
Jeki duduk diam di atas sofa, matanya menatap ombak lautan yang sedang mengamuk. Sebatang rokok menemani hari-harinya saat ini, entah kenapa firasat nya semakin tidak enak hari demi hari.
"Apa ada kabar dari Rachel?" Tanya Jeki karena sudah beberapa hari ia, tidak menerima kabar dari wanita itu.
"Tidak ada." Jawab Natalia, Jeki melirik ke arah Natalia ia mengerutkan keningnya saat melihat pakaian Natalia yang cukup ketat dan seksi bahkan hampir memperlihatkan bagian tubuhnya yang lain.
"Kau boleh pergi." Jawab Jeki.
Natalia langsung keluar dari ruangan Jeki, tangan kanannya mengepal seakan menahan amarah. Di saat ia bejalan, Natalia melihat Sam tengah berjalan dengan tergesa-gesa. Wanita itu langsung menghentikan langkah Sam.
"Ada apa?" tanya Natalia dengan mata yang melirik ke arah benda di tangan Sam.
"Ada kabar buruk, sebaiknya kau minggir." Jawab Sam, tapi Natali langsung menghentikan langkah pria itu.
"Kabar buruk apa?" Tanya Natalia penasaran.
"Ini tidak ada hubungannya dengan mu, sebaiknya kau minggir. Aku tidak punya banyak waktu,"
__ADS_1
Natalia tidak mau pergi, ia terus mendesak Sam agar mengatakan apa yang sedang terjadi. "Ini terkait Rachel, dan sebaiknya kau minggir. Aku harus menyampaikan hal ini pada Jeki."
Mendengar nama Rachel, membuat Natalia memegang tangan Sam. "Apa yang terjadi pada wanita itu?" tanya Natalia.
"Kau akan tahu nanti." Jawab Sam.
"Aku ingin tahu sekarang."
Sam langsung memperlihatkan video yang di kirim oleh Brian kepadanya, video tentang Rachel yang berlumuran dan dan tengah meminta pertolongan. Di saat tengah menonton, Natalia langsung merebut video handphone milik Sam. Ia menghapus video tersebut sampai tidak ada lagi.
Natalia menatap dingin ke arah Sam, "Harusnya aku yang bertanya, apa yang kau lakukan? Apa kau ingin kita terlibat lagi dengan orang itu? Apa kau ingin Jeki semakin menderita karena wanita itu?" Tanya Natalia dengan tatapan mata yang tajam, kemarahan terpancar jelas di kedua matanya.
"Tapi Jeki harus tahu, apa yang terjadi pada Rachel." Jawab Sam.
"Dia tidak perlu tahu." Jawab Natalia, tapi Sam tidak peduli ia berjalan melewati Natalia.
Tapi mata Sam tiba-tiba membulat sempurna, ia memegang perutnya yang sudah memerah dengan darah. Sebuah pisau sudah tertancap pada punggungnya hingga tembus ke depan, Sam seketika terjatuh dengan tubuh yang berlumuran darah.
__ADS_1
"Aku sudah mengatakan kepadamu, tapi kau malah tidak menuruti ku. Jadi jangan salahkan aku," ucap Natalia dengan tatapan dingin.
Sam terus berusaha menahan rasa sakit di perutnya, tapi darah terus mengalir keluar tanpa henti. Perlahan kesadarannya langsung menghilang, Natalia menatap dingin rekan sejawatnya tergeletak tak berdaya di atas lantai.
Ia langsung memanggil anak buahnya yang setia, mereka sedikit terkejut saat melihat Sam sudah tergeletak dengan darah yang mengalir.
"Kalian jangan banyak tanya, cepat bereskan mayat pria itu dan jangan sampai Jeki tahu masalah ini." Ucap Natalia.
Anak buah Natalia hanya bisa menurut, mereka tahu bagaimana kejamnya Natalia saat ada seseorang yang melanggar perintah atau ucapannya.
"Tapi bagaimana jika Bos menanyakan tentang Sam?" Tanya salah seorang, Natalia berbalik dengan tatapan dingin.
"Katakan saja jika pria itu belum pulang dari tugas sebelumnya," jawab Natalia.
Wanita itu melihat jasad Sam di seret menuju lantai bawah tanah, beberapa bawahannya yang lain langsung membersihkan darah yang mengotori lantai.
"Jangan biarkan orang-orang tahu tentang hal ini, jika mereka tahu. Kalian semua yang akan menanggung hal ini." Ancam Natalia.
__ADS_1