
Rachel membuka matanya, ia melihat selang infus terpasang di tangannya. Matanya menatap ke sekeliling, tempat asing yang baru ia lihat.
"Rachel," terdengar suara panggilan dari seseorang yang sangat ia kenal, Rachel menatap tajam dan penuh amarah.
Tak ada sautan dari mulut Rachel, ia memilih diam dan berbalik seakan tak mendengar panggilan dari Diana. "Rachel, apa kau baik-baik saja sayang?" Diana mendekat, ia tersenyum dan berusaha untuk menenangkan Rachel. Tangan kanannya hendak membelai rambut Rachel yang berantakan, tapi tangannya seketika di tepis oleh Rachel.
"Sebaiknya kau pergi, aku ingin sendiri." Jawab Rachel dengan wajah yang melihat ke arah lain.
"Rachel, Mama minta maaf." Diana kembali membujuk Rachel, tapi ia memilih untuk diam dan tidak menjawab. "Rachel." Diana tidak berhenti begitu saja, ia kembali mendekati Rachel dan duduk di depan gadis itu.
"Ada apa lagi, Ma? Sebaiknya kau pergi dan tangisi saja putri mu itu. Jangan pedulikan keadaan ku karena Laysa adalah yang nomor satu untuk mu." Rachel melupakan amarahnya, ia mendorong tubuh Diana dengan pelan.
Marah dan kecewa sudah menyelimuti hatinya, Diana menatap nanar putri sulungnya. "Mama minta maaf." Diana bangkit dan berjalan keluar dari ruang rawat Rachel.
__ADS_1
Rachel melihat kepergian Diana yang menghilang di balik pintu, air matanya tiba-tiba mengalir begitu saja. Ia tidak bisa menahan kesedihan di hatinya yang terus bergejolak, hingga seorang Dokter masuk ke dalam ruang rawat.
"Nona Rachel, anda sudah sadar." Dokter berjalan menghampiri Rachel, ia memeriksa keadaan Rachel.
"Ada apa dengan ku?" tanya Rachel karena ia tidak tahu alasan dirinya di bawa ke rumah sakit.
"Anda pingsan karena mengalami stres, tapi untungnya kondisi bayi anda baik-baik saya." Jelasnya yang membuat Rachel bernafas lega, setidaknya bayi kecilnya baik-baik saja.
"Dia baik-baik saja, hanya saja jangan biarkan dia mengalami stres yang berlebihan, hal itu bisa berdampak pada keadaan janin yang ada di dalam kandungannya." Jelas Dokter.
Diana bisa bernafas lega, ia kini duduk di kursi ruang tunggu. Hatinya terasa sangat sakit, rasa bersalah terus menghantuinya. Ia menyesal telah melakukan hal itu pada Rachel. Rasa marahnya saat itu membuat dirinya seakan buta dan malah melampiaskan semua ini pada Rachel.
Dewa berjalan dengan langkah pelan, ia menghela nafas sendu saat melihat istrinya tengah duduk dengan air mata yang terus mengalir tanpa henti.
__ADS_1
"Sebaiknya kau beristirahat." Dewa duduk di samping Diana, ia mengelus punggung istrinya dan berusaha menenangkan Diana.
Diana menggelengkan kepalanya, "Aku ingin menjaga Rachel, aku takut dia butuh sesuatu." Jawab Diana dengan senyuman sendu.
"Akan ada suster yang menjaga gadis itu, kau juga harus menjaga kesehatan mu. Jika kau terus begitu, penyakit mu akan makin parah." Dewa menatap nanar istri tercintanya.
"Jangan bahas hal itu, bagaimana jika Rachel mendengarnya." Diana berjalan menjauh dari ruang rawat Rachel, Dewa mengikuti langkah kaki istrinya.
"Mau sampai kapan kau menyembunyikan penyakit mu dari anak-anak kita." Ucap Dewa dengan mata yang berkaca-kaca, ia seakan tidak bisa menahan kesedihan yang mendalam saat mengetahui istrinya tengah sakit parah.
"Kenapa kau menangis, tersenyum lah untuk ku jangan perlihatkan air mata itu di depan ku. Aku tidak ingin di kasihani, Mas." Pinta Diana dengan tangan yang menghapus air mata Dewa.
Dengan senyuman manis dan perasaan yang terus campur aduk, Dewa memeluk Diana dan berjanji akan menjaganya. "Sekarang kau beristirahat, aku tidak ingin hal buruk terjadi kepada mu."
__ADS_1