
Rachel membuka matanya, ia melihat jam dinding yang menunjukkan pukul 00.30 WIB. Ia melihat dompet miliknya yang tadi diantarkan oleh pelayan rumah.
Dengan kasar Rachel mencabut selang infus di tangannya, terdengar suara rintihan kesakitan saat selang itu tercabut dari tangannya.
Matanya melihat dompet dan pakaian miliknya yang di bawakan oleh pelayan, dengan langkah pelan Rachel mengambil dompet miliknya dan tas kecil yang berisikan pakaian untuk beberapa hari.
Ia sangat muak tinggal bersama dengan orang-orang yang terus menyalahkannya atas kematian Laysa, kesalahan yang bahkan bulan ia yang lakukan.
Rachel melihat ponsel miliknya, ia langsung mematikan ponsel miliknya dan sengaja meninggalkannya di rumah sakit. Ia tahu, jika kepergiannya di sadari oleh orang-orang mereka pasti akan melacaknya dengan handphone.
Ia berjalan perlahan, matanya terus menatap ke sekeliling ia takut jika ada anak buah Dewa yang akan menemukannya. Tapi sesaat ia bisa bernafas lega karena tidak ada satupun pengawal yang menjaga ruang rawatnya, dengan langkah pelan Rachel menyusuri lorong rumah sakit yang sepi. Yang terdengar hanyalah suara langkah kakinya, Rachel berjalan menuju gerbang depan tapi ia terdiam saat melihat gerbangnya di kunci.
Ia langsung memutar dan berjalan ke lantai bawah, dimana terdapat motor dan mobil yang terparkir rapi. Hatinya bisa tenang saat melihat jalan keluar yang terbuka tanpa ada penjaga sama sekali.
Di saat Rachel tengah berjalan, ia melihat mobil hitam yang tiba-tiba datang. Ia langsung bersembunyi karena merasa takut jika itu adalah anak buah Dewa.
Rachel mengintip di balik mobil berwarna putih yang terparkir tak jauh dari sana, ia bisa melihat seorang pria dengan senyuman aneh di wajahnya dan seorang pria yang cukup tua dengan tongkat di tangannya.
"Apa kau yakin gadis itu di rawat di sini?" terdengar suara percakapan yang cukup jelas, Rachel memasang telinganya dan mencerna percakapan di antara mereka.
"Iya dan kita bawa gadis itu secara paksa."
__ADS_1
"Ingat, jangan sampai kau salah membawa orang lagi. Aku tidak ingin hal seperti kemarin terulang lagi," pria tua itu langsung kembali masuk ke dalam mobil.
Rachel mulai berjalan menjauh, entah kenapa ia memiliki firasat buruk saat bertemu dengan orang-orang itu.
Bruk..
Rachel merintih kesakitan saat tubuhnya menabrak seseorang, "Maaf." Ucap Rachel dengan mata yang melihat ke depan.
Seorang pria dengan kacamata bertengger di tulang hidungnya, pria itu terdiam dengan tatapan dingin dan tajam. Lalu ia pergi begitu saja tanpa memperdulikan Rachel, "Pria yang aneh." Gumamnya.
"Wah.. Wah.. Wah.. Akhirnya ketemu juga." Natan tersenyum saat melihat Rachel berada di depan matanya.
"Mungkin kita akan melakukan perkenalannya nanti saja, bagaimana jika kau sekarang masuk ke dalam mobil?" Tanya Natan yang berjalan mendekat ke arah Rachel.
Rachel menggelengkan kepalanya, ia menolak dan langsung berbalik lalu berlari tapi beberapa anak buah Natan langsung menangkap tubuh mungil nya.
"Kenapa kalian perempuan sangat menyusahkan." Natan menghela nafas kesal, ia meminta anak buahnya untuk membawa Rachel masuk ke dalam mobil secara paksa.
Wanita itu tidak tinggal diam, ia terus melawan tapi seketika rasa sakit di perutnya terasa, ia merintih kesakitan dan menangis. Natan mengerutkan keningnya, "Hey, wanita. Ada apa dengan mu?" tanya Natan heran.
Terdengar suara langkah kaki, seorang pria dengan kacamata bertengger di tulang hidungnya berjalan mendekati. Ia menatap Natan dengan tatapan tajam, "Apa yang kau lakukan?" Tanya Nicolas.
__ADS_1
"Aku tidak melakukan apapun." Jawab Natan yang tak tahu.
Nicolas langsung menggendong tubuh Rachel dan memasukkannya ke dalam mobil secara perlahan, "Gadis itu sedang hamil, sebaiknya kau bersikap baik kepadanya." Ucap Nicolas yang langsung menutup pintu mobil dengan kencang.
Natan menatap tajam pria yang merupakan anak dari pertama Brian, "Oke oke." Jawab Natan yang berjalan menuju kursi pengemudi.
Nicolas menatap Natan dengan tatapan tajam, ia langsung masuk ke dalam mobil dan duduk di samping Rachel.
"Siapa kalian?" tanya Rachel panik, ia merasa takut dan tubuhnya gemetar. Ia sama sekali tidak merasa memiliki salah pada seseorang.
"Sebaiknya kau diam, Nona." Jawab Nicolas dengan tatapan dingin dan tajam, pria itu seakan memiliki aura mendominasi yang lainnya.
Rachel yang melihat Nicolas duduk di sampingnya langsung terdiam ketakutan, entah kenapa pria itu sangat menakutkan meski ia tidak memasang ekspresi sama sekali.
"Kenapa orang-orang selalu mengatakan hal yang sama ketika dia di culik, siapa kalian? Mau apa? Apa tidak ada pertanyaan lain." Omel Natan dengan tangan yang memegang stir mobil.
"Sebaiknya kau perhatikan jalanan dan jangan banyak bicara!" Jawab Nicolas dengan tatapan mata yang tajam, pria itu lalu menyandarkan punggung dan kepalanya. Pria itu lalu memejamkan matanya dan memilih untuk tidur.
"Nicolas, bangun. Bajingan, pria itu malah tidur." Maki Natan yang kesal karena Nicolas malah tertidur.
Rachel bingung dan takut, tangannya mulai memegang pintu mobil yang rupanya terkunci. "Jangan berharap untuk kabur." Sambung Natan dengan mata yang memperhatikan Rachel dari kaca spion mobil.
__ADS_1