
Sam berjalan dengan langka cepat, kedua tangannya membawa beberapa berkas milik Jeki. Ia langsung membuka ruang kerja pria itu, tatapannya menuju ke arah Jeki yang tengah duduk dengan sebotol wine.
"Aku melihat Rachel keluar dari ruangan mu dengan keadaan menangis, apa yang sebenarnya terjadi?" Tanya Sam penasaran, ia menyimpan dokumen yang ia bawa di atas meja dan tatapannya masih tertuju pada sosok Jeki.
"Rachel hamil dan dia ingin aku menikahinya." Jawab Jeki yang kembali meneguk wine miliknya.
"Jadi kau menikahinya."
Jeki tertawa dengan tangan yang memegang botol wine, "Tidak." Jawabnya singkat.
"Kenapa, bukankah kau mencintai wanita itu?" tanya Sam.
Jeki melirik ke arah Sam, "Apa kau lupa yang terjadi kepada Kakak ku 5 tahun silam?" tanya Jeki yang kembali mengingat 5 tahun lalu.
Sam terdiam, ia tahu betul apa yang terjadi pada Kakak Jeki yang kini sudah meninggal.
"Jika aku menikahi Rachel, bisa saja wanita itu bernasib sama seperti istri Kakak ku. Aku ingat bagaimana keadaan pria itu setelah kematian istrinya, dia menjadi gila." Jawab Jeki yang kembali meminum wine miliknya.
"Tapi kau dan Jacob itu berbeda, kau lebih kuat darinya." Jawab Sam.
Jeki tertawa dengan nada mengejek, "Apa kau lupa, bagaimana kuatnya Jacob saat itu. Ia bahkan di siapkan untuk menjadi pewaris, tapi hanya karena seorang wanita. Ia berakhir menjadi orang gila yang tidak berakal." Jawab Jeki.
__ADS_1
"Tapi kau bisa melindungi Rachel, jika dia menjadi istri mu. Kau pasti bisa melindunginya," jawab Sam.
"Semakin aku berusaha untuk melindunginya, dia akan semakin mudah untuk di sakiti. Musuh-musuh ku akan menjadikan wanita itu sebagai kelemahan ku dan Rachel adalah kelemahan terbesar ku."
"Tapi apa kau tidak memikirkan perasaan Rachel?" tanya Sam.
"Aku lebih memikirkan hidupnya daripada perasannya, jika dia bersama ku. Ia akan lebih menderita, hidup di bawah ancaman yang terus datang setiap hari dan bisa saja dia akan kehilangan nyawanya." Jeki terdiam sesaat, ia memejamkan matanya dan menghela nafas dengan perlahan.
"Aku tidak bisa berbohong, setelah kematian Kakak ku dan setelah kematian ayah ku. Orang-orang yang menjadi musuh ku terus menyerang tanpa henti, mereka terus mencari titik lemah ku dan jika aku menikah dengan Rachel mereka akan menargetkan wanita itu sebagai kelemahan ku." Sambung Jeki.
"Tapi apa kau tidak akan menyesali semua ini, kau telah menyakiti hatinya. Aku yakin sekarang dia pasti sangat membencimu." Ucap Sam.
Jeki tersenyum, ia kembali meminum wine miliknya. "Aku lebih baik di benci olehnya, daripada melihatnya mati di pelukanku sama seperti Aulia yang mati di pelukan Jacob."
Orang-orang yang ingin balas dendam kepada Jacob menjadikan Aulia sebagai kelemahan Jacob, mereka menyiksa dan bahkan mengeluarkan bayi yang ada di dalam perut Aulia tepat di depan mata Jacob yang membuat pria itu akhirnya gila.
"Apa yang menimpa Aulia dan Jacob, adalah takdir dan kau tidak mungkin mengalami hal seperti itu." Jawab Sam.
"Emm.. Apa yang menimpa mereka berdua adalah kelalaian Jacob, dia tidak bisa menjaga istri dan anaknya. Dan lagi, orang-orang yang melakukan hal itu bukan manusia."
"Iya aku tahu, dan mereka masih berkeliaran di sini."
__ADS_1
"Iya dan mereka sedang menunggu untuk kembali menyerang ku, aku akui. Aku memiliki banyak musuh, tapi tidak ada yang lebih kuat dari pria itu. Bahkan Dewa lebih baik darinya, dia tidak kenal ampun pada siapapun." Jawab Jeki dengan tatapan mata yang serius.
"Aku baru mendapatkan informasi baru, mereka sudah menyuap para polisi di kota ini dan mungkin pergerakan kita akan semakin sulit untuk kedepannya."
Jeki menghela nafas, ia tahu ada saatnya ia akan terpuruk. Terlebih ia tahu, siapa musuhnya yang sekarang bukanlah pria biasa seperti Dewa maupun Andrew.
"Musuh kita yang sekarang sangatlah berbahaya." Jawab Sam mengingat bagaimana mendiang ayah Jeki dan Jacob hampir kewalahan melawan orang itu.
Jeki tersenyum dan menghela nafas, "Jadi bagaimana rencana kita kedepannya?" tanya Sam.
"Kita akan mundur untuk beberapa saat dan mempersiapkan semuanya dengan matang." Jawab Jeki yang langsung bangkit dari tempat duduknya.
"Ini keputusanmu?" Tanya Sam sedikit terkejut.
"Untuk saat ini aku belum bisa menghadapi pria itu, terlebih ia akan mencari informasi tentang ku dan bisa saja Ia tahu jika Rachel mengandung anak ku." Jawab Jeki dengan senyuman di wajahnya.
"Di saat seperti ini kau masih memikirkan wanita itu."
"Dia segalanya untuk ku, aku tidak ingin melihatnya terluka." Jawab Jeki yang melihat handphone miliknya, ia menatap foto Rachel yang nampak cantik saat sedang tidur.
"Baiklah, aku akan menyiapkan semuanya hingga kepergian kita ke luar negeri." Jawab Sam dengan menghela nafas.
__ADS_1
"Dan satu lagi, hapus semua informasi ku dengan Rachel. Jangan sisakan satupun," ucap Jeki dengan tatapan mata serius.
Sam hanya tersenyum kaku dan menganggukkan kepalanya lalu pergi meninggalkan ruang kerja Jeki.