
Rachel berjalan dengan langkah pelan, hari sudah mulai menjelang siang tapi ia memilih untuk menghabiskan waktu di kamar dan enggan keluar, apalagi untuk bertemu dengan Dewa.
Tapi langkahnya terhenti saat melihat Andrew tengah duduk dengan senyuman aneh di wajahnya, "Apa kau sudah gila?" tanya Rachel yang berjalan mendekat dan duduk di hadapan Andrew.
Tanpa banyak bicara Rachel mengambil cemilan di depan Andrew dan memakannya, "Apa kau tidak di ajarkan sopan santun?" tanya Andrew menatap nyalang adik kandungnya.
"Emm.. Kau saja hampir membunuh ku, bagaimana bisa seorang kakak ingin membunuh adiknya sendiri!?" Jawab Rachel.
"Kau masih ingin membahas hal itu? Ah, selamat yah sebentar lagi kau akan menikah." ejek Andrew yang mengetahui jika Rachel akan di jodohkan.
"Siapa yang akan menikah? Aku tidak akan menikah dengan siapapun." Jawab Rachel yang merasa tidak terima dengan ejekan itu.
"Kau tanya saja kepada ayah, aku yakin dia lebih tahu." Jawab Andrew yang langsung pergi.
Rachel yang marah dan kesal langsung berjalan mencari ayahnya yang entah ada dimana, "Bi, dimana ayah?" tanya Rachel.
"Tuan sudah berangkat sejak tadi pagi Nona." Jawab pelayan di depan Rachel.
Wanita itu langsung berjalan menuju kamar Diana untuk berbicara terkait perjodohan yang akan dilakukan oleh Dewa.
"Ada apa, Rachel?" tanya Diana saat melihat putrinya tiba-tiba masuk ke dalam kamar.
"Ma, aku gak mau di jodohkan." Pinta Rachel dengan nada merengek.
__ADS_1
"Memangnya siapa yang akan menjodohkan mu?"
"Ayah, dia berniat untuk menjodohkan ku."
"Tidak akan, percaya kepada ku. Dia tidak akan berani menjodohkan mu," jawab Diana dengan percaya diri.
Rachel dengan perasaan bingung dan gugup langsung menjelaskan jika ia mencintai Jeki dan hanya ingin bersama dengan pria itu.
Diana menghela nafas, ia tahu jika pria itu adalah keluarga yang merupakan musuh Dewa dan akan sangat sulit untuk membuat suaminya menyetujui hal itu.
"Tapi memangnya kau yakin jika pria itu akan menjalin hubungan serius dengan mu?" tanya Diana yang mengingat siapa Jeki.
"Tentu saja, dia selalu mengejar ku dan pastinya dia akan menikahi ku." Jawab Rachel dengan rasa percaya diri.
Andrew yang tidak memiliki pekerjaan langsung duduk dan ikut makan bersama, "Apa kau tidak punya pekerjaan? Selama aku di sini, kau hanya diam di rumah seperti pengangguran." Ucap Rachel yang menatap jengkel Kakak laki-lakinya.
Andrew hanya diam dan enggan untuk menjawab pertanyaan dari Rachel, di saat semuanya tengah makan bersama.
Rachel terdiam dengan perut yang terasa mual, Rachel langsung berlari dengan cepat. Andrew dan Diana sama-sama melihat dengan tatapan mata yang bingung.
Diana langsung bangkit dan berjalan menghampiri Rachel, ia melihat putrinya tengah memuntahkan isi perutnya ke dalam kloset.
"Sebaiknya kita ke dokter." Ajak Diana yang tidak tega melihat Rachel seperti ini.
__ADS_1
"Aku baik, mungkin hanya masuk angin saja." Jawab Rachel yang berusaha untuk tersenyum.
"Tidak baik membiarkan penyakit begitu saja, Ayo." Ajak Diana yang tidak ingin jika putrinya sakit parah.
"Serius Ma, aku baik." Jawab Rachel menolak, ia hanya ingin beristirahat di dalam rumah.
Diana hanya bisa mengalah, ia meminta pelayan untuk menyiapkan semua keperluan Rachel selagi ia memulihkan diri di dalam kamar.
Andrew menatap ke arah Rachel yang berjalan dengan mata yang serius, Rachel yang merasa di tatap langsung menengok ke belakang. Ia melihat jika Andrew menatapnya dengan tatapan aneh.
Kini wanita itu berada di dalam kamar, tubuhnya terasa lemah tak berdaya. Pintu kamar tiba-tiba terbuka, Andrew menatap Rachel dengan tatapan tajam dan langsung mengunci pintu.
"Ada apa kau masuk ke dalam kamar ku?" tanya Rachel heran.
"Aku tahu jika kau sedang hamil." Jawab Andrew yang membuat Rachel terdiam.
"Jangan asal bicara." Jawab Rachel.
"Apa kau pikir, aku tidak tahu apa yang kau lakukan dengan pria itu saat pesta perayaan mu?" tanya Andrew dengan tatapan mata yang serius.
Rachel hanya bisa menghela nafas, "Sudah berapa bulan?" tanya Andrew.
"Aku tidak tahu." Jawab Rachel karena ia baru saja memeriksanya kemarin, setelah pulang dari tempat Jeki.
__ADS_1
"Gugurkan saja anak itu, percuma dia lahir karena dia tidak akan punya seorang ayah."