Gadis Cantik Milik Sang Mafia

Gadis Cantik Milik Sang Mafia
Bab 39


__ADS_3

Dewa dan Diana kebingungan dengan keberadaan Rachel yang tidak mau kemana, hari ini mereka ingin memotong kue sebagai tanda jika Rachel telah kembali datang tapi wanita itu malah menghilang tanpa jejak sama sekali.


"Andrew, coba cari lagi Rachel. Ini acara yang penting untuk kalian berdua," ucap Dewa yang bingung.


"Aku sudah memerintahkan anak buah ku, tapi mereka tidak menemukan Rachel. Mungkin dia sudah pulang atau sedang jalan-jalan keluar." Jawab Andrew yang sama sekali tidak peduli dengan urusan Dewa.


"Anak itu, kemana dia pergi." Ucap Dewa yang bingung dan kesal.


Ia lalu berjalan ke aula pesta dan menemani tamu undangan yang hadir, Andrew hanya diam dan tidak peduli dengan acara yang sedang di gelar.


Pria itu langsung berjalan masuk ke dalam kamar dan mengganti pakaiannya dengan pakaian biasa, tanpa di temani oleh anak buahnya Andrew berjalan keluar dari gedung acara.


Keesokan harinya...


Rachel terbangun dengan tubuh yang terbungkus selimut, selama semalam ia menghabisi malam bersama Jeki hingga akhirnya tertidur.


"Arg.. Sial, Jeki." gumam Rachel yang kesal karena pria itu ia harus terbangun dengan keadaan seperti ini.


Rachel langsung berjalan ke kamar mandi, ia sudah tidak melihat Jeki karena pria itu pagi-pagi buta langsung pulang dan tak lupa berpamitan kepada Rachel.


Setelah selesai membersihkan tubuhnya, Rachel langsung mengambil pakaian yang sediakan oleh Jeki untuknya.


Kini Rachel harus mencari alasan yang tepat untuk menghindari pertanyaan yang di lontarkan oleh Dewa dan Diana.


Rachel kini berada di depan rumah keluarga barunya, ia berjalan perlahan dan berharap agar tidak ada orang yang melihatnya.

__ADS_1


"Rachel." Terdengar suara menggema di rumah yang besar, Rachel hanya tersenyum dan pasrah dengan nasibnya.


"Iya Ayah?" tanya Rachel dengan memasang wajah polos.


"Darimana saja kamu? Tadi malam kami mencari mu dan kau malah menghilang tanpa kabar." Ucap Dewa.


Rachel tersenyum bingung, "Teman ku mengajak ku keluar karena dia ada urusan penting dan aku harus membantunya."


"Hanya karena itu, kau meninggalkan acara penting seperti tadi malam?" tanya Dewa kesal.


"Sudahlah Ayah, aku malas berdebat." Jawab Rachel yang langsung pergi meninggalkan Dewa dan masuk ke dalam kamarnya.


Andrew yang baru keluar dari kamar tersenyum tipis saat melihat Dewa yang di abaikan oleh Rachel.


Andrew yang ingin bersantai langsung keluar dari rumah dengan pakaian biasa, kaos putih dengan celana hitam. Ia terlihat seperti seorang pria biasa yang tidak terlihat kayak raya, tatapan mata Andrew tertuju pada sebuah cafe yang baru buka.


"Selamat datang, ada yang bisa saya bantu?" tanya Laysa yang kini baru bekerja menjadi seorang pelayan di cafe teman lamanya.


Andrew menatap pelayan di depannya, ia terdiam saat menyadari jika wanita itu adalah wanita yang menangis di tengah hujan waktu itu.


"Aku ingin pesan ini dan ini." tunjuk Andrew dengan nada dingin.


"Baik, mohon di tunggu." Jawab Laysa yang langsung pergi meninggalkan Andrew.


Tapi langkah Laysa langsung terhenti saat melihat 4 orang wanita berjalan ke arahnya, "Hey.. Hey.. Siapa nih?" tanya wanita dengan tampilan cantik.

__ADS_1


"Bukannya ini Laysa, di wanita kaya raya. Tapi sekarang liat, dia jadi pelayan cafe. Hahahah.." Ejek teman-temannya yang lain.


Laysa hanya tersenyum tipis dan enggan untuk membalas, ia kini hanya bisa menerima keadaannya yang seperti ini.


"Ada yang bisa saya bantu?" tanya Laysa dengan senyuman ramah.


"Iya, gue mau pesen makanan yang paling mahal di sini dan gak pake lama."


"Baik, mohon di tunggu."


Laysa langsung berjalan menuju dapur dengan langkah cepat, Andrew hanya diam dengan mata yang melirik Laysa hingga wanita itu masuk ke dapur.


Waktu berlalu dengan cepat, Laysa yang sudah selesai bekerja langsung berjalan keluar dari cafe dengan wajah yang lelah.


Selama beberapa hari ia harus banting tulang sendiri untuk memenuhi kebutuhannya, kini kehidupannya sudah berubah 180°.


Hingga langkahnya terhenti saat melihat Andrew tengah duduk di trotoar jalan, melihat tampilan Andrew yang lusuh dan seperti orang miskin membuat Laysa menghela nafas.


"Ini." Laysa memberikan roti dan sebotol air mineral untuk Andrew.


Pria itu terdiam dengan tatapan mata yang bingung dengan sikap Laysa, "Ambil!" ucap Laysa dengan nada judes dan tatapan tidak ramah.


"Aku tidak..." Sebelum menyelesaikan perkataannya Laysa langsung memotong perkataan Andrew.


"Ambil saja jangan malu-malu, cepat ambil. Daripada kau mati kelaparan," ucap Laysa.

__ADS_1


Andrew perlahan mengambil makanan dari Laysa, wanita itu pun langsung pergi begitu saja meninggalkan Andrew yang diam dengan tatapan bingung dan senyuman tipis di wajahnya.


__ADS_2