
Jeki duduk di atas kursi dengan raut wajah yang serius, ia masih tidak percaya jika Rachel kini berada di tangan Andrew.
"Tapi kenapa pria itu tidak menjadikan Rachel sebagai ancaman untuk ku?" tanya Jeki yang masih tidak bisa berpikir dengan jernih.
"Mungkin ini akan menjawab semuanya." Sam memberikan sebuah kartu undangan dari perusahaan Axion yang merupakan perusahaan Dewa.
Dalam undangan itu Dewa ingin memperkenalkan istri dan juga putri kandungnya yang sudah lama hilang, "Apa urusannya ini dengan ku, aku tidak akan datang. Lagi pula itu perusahaan Andrew, aku tidak ingin datang."
"Bukankah Rachel ada di tangan Andrew, bisa saja kita mendapatkan petunjuk tentang keberadaan Rachel." Jawab Sam dengan nada serius.
Jeki terdiam, ia langsung setuju untuk datang ke pesta perusahaan milik Dewa. Meski mereka adalah musuh tapi dalam urusan perusahaan, mereka terlihat seperti menjalin hubungan dekat.
Sementara itu...
Laysa berada di rumah dengan suasana hati yang kacau, sudah 7 hari ia mengurung di di kamar tapi ia sama sekali tidak melihat Diana datang mengunjunginya.
"Bi, Mama mana?" tanya Laysa pada pelayan yang lewat di depannya.
Para pelayan menjawab jika mereka sama sekali tidak mengetahui dimana Diana, lalu Laysa berjalan ke lantai bawah.
Tatapan matanya tertutup pada sosok Robert yang tengah duduk bersama dengan seorang wanita yang sedang hamil besar.
"Jadi dimana Diana? Apa kau serius, dia memberikan rumah ini untuk mu?" tanya Linda kepada Robert yang merupakan suami sahnya.
__ADS_1
"Iya di serius, katanya dia pergi ke luar negeri bersama dengan Rachel."
"Ku harap mereka baik-baik saja."
Laysa berjalan mendekat dengan tatapan marah, ia tidak terima dengan kehadiran wanita asing ke keluarganya.
"Ayah, siapa wanita itu?" tanya Laysa dengan emosi.
Robert sedikit terkejut saat melihat Laysa, "Dia Linda, istri ku." Jawab Robert yang langsung jujur, karena baginya sekarang sudah tidak ada lagi yang perlu di tutupi lagi.
"Apa istri, Ayah kau selingkuh dari Mama?" tanya Laysa tidak percaya.
Robert langsung meminta Linda untuk beristirahat ke kamar, ia kini menatap Laysa. "Aku dan Diana bukanlah sepasang suami istri, dia adalah teman ku. Dan aku berpura-pura menjadi suaminya selama ini." Jelas Robert.
"Tapi itulah kenyataannya, jika kau tidak percaya kau boleh cari Diana dan menanyakan kebenarannya. Tapi mungkin wanita itu sudah berada di luar negeri bersama dengan Rachel."
"Enggak, Mama enggak mungkin bersama dengan anak itu. Dia sangat menyayangi ku!"
"Diana tidak pernah menyayangimu, jika bukan karena orang tua kandung mu mengancamnya. Dia tak akan pernah mau memperlakukan mu seperti anaknya dan malah memperlakukan putri kandungnya seperti anak tiri."
"Orang tua kandung ku?"
"Iya, dan sebentar lagi mereka akan menjemput mu dan kau bisa pergi dari rumah ini."
__ADS_1
"Enggak, aku tidak akan pergi dari rumah ini. Ini rumah ku!" Jawab Laysa dengan nada tinggi.
Tapi Robert tidak ingin ambil pusing, ia langsung pergi begitu saja meninggalkan Laysa yang mulai panik dan kacau.
Laysa langsung berlari masuk ke dalam rumah, ia masih tidak percaya jika Diana tidak menyayanginya.
"Ini tidak mungkin, ini pasti akal-akalan Robert saja. Mana mungkin Mama tidak menyayangi ku dan malah menyayangi anak itu," ucap Laysa dengan senyuman di wajahnya.
Laysa menghela nafas dan berusaha berpikir jernih, ia langsung menghubungi teman-temannya untuk makan-makan.
"Hallo, kau dimana?"
"Aku di luar."
"Aku ingin mengajakmu makan, atau aku langsung ke tempat mu saja?"
"Hmm.. Gimana yah, Lay. Kayaknya enggak dulu deh, aku lagi sibuk dan setelah kabar tentang kebohongan mu itu. Aku takut di kucilkan karena masih berteman dengan mu."
Laysa yang kesal dan marah langsung memaki teman yang sudah dia anggap sahabat, kini Laysa hanya berbaring di atas ranjang dengan emosi yang menggebu-gebu.
Hingga seorang pelayan datang dan mengatakan jika ada seseorang yang mencari dirinya.
Laysa dengan rasa malas berjalan keluar dari kamar dan menuju ruang tamu, matanya langsung tertuju pada sosok pria dengan pakaian layaknya seorang preman kampung.
__ADS_1
"Laysa, ini ayahmu. Dia datang untuk menjemputmu pulang." Ucap Robert dengan senyuman di wajahnya.