
Terdengar suara pedang yang saling beradu satu sama lain, Sam hanya bisa diam menyaksikan Tuannya tengah bertarung. Data di tubuhnya terasa mendidih dan ingin sekali menghajar orang-orang yang berani menyentuh Jeki.
Hingga tatapannya tertuju pada Riko yang tengah menembaki anak buah Jeki, Sam tersenyum dengan mata yang menatap tajam. Ia langsung berlari dan menerjang Riko, pria itu yang belum siap langsung terjatuh.
"Beraninya kau berkhianat!" Teriak Sam dengan amarah yang membara.
Riko tertawa saat mendengar perkataan Sam, "Kalian yang bodoh sampai tidak bisa membedakan mana musuh dan teman." Jawab Riko.
Sam langsung mengarahkan pistolnya tepat di dahi Riko, pria itu menatap panik ke arah Sam. "Sam, ku mohon jangan lakukan itu." Pinta Riko.
"Tidak ada kata maaf untuk seorang pengkhianat."
Riko kembali membujuk Sam, pria itu terdiam tapi sesaat kemudian Riko tersenyum. Sam yang lengah langsung melihat ke samping, rupanya Aril sudah ada dan langsung memukul kepala Sam hingga berdarah.
"Sam, kau memang orang bodoh!" Ejek Riko.
Sam yang kini berada di atas tanah, hanya bisa menahan rasa sakit di kepalanya. Pandangannya mulai memudar, tapi tak beberapa lama Sam merasakan tubuhnya di angkat.
"Sam bangun!" Terdengar suara wanita dengan tangan yang menepuk-nepuk wajah Sam.
"Arg... Dimana Riko?" tanya Sam yang baru sadar, ia melihat Natalia tengah duduk di sampingnya.
"Pria itu kabur, sebaiknya kau pergi ke belakang. Kondisi mu sangat parah," jawab Natalia.
__ADS_1
"Tidak, aku harus membalaskan dendam kepada Riko, pengkhianat itu harus di hukum mati!" Teriak Sam.
Natalia menggelengkan kepalanya, ia langsung menyuruh anak buah yg lain untuk membawa Sam pergi.
Jeki dan Andrew nampak menikmati pertarungan mereka, tapi Andrew mulai kewalahan menghadapi Jeki yang terus memberikan serangan bertubi-tubi.
Hingga Riko yang berada tidak jauh, langsung menembak kaki Jeki yang membuat pria itu langsung kehilangan keseimbangannya.
Andrew terdiam saat melihat Jeki terkena tembakan, pria itu langsung mundur. "Berterimakasih lah karena kau cedera!" Ucap Andrew.
Wajah kesal dan marah nampak jelas di wajah Andrew, ia sangat kesal dengan orang yang berani mengganggu pertarungannya dengan Jeki.
Hingga Andrew langsung naik ke helikopter, Jeki pun sudah tidak peduli dengan pria itu. Dengan kaki yang berdarah, pria itu langsung masuk ke dalam gedung tua dan mencari Rachel.
Hingga pintu ruangan terbuka, terdengar suara Jeki. Rachel pun langsung membuka matanya, matanya langsung berkaca-kaca saat melihat Jeki.
"Jeki..."
Jeki langsung mengelus wajah Rachel yang di basahi oleh air mata. "Sut... Jangan menangis, aku sudah ada di sini." Bisik Jeki.
Ia langsung melihat kedua tangan Rachel yang di borgol di sebuah tiang kecil, "Kuncinya tidak ada," ucap Rachel dengan nada lemah.
Jeki langsung mencari cara, tapi terdengar suara ledakan kencang dan membuat ruangan bergetar dengan hebat.
__ADS_1
Rachel langsung menjerit ketakutan, ia hanya bisa memejamkan mata dan tidak bisa kemana-mana.
Terdengar suara panggilan dari Natalia, ia langsung meminta Jeki untuk segera keluar karena gedung sudah di pasangi oleh Bom yang sebentar lagi akan meledak.
Hingga terdengar kembali suara ledakan, Natalia kembali meminta Jeki untuk keluar karena pintu keluar sudah hampir di tutupi oleh reruntuhan.
Kini posisi gedung sudah mulai miring, Rachel hanya bisa menangis. Jeki langsung berjalan dengan lantai yang sudah miring, Jeki langsung mengambil sebuah Kampak yang berada tidak jauh darinya.
"Jeki.." panggil Rachel dengan suara gemetar ketakutan, ia menatap Jeki yang membawa kapak.
"Tutup mata mu," bisik Jeki.
Rachel menutup matanya, ia mulai mengarahkan kapak pada rantai borgol. Dengan satu kali ayunan Jeki berhasil membuat Rachel terbebas, dengan langkah yang sulit Jeki langsung menggendong tubuh Rachel dan membawa wanita itu keluar dari gedung.
Terdengar kembali suara ledakan yang membuat jalan keluar tertutup, "Jeki.." Panggil Rachel yang memeluk erat leher Jeki.
"Sut.. Jangan takut, tutup saja mata mu." Bisik Jeki dengan bibir yang mencium kening Rachel.
Jeki kembali berjalan mencari jalan keluar, darah dari kakinya terus mengalir. Pria itu berusaha menahan sakit, hingga ledakan besar terjadi.
Jeki melihat pintu keluar, tapi di belakangnya bagian gedung sudah mulai runtuh. Dengan sekuat tenaga, Jeki langsung berjalan dan melemparkan tubuh Rachel keluar dari gedung sementara dirinya tertimbun reruntuhan.
"Jeki.." Teriak Rachel.
__ADS_1