Gadis Cantik Milik Sang Mafia

Gadis Cantik Milik Sang Mafia
Bab 72


__ADS_3

Jeki duduk termenung di depan balkon rumah, ia tersenyum mengingat sudah hampir 8 tahun ia berusaha mencari tapi tidak pernah ia temukan keberadaan Rachel.


Bahkan Jeki harus membuang harga dirinya dan meminta bantuan kepada Dewa.


"Sebaiknya kau jaga kesehatan mu, aku yakin. Kita akan bisa menemukan Rachel, meski harus membutuhkan waktu." Ucap Sam dengan mata yang menatap Jeki.


Jeki tersenyum, "Apa kau pikir Brian telah mati? Mengingat ia terluka parah saat itu." Tanya Jeki.


"Entahlah, tapi aku sudah menemukan beberapa titik kemungkinan tempat tinggal Rachel." Jawab Sam, ia akui menemukan lokasi tempat Rachel berada bukanlah suatu hal yang mudah. Mengingat wanita itu bersama dengan orang-orang yang kuat dalam segi apapun.


"Bagaimana dengan Dewa?" Tanya Jeki.


"Dia juga mencari sesuatu dengan lokasi yang ku berikan, tapi anak buah Brian seperti tidak ada habisnya. Dan Dewa juga sedang sibuk karena Diana sekarang tengah sakit keras." Jelas Sam.


"Apa jadinya jika Rachel tahu, ibunya sedang sakit? Kasian wanita tua itu, dia terus meminta ikut dalam pencarian selama bertahun-tahun. Alhasil, tubuhnya tak kuat lagi." Jelas Jeki.


Ia ingat bagaimana reaksi Diana saat Jeki datang dengan kabar jika Rachel di culik oleh Brian.


Flashback on.


Jeki berjalan dengan langkah pelan, ia menatap Dewa dan Andrew. Mereka saling menatap dengan tajam, hingga Diana datang dengan raut wajah yang khawatir.


"Apa kau punya informasi dimana Rachel?" Tanya Diana dengan mata yang berkaca-kaca.


Jeki sedikit terdiam sesaat, "Rachel di culik oleh Brian." Jawab Jeki.

__ADS_1


Diana terdiam saat mendengar nama Brian, sementara Dewa hanya diam karena dari awal ia tahu jika Rachel telah di bawa oleh Brian.


"Mas, apa yang kau tunggu. Cepat bawa putri kita pulang." Ucap Diana dengan mata yang berkaca-kaca.


"Suami mu dari awal sudah tahu jika Rachel telah di culik oleh Brian." Jawab Jeki, yang membuat Diana menatap tak percaya pada Dewa.


"Jadi kau tahu jika Rachel di culik oleh pria itu? Tapi kenapa kau diam saja dan tidak mengatakan apapun kepada ku?" Tanya Diana yang kesal.


Tapi sebelum Dewa menjawab, Jeki sudah memotong pembicaraan kedua orang itu. "Aku di sini sedikit lebih tidak ingin melihat pertengkaran rumah tangga kalian berdua, aku ke sini hanya ingin mengajak kerja sama." Jelas Jeki dengan tatapan mata yang serius.


Dewa menatap serius Jeki, ia melirik ke arah Diana dan berusaha meyakinkan pria itu untuk mau bekerja sama dengan Jeki untuk mencari keberadaan Rachel.


"Tapi Brian itu bukan orang sembarangan, ia pasti menyembunyikan Rachel di suatu tempat yang sangat jauh dari sini. Bahkan mungkin sangat ketat di jaga oleh orang-orangnya."


"Aku, meski harus memakan waktu bertahun-tahun. Aku akan tetap mencari Rachel, dan mungkin bersama dengan anak ku." Jawab Jeki.


Jeki bangkit dari tempat duduknya, "Bukankah sekarang kau pergi untuk mengukur baju." Tanya Sam.


"Suruh penjahit itu datang ke sini, aku sedang tidak ingin pergi kemanapun." Jawab Jeki.


"Tidak bisa, kau harus keluar dari kamar berhantu mu itu." Sam tidak ingin jika Jeki terus mengurung diri di dalam kamar.


Jeki hanya bisa mengikuti perkataan Sam, ia bangkit dengan wajah yang kesal. Di sepanjang jalan Jeki hanya bisa diam dan tidak berbicara, hingga mobil yang di tumpangi Jeki tiba-tiba berhenti.


"Ada apa?" Tanya Jeki.

__ADS_1


Supir terdiam dengan raut wajah yang panik, "Saya hampir menabrak seorang anak." Jelasnya.


"Kau gila!" Maki Jeki.


Ia langsung keluar dari mobil, Jeki melihat seorang anak dengan seragam seorang tengah berdiri dan memejamkan matanya.


"Apa kau baik-baik saja?" Tanya Jeki dengan suara yang sedikit lembut.


Anak laki-laki itu membuka matanya secara perlahan, Jeki bisa melihat mata kecil dengan wajah yang mungil tengah menatanya dengan mata yang berkaca-kaca.


Deg...


Jeki merasakan dejavu saat melihat anak yang ada di depannya, ia seperti pernah melihat kejadian ini.


"Apa kau baik-baik saja?" Tanya Jeki.


Anak itu menganggukkan kepalanya, ia menatap kagum sosok Jeki yang terlihat sangat tampan.


"Dimana orang tua mu?" Tanya Jeki, ia melihat ke kanan dan ke kiri tapi tidak melihat ada orang dewasa.


Anak itu kembali menggelengkan kepalanya dengan wajah yang menunduk, tak beberapa lama anak itu menangis. Dan membuat Jeki langsung panik, "Sam, bagaimana ini?" Tanya Jeki heran.


"Aku tak tahu, aku belum pernah menangani anak kecil." Jawab Sam yang memilih angkat tangan.


"Sudah jangan menangis, siapa nama mu?" Tanya Jeki dengan nada lembut, ia berusaha tersenyum manis. Meski hatinya sangat kesal dengan anak di depannya.

__ADS_1


"Damian." Jawab anak itu dengan senyuman di wajahnya.


__ADS_2