berlari ke mini bar untuk mengambil gelas minuman.
Hanaya merasa agak sedikit cemburu, karena dia berpikir Riko dan Dewi juga dekat, dan bisa-bisanya mampir kerumah Riko pada saat tengah malam, Hanaya bertanya-tanya dalam hati, sampai manakah hubungan Riko dan Dewi.
Hanaya membawa empat buah gelas ditangannya, lalu mengisinya dengan wine, dia mengisi gelasnya lebih banyak wine, sehingga membuat Riko cemas.
"Hana, kamu yakin untuk meminumnya..? alkohol nya tinggi lho..!!"
Hanaya tidak menggubris ucapan Riko. Satu persatu gelas berisi wine di berikan oleh Hanaya kepada Dewi dan Luna, tetapi untuk Riko dia membiarkannya untuk mengambil sendiri.
"Ayo, kita bersulang.."
Melihat tingkah konyol Hanaya. Luna menjadi tau jika Hanaya cemburu kepada Dewi. Tapi menurut Luna , Dewi bukan lagi teman yang baik. dia sudah menebak apa yang ada dipikiran Dewi saat ini.
Hanaya menghabiskan sekali tenggak wine yang hampir memenuhi gelasnya. sehingga membuat Luna, Dewi, dan Aryan kaget.
"Waah, Hana sudah memiliki kemajuan yang pesat ya..!!" Dewi memberikan semangat kepada Hanaya.
Hanaya kembali menuangkan wine ke gelasnya, lalu meminumnya lagi, Hanaya mulai tidak terkendali, namun dia menuangkan lagi wine kedalam gelasnya. Tapi kali ini di cegat oleh Riko.
"Udah Hana, kamu sudah mabuk, jangan diteruskan lagi." Aryan merebut gelas wine dari tangan Hanaya.
"Eh, ada kak Riko." Hanaya menghampiri Riko ketempat duduknya.
"Hana, masuk ke kamar yuk kamu sudah terlalu banyak minum" Luna menjadi sedikit takut.
"Kak Riko orang yang paling baik, pengganti kak Aryan yang jauh di negri orang, Kamu datang dengan sesuatu yang bisa membuatku senang.." Hanaya mulai tak terkendali.
Melihat Hanaya yang sudah diluar kendali, membuat Riko semakin tidak tenang, dan memilih untuk pergi dari rumah tersebut.
Namun Hanaya menghalanginya.
"Kamu mau pergi kemana, kamu harus mendengarkan apa yang akan aku katakan."
Hanaya menarik baju Riko, sehingga kancing baju yang terpasang rapi, sekarang terlepas, dan membuat setengah tubuh nya terlihat jelas.
"Kakak tau, aku sangat menyukai aroma tubuh mu, sehingga aku sering terlelap dipundak mu, kamu tau sarapan yang kakak buatkan untuk ku, aku juga sangat menyukainya, dan itu semua mengingatkan ku kepada seseorang yang aku cintai, kamu tau saat kamu menggendong ku dengan santai dari mobil sampai ke kamar, aku membiarkan mu karena aku suka aroma itu, aroma yang mengingatkan aku dengan dia yang selalu memperhatikan ku sama seperti kakak, yang selalu membuatku merasa nyaman."
Hanaya benar-benar sudah diluar kendali, Riko ,Luna, dan Dewi terpaksa hanya diam dan mendengarkan saja. Mereka berpikir ini mungkin ******* dari semua kejadian yang dia alami.
"Dan sekarang mama sudah menikah, dengan orang yang mencintainya, aku ikut bahagia jika mama bahagia, aku juga ingin mempunyai kisah seperti itu, tapi papa yang kesepian seorang diri disana, mereka melupakan papa, hanya aku yang mengingatnya." Hanaya menangis sejadi-jadinya.
"Dan kamu kak, yang menghiburku, memelukku, dan menenangkan aku, aku benar-benar seperti dicintai, dan di perhatikan."
"Aku memang mencintaimu Hana." Riko memegang tangan Hanaya sangat kuat.
"Apa, Cinta..? Kamu tidak salah..? jika kamu benar-benar cinta sama aku, kenapa Dewi bisa berada dirumah kamu saat tengah malam..??" Hanaya berteriak.
Luna segera menutup mulut Hanaya. dia tidak enak dengan ucapan Hanaya yang sedang mabuk, sementara Dewi hanya bisa menundukkan kepalanya.
"Dari awal aku tidak menyukai kamu, aku hanya menganggap kamu sebagai kakak ku, tidak lebih, kemarin pun masih sama, tapi disaat aku mulai mempunyai rasa dan ingin melupakan dia kamu malah bermain dengan sahabatku sendiri.." Hanaya mulai oleng, dan melemah.
"Lun kita bawa Hanaya ke kamarnya." Riko pun memapah Hanaya untuk masuk ke kamar.
Dewi yang merasa menyesal, telah membenci Hanaya memilih pulang tanpa pamit.
"Sorry Rik, aku nggak bakalan tau Hanaya jadi kaya gini." Luna merasa bersalah.
"Hanaya itu tidak bisa minum, masa kamu sebagai sahabatnya tidak tau hal itu." Riko sedikit menyalahkan Luna.
"Hati ini sakit karena tiga orang yang sangat aku sayang...!!" Hanaya masih saja mengigau."
Riko penasaran dengan seseorang yang ingin di lupakan Hanaya, lalu bertanya kepada Luna.
"Apa kamu tau Lun, siapa yang dimaksud DIA oleh Hanaya..?"
"Nggak tau, selama ini aku tau Hanaya itu jomblo, meskipun banyak yang suka sama dia, satu-satunya laki-laki yang dikagumi adalah idolanya SUGA. dia benar-benar tergila-gila kepada SUGA."
"Kak nanti dulu perginya, aku masih ingin merasakan Yoongi ada disini." Hanaya bangun dan langsung memeluk Riko.
Riko akhirnya tau orang yang dimaksud oleh Hanaya adalah min Yoongi atau lebih dikenal sebagai SUGA.
Ternyata Hanaya masih saja dengan fantasinya, dan membuat Riko merasa agak sedikit aneh, dia ingin membawa Hanaya ke psikiater.
"Kak Riko kamu jahat, ternyata bukan aku saja, tetapi ada yang lain, dan yang lain itu adalah Dewi sahabat aku sendiri."
Riko dan Luna masih saja mendengarkan ocehan Hanaya, dengan matanya yang terpejam.
Riko tersenyum, mendengar perkataan Hanaya, didalam hatinya dia berkata.
"apakah kamu benar-benar menyukai ku sekarang,?"
__ADS_1