Gadis Cantik Milik Sang Mafia

Gadis Cantik Milik Sang Mafia
Bab 57


__ADS_3

Pemakaman berlangsung dengan kesedihan yang mendalam, Andrew terdiam menatap sayu tanah kuburan di depannya. Diana tak henti-hentinya menangis, ia memeluk Dewa dan terus menangis melihat Laysa yang sudah terbaring di dalam tanah.


Rachel hanya diam, matanya berkaca-kaca tapi ingatan tentang makian Andrew terus terngiang-ngiang di kepalanya.


"Andrew, ayo." Ajak Dewa, tapi Andrew diam dan tak bergeming. Ia memilih untuk tinggal lebih lama lagi dan meminta yang lain untuk pergi duluan.


Rachel menatap sayu Andrew, pria yang selalu terlihat tegar dan keras. Kini pria itu menunjukkan sisi sebaliknya dari sikapnya selama ini, hati Rachel ikut sedih dan hancur. Ia tidak menyangka jika kemalangan menimpa Laysa dan semuanya di sebabkan oleh Jeki serta dirinya.


"Kak." Panggil Rachel dengan senyuman tipis.


Andrew sama sekali tidak tertarik membalas panggilan Rachel, ia memilih diam dan tetap memandang kosong tempat peristirahatan terakhir Laysa.


"Aku tahu, kau marah pada ku.." Rachel mulai berkaca-kaca, "Tapi percayalah, bukan hanya kau saja yang merasa kehilangan. Aku pun juga sama, dan aku tidak menduga jika semua ini terjadi karena ulah..."


"Cukup." Andrew langsung memotong perkataan Rachel dengan suara tegas, "Aku tidak ingin mendengarkan omong kosong mu itu, sebaiknya kau pergi. Keberadaan mu hanya membuat ku semakin marah."


"Tapi Kak.."


"Apa kau tuli?!" Teriak Andrew, Rachel bisa melihat tatapan mata penuh amarah dan kebencian yang luar biasa.


Rachel terdiam dengan kaki yang mundur beberapa langkah, tatapan mata Andrew membuatnya terintimidasi seketika. Rachel menghapus sisa-sisa air mata di kedua pipinya, ia berbalik dan pergi meninggalkan Andrew sendirian.


Di dalam rumah, Rachel merasa semua orang tengah hanyut dalam kesedihan yang mendalam. Rachel mencari keberadaan Diana, ia menemukan Diana tengah duduk di dekat kolam berenang dengan mata yang sayu dan bengkak.


"Ma." Panggil Rachel yang berjalan mendekat, ia duduk berhadapan dengan Diana.

__ADS_1


"Iya Rachel?" Diana tersenyum dan menghapus air matanya.


"Ma, aku ingin berbicara kepada mu." Diana menatap Rachel dengan tatapan penasaran, ia langsung menjelaskan jika Jeki pergi meninggalkannya karena ingin melindungi dirinya dari musuh yang akan membunuhnya karena memiliki hubungan dengan Jeki.


Rachel sedikit tersenyum senang saat mengetahui jika Jeki masih mencintainya, tapi Diana menatap Rachel dengan tatapan tajam. Tidak ada raut wajah senang ataupun bahagia pada Diana, ia seakan tengah menahan amarah yang luar biasa. Tanpa banyak bicara Diana bangkit dari tempat duduknya dan langsung pergi meninggalkan Rachel.


Rachel menatap Diana dengan wajah heran dan bingung, tidak biasanya Diana seperti itu kepadanya.


Hari ini menjadi hari yang sangat berat untuknya, ia melihat banyak orang-orang yang dilanda kesedihan atas kematian Laysa. Begitu juga dengan Diana yang menjadi salah satu orang yang menanggung kesedihan mendalam atas kematian Diana.


Mata Rachel melihat ke arah handphone yang dari tadi hanya tergeletak di atas ranjang, ia baru saja membeli handphone baru. Matanya menyipit saat melihat sebuah chat WhatsApp dari seseorang.


Tok.. Tok.. Tok..


Dengan nafas panjang Rachel langsung bangkit dan berjalan ke ruang makan, ia menatap meja makan yang kosong disertai beberapa hidangan.


"Dimana yang lain?" tanya Rachel heran karena tidak biasanya kedua orang tuanya melewatkan makan siang bersama.


"Tuan dan Nyonya sedang beristirahat." Jawab pelayan dengan kepala yang menunduk.


Rachel mulai diam, ia tahu apa yang menimpa keluarganya. Kematian Laysa membawa dampak yang luar biasa pada keadaan rumah yang awalnya hangat berubah menjadi sedih.


"Aku tidak lapar." Rachel memilih untuk melewatkan makan siang, dengan keadaan yang seperti sekarang. Nafsu makannya seketika menghilang dan ia memilih untuk berada di kamar.


Mata Rachel melihat Dewa yang berjalan keluar dari rumah, "Ayah." Panggil Rachel.

__ADS_1


Dewa melirik, ia terdiam dan menatap tajam ke arah Rachel.


"Kebetulan sekali, ada sesuatu yang ingin ku bicara denganmu." Dewa mengajak Rachel untuk berbicara di ruang kerja miliknya, Rachel bisa melihat tatapan berbeda dari Dewa.


"Ku dengar dari Diana, Jeki menghubungi mu lagi? Coba jelaskan." Dewa menatap Rachel dengan tatapan penuh selidik, Rachel langsung menjelaskan semuanya dari awal. Dan Rachel yakin jika Jeki masih mencintainya dan akan kembali padanya.


"Begitu. Jadi dia akan bertanggung jawab?" tanya Dewa dengan kepala yang menunduk.


"Iya ayah." Rachel tersenyum dengan rasa senang serta antusias yang tinggi.


"Lupakan pria itu." Tiba-tiba 3 kata keluar dari mulut Dewa, Rachel terdiam dengan tatapan tak mengerti.


"Apa maksudnya?" Rachel heran dan bingung, bukannya Dewa harus senang karena anaknya tidak akan melahirkan tanpa seorang suami.


"Aku tidak Sudi menerima pria itu sebagai menantu ku." Dewa menatap tajam ke arah Rachel, aura dingin dan penuh kemarahan mulai terasa.


"Kenapa, bukankah kau bilang akan menerima Jeki. Aku yakin dia tidak akan menyakiti ku."


"Aku tidak peduli dia menyakiti mu atau tidak, tapi dia telah membuat keluarga ku bersedih. Dia membuat istri ku terus menangis dan dia membuat anak laki-laki ku menjadi manusia tanpa jiwa." Dewa menatap tajam ke arah Rachel, kemarahan terlihat jelas.


"Kematian Laysa bukanlah salah Jeki, semua ini salah orang itu."


"Tapi Jeki yang menuntun mereka membunuh Laysa dan membuat Andrew menjadi gila, Andrew anak ku yang paling berani dan keras. Sekarang dia seperti orang gila, seperti manusia tanpa jiwa dan semua ini gara-gara pria bernama Jeki yang menuntun mereka membunuh Laysa."


Rachel terdiam dengan tatapan kesal dan marah, Dewa langsung meminta Rachel untuk keluar dari ruang kerjanya.

__ADS_1


__ADS_2