Gadis Cantik Milik Sang Mafia

Gadis Cantik Milik Sang Mafia
Bab 50


__ADS_3

Dewa terdiam dengan tatapan mata yang tajam, aura kemarahan seakan meluap-luap di tubuhnya. Begitu juga Andrew, ia tidak bisa menyembunyikan kemarahannya saat mendengar jika Jeki tidak akan menikahi adiknya.


Dewa langsung berjalan cepat menuju kamar Rachel, ia ingin sekali memaki anak perempuannya yang sudah habis-habisan membela pria itu dan kini pria yang ia bela malah mencampakkannya begitu saja seperti sebuah sampah.


"Mas, kumohon tahan emosi mu." Diana berusaha menghentikan langkah Dewa, tapi pria itu malah mendorong Diana yang hampir terjatuh, untungnya Andrew dengan sigap menahan tubuh ibunya.


Terdengar suara teriakan Dewa dan gedoran di pintu kamar Rachel, pria itu meminta pintu kunci kamar Rachel.


Tapi Diana berusaha untuk menghentikan Dewa dan menenangkan amarah suaminya, "Mau sampai kapan kau memanjakan anak itu!" Teriak Dewa yang sudah sangat kesal.


"Mas, biarkan Rachel beristirahat dulu. Bukan hanya kau yang marah tapi Rachel juga, dia marah dan sedih jadi ku mohon. Berikan dia sedikit waktu, kasihan putri kita. Dia baru saja menerima kenyataan yang menyakitkan dan kau ingin menambah rasa sakitnya." Ucap Diana yang berusaha menenangkan Dewa.


"Tidak, Diana. Itu bukan cara ku, anak itu harus tahu bagaimana caranya bersikap." Jawab Dewa.


"Mas..."


Dewa langsung meminta anak buahnya untuk mendobrak pintu kamar Rachel, Diana hanya bisa memohon dan meminta Dewa agar tidak melakukan hal itu tapi semuanya sia-sia.

__ADS_1


Dewa sudah sangat marah dengan sikap Rachel kepadanya tadi pagi, dan kini pria yang anaknya bela malah mencampakkannya begitu saja.


Hingga pintu kamar pun berhasil di dobrak, Dewa langsung masuk ke dalam kamar. Ia melihat Rachel duduk di atas ranjang dengan mata yang bengkak dan wajah yang memerah.


"Sekarang apa yang ingin kau katakan?!" Teriak Dewa yang kesal dan marah.


Rachel hanya diam dan tidak bisa berkata-kata, "Tadi pagi kau membela pria itu mati-matian, hingga melawan semua perkataan ku dan sekarang lihat! Apa yang pria itu lakukan kepada mu." Sambung Dewa yang terus memaki Rachel.


"Please, stop! Aku tuh sedang sedih, marah dan kecewa. Please Ayah jangan menambah beban untuk ku." Pinta Rachel.


"Ini semua pilihan hidupmu, kau lebih memilih membela pria itu dari pada menuruti apa kata ku! Sekarang lihat dirimu, kau hamil anak dari pria itu dan kini anak itu akan lahir tanpa seorang ayah! Apa kau tidak memikirkan masa depan anak itu?! Apa kau juga tidak memikirkan harga dirimu!" Teriak Dewa yang kesal.


"Jangan meminta ku untuk tidak memarahinya, jangankan aku. Semua ayah pasti akan melakukan hal yang sama kepada anaknya, jika mereka melakukan hal seperti ini. Apalagi sampai hamil di luar nikah! Dan ini bukan sebuah kebanggaan, tapi aib!" Teriak Dewa yang sangat kesal.


Rachel hanya bisa menangis, ia merasa di hujan ni oleh penderitaan yang bertubi-tubi. Baru saja ia menerima rasa sakit dari Jeki, sekarang ayahnya memakinya habis-habisan.


"Sudahlah Ayah, semua ini sudah berlalu. Biarkan Rachel beristirahat sebentar," Andrew berusaha untuk menenangkan Dewa agar ia tidak terus mengamuk seperti seekor singa liar.

__ADS_1


Dewa menatap Rachel dengan tajam, Andrew yang melihat hal itu mengerti. "Rachel, minta maaflah kepada ayah atas apa yang telah kau lakukan kepadanya." Pinta Andrew.


Rachel hanya diam, Andrew langsung berjalan mendekati Rachel dan memaksa wanita itu meminta maaf.


"Ayah... Aku minta maaf karena telah membantah semua perkataan mu tentang pria itu, aku janji tidak akan pernah membantah semua perkataan mu." Ucap Rachel yang hanya bisa menangis dan menundukkan kepalanya.


Dewa menghela nafas kasar, ia langsung berbalik pergi dengan tatapan yang masih marah dan kecewa.


Andrew menatap Rachel dengan tatapan iba, ia tahu apa yang tengah di hadapi oleh adiknya bukanlah sebuah masalah yang sederhana.


"Sebaiknya kau beristirahat saja, lagi pula semuanya sudah terjadi. Tidak ada yang perlu di sesali, jika dia tidak ingin bertanggung jawab. Maka biarkan saja," ucap Andrew dengan nada lembut.


"Tapi bagaimana dengan anak ku, dia akan hidup tanpa seorang ayah."


Andrew terdiam, ia duduk di samping Rachel. "Kenapa kau mengkhawatirkan hal seperti itu, lagi pula masih ada Aku, Mama dan Ayah. Dan dengan kekayaan keluarga ini, hanya membiayai seorang anak tidak akan membuat keluarga ini jatuh miskin. Jadi kenapa kau masih mengkhawatirkan seorang ayah, jika masih ada keluargamu yang sanggup untuk mengurus semua keperluan mu dan bayi mu." Ucap Andrew.


Rachel terdiam dengan perasaan haru, ia langsung memeluk Andrew dan berterimakasih kepada Kakaknya karena pria itu sangat baik dan peduli kepadanya.

__ADS_1


"Terimakasih."


__ADS_2