
Andrew berjalan dengan langkah pelan, kedua tangannya menggendong tubuh Laysa yang sudah tidak bernyawa.
Rachel melihat ke arah Andrew dengan tatapan terkejut, tubuh Andrew yang babak belur dengan darah di setiap pakaiannya.
Tapi mata Rachel langsung melihat ke arah wanita yang berada dalam pangkuan Andrew.
"Andrew, apa yang terjadi?" Dewa yang baru datang langsung menghampiri Andrew.
Pria itu hanya diam dengan tatapan mata yang kosong, raut wajah sedih terpancar jelas di wajah Andrew.
"Laysa."
Diana berjalan dengan cepat saat menyadari jika wanita yang ada di pangkuan Andrew adalah Laysa. Mata Diana langsung berkaca-kaca, ia tidak bisa berbicara satu katapun saat melihat kondisi Laysa.
"Laysa telah mati?" tanya Diana dengan mata yang berkaca-kaca.
__ADS_1
Andrew hanya diam dan tidak menjawab, ia kembali berjalan menuju kamar tidurnya tanpa memperdulikan semua panggilan orang-orang kepadanya.
Andrew terdiam dengan mata yang sayu, tatapannya tertuju pada sosok Laysa yang terbaring di atas ranjang. Tubuh cantiknya kini telah kaku dan dingin, Dewa menatap tajam ke arah Andrew.
Ia berjalan menghampiri Andrew dan meminta pelayan untuk menutup pintu kamar, kini Andrew dan Dewa saling berhadapan. "Apa yang sebenarnya terjadi?"
Andrew hanya diam dan tidak menjawab, ia seperti orang yang telah kehilangan jiwanya. Seketika suara tamparan terdengar jelas menggema di setiap penjuru kamar, mata Dewa menatap marah anaknya yang seperti ini.
"Kubur wanita itu sekarang!" Ucap Dewa.
Andrew langsung berbalik, ia tidak ingin menguburkan tubuh Laysa. Dewa menatap dan memicingkan matanya, "Kau gila! Hanya karena wanita itu kau sampai seperti ini! Bukan dengan cara seperti ini keluarga kita menyesali kepergian seseorang! Harusnya kau balas dendam kepada orang-orang itu!" Teriak Dewa menggema dengan suara lantang.
Dewa berjalan pergi, ia melihat Diana dan Rachel berdiri tak tahu dari pintu kamar. Keduanya langsung menghampiri dan menanyakan apa yang sebenarnya terjadi. Dewa menjelaskan dengan suara marah dan kesal, ia tahu siapa yang telah melakukan hal ini pada putranya.
Air mata Diana tidak bisa di sembunyikan, ia pernah mengasuh Laysa dari kecil. Kepergian Laysa membawa luka yang cukup dalam bagi dirinya, Rachel berjalan mendekati Andrew. Ia tersenyum tipis untuk menghibur Andrew yang tengah dilanda kesedihan.
__ADS_1
"Semua akan baik-baik saja, besok kita akan menguburkan jenazah Laysa dengan layak." Ucap Rachel.
Seketika Andrew menatap tajam ke arah Rachel, "Ini semua gara-gara pria itu, Jeki. Gara-gara dia menjadikan Laysa sebagai kambing hitam yang membuat gadis tam bersalah itu harus mati."
Rachel terkejut dengan ucapan Andrew, "Ini semua sudah takdir, dan kau tidak bisa menyalahkan Jeki."
"Kau masih membela pria itu? Pria yang telah mencampakkan mu?!"
"Dia tidak mencampakkan ku, dia hanya ingin melindungi ku. Sekarang aku sudah tahu, kenapa dia pergi."
"Dan dia menjadikan Laysa sebagai kambing hitam, dan kau masih bisa membela pria itu karena kau tidak tahu bagaimana yang terjadi pada ku?! Laysa mati di depan mata ku, dia mati di dalam pelukan ku dan semua ini karena akal busuk Jeki yang menjadikan wanita ku sebagai kambing hitam."
Rachel terkejut dan sedikit mundur, "Aku tahu Jeki salah, tapi yang di lakukan hanya untuk melindungi ku. Melindungi adikmu ini."
"Melindungi mu dan membiarkan Laysa mati? Di sini kau mendapatkan perlindungan dari ku dan ayah. Tapi Laysa, dia sendirian. Dia tidak memiliki pelindung seperti mu dan kau malah membenarkan apa yang dilakukan oleh pria itu?"
__ADS_1
Rachel tidak bermaksud untuk berkata seperti ini, ia berusaha kembali menjelaskan. "Kau egois Rachel, kau hanya memikirkan dirimu dan kebahagiaan mu tanpa memikirkan orang lain."
Andrew meminta Rachel untuk pergi meninggalkannya sendiri, dengan langkah cepat Rachel keluar dari kamar Andrew. Ia menatap nanar apa yang telah terjadi di kamar, rasa menyesal mulai muncul dibenaknya. Harusnya dari awal ia tidak pernah berbicara seperti itu.