
Rachel berjalan pelan memasuki rumah besar, ia tidak ingin membuat orang-orang tahu jika dirinya baru pulang.
Tapi melihat ke kanan dan ke kiri, Rachel langsung berjalan ke kamarnya.
Hingga saat sarapan semua orang nampak menikmati makanan yang sudah di sediakan, "Kak semalam kau tidak pulang yah? Aku sangat merindukanmu loh." Ucap Laysa dengan senyuman lembut dan manis.
Rachel seketika terdiam, Diana dan Robert langsung melihat ke arah Rachel saat mendengar perkataan dari Laysa.
"Semalam kau tidak pulang? Darimana kau?" tanya Diana.
"Aku menginap di rumah Via karena ada tugas yang harus ku kerjakan bersamanya." Jawab Rachel dengan tegas.
"Tapi tadi aku melihat Kakak pulang pagi dengan menggunakan pakaian bermerek." Celetuk Laysa dengan wajah polosnya.
Rachel langsung menatap ke arah Laysa, "Jadi jawab dengan jujur darimana kau tadi semalam?" tanya Diana.
"Aku sudah jujur, dan pakaian itu milik Via. Aku meminjamkannya karena pakaian ku kotor," jawab Rachel dengan tegas.
Robert langsung menengahi perdebatan antara Diana dan Rachel, ia meminta keduanya untuk kembali makan.
Laysa hanya tersenyum manis dan kembang memakan makanan miliknya, hingga sarapan pun selesai dan Rachel memilih untuk pergi ke kamar tidurnya.
Pikiran Rachel masih teringat dengan kejadian waktu itu, dimana ia kehilangan kesuciannya. Air mata Rachel tiba-tiba kembali mengalir, ia takut jika dirinya hamil tanpa seorang suami.
Rachel mulai membuka pakaiannya, ia bisa melihat tanda merah yang di berikan oleh pria misterius itu kepadanya.
__ADS_1
Tapi terdengar suara ketukan di pintu kamar Rachel, wanita itu bergegas kembali menggunakan pakaiannya dan langsung membuka pintu kamar.
Laysa berdiri di depan kamar Rachel dengan senyuman lembut dan hangat, "Kak aku membawakan cemilan untukmu." Ucap Laysa dengan menyodorkan kantong plastik.
"Terimakasih."
Laysa tiba-tiba langsung masuk ke dalam kamar Rachel, "Wah.. Kamar Kakak tapi banget." Puji Laysa.
Rachel hanya tersenyum kaku, ia langsung meminta Laysa untuk keluar dari kamarnya karena ia ingin beristirahat.
Setelah Laysa pergi Rachel kembali berbaring, tapi ia merasakan ada benda asing di lehernya.
Tangannya mulai meraba-raba kalung yang dari tadi sudah ada di lehernya, Rachel menatap bingung dan heran kalung tersebut karena ia sama sekali tidak pernah menggunakan kalung itu.
"Kalung siapa itu?" tanya Rachel, ia langsung berjalan ke arah cermin melihat sebuah kalung dengan cincin yang tergantung di dalamnya.
Matanya mulai menatap lekat-lekat cincin yang tergantung di kalung itu, Rachel bisa menebak jika ini adalah cincin pria karena ukurannya yang lumayan besar dan desainnya yang unik.
"Apa ini milik pria yang waktu itu?" Pikir Rachel.
Rachel yang kesal dan marah langsung melemparkan kalung dan cincin tersebut ke tong sampah, mengingat pria itu membuat hati Rachel semakin sakit dan marah.
"Pria gila, dia kira aku wanita murahan."
Rachel kembali menangis dan marah atas apa yang dilakukan oleh pria asing itu kepadanya.
__ADS_1
Rachel pun mulai bangkit dan pergi ke dapur untuk mengambil air minum, tapi matanya tidak sengaja melihat Erik yang berada tidak jauh dari tempatnya.
"Rachel." Panggil Erik, tapi Rachel memilih pergi dan mengabaikan pria itu.
Erik langsung berjalan dan menarik baju kemeja Rachel yang membuat kancing bajunya lepas dan menampilkan leher bagian bawah dan dada yang terdapat tanda merah.
Erik menatap dengan mata terkejut dan marah, "Siapa pria itu?" tanya Erika kesal.
Rachel langsung membenarkan pakaiannya dan enggan untuk meladeni Erik, tapi pria itu lagi-lagi menahannya.
"Selama berpacaran dengan ku, kau bahkan tidak pernah mengizinkan ku untuk menyentuh mu!?" Ucap Erik dengan amarah yang meluap-luap, dadanya terasa panas jika membayangkan Rachel yang bermesraan dengan pria itu.
"Itu bukan urusanmu, mau aku dengan siapapun itu. Hal itu sudah tidak ada hubungan nya lagi dengan mu!"
Rachel langsung pergi begitu saja meninggalkan Erik yang menatap kesal dan marah.
Laysa yang baru datang menatap heran Erik yang seperti sedang menahan amarah.
"Kak Erik?" Panggil Laysa.
Erik tersadar dari amarahnya, ia langsung tersenyum ke arah Laysa dan segera memegang tangannya.
"Kak Erik kenapa?" tanya Laysa dengan wajah polos dan sedih.
"Aku tidak apa-apa, bagaimana jika kita pergi sekarang?"
__ADS_1
Laysa langsung tersenyum senang dan menggandeng pria yang kini merupakan kekasihnya.