Gadis Cantik Milik Sang Mafia

Gadis Cantik Milik Sang Mafia
Bab 54


__ADS_3

Rachel duduk terdiam di kamar, ia memandangi ke luar balkon kamarnya. Sesekali tangan mungilnya mengelus perutnya dengan lembut, tapi ia terdiam saat melihat sebuah merpati hinggap di depan matanya.


Merpati putih dengan sebuah surat di kakinya, Rachel mengerutkan keningnya. Ia melihat merpati itu berjalan mendekatinya, seakan memberikan isyarat kepadanya.


Dengan perlahan Rachel menangkap merpati di depannya, ia lalu mengambil gulungan surat di kaki merpati.


Rachel terdiam saat membaca isi surat dari seseorang untuk dirinya.


'Bagaimana kabarmu? Aku tahu kau pasti marah dan kecewa.


Tapi sebenarnya aku tidak ingin melakukan hal itu, aku menginginkan mu menjadi istri ku. Tapi tidak untuk saat ini.


Aku janji, setelah semuanya selesai. Aku akan datang kepadamu dan melamar mu, menjadikan mu satu-satunya istri dan wanita yang ku cintai'


Rachel menutup mulutnya, seakan tidak percaya dengan surat yang ia dapatkan. "Jeki." Ucap Rachel saat membaca nama Jeki di bawah isi surat.


Rachel duduk dengan perasaan yang bingung dan bimbang, ia tidak mengerti kenapa Jeki mengirimkan surat seperti ini kepadanya. Bukankah pria itu tidak mencintainya?


Rachel terdiam, ia melirik ke arah merpati yang masih ada di depannya seakan tengah menunggu sesuatu.


Rachel langsung berlari ke dalam kamar untuk mengambil secarik kertas dan pena, ia menulis surat balasan kepada Jeki untuk menanyakan apa maksud pria itu.


Setelah Rachel mengikatkan surat darinya tepat di kaki merpati, burung itu pun langsung terbang tinggi entah kemana.


Ia mulai terdiam dengan perasaan yang gundah gulana, hingga pintu kamar terbuka. Diana berjalan dengan wajah panik dan bingung, ia langsung menghampiri Rachel.

__ADS_1


"Ada apa Ma?" Rachel mengerutkan keningnya saat melihat ekspresi Diana.


"Andrew, dia pergi entah kemana. Dan lagi, dia mencari Laysa dan berbicara yang aneh." Jawab Diana dengan nada bicara bingung.


"Bicara yang aneh seperti apa, Ma?" tanya Rachel heran.


"Dia mengatakan jika Laysa adalah orang yang sangat penting dalam hidupnya," jawab Diana.


Rachel menatap lekat-lekat Diana, ia hanya bisa menghela nafas dan tersenyum tipis. "Mungkin itu hanya perkataan tidak penting Ma, sebaiknya kita beristirahat." Jawab Rachel.


Di lain tempat...


Andrew meminta anak buahnya untuk bersiap, mereka tengah bersembunyi di sebuah hutan dengan rumah tua di depannya. Banyak orang-orang bersenjata yang sedang menjaga rumah tua itu.


Andrew mulai menyiapkan senjata miliknya, amarahnya seperti meledak-ledak saat mengingat pesan yang memintanya untuk datang ke tempat ini.


Andrew langsung menganggukkan kepalanya, ia memberikan kode kepada anak buahnya untuk langsung menyerang.


50 anak buahnya langsung keluar dari hutan dan menembaki orang-orang yang tengah berjaga di depan rumah tua.


Hingga semuanya berhasil di lumpuhkan, Andrew bersama dengan anak buahnya yang lain. Mulai masuk ke dalam rumah, ia melihat beberapa cangkir bekas kopi dan tempat duduk yang terlihat sangat mewah.


"Tuan." Panggil anak buah Andrew.


Pria itu langsung berjalan ke arah ruang bawah tanah, tatapan matanya langsung tertuju pada sosok wanita yang tengah di ikat pada tiang salib dengan menggunakan rantai.

__ADS_1


Tubuhnya dan pakaiannya berwarna merah dengan darah dan luka yang cukup parah.


"Laysa." Panggil Andrew yang langsung berjalan mendekat, ia mengelus wajah Laysa yang terkulai lemas.


Wanita itu mulai sadar dengan rasa sakit yang sudah mendarah daging, "Andrew..." Panggil Laysa dengan suara pelan.


"Bertahanlah Laysa." Ucap Andrew yang langsung meminta anak buahnya untuk melepaskan ikatan rantai pada tangan dan kaki Laysa.


Dengan perlahan Andrew memeluk tubuh Laysa dan membawa wanita itu keluar dari rumah tua, tapi tatapannya langsung membulat sempurna saat semua anak buahnya yang berjaga di luar sudah tumbang.


Tatapan mata Andrew mulai tertuju pada sosok pria dengan jas putih yang terkotori oleh darah.


"Kau bukan Jeki." Ucap Pria itu dengan alis yang terangkat.


"Wanita ini tidak ada hubungannya dengan pria itu," jawab Andrew dengan tangan yang masih menggendong tubuh Laysa.


Wanita itu terkulai lemah tak berdaya, darah segar mulai mengalir dari luka-luka yang ada di tubuhnya.


Andrew yang menyadari luka di tubuh Laysa semakin parah, mulai panik dan khawatir.


"Sebaiknya kau jangan macam-macam." Ucap Andrew dengan nada tegas dan tatapan tajam.


Pria itu tersenyum, "Aku tidak akan membiarkanmu pergi dari sini." Jawab Natan dengan suara lantang.


Andrew menyipitkan matanya, ia perlahan menidurkan tubuh Laysa dan meminta anak buahnya untuk menjaga wanita itu.

__ADS_1


Ia berjalan perlahan menuruni tangga rumah, di depannya Natan sudah bersiap dengan tangan yang masih ada noda darah.


"Aku akan memberikan pelajaran pada kecoa seperti mu." Ucap Natan dengan senyuman mengejek.


__ADS_2