
Di saat semuanya tengah makan siang bersama dan tertawa, Robert yang baru pulang dari kantor terlihat bingung karena suasana rumah sangat berbeda.
"Ada apa ini?" tanya Robert heran.
Diana tersenyum dan bangkit dari tempat duduknya, ia langsung meminta suaminya untuk duduk di meja makan. Ia langsung menceritakan tentang Laysa yang sebentar lagi akan menjadi Nyonya besar keluarga Nugraha.
Robert yang mendengar hal itu sangat senang dan merasa bangga, ia langsung mengeluarkan kartu kredit miliknya dan meminta Laysa menggunakan untuk membeli pakaian dan barang-barang mewah.
Rachel yang melihat kesenangan dari kedua orang kandungnya, tapi Rachel sangat penasaran tentang alasan Laysa atas kebohongan nya kelak.
"Laysa, jadi kapan kau akan menikah dengan Jeki?" tanya Rachel dengan wajah penasarannya.
Laysa terdiam dengan mata yang sedikit bingung, tapi ia tetap tersenyum manis. "Mungkin untuk pernikahan masih terlalu dini," jawab Laysa.
"Iya, Laysa itu masih kecil dan dia belum lulus kuliah." Bela Diana dengan tatapan mata yang sinis ke arah Rachel.
__ADS_1
"Lalu kapan kau akan memperkenalkan keluarga kita pada calon suami mu?" tanya Rachel dengan wajah polosnya.
Laysa langsung di buat bingung dengan pertanyaan dari Rachel, "Mungkin nanti karena waktu itu pun pertemuan kami sangat singkat, dan aku bahkan tidak lagi bertemu dengannya."
"Tapi kau pasti punya nomor handphonenya, bagaimana jika sekarang kau hubungi pria itu dan minta dia ke sini sekarang. Memangnya kau tidak ingin memperkenalkan kekasih ku kepada kami dan pastinya orang tua kita akan sangat senang jika bertemu dengan calon menantunya." Ucap Rachel yang di setujui oleh Robert dan juga Diana.
Laysa langsung terdiam dengan tangan yang sedikit gemetar, ia perlahan mengambil handphone nya dan pura-pura menghubungi seseorang.
Dengan senyuman hangat dan lembut Laysa terus menghubungi nomor orang lain, "Maaf, sepertinya dia sedang sibuk. Mungkin lain kali aku akan coba hubungi dia lagi." Jawab Laysa dengan wajah yang sedih.
"Maaf Ma, aku tidak bisa membawa Jeki ke sini dan memperkenalkannya kepada kalian karena kami juga baru bertemu satu kali." Laysa langsung menangis dengan perasaan bersalah kepada kedua orang tua.
Diana dengan lembut langsung membawa Laysa pergi ke dalam kamar untuk menenangkannya.
Robert pun melihat ke arah Rachel yang tengah makan tanpa rasa sedih ataupun senang, wanita itu terkesan acuh dan tidak peduli tentang Laysa.
__ADS_1
"Apaan kau ini? Kau malah bertanya seperti itu kepada Laysa? Dan sekarang kau lihat, adik mu menangis dan semua itu salah mu!" Ucap Robert yang menyalahgunakan Rachel.
"Maaf Pa, aku juga tidak tahu jika Laysa akan menangis seperti itu."
"Sebaiknya sekarang kau jaga mulutmu itu, jika sampai Tuan Jeki tahu kau selalu membuat masalah dengan calon istrinya, bisa-bisa kau akan di habisi dan hidup mu akan menderita." Ancam Robert yang langsung pergi meninggalkan Rachel sendirian di ruang makan.
Laysa yang berada di dalam kamar bersama dengan Diana, tengah menangis. Diana hanya bisa membujuk dan menghibur putrinya yang tengah menangis.
"Ma, seperti Kakak tidak suka kepada ku. Pertanyaannya tadi terdengar seperti aku seorang pembohong."
Laysa langsung mengadukan hal itu kepada Diana yang membuat Diana semakin kesal dan emosi kepada Rachel.
"Sudah sayang, nanti biar Mama kasih pelajaran untuk kakak kamu." Hibur Diana.
Laysa langsung menggelengkan kepalanya, "Enggak Ma, aku gak mau hubungan Mama dan Kakak malah jadi semakin renggang gara-gara aku. Jadi tolong jangan hukum Kakak," pinta Laysa dengan nada lembut dan tangan yang menggenggam erat tangan Diana.
__ADS_1
Diana menghela nafas, ia tersenyum seraya mengelus rambut Laysa. "Kamu memang anak yang sangat baik, bahkan kau masih memikirkan Kakak mu yang jelas-jelas ingin mempermalukannya mu dan berbuat jahat kepada mu, sayang." Puji Diana yang sangat bangga dengan Laysa.